Keesok kan hari nya saat kencan pertama Ranran, setelah ia membulat kan tekad nya untuk mendapat kan pria ia pun langsung ikut aplikasi penemu jodoh dan ada beberapa pria yang menurut nya adalah tipe nya. dan ia memulai menyeleksi satu persatu pria itu yang pantas untuk mebawa nya ke pesta pertunangan sepupu nya Luo tang.
Siang hari di Cafe Samdu.
Tak.. tak.. tak suara sentak kan sepatu tinggi berwarna pink dan terlihat Ranran yang datang dengan tataan rapih dan wajah cantik nya itu yang membuat semua orang terkecok melihat nya, ia pun berjalan ke arah satu meja yang di sana terdapat satu pria yang akan ia kencani.
"Permisih pria tampan, apa kau tuan Jaedan pengelola minyak tanah itu?" tanya tiba tiba Ranran yang membuat pria itu terkejut.
"Aa, be.. benar saya Jaedan, apa kau Ranran? wanita kencan buta saya hari ini?" tanya jaedan.
"Benar, apa ada wanita lain di lain hari? haha.." saut Ranran.
"Haha.. mana ada jika aku menemui mu sekarang, silahkan duduk." ujar semangat jaedan langsung menarik kursi agar Ranran bisa duduki.
"Tetimakasi." saut Ranran.
Beberapa menit kemudian.
"Mana ada, kenapa aku sama sekali tak memiliki perasaan pada pria ini? dia dari tadi hanya diam saja bagaimana ini aku memang ah! aku tidak pernah berkencan!" fikiran gelisah Ranran yang hanya menyunduk nyunduk garpu nya di pasta.
Ranran "Anuu.. maaf jika suasana nya jadi canggung seperti ini saya tak begitu terbiasa dalam keadaan seperti ini." ujar nya.
Jaedan "Kenapa minta maaf, saya yang seharus nya minta maaf karena tak percaya pada omongan nona Ranran ini, bagaimana bisa anda mengata kan bahwa anda jarang melaku kan kencan buat, walaupun begitu pasti anda sudah memiliki begitu banyak mantan dengan wajah cantik anda." ujar nya sembari tertawa.
"Benar yang di kata kan kak Zuzu dunia luar memang sangat memperhati kan penampilan, dia benar benar berfikir seperti itu?" fikiran Ranran sembari menatap Jaedan.
"Sudah lah.. kita jadi membicara kan hal yang tidak penting, ku lihat dari tadi kau belum memakan makanan mu sedikit pun dan kurasa itu karena tangan mu yang sakit bagaimana jika aku membantu mu makan? Aaa.." ujar Jaedan sembari ingin menyuapi Ranran.
Taps.. tiba tiba seorang menghenti kan langkah nya pas sekali di samping Ranran.
"Wah.. wah.. wah.. siapa ini, kau baru saja putus tunangan dan langsung berpacaran dengan pria kau memang ular Ranran." ucap ketus Luo tang.
"Nona Luo? anda mengenal kencan buta saya?" ujar Jaedan.
Luo "Tentu dia itu si p*****r yang sehabis memain kan satu malam dengan pria lalu mencari pria lain, tak menyangka kau akan jadi mangsa nya Jaedan." ujar seringai nya.
"Tak bisa di biar kan! jelaa jelas waktu itu aku telah mengirim kan nya pesan untuk memberitahu kan paman kalau aku menginap di rumah Zuzu tapi dia menuduh ku kalau aku habis bermalam dengan pria! dan sekarang! sudah cukup!" fikiran Ranran sembari meremas kencang jemari nya.
Tap.. tap.. tap.. terdengar suara langkah yang semakin mendekat.
"Sayang ku cari kemana saja ternyata kau di sini?" ujar Dion yang menghampiri Luo dan betapa terkejut nya saat melihat Ranran.
Ranran "Hehe.. sepupu ku yang suka mengarang cerita ini sayang sekali jika di sayang kan bakat nya, kebetulan aku sudah tidak mau kencan lagi bisa kah kita akhiri sampai sini tuan Jaedan?" ujar nya langsung berdiri dengan wajah tegak nya.
"Ba.. bagaimana bisa? kita baru saja mulai." ujar jaedan.
"Bagaimana ya, aku tak suka berhubungan dengan teman pria sepupu ku, aku takut terlihat seperti kami saling menikung." ujar Ranran yang membuat Luo terpata pata.
Greb! "tidak!.. aku tidak mau mengakhiri ini! aku ingin bersama mu!" ujar paksa Jaedan langsung memegang tangan Ranran.
"Lepas kan tangan kotor mu dari dia!" ujar tegas Dion.
"Dion apa yang kau laku kan!" teriak Luo.
Plak! suara tepas san tangan Ranran yang menyentang tangan Jaedan.
"Seperti yang kau Lihat Luo, Dion bisa kah kita bicara sebentar." ujar Ranran berjalan pergi.
Dion yang mendengar perkataan Ranran ia pun bergegas mengikuti Ranran tanpa memperduli kan tunangan nya.
Luo "Berani sekali dia! benar benar p*****r!" ucap kesal nya.
"Tidakk!.. kau tidak boleh pergi nona Ranran! ini semua karena mu Luo." teriak Jaedan.
