JENGGALA SENJA : Kolam Renang Raksasa

1039 Words
Byur! Setelah bunyi 'byur', barulah tatapan orang-orang yang berada di dekat jembatan kayu itu mengarah ke bawah, menatap seorang wanita cantik yang sempat berdiri didekat mereka sudah menceburkan dirinya tanpa tanda. Teriakan orang-orang terdengar panik, mereka menatap wanita itu yang entah masih hidup atau sudah mati. Ada yang sibuk menelepon polisi, tim SAR, atau langsung rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulance. Belum selesai keterkejutan mereka semua, seorang pria yang melempar jas- nya langsung menceburkan diri ke dalam sungai yang memang ada di dekat sebuah restauran seafood yang terkenal di daerah ini. Pria dengan perawakan tinggi itu muncul ke permukaan setelah menceburkan dirinya dan menatap sekeliling, mencari wanita yang baru saja melakukan tindakan semacam bunuh diri atau anggap saja sebagai sebuah kecelakaan semata. Bisa saja, 'kan? Pria itu berenang sebentar dan akhirnya dapat menemukan wanita yang dicarinya tengah pingsan dan dibawanya ke daratan. Beberapa orang yang berada di atas jembatan merasa cukup tenang ketika melihat pria itu bisa membawa wanita itu untuk sampai ke daratan. Beberapa warga yang berada di dekat sungai itu pun membantu, menarik keduanya agar cepat sampai di darat. Setelah sampai pria itu meminta orang-orang disekitar sana untuk memanggil ambulance. Tapi sebelum ambulance atau pertolongan datang, pria itu melakukan pertolongan pertama yang bisa dirinya lakukan untuk korban tenggelam. Beberapa menit kemudian, wanita itu sadar dengan memuntahkan air yang ada dalam paru-parunya. Wanita itu terbatuk-batuk dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya pria itu yang terdengar cukup bodoh. Tidak ada yang baik-baik saja setelah jatuh dari jembatan yang walaupun tidak terlalu tinggi mampu membuatnya meninggal dengan sia-sia. "KAREN!" Teriak Nara yang tampak khawatir karena sempat melihat sang tunangan yang menceburkan dirinya ke sungai tanpa memakai pengaman apapun. Gadis itu berjalan dengan cepat ke arah Karen walaupun dengan sepatu high heels yang cukup tinggi. Pria itu yang diketahui adalah Karen itu pun hanya mengulurkan tangan kanannya untuk memberikan bantuan kepada Nara yang ingin menjangkaunya. "Kau sudah gila?" Bentak Nara yang membuat beberapa orang di sana menatap ke arah mereka, tidak asing. Karen mengelus pundak wanita itu pelan setelah sepenuhnya sadar dari pingsannya. Sedangkan tangannya yang lain masih menggenggam tangan Nara yang berada di belakangnya—sibuk mengomeli tindakannya yang katanya berbahaya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Karen sekali lagi kepada wanita yang masih terbatuk-batuk itu. "Ada yang sakit, 'kah?" Sambung Karen yang merasa khawatir sambil menatap wajah wanita itu yang memerah. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita itu. Yang terdengar saat itu hanyalah tangisan kecil. Jadi, apa wanita itu benar-benar ingin bunuh diri? Karen tidak tahu pasti, namun ketika berada di dalam restaurant tadi, dia jelas-jelas melihat wanita itu memandang kosong ke arah jembatan. Lalu dengan sekuat tenaga, Karen datang namun terlambat karena wanita baru saja terjun ke sungai. Tidak lama kemudian suara sirene ambulance terdengar nyaring. Dua ambulance datang beriringan. Karen melirik Nara yang masih digenggam tangannya dengan tatapan bertanya. Nara hanya diam, melipat kedua tangannya di da-da. Beberapa orang dengan pakaian perawat datang, membelah kerumunan dan langsung mendekati Karen. "Apa Anda baik-baik saja, Tuan Muda?" Tanya salah satu perawat yang sibuk mengecek kondisi Karen. Karen menggeleng pelan, "kalian tolong urus wanita ini terlebih dulu. Saya tidak apa-apa! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." "Kar~" ucapan Nara terpotong dengan tatapan yang Karen layangkan. Nara mendengus sebal, namun memilih untuk menutup mulutnya serapat mungkin. Wanita itu dibawa ke ambulance, sedangkan Karen masih berada di sana, menggandeng tangan Nara—tanpa berniat melepaskannya. Ada beberapa wartawan yang datang, mereka menyoroti keduanya yang tengah berjalan menuju ambulance satunya. Para wartawan yang berada di sana sibuk mengambil gambar keduanya, mengabaikan sosok Kerla yang berdiri sambil menatap Karen yang basah kuyup. Ketika wartawan-wartawan itu akan mendekati keduanya, Dechan datang pada waktu yang tepat dan meminta semua wartawan untuk menyingkir karena Karen harus dibawa ke rumah sakit. Sebenarnya Karen baik-baik saja, namun demi menghindari sorotan wartawan akhirnya dia pun hanya menurut. Pria itu tersenyum ke arah semua orang yang mungkin kaget dengan kemunculannya yang bisa dikatakan tidak sengaja. Karen masuk ke dalam ambulance bersama dengan Nara setelah Dechan memberikan sebuah selimut tebal kepadanya. Pintu ambulance pun ditutup dan Karen diminta untuk tiduran di tempat yang disediakan, tentunya dengan kualitas yang sangat bagus. Ini ambulance khusus untuk mengangkut orang-orang yang punya uang lebih. Padahal, Karen tidak terluka sama sekali. Dia sehat! "Kau yang memanggil ambulance terbaik di rumah sakit Seravin? Aku bahkan baik-baik saja! Seharusnya kau mengkhawatirkan wanita yang tadi, bukan aku!" Tandas Karen yang menggelengkan kepalanya pelan. "Hangat!" Sambung Karen ketika penghangat di- ambulance khusus milik rumah sakit Seravin itu mulai dihidupkan. Nara memasang wajah sebal ke arah Karen yang biasa-biasa saja, "kenapa kau tampak biasa-biasa saja setelah terjun dari jembatan? Apa kau tidak berpikir tentang keselamatanmu sendiri? Kau bisa saja mati karena nekat sok menjadi pahlawan." "Hm, ... buktinya aku baik-baik saja sekarang. Berarti kekhawatiranmu itu tidak berdasar. Toh, aku atlit renang di sekolah lamaku. Aku juga perenang yang baik ketika jaman sekolah dasar." Ucap Karen bangga. Nara tersenyum sinis, "ini bukan arena kolam renang!" "Kolam renang raksasa," jawabnya dengan santai. Nara hanya diam, percuma jika harus berdebat dengan Karen yang tidak ada habisnya. Gadis itu sesekali melirik ke arah Karen yang sedang memejamkan matanya. Sedangkan Karen sendiri sedang memikirkan kondisi wanita yang ditolongnya tadi. "Apa masalahnya begitu berat sampai harus mengakhiri hidupnya?" Batin Karen sambil memejamkan matanya. Nirmala, nama yang cantik untuk wanita yang cantik pula. Hanya itu yang dia tahu, sebatas namanya saja. Namun Karen cukup tertarik kepada sosok wanita itu. Dentingan piano yang dimainkannya begitu dalam, Karen suka. Mungkin semenjak mereka bertemu di pantai, Karen menjadi menaruh perhatian besar kepada wanita itu. Karen pun menjadi lebih penasaran dan berulangkali tanpa sengaja mereka dipertemukan. "Aku melihat salah satu postingan menarik. Kau yang biasanya jarang menge- post sesuatu kenapa tiba-tiba merekomendasikan sebuah cafe di tempat terpencil seperti itu? Kau bahkan tidak tahu seperti apa cafe itu. Kau membuka endorse?" Tanya Nara yang disambut anggukan dari Karen. "Mengapa kita tidak sampai-sampai di rumah sakit?" Tanya Karen kepada salah satu perawat yang sejak tadi sibuk merawatnya, padahal tidak ada luka sama sekali. "Sudah sampai, Tuan Muda!" Tepat setelah bertanya, mobil ambulance itu berhenti. "Aku muak dengan sebutan Tuan Muda!" Bisik Karen kepada Nara sebelum turun dari ambulance. Nara tersenyum sinis, "dasar pria gila!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD