Rumah sakit Seravin, rumah sakit nomor satu di negara ini. Ruangan bagus, fasilitas lengkap, mewah, dan nyaman untuk digunakan. Dengan seluruh tenaga medis terbaik dan menjadi tempat para orang-orang kaya kelas atas mengobati penyakit, begitulah bahasa kasarnya. Katanya, rumah sakit ini adalah rumah sakit milik pemerintah. Namun rakyat biasa yang mempunyai pemerintahan tidak diperbolehkan untuk masuk sekedar berobat.
Terlalu banyak berkas yang harus disiapkan. Dari rumah sakit ini ke rumah sakit itu, lalu ke rumah sakit sana ke rumah sakit sini, mengurus berlembar-lembar rujukan sampai akhirnya pun belum tentu diterima dengan banyak alasan tentunya. Itu bukan hanya di rumah sakit besar seperti RS Seravin, masih banyak rumah sakit pemerintah yang top namun berpihak penuh kepada para manusia ber- uang.
Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang! —quotes itu memang valid adanya. Tidak punya uang, tidak punya jabatan, tidak punya kedudukan, maka kamu bukan siapa-siapa. Tidak hanya di negera ini, namun hampir di seluruh lapisan masyarakat sudah demikian. Yang kaya akan semakin memperkaya diri, dan yang miskin berusaha mencari kehidupan dengan mengepel jalanan—mengais jerih payahnya yang hanya berupa uang recehan.
Karen tidak percaya bahwa Nirmala pun tidak dibawa ke rumah sakit ini, melainkan di- oper ke rumah sakit yang lain setelah melihat riwayat hidupnya. Anggap saja Nirmala itu orang pas-pasan yang katanya lagi tidak pantas untuk mendiami salah satu ruangan di rumah sakit ini. Toh, masih banyak orang kaya yang akan menggunakan ruangan yang tadinya akan digunakan untuk Nirmala. Ya, Karen doakan saja; semoga orang kaya itu banyak yang sakit.
Dia merasa sehat, bugar, waras, dan tidak sakit sama sekali. Tapi kenapa harus repot-repot dirawat di ruangan kelas S yang katanya lagi adalah ruangan paling mewah di rumah sakit ini. Jika Karen bisa memberi saran, ruangannya lebih baik lagi digunakan sebagai ruangan biasa dengan kapasitas sebanyak lima orang. Setidaknya banyak orang yang akan memanfaatkan tempat ini sebagai tempat berobat yang lebih berguna.
"Mau sampai kapan aku di sini? Bahkan tempat ini lebih cocok untuk wanita yang aku selamatkan tadi daripada untukku dengan keadaan yang sehat tanpa luka sedikitpun." Tandas Karen kepada Verma, Ibunya, yang menunggunya di dalam ruangan itu sambil membuka pesan-pesan penting di ponselnya.
"Sampai Daddy- mu menyelesaikan semua konferensi pers tentang apa yang kau lakukan hari ini!" Jawab Verma melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Karen menghela napas panjang dengan wajah malas, "selalu saja menggunakan media untuk sesuatu hal yang tidak penting! Kenapa keluarga kita selalu melakukan konferensi pers setiap kali ada hal menarik?"
"Kau baru kembali beberapa hari, Karen. Belum mengerti bagaimana seni berbisnis dengan menampilkan hati malaikat. Image yang telah kau bangun di depan publik sudah sangat luar biasa. Daddy atau Mommy, tak perlu membuat kepercayaan publik kepadamu. Karena tanpa sadar pun, mereka sudah mempercayaimu. Itu point pentingnya!" Ucap Verma yang terdengar menyebalkan di telinga Karen.
Karen merubah posisinya dari posisi berbaring menjadi duduk, "aku tak menampilkan image apapun. Aku hanya memberitakan bantuan dan semua itu lebih dari ajang cari muka yang selalu kalian ajarkan. Mommy bisa mengajari Kerla dengan baik. Membawa seorang gadis yang tidak setara dengan kita ke meja makan, apakah itu pantas?"
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Verma mengerutkan keningnya bingung.
Karen melepaskan selang infusnya dan beranjak begitu saja, "bagaimana jika Mommy tanyakan sendiri pada Kerla. Aku akan pergi dari rumah sakit ini karena merasa sangat sehat. Dan aku akan lebih menghargai lagi jika wanita itu yang menggunakan ruanganku. Tentunya, Mommy sudah membayar mahal untuk kamar ini, bukan? Jangan sampai rugi."
Pria itu meninggalkan kamar rawat itu dengan tersenyum ke arah sang Ibu. Mungkin Karen bisa dikatakan sebagai anak yang sedikit kurang ajar. Namun semua itu mempunyai alasan tersendiri. Di depan ruangannya ada seorang gadis yang tadi datang ke rumah sakit bersamanya.
"Kau belum pulang?" Tanya Karen yang membuat Nara kaget dengan kehadirannya.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah kau seharusnya istirahat di dalam?" Tandas Nara sambil meminta Karen untuk kembali ke dalam.
"Sudahlah, biarkan saja dia pergi! Lebih baik kita pergi belanja pakaian untuk pesta daripada sibuk mengurus Karen!" Sahut Velma kepada Nara yang berusaha meminta Karen untuk kembali ke ruangan rawatnya.
Nara menghela napas panjang dan berpikir ulang; mengapa dirinya harus merepotkan diri sendiri? Bukankah mereka hanya sekedar sepasang tunangan yang di- setting oleh kedua orang tua mereka? Jadi, tidak ada kewajiban lain selain memikirkan image sempurna di depan kamera.
Karen menghela napas panjang dan menatap lorong yang dihimpit oleh kamar-kamar dengan ruangan rawat inap yang besar. Bayangkan saja itu seperti kamar di ruangannya tadi. Rumah sakit ini sempurna untuk orang-orang kaya yang mungkin membutuhkan banyak waktu untuk menghabiskan uang mereka. Bahasa kasarnya, untuk mereka-mereka yang tidak mau mati cepat karena sudah rela melakukan segala cara untuk menghasilkan uang.
"Heh, apa yang kau lakukan di sana, Bodoh?" Tegur seseorang dengan memanggil Karen dengan sebutan 'Bodoh'.
Rheas melipat tangannya di da-da, menatap Karen dari atas sampai bawah dengan wajah malas. Karen sendiri baru saja menghubungi Rheas untuk menjemputnya di rumah sakit. Namun belum ada sepuluh menit, Rheas sudah berada di lobi rumah sakit.
Beberapa staff rumah sakit sibuk menyapa Karen. Tersenyum ramah sambil membungkukkan badan. Berulangkali terdengar sebutan 'Tuan Muda'—sebutan yang sangat Karen benci sampai sekarang.
"Kau membuat orang-orang terus memperhatikanmu. Kau menyebut aku bodoh baru saja!" Tandas Karen yang berbelok ke sebuah mesin minuman, mengambil sekotak s**u gratis yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk pengunjung.
Karen memberikan satu kotak s**u yang lainnya kepada Rheas, mengajak temannya itu untuk duduk di tempat kosong yang dekat dengan tembok kaca—di mana berjajar meja bundar dan kursi yang biasanya digunakan untuk mengusir lelah sambil melihat area luar.
"Aku melihat beritamu di televisi. Bahkan aku ragu kau melakukannya karena membantu wanita itu. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan. Kau ingin bunuh diri?" Tanya Rheas memastikan kepada Karen.
Karen menatap Rheas dengan tatapan tidak percaya, "kau sudah gila? Untuk apa aku bunuh diri? Aku tidak akan mati muda dan menyia-nyiakan ketampananku."
"Dasar bodoh!" Tandas Rheas dengan kesal.
Lalu tidak lama kemudian terdengar suara orang-orang ribut.
"Ada apa?" Tanya Karen kepada Rheas kemudian.
Rheas mengangkat kedua bahunya acuh, "mana aku tahu! Kita berdua ada di sini. Tapi saranku, lebih baik kita berada di sini saja. Pamormu sedang naik. Semua orang akan mengenalimu. Jadi, lebih baik tunggu sampai kerumunan orang di depan bubar!"
***