JENGGALA SENJA : BLACK-LIST

1100 Words
Tiga hari sebelum konferensi pers tentang Walikota Candala yang menghilang ... Kehidupan Karen yang tenang saat di luar negeri, lenyap sudah! Belum ada satu bulan tinggal kembali di Candala, kehidupannya berubah total dengan segala kebisingan ini. Beberapa hari lalu, banyak sekali wartawan yang datang di depan gedung apartement di mana dia tinggal. Lalu ada orang yang mengintai apartement- nya. Untung saja ada Dechan yang sudah curiga jika hal itu akan terjadi pada Karen—diikuti oleh penguntit tidak dikenal yang punya tujuan me-sum. Bahkan Karen begitu heran, mengapa hidupnya bisa berubah secepat ini. Baru saja menginjakkan kaki di kota Candala, ketenaran aneh ini menyapa dirinya dengan tiba-tiba. Namanya menjadi pembicaraan hangat dan sempat diulas di televisi, radio, atau internet. Memangnya dia siapa? Dia hanya anak kedua dari keluarga Andersson. Apakah itu hal yang luar biasa? Karen selalu berharap bahwa para wartawan itu lebih perhatian kepada Kakaknya yang suka sekali membuat ulah, ketimbang harus mengganggunya. Lalu sekarang, Gestar memintanya untuk datang ke apartement pria itu saat ini juga. Padahal Karen baru saja sampai di apartement- nya. Rasanya sangat lelah bermain kucing-kucingan dengan para pemburu berita. Belum sempat duduk, minum, atau mungkin tidur, Karen akhirnya kembali keluar dari apartement- nya, menuju ke basement dan mengendari mobil kesayangannya ke apartement Gestar. Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit, Karen sampai di gedung apartement temannya itu. Lalu tanpa sengaja Karen bertemu dengan Rheas dan Gigan yang juga baru keluar dari mobil mereka. Mereka bertiga hanya tersenyum kecut, ternyata Gestar sengaja mengumpulkan mereka. "Apa yang diinginkan Si Bodoh itu?" Tanya Gigan gemas ketika Karen dan Rheas mendekat ke arahnya. Keduanya hanya mengangkat bahu, tanda mereka pun tidak tahu. "Ah, sial! Aku baru saja pulang dari tempat gym, tapi dia menggangguku untuk datang ke apartement- nya. Awas saja jika kedatangan kita ini hanya untuk menemaninya di sana. Aku akan memukulnya!" Sambung Rheas yang memasang wajah kesal. Karen tersenyum tipis, "mungkin aku harus membiasakan diri. Aku melihat kalian sepertinya kesulitan dengan Gestar." "Hm, ... kau tidak akan memahami orang sepertinya walaupun sudah bersamanya bertahun-tahun. Dia benar-benar sudah gila!" Tandas Gigan yang memang tampak sangat kesal. "Mari kita lihat apa yang diinginkan Si Bodoh itu!" Sambung Gigan yang menarik Karen dan Rheas untuk segera menghampiri Gestar. Mereka masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka. Beberapa orang yang tentunya mengenal mereka pun tidak bisa menyembunyikan wajah merona mereka. Apalagi ada dua gadis ABG dengan seragam sekolah yang sudah merasa takjub dengan ketampanan ketiganya. Bahkan sesekali gadis itu memotret ketiganya dengan ponsel, namun secara sembunyi-sembunyi tentunya. Sebenarnya mereka pun tahu, namun memilih untuk diam. Setelah sampai di lantai 15, mereka bertiga pun keluar dari lift. Bahkan gadis ABG itu masih sempat untuk menggunakan ponsel mereka dengan kurang ajar. "Apa itu baik?" Tanya Karen kepada Gigan dan Rheas setelah melihat apa yang dilakukan dua gadis ABG tadi di lift. Gigan tersenyum sinis, "itu baru hal kecil saja. Bahkan kami beberapa kali melihat postingan nakal yang mereka posting di akun sosial media mereka. Sepertinya itu hal yang wajar untuk mereka." "Bukankah itu mirip seperti sebuah pelecehan seksual? Bahkan tatapan mereka lebih buas daripada apa yang aku pikirkan tentang remaja tingkat sekolah." Sambung Karen dengan wajah kesal. Rheas menepuk bahu Karen dengan pelan, "para remaja itu bahkan bisa dengan mudah mengedit foto kita yang berpakaian rapi menjadi tidak berpakaian. Anak jaman sekarang mempunyai pemikiran yang sangat luar biasa. Mereka