JENGGALA SENJA : Lembaran Informasi

1118 Words
Tumpukan kardus berisi buku memenuhi apartement-nya. Karen yang baru pulang dari rumah kayu pun hanya bisa menatap tumpukan kardus itu. Jika masalah menyusun buku-bukunya di rak, Karen tidak bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Untuk baju-baju, sepatu, tas, dan berbagai macam outfit miliknya sudah tertata rapi di dalam almari atau gantungan yang berada di dalam kamar khusus. Hanya tinggal menyusun bukunya, memilah buku yang masih dipakai atau tidak. Sayangnya, menyusun buku adalah hal yang akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dilakukan Karen. Dia sangat suka membaca, tentu saja bukunya sangat banyak. Apalagi buku-buku dengan bahasa asing, sangat Karen sukai. Tidak hanya buku-buku manajemen atau bisnis, Karen menyukai banyak jenis buku. Bahkan terkadang membaca novel dengan pengarang terkenal. Kadangkala Karen suka dengan novel Thriller atau fantasi. Untuk novel romance, Karen kurang menyukainya. Pria itu membuka salah satu kardus yang berada di dekatnya, tumpukan novel semua seri dari penulis yang dirinya sukai. Karen mengambil sebuah novel season 1, novel yang membuatnya tertarik tentang dunia seorang psikopat. Karen mengerti bahwa semuanya hanya sekedar fantasi tidak nyata, namun Karen seperti bisa melihat bagaimana perasaan seorang psikopat yang kehilangan segalanya lalu menjadi semakin jahat dan membunuh semua orang yang melukai orang yang dia cintai. Drt Drt Drt Suara ponselnya berdering nyaring, ada sebuah panggilan yang berasal dari Dechan. Karen mengerutkan keningnya, bahkan dia meminta Dechan untuk tidak menghubungi dirinya ketika sudah berada di apartement. Tetapi mengapa pengawalnya ini nekad sekali? Dengan malas Karen mengangkat telepon itu, mungkin ada yang sangat penting atau sangat mendesak sampai Dechan menghubunginya selarut ini. "Halo, ada apa?" Tanya Karen sambil meletakkan novel itu ke dalam kardus kembali dan berjalan ke arah pintu balkon kamarnya yang terbuka lebar. "Selamat malam Tuan Muda, maaf karena saya menghubungi sekarang. Saya tahu Tuan Muda tidak suka, namun saya harus segera memberi informasi ini kepada Tuan Muda sekarang juga." Ucap Dechan yang mulai mengatakan maksud dan tujuannya menelepon Karen. Karen mengerutkan keningnya dengan bingung, "ada informasi apa yang ingin kau sampaikan padaku malam ini?" "Saya menemukan beberapa berkas yang mungkin ingin Tuan Muda lihat. Saya sudah mengirimkan file tersebut di e-mail Tuan Muda. Apa Tuan Muda sudah mendapatkannya?" Tanya Dechan. Karen diam beberapa saat, dia sibuk mencari ponsel miliknya yang lain di dalam laci. Setelah menemukannya, Karen membuka notifikasi e-mail miliknya dan menemukan beberapa file yang telah dikirimkan Dechan. Pria itu men-download semua file untuk melakukan analisis terhadap usaha baru sang Daddy yang sudah membawanya ke dalam masalah ini. "Kau sudah mendapatkan informasi tentang laboratorium Andersson?" Tanya Karen sambil memindahkan file tersebut ke laptopnya. "Saya akan berusaha lebih keras lagi, Tuan Muda." Ucap Dechan yang itu artinya belum mendapat informasi sama sekali. "Saya sudah mengirim mata-mata untuk memantau segala aktivitas mencurigakan di sana. Tapi yang saya tahu Tuan Muda, ada yang tidak beres dengan penelitian yang baru." Ucap Dechan kepada Karen. Karen tersenyum tipis, "aku sudah menduganya! Tolong tetap pantau semuanya dan aku akan menunggu kabar darimu tentang sesuatu apa yang mereka buat di laboratorium itu." "Baik, Tuan Muda." Karen mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, jarinya sibuk menari di atas touchpad untuk melihat isi file yang dikirim Dechan tadi. Matanya mengamati isi file itu, sesekali terlihat kerutan di dahinya. Tanda bahwa ada beberapa bagian yang membuatnya masih bingung. "Apa yang sebenarnya Daddy perjuangkan bersama pengacara itu?" Tanya Karen kepada dirinya sendiri. Meskipun terkumpul beberapa file, Karen masih membutuhkan banyak informasi lebih lanjut. Tetapi Karen tidak tahu harus bertanya kepada siapa, dia sendiri tidak mempunyai pandangan lain. Semuanya seperti menemui jalan buntu. Langkahnya kembali tidak terarah, namun setidaknya ada beberapa file ini. Karen merasa lebih yakin jika ada sesuatu yang harus diurusnya di sini. Tentang keluarganya yang memang mempunyai bisnis ilegal yang tidak dirinya ketahui. Tidak lama terdengar sebuah ketukan dari luar. Karen beranjak dari posisi duduknya, mengintip dari sebuah lubang kecil untuk melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini ke apartement-nya. Terlihat seorang pria sedang berdiri sambil menenteng plastik di tangannya. Karen membuka pintu apartement miliknya, memberikan jalan kepada pria itu untuk masuk ke dalam. "Wah, apartement ini masih sama dengan saat kita berumur delapan tahun." Ucapnya memperhatikan apartement lama milik Karen—dia sudah mempunyai apartement ini sejak lama, sebelum dirinya pindah ke luar negeri. "Apa yang kau lakukan? Kenapa datang ke apartement-ku tanpa pemberitahuan?" Tanya Karen kepada pria di depannya itu, Rheas. Rheas hanya tersenyum, lalu dia meletakkan plastik itu di atas meja. "Aku datang membawakanmu bahan-bahan sayuran. Aku akan membuatkan salad untukmu. Jangan terlalu banyak memakan makanan fast food, di sini makanan banyak yang tidak sehat." Ucap Rheas yang sibuk mengeluarkan sayuran yang dibelinya dari dalam kantung plastik. Karen hanya menggeleng pelan dan memilih untuk duduk di kursi yang dekat dengan dapur. "Kau datang kesini hanya untuk memasak di dapurku? Bukan untuk hal lainnya? Kau tidak sedang kabur dari acara konferensi pers tentang pembangunan infrastruktur baru yang direncanakan orang tuamu?" Tanya Karen yang lebih mirip dengan tuduhan. Rheas berpikir sejenak, "ya, ... kau sudah tahu kebenarannya! Jadi, aku tidak perlu berpura-pura. Aku tidak ingin datang kesana, aku sedang tidak ingin beromong kosong di depan wartawan. Kau tahu 'kan, bahwa semua itu sangat membosankan!" "Mana aku tahu! Aku sudah lama tidak melakukannya!" Jawab Karen dengan santainya. Rheas menghela napas panjang. Sepertinya Karen tidak berubah walaupun mereka sudah lama tak bertemu. Pria itu tetap temannya yang menyenangkan dan selalu memahaminya. Karen yang dulunya berumur sepuluh tahun, sekarang sudah tumbuh dengan baik. "Apa rencanamu dengan tumpukan buku itu?" Tanya Rheas menunjuk ke arah buku-buku yang berantakan di kamar Karen. Karen mengangkat kedua bahunya bingung, "aku baru saja memikirkan tentang mau ku kemanakan buku lamaku. Mungkin, akan mulai aku sumbangkan untuk taman baca anak atau ke panti asuhan atau di mana saja tempat yang membutuhkan." "Kau tidak berencana bicara dengan tunanganmu? Dia donatur disalah satu rumah singgah! Mungkin dia tahu kemana kau bisa mendonasikan tumpukan bukumu yang sudah tidak berguna itu." Ucap Rheas sambil menarik salah satu kursi di meja makan dan mendudukinya. Karen menatap Rheas beberapa saat dan menggeleng, "kenapa kau sangat ingin aku bertemu dengannya, lagi? Jika tidak ada acara penting, kenapa aku harus datang menemuinya? Dia bahkan tidak menghubungiku juga. Jadi, hubungan kami hanya sebatas saling mengenal saja. Bukan tunangan yang sesungguhnya. Aku pun tidak mencintainya!" "Lalu, ... apa yang akan kau lakukan jika suatu saat nanti bertemu dengan orang yang kau cintai? Kau memilih siapa?" Tanya Rheas penasaran. "Tentu saja aku akan memilih orang yang aku cintai! Jawaban seperti itu bahkan bisa aku jawab tanpa berpikir sedikitpun!" Jawab Karen dengan santainya. "Aku akan membereskan buku-buku milikku. Dan kau jangan berani merokok di apartement-ku. Aku membenci aroma asap rokok di dalam ruangan!" Sambung Karen memperingatkan. "Ya, ... kau suka sekali memerintah!" Tandas Rheas sambil mengeluarkan kotak rokoknya dan meletakkannya di atas meja dengan kesal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD