Tapi App0 masih ragu, apakah mesin ini dapat memindahkan Ipul dengan aman ketempat yang mereka inginkan.
Sambil berpikir dia pun mencoba menganalisa semua resiko yang akan terjadi nanti, dan mencari jawaban penyelesaian jika terjadi sesuatu dengan media uji.
Setelah lama menimbang dan menghitungkan dampaknya, ia pun memilih untuk melakukan percobaan ulang kepada hewan kembali.
Dengan memberinya beberapa alat yang dapat memonitor pergerakan serta mendeteksi titik keberadaan nya saat itu juga.
Agar nanti sirkuit penjelajah ruangnya itu dapat menarik kembali objek tersebut ketempat semula, intinya agar objek bisa di kembalikan dengan paksa oleh sirkuit penjelajah ruang ke tempat semula.
“Tapi untuk membuat alat tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dan mekanismenya juga rumit.” Ujar App0 dalam hati seraya berpikir keras untuk membuat alat pendukung.
“Hei.. Hei... Kok kau malah melamun Po. Gimana ini jadi enggak percobaan kita selanjutnya.?” Tanya ipul sembari mengejutkan App0 yang sedang terdiam memikirkan sesuatu.
”Tunggu sebentar ya wahai makhluk durjana, aku sedang mencoba berpikir bagaimana caranya membuat alat yang dapat menarik paksa kembali objek yang sudah dikirimkan hanya dengan mengetahui titik koordinatnya saja.”
“Agar nantinya, dirimu bisa kembali lagi kesini setelah selesai melakukan perjalan anda itu.!” Tegas App0 dengan sedikit menjelaskan.
“Oh iya ya benar juga kata mu, kok aku enggak kepikiran ya.” Celetuk Ipul sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Padahal sudah di lihat semua yang di kirimkan tidak ada yang kembali lagi.” Lanjut App0 sambil melirik tajam ke arah Ipul.
“Jadi kalau nanti aku berhasil di kirim, sudah di pastikan aku tak bisa kembali lagi kesini.” Timpal Ipul kembali sambil menunjukan raut muka cengengesan.
“Baiklah, selagi kau mencari bagaimana solusi untuk mengatasi masalah itu.”
“Aku mau keluar dulu mengambil makanan untuk kita” Katanya kepada App0
“Selamat ber bingung-bingung ria ya teman ku imut. Hahahaha.” Godanya sembari tertawa dan melangkah pergi keluar menuju dapur.
“Entul lah.! Hahaha.” Balas App0 merasa sedikit kesal namun ikut tertawa.
Setelah Ipul keluar dari ruangan, App0 pun mulai mencoba mengotak-atik monitornya untuk membuat sebuah alat yang di maksudnya tadi.
Dan mencoba membentuknya seefisien mungkin, agar dapat berfungsi sesuai dengan keinginan nya.
Tak lama setelah itu Ipul pun datang dengan membawa makan siang untuk mereka berdua, namun alat yang ia buat belum bisa ia selesaikan.
Karena kurangnya informasi tentang sirkuit penghubung yang dapat menarik paksa objek kembali ke tempatnya semula.
Di tengah kebuntuannya, ia pun berhenti sejenak untuk makan bersama Ipul. Alangkah terkejutnya App0 melihat yang ada di dalam bungkusan yang di bawa Ipul itu.
Dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan gemetar, ia meraih benda yang ada di dalam bungkus itu dan langsung memeluknya.
Dan karena benda itu juga lah, ia mengingat kembali sebuah benda pemberian kedua orang tuanya yang di buat khusus untuknya di sana.
Ia pun mencoba mengingat lagi dimana terakhir ia menyimpan, dan sambil memeluk makanan yang di ambilnya dari dalam bungkusan tadi. Ia pun bangun dan berjalan menuju ruang tidurnya.
Dimana di ruangan tersebut, terdapat tempat penyimpanan otomatis semua benda yang sudah di buatkan khusus untuknya. Ia pun membuka kotak yang ada di samping tempat tidurnya, dan mencari benda tersebut di situ.
“Ternyata di sini rupanya kau.!” Gumamnya dalam hati yang lega telah menemukan kembali gelang pemberian orang tuanya.
Merasa ada yang aneh dengan App0, Ipul pun menahan diri untuk tidak mengganggunya.
Sembari makan dengan tenang, ia pun menunggunya untuk kembali duduk makan lagi bersamanya.
Tak lama setelah dia pergi, App0 pun kembali dengan masih memeluk makannya menggunakan tangan kanan dan menggenggam sebuah benda di tangan kirinya.
lalu ia pun kembali duduk dengan tenang sambil meletakan kedua benda yang ia pegang tadi di atas meja di mana tempat mereka makan.
Sembari tersenyum bahagia ia berkata,
“Akhirnya aku mendapatkan nya.!” Secara tak sadar ia mengucapkan itu.
Sentak Ipul pun terkejut, lalu bertanya
“Benda apa yang kau maksud Po.?” Tanyanya heran.
“Ini dia harta karun yang selalu didambakan oleh bangsa kami. Harta yang hanya bisa dilihat namun tidak bisa di miliki maupun di rasakan.!” Jawab App0 seraya mengangkat sesisir pisang bermaksud menunjukan kepada Ipul dengan wajah penuh kebanggaan.
Sentak saja Ipul pun ingin tertawa melihat kelakuan temannya itu, namun ia tahan. karna melihat senyum dan mata temannya yang seolah mengatakan sebuah kebenaran.
Setelah ia dapat menahan tawanya, Ipul pun berkata.
“Itukan cuma pisang Po, apa istimewanya.? Kata Ipul sembari bertanya kepada App0.
“Bagi kalian ini makan biasa, tapi bagi bangsa kami ini adalah harta karun yang sangat berharga dan bernilai.!” Jawab App0 sembari menjelaskan secara detail nilai-nilai yang terkandung dari benda itu.
Mendengar penjelasan dari App0 tadi, Ipul mulai paham. Ternyata hanya dengan memakan benda itu, bangsa mereka bisa sehebat ini.
Dengan rasa penasaran Ipul mulai melakukan tanya jawab, dan sedikit mulai memahami tentang bagaimana struktur individual ras dari temannya tersebut.