"Tuan Muda Kerla dari keluarga Andersson kembali mendapatkan perhatian publik. Baru-baru ini Tuan Muda Kerla menjadi sasaran kejahilan seorang Bartender yang dikirim oleh salah satu musuh dari Andersson Company. Bartender tersebut pun sengaja meletakkan obat di dalam minuman Tuan Muda Kerla sehingga membuatnya kehilangan kendali dan mencelakai seorang tamu disalah satu club' malam yang ada ditengah kota Candala..."
Gigan mematikan sebuah tayangan berita yang mengabarkan tentang Kerla—Raja masalah, sebutan Gigan untuk pria yang merupakan saudara kandung dari sahabatnya sendiri, Karen. Pria dengan kaos polos warna hitam yang tengah memegang remot itu hanya menggelengkan kepalanya heran. Berita itu sudah ditontonnya banyak kali, memenuhi seluruh saluran televisi, bahkan surat kabar online maupun offline.
"Kau percaya dengan pemberitaan itu?" Tanya Gigan kepada Karen sambil meletakkan remot televisi itu di atas meja dekat sofa di mana Gestar tengah asik duduk sambil menikmati kue kering di dalam toples kaca.
Pria dengan kemeja biru laut yang digulung sampai siku itu hanya tersenyum tipis, "sejak kapan aku percaya kepada media? Sejak aku dilahirkan menjadi keluarga Andersson, aku tidak pernah mempercayai media manapun. Pemberitaan akan selalu muncul dengan mengagung-agungkan pihak yang mempunyai kekuasaan."
"Pasti Kerla memberikan uang yang banyak untuk pemilik club' malam itu agar bisa dibebaskan dari tuduhan. Apalagi posisinya semakin kuat dan tidak bisa dikalahkan karena adanya Eldas disisinya!" Imbuh Rheas yang baru saja muncul dengan membawa kaleng minuman soda di tangannya.
Karen mengangguk singkat, "aku sudah mempelajari tentang Eldas Gamamentra. Dia pengacara yang tidak bisa dikalahkan, bukan? Sama dengan putrinya yang punya ambisi tinggi dengan sebuah kesempurnaan. Mungkin itu alasannya mengapa Anara mau menerima pertunangan denganku!"
"Yaps, dia tidak menyukaimu! Dia hanya menganggap mendapatkan dirimu membuatnya menjadi gadis yang semakin sempurna. Walaupun dia sangat cantik, tapi aku tak suka cara pandangnya! Dia contoh gadis yang akan menginjak-injak harga diri pria sampai ke akarnya." Sambung Gigan menjelaskan tentang sosok Nara, tunangan Karen.
Karen menoleh ke arah Gestar yang sibuk dengan makanannya, "apa kau pernah mendekati gadis itu, Gestar?"
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Gestar dengan tidak biasa.
"Vailla Anara Gamamentra," jawab Karen dengan menyebutkan nama panjang dari kata 'gadis itu' dalam pertanyaan Karen.
Baik Gigan maupun Rheas hanya menahan tawa. Mereka lebih tahu tentang betapa kelamnya masa-masa percintaan Gestar dengan beberapa gadis. Bukankah sudah pernah Rheas katakan bahwa kisah percintaan Gestar menyedihkan. Mungkin, salah satunya adalah dengan Nara, gadis perfeksionis yang sangat memuja kesempurnaan.
"Jika kau khawatir dengan hubungan kami, aku hanya bisa mengatakan bahwa kami tidak mempunyai hubungan apapun!" Tandas Gestar kembali memakan kue kering yang tinggal setengah toples.
Gigan tertawa pelan, "ya, ... memang tidak ada hubungan apapun diantara kalian! Bahkan sebelum kau mencoba mengatakan perasaanmu, Nara yang cantik itu sudah menghancurkan mentalmu lebih dulu."
"Maksudnya?" Tanya Karen kepada Gigan dan Rheas yang sudah tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi.
"Hm, ... Anara mengatakan padaku bahwa dia hanya akan menikahi pria yang sempurna. Jika aku adalah kau, dia akan menikah denganku. Anara juga bukan tipikal gadis yang suka berkencan. Hampir semua pria yang mendekatinya sudah di-dokrin sedemikian rupa untuk enyah dari hidupnya. Dia memang gadis yang kejam!" Cerita Gestar sendiri sebelum kedua temannya—Rheas dan Gigan—menceritakan dengan hiperbola.
Terdengar suara tawa dari Rheas dan Gigan yang sangat puas mendengar cerita Gestar. Sedangkan Karen pun hanya menganggukkan kepalanya. Rupanya perjodohan itu memang sudah lama direncanakan. Buktinya Nara meminta Gestar untuk menjadi dirinya—agar bisa dinikahi. Jadi, menurut seorang Anara, Karen adalah pria yang sempurna dan pantas untuk dinikahi.
Perlahan, Rheas dan Gigan berhenti tertawa. Mereka saling pandang dan menatap Karen yang sibuk melamun. Gestar pun memilih untuk menutup toples kue kering itu dan meletakkan di atas meja.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rheas ragu-ragu.
Karen menggeleng pelan, "sepertinya aku harus menemui seseorang! Aku akan pergi lebih dulu!"
Karen buru-buru mengambil ponsel miliknya yang baru beberapa menit di-charge. Pria itu berjalan keluar dari mansion milik keluarga Gigan dengan terburu-buru, lalu masuk ke dalam sebuah mobil berwarna silver yang beberapa hari lalu dibelinya. Mobil itu melaju dengan cepat, membelah jalanan untuk sampai ke tujuan yang sebenarnya.
"Kenapa dia buru-buru sekali?" Tanya Gigan kepada kedua temannya yang masih tersisa.
Gestar dan Rheas menggeleng secara bersamaan.
"Kenapa sulit sekali membaca pikiran Karen. Dia selalu melakukan apapun tanpa basa-basi. Sepertinya ada yang penting dan perlu diurus." Ucap Rheas sok tahu.
Sebelum akhirnya masuk ke dalam, sebuah mobil masuk kembali. Mobil berwarna hitam itu terbuka dan menampakkan seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi.
"Mau apa dia di sini?" Tanya Gestar menyenggol lengan Gigan pelan ketika melihat pria berjas rapi itu berjalan ke arah mereka.
"Mana aku tahu," jawab Gigan yang memasang wajah malas.
Pria itu tersenyum ke arah Gigan, Gestar, dan Rheas yang terlihat malas.
"Untuk apa kau datang kemari? Tak ada yang menginginkanmu datang kesini atau mengundangmu! Jadi, pergilah!" Ucap Gigan pedas.
Pria itu, Kerla, melipat tangannya di da-da sambil terus tersenyum. Tak ada yang mengajaknya untuk datang dan bergabung, namun pria itu datang sendiri tanpa diundang sama sekali.
Kerla berjalan mendekat, "aku hanya ingin bertanya tentang kedatangan Karen. Apa yang membuatnya sampai kembali kesini setelah sepuluh tahun meninggalkan negara ini? Kalian bertiga tentu saja mengetahuinya, bukan?"
"Jika aku tahu sekalipun, aku tidak akan memberitahumu. Lagipula, ini bukan urusanmu!" Tandas Rheas yang mewakili suara hati Gigan dan Gestar.
"Tentu saja ini urusanku! Jika dia datang hanya sebagai penghalang, maka aku tidak akan segan untuk menyingkirkannya." Ucap Kerla dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Singkirkan saja!" Jawab Gestar Dengan santai. "Mungkin, sebelum kau melakukannya, Karen sudah menyingkirkanmu lebih dulu." Sambungnya.
"Sudah, tinggalkan saja dia! Waktu kita terlalu berharga untuk sekedar menanggapi omong kosongnya." Ucap Gigan yang mengajak Gestar dan Rheas untuk masuk ke dalam.
"Tung~" ucapan Kerla terpotong karena Gigan sudah menutup pintu.
Mereka benar-benar tidak memberi rasa hormat sedikitpun kepada Kerla. Mereka mengenal Kerla dengan baik, pria itu sangat menyebalkan dan ada baiknya untuk diabaikan saja. Mereka pun merasa heran, kedatangan Karen setelah sepuluh tahun masih menjadi sebuah perang tersendiri untuk Kerla yang ketakutan bahwasanya posisinya akan tergantikan oleh sang adik. Meskipun semua orang juga tahu bahwa Karen memang lebih cocok memimpin perusahaan menggantikan posisi Javier.
Sayangnya, Karen tidak terlihat menyukai posisi itu. Karen tidak berminat menjadi seseorang yang duduk di perusahaan, apalagi perusahaan itu adalah perusahaan yang bermasalah baginya.
***