Terdengar suara ketukan high heels yang membentur lantai. Suaranya pun berirama, membuat siapa saja perlu memutar kepala untuk tahu siapa pemilik sepatu itu. Beberapa orang yang ada di dalam restoran seafood itu hanya menatap ke arah seorang gadis yang tengah berjalan sambil menggandeng lengan pria tampan ber- jas putih. Seperti sudah biasa menjadi tontonan, gadis cantik itu terus berjalan tanpa menoleh sama sekali.
Keduanya serasa berjalan di atas red carpet sebagai tamu kehormatan di restoran itu. Sesekali pria itu akan menebarkan senyum atau terlihat mengedipkan matanya kepada para gadis yang duduk dibarisan kursi dekat jendela. Dengan senang, para gadis itu pun menyambut dengan tatapan menginginkan. Tidak ada yang menolak pesona pria itu, meski ada gadis cantik disampingnya. Lalu mereka berjalan menuju sebuah tempat yang sudah dipesan khusus, hasil reservasi dari Berlin, yang kali ini menjabat sebagai salah satu staff di pemerintah daerah.
Sepasang manusia yang terlihat 'sangat norak' di depan Karen dan Nara adalah Kerla dan seorang gadis yang entah siapa namanya. Mereka pun belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tampaknya pun, gadis itu bukanlah dari keluarga kelas atas yang kemungkinan mengenal Nara atau yang dia kenal. Bahkan Karen dan Nara pun tidak paham mengapa Berlin meminta kedua manusia ini untuk ikut bergabung dalam makan siang mereka.
Kerla menarik salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan Nara, untuk sang gadis yang dibawanya. Setelah gadis itu benar-benar duduk dengan benar, barulah Kerla menarik kursi yang lain dan mendudukinya. Keadaan diantara mereka pun sangat tidak nyaman. Ada empat orang yang saling acuh, tidak berbicara satu sama lain atau sekedar bertatapan pun enggan.
"Siapa gadis yang kau bawa? Aku tidak pernah melihatnya di pesta manapun. Apa mungkin aku yang melupakannya?" Tanya Nara yang mulai membuka pembicaraan dengan interogasi kepada gadis yang dibawa Kerla.
"Ah, aku~" ucapan gadis itu langsung dipotong Nara dengan cepat.
"Aku bicara pada Kerla, bukan kepadamu! Seharusnya kau pandai menjaga sikap, benar bukan? Apa kau belajar tata krama? Ah, sepertinya tidak!" Tandas Nara dengan wajah meremehkan.
Gadis itu spontan langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Walaupun terlihat lebih muda, Nara sangatlah tegas. Gaya bicara gadis itu pun sangat mengintimidasi dan selalu tepat sasaran. Jika ada sesuatu yang tidak beres atau menyimpang dari biasanya, maka Nara akan tahu. Dia juga sangat selektif dalam memilih orang yang dekat dengannya. Karena Nara membenci ketidaksempurnaan.
"Jangan terlalu keras padanya! Aku membawanya bukan untuk mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari calon adik iparku!" Ucap Kerla yang menekankan pada kata 'calon adik iparku'.
Nara memberikan senyuman tidak sukanya, "kau selalu mengganti gadis yang ada di sampingmu setiap hari. Seperti sebuah tisu bekas lap ingus, sekali pakai."
"Hm, ... untunglah kau dijodohkan dengan Karen. Jika dijodohkan denganku, sudah pasti kau akan berakhir seperti tisu bekas lap ingus." Ucap Kerla sambil tersenyum ke arah Nara.
Nara menampakkan wajah sinisnya ke arah Kerla, "lagipula, jika sampai aku dijodohkan denganmu, aku yang akan langsung membatalkannya!"
"Wah, karena kau gadis yang mencintai kesempurnaan? Itu 'kan yang selalu orang-orang katakan padamu?" Sindir Kerla dengan memasang senyuman mengejek.
Karen menahan tangan Nara yang hendak mengambil pisau. Gadis itu ingin menarik tangannya, namun masih ditahan oleh Karen. Meskipun tidak berniat untuk melayangkan pisau itu ke arah Kerla—walaupun keinginan itu ada—namun Karen tetap memegangi lengan Nara.
"Jangan membuang-buang tenaga hanya untuk meladeni tong sampah yang terbuka." Ucap Karen sarkas dan membuang pandangannya ke arah jendela besar yang menampakkan jembatan kayu yang memang menjadi pelengkap unik di restoran ini, di bawahnya ada sungai yang bersih namun lumayan dalam katanya.
Kerla menatap adiknya dengan kesal. Memang benar Karen adalah orang yang ramah, tetapi tidak padanya—tolong dicatat! Mungkin tidak hanya kepadanya saja, namun kepada semua keluarga Andersson. Karen tidak menyukai mereka, bahkan jika bisa pun Karen akan menghilangkan nama Andersson di belakang namanya. Sayangnya, Javier tidak akan pernah mengijinkannya.
Nara tersenyum puas ketika melihat Kerla terbungkam begitu saja hanya dengan ucapan Karen. Pria yang saat ini berada disampingnya memang sangat pintar memainkan kata-kata. Sikapnya pun berubah-ubah, kadang manis namun terkadang tegas dan bisa-bisa merendahkan juga. Karen pun bisa memberikan tatapan yang rasanya menghancurkan mental. Dia pandai berekspresi dan Nara kagum dengan hal itu, sesuatu yang sangat jarang dilihat Nara dari seorang pria.
"Ah iya, kau tidak mengenalnya?" Tanya Kerla kepada Karen setelah menunjuk gadis disampingnya.
Karen menatap gadis itu, "kenapa aku harus mengenalnya? Aku baru saja datang ke negara ini beberapa hari yang lalu, belum genap seminggu! Dan dengan bodohnya kau bertanya apakah aku mengenalnya? Kau sedang bercanda denganku?"
Sudah Kerla duga, ucapan Karen akan terus-menerus menyudutkannya. Pria itu bahkan lebih muda darinya, namun sikapnya sudah menunjukkan sifat Daddy mereka; keangkuhan dengan kata-kata. Dan itulah yang sangat Kerla benci, Karen bisa semirip itu dengan Javier. Membuatnya merasa sangat tersisihkan.
"Hm, ... rupanya kau mudah lupa. Jadi, biar aku ingatkan kau tentang gadis disampingku ini." Ucap Kerla dengan senyuman manisnya. "Dia gadis yang sama yang pernah kau sukai ketika masih berumur tujuh tahun. Kau menolongnya saat itu, memberikannya permen, kau ingat?" Sambung Kerla memancing Karen.
Karen mengelap bibirnya dengan kain, "oh, ... gadis berpayung pelangi itu?"
Gadis itu mengangguk pelan. Nara yang berada disamping Karen pun merasa terusik dengan kata-kata Kerla tentang 'menyukai'. Namun, Nara masih penasaran dengan reaksi Karen.
"Lalu, kenapa kau membawanya kesini?" Tanya Karen dengan santai, mengabaikan tatapan Nara yang mulai tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Kerla menenggak minumannya dengan perasaan senang, "aku ingin kau menemui gadis pujaanmu yang dulu. Cinta pertama mungkin sangat sulit hilang, bukan?"
Karen menganggukkan kepalanya, tidak terusik sama sekali. Sesekali dirinya melirik ke arah Nara yang tampak kesal. Gadis itu tentu saja merasa terganggu karena posisinya terasa terancam.
"Jika kau menganggap sebuah pertolongan sebagai cinta pertama, mungkin kau yang harus banyak belajar. Perlu kau garis bawahi, menolongnya dan memberikan permen kepadanya bukan karena kemauanku. Semua itu karena Gestar yang memintanya. Gestar menyukai gadis ini. Dia memintaku untuk melawan beberapa anak nakal yang mengganggunya, tentu saja bukan tanpa alasan. Gestar tidak bisa bela diri, dan diantara teman-temannya, hanya aku yang bisa. Jadi, ... disebut apakah itu? Cinta pertama?" Ucap Karen sambil menusuk potongan buah dengan garpunya.
Nara tersenyum puas karena mendengar ucapan Karen kepada Kerla dan gadis itu. Sebenarnya, Nara juga tidak percaya bahwa seorang Karen akan jatuh cinta kepada gadis biasa-biasa saja. Tentu saja Karen akan menyukai gadis yang mampu mengimbangi isi kepalanya.
"Hah, kau pikir aku percaya? Kau hanya sedang membohongi dirimu sendiri, kau begitu karena ada Nona Gamamentra, bukan?" Tandas Kerla yang membuat gadis itu memintanya untuk berhenti.
Karen mengangkat kedua bahunya dengan pelan, "aku tidak memintamu percaya."
Beberapa detik kemudian, Karen menatap ke arah sebuah titik yang memperlihatkan seseorang. Pria itu langsung berdiri dari duduknya dan berlari meninggalkan restoran itu tanpa sepatah katapun.
***