JENGGALA SENJA : Pasangan Harga Mahal

1127 Words
Nara memasang sepasang anting mutiara di telinganya. Sebuah gaun panjang bermotif bunga dandelion begitu pas menampakkan lekukkan tubuhnya yang nyaris sempurna. Tatanan rambutnya yang digulung dengan sebuah mahkota kecil pun menjadi daya tarik siapapun yang melihatnya. Gadis itu sangat cantik dengan make up bold yang dipoles di wajahnya. Lipstik warna merah pun membuat pesonanya semakin bersinar terang. Lalu muncullah seorang pria yang mengenakan jas perpaduan black and gold yang dipadukan dengan sebuah kemeja dengan motif yang sama persis dengan gaun yang Nara kenakan, dandelion. Parasnya yang tampan dengan tatapan rambut rapi semakin membuatnya menjadi pusat perhatian para wanita yang sempat mendadaninya tadi. Karen, tidak salah lagi! Pria dengan senyuman luwes itu mampu membuat banyak orang terkesima melihatnya. Terlihat beberapa peralatan untuk foto mengelilingi mereka. Hutan Alemenia menjadi latar yang indah untuk acara fotoshoot hari ini. Dua insan itu diminta menjadi ikon baru pada acara gelar budaya untuk memperingati ulang tahun kota Candala beberapa Minggu yang akan datang. Awalnya Karen menolak permintaan dari Berlin—Ibu Gestar—karena memang tidak tertarik sama sekali. Namun berdasarkan voting penduduk kota, maka dengan berat hati Karen menurutinya. "Ku pikir kau akan kabur setelah diminta menjadi ikon gelar seni di kota Candala. Bukankah kau mudah bersembunyi atau lebih tepatnya lagi melarikan diri? Kau bahkan mampu menghilang selama sepuluh tahun tanpa diketahui media. Lalu, tanpa pemberitahuan apapun, kau muncul dan menjadi trendsetter akhir-akhir ini. Pamormu pun lebih menonjol daripada aku yang sudah terbiasa menjadi pemberitaan publik. Bukankah itu mengejutkan?" Ucap Nara mengomentari kehadiran Karen di sini. Karen melipat tangannya di da-da sambil menatap Nara, "akhir-akhir ini, kau menaruh perhatian padaku dengan berlebihan. Apa kau mulai~" "Jangan berpikiran macam-macam! Itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Pertemuan kita pun sudah ditetapkan dan aku menyukai kau karena kau sempurna untuk sekedar dijadikan suami." Tandas Nara yang begitu tajam. Karen menganggukkan kepalanya pelan, "kau selalu mengatakan soal kesempurnaan di depan para pria? Sehingga mereka kabur dengan sendirinya tanpa perlu kau usir, begitu? Lebih parahnya lagi, kau menggunakan namaku sebagai alat untuk membuat mereka mundur teratur! Siapa yang tidak mengenal Karen, terlebih lagi dia dari keluarga Andersson. Ya, pasti kurang lebih begitu." Nara merengut sebal. Pasalnya apa yang dikatakan Karen memang tidak sepenuhnya salah. Nara selalu saja menolak pria-pria yang mendekati dirinya dengan banyak alasan. Dan alasan yang paling mencolok adalah Nara ingin mempunyai calon suami yang tentu saja dari keluarga super power seperti keluarga Andersson. Tentu saja impian itu langsung terwujud karena akhirnya gadis itu bertunangan dengan Karen—putra kedua dari keluarga Andersson yang digadang-gadang akan meneruskan kursi kepemimpinan sang Ayah. Lagipula, siapa yang akan menolak seorang Karen terlepas dia berasal dari keluarga Andersson atau tidak. Parasnya yang tampan dan sifatnya yang baik, begitu digilai oleh banyak gadis di luaran sana. Bohong jika ada gadis yang tidak tertarik dengan paras tampannya. Ditambah pula dengan isi kepalanya yang jangan ditanyakan lagi bagaimana luar biasanya. Dia begitu cerdas, mampu melakukan banyak hal, dan diandalkan dalam segala situasi. Siapa yang tidak mau menjadikannya seorang suami? "Tuan Muda, Anda terlihat sangat tampan sekali dengan mengenakan pakaian ini." Puji salah satu orang yang berada di lokasi itu. Karen mengalihkan pandangan matanya dari Nara kepada wanita paruh baya itu, "ah, ini karena Anda men- desain pakaian ini dengan baik. Saya sangat suka dengan motifnya dan perpaduan warnanya. Sangat cocok dengan kulit saya juga." "Terimakasih banyak Tuan Muda karena sudah meluangkan waktunya untuk menggunakan pakaian yang saya rancang. Saya sangat merasa tersanjung dan sekaligus kagum kepada Tuan Muda yang bisa saya lihat langsung di sini." Ucap wanita itu begitu sangat kagum dengan Karen yang seperti patung Mannequin hidup. Nara menatap Karen yang begitu sangat sopan walaupun terkadang terlihat menyebalkan. Karen mudah tersenyum, mudah menyapa orang lain, dan sikapnya pun sebenarnya hangat. Bahkan padanya yang jelas tidak disukai pun, Karen masih bisa bersikap dengan baik. Pria itu juga tidak kurang ajar atau menggoda seperti pria kebanyakan yang menginginkan secuil perhatiannya. "Nona Anara juga sangat cantik, memang tidak pernah salah media menganggap Nona sebagai gadis tercantik di kota Candala." Ucap wanita itu yang beralih memuji kecantikan Nara yang memang tidak ada duanya. "Terimakasih Nona telah menyempatkan waktu untuk kegiatan kecil ini." Sambung wanita itu dengan sopan. Nara hanya tersenyum tipis sambil menatap balik Karen yang saat ini memandanginya. Baru beberapa saat mereka saling berpandangan, salah satu kru meminta mereka untuk berada di tempat yang disediakan untuk fotoshoot, karena akan segera dimulai. Sang fotografer pun sibuk mengarahkan pose yang akan diambil untuk keduanya. Baik Karen maupun Nara hanya diam, mengikuti apa yang diminta sang fotografer. Pose awal adalah saling pandang dengan Nara yang mengalungkan kedua lengannya di leher Karen, sedangkan Karen memeluk pinggang gadis itu. Untuk sementara, mereka tidak saling bicara. Pose keduanya bisa dikatakan sebagai pose yang bagus untuk seseorang yang tidak saling mencintai. Tatapan Karen yang begitu dalam pun mampu membuat Nara terkesima dalam beberapa detik. "Kau belum menjawab pertanyaan yang aku tanyakan waktu itu," ucap Nara sambil berpose untuk entah ke- berapa kalinya. Karen tersenyum tipis, "pertanyaan yang kau ajukan terlalu banyak dan tidak bisa ku ingat. Jadi, ... kau ingin aku menjawab pertanyaan yang mana?" "Berapa kali kau tidur dengan gadis di luaran sana?" Tanya Nara berani. Karen merapatkan tubuh mereka berdua, "aku tidak pernah tidur dan melakukan s*x dengan siapapun. Aku sangat mencintai diriku sendiri. Jadi, untuk apa melakukan hal itu? Apa untungnya untukku?" "Bohong! Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu? s*x bagi seorang pria seperti sebuah kebutuhan. Jika kau menganggap s*x tidak penting, apakah kau waras?" Tanya Nara sambil membelai wajah Karen. Karen mengangguk pelan, "aku tidak meminta kau percaya. Aku menjawab pertanyaanmu yang terdengar sangat tak masuk akal. Kita bahkan baru beberapakali bertemu dan kau sudah bertanya hal pribadi seperti ini!" "Bagaimana jika kita bermalam malam ini?" Tanya Nara dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Karen. "Cukup! Bagus sekali!" Ucap sang fotografer yang menyudahi sesi foto keduanya. Terdengar tepukan tangan meriah dari semua kru yang ada di sana. Tak disangka bahwa fotoshoot kali ini bisa selesai dengan sangat sempurna. Jika modelnya seperti Karen dan Nara—tentu saja hasilnya akan bagus. Para kru pun mengatakan bahwa keduanya adalah pasangan harga mahal. Siapapun yang melihat mungkin akan mengatakan hal yang sama, bahwasanya mereka sangat cocok. Padahal dibalik itu semua, keduanya sedang berperang dengan diri sendiri. "Kau tidak bisa mengatakan hal itu kepada sembarangan pria! Aku pun tidak tertarik melakukannya dan mungkin tidak akan melakukannya. Melakukan hubungan seperti yang kau katakan tadi hanya merepotkan. Aku tidak ingin mempunyai anak, aku juga tidak suka bertanggungjawab, aku juga tidak tertarik kepada hubungan jangka panjang! Intinya, aku adalah pria yang berengsek! Kau harus menjaga diri baik-baik saat bersamaku!" Tandas Karen yang meninggalkan Nara untuk berganti pakaian. Gadis itu melipat tangannya di da-da sambil mencibir. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Anara yang biasanya menolak pria malah ditolak pria. Miris! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD