Rheas meletakkan secangkir kopi di atas meja kayu yang berada di depan rumah kayu mereka. Gestar maupun Gigan sudah tepar di kamar karena kelelahan berlari. Mereka sempat tertangkap gadis-gadis yang menjadi fans fanatik mereka—meminta foto, membuat video singkat, atau dengan sengaja menjamah tubuh mereka dengan seenaknya. Sedangkan Rheas dan Karen lebih dulu menyelematkan diri dan naik ke bukit batu ini. Lalu malam ini, mereka berdua memilih untuk menikmati secangkir kopi sambil menatap gulungan ombak yang memecah suasana hening ini.
Karen meluruskan kakinya di atas kursi anyaman bambu, merebahkan dirinya sambil menikmati desiran angin yang cukup kencang. Sebuah pohon di dekat rumah kayu itu pun bergerak-gerak terkena angin. Rheas sendiri masih asik dengan bukunya, sebuah buku dengan judul bahasa asing yang sudah pernah Karen baca beberapa bulan yang lalu. Kurang lebih, Karen dan Rheas mempunyai kebiasaan yang sama—menyukai buku.
"Kau merokok?" Tanya Karen saat melihat Rheas membuka bungkus rokok yang diambilnya dari dalam saku celananya.
Rheas menjepit satu batang rokok dengan merk terkenal itu di kedua bibirnya dan menghidupkan pemantiknya.
"Terkadang, aku juga merokok." Jawab Rheas yang menghisap nikotin itu dalam-dalam. Menikmati setiap hembusan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Karen menarik satu batang rokok milik Rheas dan menjepitnya di kedua bibirnya. Namun beberapa ingatan mampir ke dalam otaknya, membuat Karen mengurungkan niatnya. Dia menjatuhkan rokok itu ke tanah setelah meremasnya.
Rheas menatap satu batang rokok kesayangannya yang hanya menjadi mainan Karen, "kenapa jadi rokokku yang menjadi pelampiasan? Ini dari merk terkenal, kau tidak suka atau memang ingin menyindirku untuk tidak merokok?"
"Aku sudah lupa caranya merokok," jawab Karen seadanya dengan menatap rokok yang sudah tidak berbentuk itu.
Rheas mengerutkan keningnya bingung. Apakah ada orang yang melupakan caranya merokok saat dirinya sedang tidak merokok. Rheas sendiri saja hanya sebulan berapa kali, itu saja jika sedang runyam pikirannya—tapi tidak lupa caranya menikmati nikotin ini. Kadangkala dirinya akan menikmati minuman beralkohol jika memungkinkan. Terkadang, menghilangkan stress akan semudah itu.
"Apa kau sedang memikirkan tentang perjodohan itu? Kau mencintainya atau tidak?" Tanya Rheas setelah mematikan rokoknya, sudah tidak b*******h untuk merokok lagi.
Karen menaikkan kedua bahunya acuh, "aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita sepertinya. Dia mungkin wanita gila, yang tersenyum dari awal sampai akhir acara sambil menggandeng lenganku. Lagipula, semua itu hanya perjodohan bisnis. Kenapa aku harus mencintainya? Lalu, mana ada orang yang jatuh cinta dalam sekali bertemu?"
"Bagaimana dengan cinta pandangan pertama?" Tanya Rheas menatap mata Karen dengan serius. "Lagipula Nara sangat cantik. Semua pria memuja kecantikannya, kecerdasannya, dan semua hal yang dimilikinya. Semua orang menginginkannya!" Sambung Rheas yang membuat Karen merasa geli.
Karen menggelengkan kepalanya dengan cepat, "bukankah kau sudah banyak membaca buku dan jurnal ilmiah? Mengapa mempercayai hal mustahil seperti cinta pandangan pertama yang hanya ada di buku dongeng anak-anak seperti itu?"
"Kenapa menghubungkan dengan dongeng anak-anak? Kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?" Tanya Rheas yang mendapatkan gelengan kepala dari Karen. "Kau serius? Kau tidak pernah jatuh cinta dan memiliki seorang kekasih di sana?" Sambung Rheas heboh.
Karen melipat tangannya di da-da dengan santai, "mengapa jatuh cinta dan mempunyai pasangan itu sangat penting? Aku terlalu sibuk dengan mimpi-mimpiku. Aku tidak peduli dengan percintaan dan semacamnya. Jatuh cinta bagiku, merepotkan!"