lebih banyak memikirkan tentang s*x dibanding pelajaran di sekolah. Abaikan saja mereka! Nanti lama-kelamaan kau akan terbiasa dengan tingkah remaja-remaja me-sum seperti itu." "Kau gila? Bagaimana mungkin aku terbiasa dengan pelecehan seperti itu? Aku baru tahu rasanya mendapatkan pelecehan seksual oleh remaja yang baru memulai masa pubernya." Ucap Karen yang hanya ditanggapi tawa oleh Gigan dan Rheas. Setelah sampai di depan pintu apartement Gestar, mereka pun memencet bel. Sayangnya sampai beberapa menit kemudian, tidak ada yang membukakan pintu sama sekali. Baru saja Gigan hendak menelepon, sebuah pesan masuk ke grup chat mereka. Sebuah pesan dari orang yang berada di dalam tentunya. "557890" —begitulah kiranya isi pesan tersebut. Dan, pintu terbuka. Mereka semua masuk ke dalam apartement yang mungkin tidak pantas disebut seperti itu. Mereka bertiga hanya terpaku ketika melihat suasana apartement Gestar yang tidak ubahnya tempat pembuangan akhir. "Apa pantas tempat seperti ini disebut sebagai apartement? Bahkan tempat pembuangan akhir lebih baik." Sindir Gigan yang lagi-lagi mengumpati Gestar. "Apa yang terjadi?" Tanya Karen kepada Gestar yang berada di dalam kamarnya, berkutat dengan beberapa komputer yang tersambung menjadi satu. Gestar menoleh ke belakang dan mendapati ketiga temannya sudah berdiri di sana. "Masuklah! Aku ingin kalian semua melihat ini." Ucap Gestar dengan sangat antusias. "Lain kali, kau bisa membereskan apartement- mu ini jika ingin kami datang! Kau pikir aku tidak terpaksa masuk ke dalam tempat pembuangan akhir seperti ini?" Protes Gigan yang memang sangat mencintai kebersihan sekali. Rheas hanya tertawa mendengarkan ucapan Gigan dan mengajaknya untuk segera berjalan ke arah Gestar. "Apa yang ingin kau tunjukkan? Seberapa pentingnya hal itu untuk kami ketahui?" Tanya Karen yang sudah lebih dulu mendekat. Gestar menghela napas panjang dan membuka sebuah situs web. "Kalian sudah mendengar kabar tentang Walikota Candala yang hilang?" Tanya Gestar kepada teman-temannya. "Kabar itu benar?" Tanya Rheas akhirnya. Gestar mengangguk, "hm, ... jika sampai beberapa hari lagi Walikota itu tidak bisa ditemukan, Mommy akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kebenarannya di depan media." "Lalu, ... apa yang kau temukan sampai membuat kami datang ke pembuangan akhir ini?" Tanya Gigan dengan penuh sindiran. "CK, bisakah kau tidak menyindir seperti itu? Aku sedang banyak sekali pekerjaan. Tidak sempat untuk membersihkan apartement ini." Tandas Gestar. "Sudah! Katakan apa yang kau temukan?" Ucap Karen tidak sabar. Gestar kembali fokus pada layar komputernya, "beberapa minggu ini, platform kepenulisan ini banyak dikunjungi dan begitu sangat populer di kota Candala. Kalian bisa melihat bahwa aplikasi ini berisi tentang cerita-cerita karangan seperti novel dengan mengangkat genre non- romance. Tetapi tema yang sedang hangat kali ini adalah pembunuhan. Siapapun bisa menjadi pembaca sekaligus penulis skenarionya." "Lalu, ... masalahnya apa? Bukankah menulis cerita adalah hal wajar? Jadi apa hubungannya dengan hilangnya Walikota, kau meminta kami datang, hanya untuk melihat aplikasi tidak berguna itu?" Tandas Gigan kesal. Gestar menghela napas panjang dan mencari salah satu akun yang mereka ketahui sebagai salah satu penulis di aplikasi itu. "Jenggala Senja" —akun yang diikuti hampir empat ratus ribu orang. "Waw, ... orang ini benar-benar terkenal." Ucap Karen takjub. Gestar mengangguk pelan, "jika kalian ingin tahu maksudku, lebih baik kalian membaca salah satu isi ceritanya! Sehingga aku tidak akan sulit menjelaskan tentang tujuanku mengajak kalian berkumpul di sini." "Hm, ... apa nama aplikasinya?" Tanya Rheas yang menyiapkan ponselnya untuk men- download aplikasi itu. "BLACK-LIST," ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD