Suara musik terdengar sangat keras, memenuhi ruangan, memekakkan telinga, namun membuat siapa saja yang berada di dalam menikmatinya. Sambil terus meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama, lalu membawa sebuah gelas berisi cairan bening yang katanya membuat siapa saja melayang dibuatnya. Aroma asap rokok di mana-mana, setiap sudut pun terasa sesak. Sofa-sofa panjang yang berada di pojok ruangan pun ikut penuh dengan beberapa pasang manusia yang sibuk berkembangbiak tidak tahu malu.
Beberapa pria dan wanita pun turun ke dance floor ketika DJ kesayangan mereka sudah memutar musik yang mereka inginkan. Seorang bartender pun sibuk menyiapkan pesanan dari beberapa orang yang hampir teler di meja. Ada juga remaja-remaja yang mengenakan rok mini sedang duduk tidak nyaman sambil diganggu pria setengah mabuk yang sejak tadi mencari ribut dengan tamu lainnya. Pria itu tersenyum dengan nakal, memandang remaja-remaja bau kencur yang sudah berani-beraninya masuk ke sarang setan seperti ini.
Kota Candala sudah seperti ibu kota pada umumnya. Menyimpan banyak sekali materi gelap yang jarang orang awam ketahui. Selain politiknya yang kejam, perusahan-perusahaan yang bermain orang dalam, pejabat dan seluruh aparatnya yang kurang ajar dan suka memakan hak rakyatnya, beberapa tempat seperti club' malam dan usaha terlarang lainnya tumbuh dengan subur—seperti dipupuk. Kota ini begitu bebas; semakin kaya dan semakin berpengaruh, semakin enak saja hidupnya. Segalanya hanya perlu uang saja, selesai.
Sama seperti orang-orang yang sudah biasa masuk ke club' ini, mereka pun menikmati gemerlap dunia dengan uang yang melimpah dan tidak akan habis. Bahkan remaja-remaja tadi pun mempunyai uang untuk sekedar menyogok penjaga di depan untuk bisa menikmati lampu kedap-kedip dengan musik kerasnya atau sekedar mencicipi minuman haram yang terkadang membuat mereka berakhir bersama dengan seseorang yang tidak dikenal di kamar hotel.
Jaman sekarang, mudah sekali untuk menikmati malam, menghangatkan ranjang, atau bermain tanpa perlu saling mengenal. Orang-orang jaman sekarang suka bermain yang simpel. Tidak ada rasa suka, cinta, tapi bisa melakukannya bersama-sama, asal sama-sama menerima resiko. Toh, biasanya tidak akan saling bertemu kembali. Satu malam untuk orang yang tidak dikenal. Biasanya, tidak memerlukan perkenalan, apalagi tukar nomor atau alamat rumah. Yang penting malam itu bisa bersama, sudah.
Pria dengan kemeja yang sudah lecek itu pun beranjak dari duduknya dan meletakkan gelasnya di atas meja yang berada di depan bartender dengan brewok tipis di wajahnya. Pria itu kembali meminta isi ulang gelasnya. Walaupun sudah banyak kehilangan kesadaran, pria itu tak mau mengalah. Datang ke club' tanpa mabuk, sepertinya kurang. Apalagi malam ini, dia sedang tidak ingin bermalam dengan siapapun. Meski ada beberapa gadis cantik yang terus menggodanya, mengajaknya untuk segera tidur bersama.
"Kau menikmati malam ini rupanya." Ucap bartender itu sambil meletakkan gelas berisi minuman pesanan dari pria berkemeja lecek itu.
Pria itu tersenyum, "aku sudah tiga hari tidak datang kemari. Jadi, tidak ada salahnya untuk mabuk, bukan? Kau juga senang? Aku akan memberi tips yang banyak untukmu karena sudah melayaniku dengan baik."
"Terimakasih, Tuan Muda." Ucap Bartender itu dengan menekankan kata Tuan Muda pada kalimatnya.
Pria itu mengusap wajahnya, "kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Kita teman, bukan?"
"Ya, ... aku suka berteman dengan orang kaya seperti dirimu." Jawab sang Bartender dengan sedikit tawa aneh di wajahnya.
"Kau memang kesukaanku, Kawan." Ucap pria itu dengan menyodorkan gelasnya kembali, meminta untuk mengisi gelasnya yang sudah kosong.
Bartender itu kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas pria itu sampai penuh. Lagi-lagi, pria itu dengan cepat menghabiskan satu gelas penuh minuman itu dengan susah payah karena kepalanya pun sudah mulai pusing. Setelah itu, dia berdiri dan kembali ke dance floor. Tubuhnya meliuk-liuk, mengikuti irama dan sesekali menggoda wanita berpakaian seksi yang berdekatan dengannya. Kali ini, wanita itu tampak menghindar.
Seorang pria lain yang mungkin punya hubungan dengan wanita itu pun mendekat dan mendorong pria berkemeja lecek itu dengan kasar. Pria berkemeja lecek itu tidak terima dan langsung menghantam kepala pria yang membawa wanita tadi dengan gelas yang berada di tangannya. Tiba-tiba kepala pria itu mengeluarkan banyak darah dan terkapar di dance floor dengan mengenaskan. Beberapa orang yang mengetahui kejadiannya pun hanya berteriak tidak karuan. Suasana pun semakin tidak kondusif, sampai beberapa bodyguard berbadan besar masuk ke dalam.
Mereka berteriak-teriak, mengatakan bahwa pria berkemeja lecek itu lah pelakunya. Namun kedua bodyguard itu hanya saling pandang. Dengan pelan, mengajak pria itu untuk keluar dari sana. Sudah dapat dipastikan bahwa kedua bodyguard itu hanya mengamankan si pria itu, meminta semua orang untuk tutup mulut jika tidak mau ada yang terluka kembali.
Kerla. Pria itu hanya tertawa sejak dibawa ke ruangan manajer dari club' malam itu. Mungkin jika bukan dari keluarga Andersson, mereka sudah menghajarnya sampai mampus. Namun karena masih ingin tetap usahanya aman, mereka hanya diam walaupun sedikit kesal. Pasalnya, bukan hanya sekali dua kali Kerla membuat masalah di club', sudah berulangkali dengan kasus yang hampir sama; hampir membunuh orang lain. Pria itu memang tidak punya hati nurani sama sekali.
Klek. Seorang pria paruh baya pun masuk ke dalam ruangan Manajer tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ah, ... Tuan Eldas. Silakan duduk!" Ucap Manajer mempersilakan duduk kepada pria paruh baya tadi.
"Cukup basa-basinya! Seperti biasa, kau bereskan pengacaunya. Berikan uang yang pantas karena aku sudah men-transfernya ke rekeningmu. Dan satu lagi, kau tahu caranya untuk berakting dengan baik, bukan?" Ucap pria paruh baya itu, Eldas.
Manajer itu diam sesaat, "baiklah! Tapi ini terakhir kali saya membantu Anda, Tuan!"
Eldas mendekat ke arah si Manajer dan menarik kerahnya, "kau bukan siapa-siapa, jadi jangan berani untuk mengatur apalagi mengatakan hal semacam itu. Jadilah pesuruh yang baik jika tidak mau aku hanguskan pekerjaanmu ini. Kau pikir kau siapa?"
Setelah mengatakan itu, Eldas pun mendorong si Manajer dengan kasar. Tidak ada perlawanan sama sekali, namun terlihat kemarahan dan juga kebencian di mata si Manajer kepada Eldas yang sudah berulangkali menyulitkannya.
"Heh, kalian, bawa Tuan Muda Kerla ke mobil." Perintah Eldas kepada beberapa bodyguard-nya yang berada di depan pintu.
Mereka buru-buru membawa Kerla untuk keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Eldas bersama sang Manajer.
"Aku tahu semua tentang keluargamu dan di mana mereka. Jadi, kau tinggal memilih. Memilih keluargamu aman dan menjalankan perintahku atau membiarkan mereka mati dan menolak semua uangku?" Tanya Eldas dengan tersenyum. "Tentunya kau pandai memilih, bukan?" Sambung Eldas yang memilih keluar dari ruangan itu.
Si Manajer mengeram marah, "aku akan membuat perhitungan denganmu, Tua Bangka!"
***