"Lalu untuk apa kau berada di luar negeri jika tidak berusaha untuk mendapatkan gadis-gadis bule itu. Betapa ruginya dirimu, Karen. Ah ... ternyata pengalaman cintamu jauh lebih buruk daripada pengalaman cinta Gestar! Aku menjadi sangat miris setelah mendengar semuanya." Ucap Rheas sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.
Karen tidak menggubris ucapan Rheas. Pria itu memilih untuk duduk menghadap pantai dan menatap ke arah gelombang yang menggulung dan menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Sedangkan Rheas kembali membuka bukunya dan mulai membaca. Sesekali Karen menatap ke arah sebuah titik di mana acara siang tadi dilaksanakan. Dia ingat dengan wanita yang bermain piano di sana. Dentingannya sangat bermakna sekali.
Kata Gestar, acara itu biasa disebut sebagai 'Dentingan Duka Lara' yang dibawakan oleh wanita tadi. Karen berharap dapat mendengarkannya lagi. Namun wanita itu mengatakan bahwa ini terakhir kalinya dirinya mendengar wanita itu memainkan pianonya. Sayang sekali, Karen ingin mendengarnya lagi dan lagi. Karena menurutnya, dentingan yang wanita itu ciptakan terasa begitu dalam dan membuatnya bisa merasakan duka yang dialami seseorang tanpa harus berkata-kata.
"Kau sudah memasukkan berkasmu ke kampus?" Tanya Rheas kemudian, setelah mereka tidak saling bicara selama beberapa saat.
Karen mengangguk, "aku sudah meminta Dechan memasukkannya. Semuanya sudah beres beberapa hari yang lalu, sebelum aku sampai di sini."
"Kau memang hebat memerintah orang lain!" Sindir Rheas yang hanya ditanggapi Karen dengan sebuah anggukan singkat saja.
Setelah malam semakin larut dan angin semakin kencang, mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kayu—menyusul Gigan dan Gestar tidur. Besok mereka harus kembali ke aktivitas semula. Karen pun harus mulai mempersiapkan semuanya sebelum benar-benar berangkat kuliah ke kampus yang baru. Sebenarnya Karen malas sekali untuk bersosialisasi kembali dengan orang-orang yang mungkin sudah mengenalnya. Mereka akan bersikap berbeda kepadanya karena sudah tahu siapa dirinya.
Jika di luar negeri, Karen tidak menggunakan nama Andersson di belakang namanya. Dia hanya akan menggunakan nama Alantra Karen saja, tanpa membubuhkan nama keluarganya. Karena semua orang jelas-jelas akan tahu siapa dirinya apabila menggunakan nama itu. Siapa yang tak kenal dengan keluarga Andersson? Pemilik dari Andersson Company yang hampir menguasai banyak sekali sektor—terlebih lagi sektor kesehatan.
"Aku dengar dari Papaku, salah satu cabang Andersson Company yang bergerak di bidang peralatan medis, akan mulai mengembangkan alat—" ucapan Rheas terpotong begitu saja oleh Karen.
"Kau bilang ingin tidur? Tidur saja! Kau terlalu mengantuk untuk bertanya hal tidak penting." Tandas Karen sambil memejamkan matanya.
Rheas membenarkan posisinya, "hm, baiklah! Aku tidak akan bertanya lagi, Tuan muda Karen."
"Baguslah!"
Karen sendiri memiringkan tubuhnya ke samping, matanya terbuka begitu saja. Dia benar-benar tidak bisa tidur karena terlalu overthingking. Semua posisi sudah dicobanya, namun tak ada satupun posisi yang nyaman untuknya. Dia benar-benar marah sekarang—marah pada keadaan yang membuatnya harus berpikir keras tentang beberapa hal yang bukan porsinya. Karen beranjak dari duduknya, berjalan keluar dari rumah kayu itu. Dia menghubungi seseorang via telepon di luar rumah.
"Halo," sapanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Kau bisa berikan aku informasi tentang laboratorium Andersson Company yang beberapa bulan lalu dipindahkan di kota ini. Besok kau laporkanlah padaku." Sambung Karen dengan berbisik.
Namun tidak jauh dari sana, seorang pria sedang berdiri sambil menatap Karen dengan tersenyum. Pria itu sudah mengawasinya sejak keluar dari rumah kayu itu.
***