Plak! suara tamparan mengarah ke arah wajah jaedan.
"Diam kau jika bisnis mu tak ingin bangkrut! kau lihat tunangan ku pergi karena wanita mu!" ujar dingin Luo langsung pergi dari tempat itu sehabis menampar Jaedan.
Sementara itu di taman dekat cafe samdu.
"Ranran, bisa kah kau lambat kan langkah mu dengan sepatu setinggi itu kau bisa saja terjatuh." ujar panik Dion.
Tap.. tap! langkah Ranran yang tiba tiba berhenti.
"Cih.. saat itu ku pikir kau berbeda dari yang lain Dion, namun sama saja kau seperti pria pria yang haus akan wajah cantik wanita!" ucap ketus Ranran.
"A.. apa maksud mu? aku senang karena melihat mu yang telah berubah Ranran namun mengapa kau berkata sangat dingin pada ku?" tanya nya mencoba mendekati Ranran.
Ranran "Apa aku menyuruh mu maju?" ujar nya seketika membuat langkah Dion berhenti.
Dion "Jika kau memanggil ku tidak untuk mendekati mu lalu untuk apa? kau membuat perasaan ku campur aduk Ranran." ujar nya.
"Lalu bagaimana perasaan ku setelah kau bertunangan dengan sepupu ku, sudah lah seperti nya dia telah pergi, dan ya aku memanggil mu karena ingin membuat nya panas! aku pergi dulu." ujar Ranran berjalan pergi.
Greb! Pluk! tiba tiba Dion menarik Ranran dan langsung memeluk nya dari belakang.
"Apa kau sama sekali tak memiliki perasaan pada ku? hanya seperti ini?" tanya Dion.
Plak suara sentangan Ranran yeng membuat Dion melepas kan peluk kan nya.
"Pernah, sekarang sudah menghilang tak baik jika seseorang melihat jika tunangan sepupu ku memeluk ku, dan ya jangan risau aku akan datang 2 hari lagi." ucap senyum miris Ranran bergegas pergi.
Dheg! "Kapan ia mencintai ku? apa perasaan itu benar benar telah menghilang? tenang saja Ranran aku akan kembali kepada mu saat aku telah merebut semua harta itu." fikiran Dion sembari melihat Ranran yang semakin lama berjalan semakin jauh dari nya.
Ceklek! tap.. tap.. tap bruk! suara bukaan pintu dan langkah kaki Ranran langsung berbaring di sofa nya.
"Huft.. aku tak begitu kejam bukan?" gumaman Ranran tiba tiba merasa ada sebuah tatapan yang mengarah kepada nya.
Dan betapa kaget nya ia saat ia melihat Zuzu yang sedang tiduran di lantai.
"Aaa!.. kak Zuzu kau kenapa? sejak kapan di situ? mengkaget kan saja!" teriak Ranran langsung terbangun.
Zuzu "Seharus nya aku lah yang kaget! datang tidak mengata kan apa apa langsung tidur dan apa tadi hela nafas mu terdengar sangat frustasi ada apa? bagaimana kencan buta nya?" tanya nya masih tidurran di lantai.
Ranran pun langsung mencerita kan tentang ia membatal kan kencan buta nya dan saat ia bertemu dengan Dion dan Luo.
"Begituu.. apa aku salah ya? aku merasa seperti orang jahat." ujar Ranran.
"Itu.. bagus!" ujar cepat Zuzu seketika membuat Ranran terkejut.
Ranran "Benar kan aku tidak jahat, tapi bagaimana ini kencan buta nya telah hancur apa yang harus aku bawa untuk ketunangan Luo nanti!" ujar gelisah nya.
Zuzu "Kau pikir pria itu barang ya? kata bawa mu itu terlalu sadis, tenang lah aku bisa mencari kan pria mana saja! kecuali pria itu." ujar nya sembari menatap ke arah televisi yang terdapat Alex Sander sedang berada di siaran berita.
"Tuan Alex Sander, banyak wanita yang patah hati karena melihat seusia anda yang sangat muda dan karir anda yang sangat bagus namun belum mempunyai pasangan, sebenar nya apa anda sudah memiliki wanita yang anda cintai?" ujar wanita itu.
"Wanita! mungkim tidak ada wanita yang cocok berdiri di samping ku, apa jawab ban ku sudah jelas?" ujar ketus nya.
Zuzu "Kau lihat itu, tampan mapan dan seksi Huft.. walau pun hanya mencium kaos kaki nya aku berjanji tidak akan mandi selama nya!" gumaman nya sembari menatap berita itu.
"Apa nya.. pria itu terlalu sombong untuk mendapat kan wanita! tunggu, aku seperti pernah melihat nya." ujar Ranran menatap tajam Alex lewat televisi itu.
"Benar kah kau lihat dimana?" ucap penasaran Zuzu.
"Barusan! Haha.. aku baru saja melihat nya." tertawaan Ranran yang membuat Zuzu jengkel.
"Dasar kau kemari biar ku gelitikki sampai habis!" ujar marah Zuzu yang mengejar Ranran ke kamar nya.
Clek! suara pintu terkunci.
"Tidak mau! buka saja kalau bisa!" ujar Ranran.
Zuzu "Aiss.. kau pikir aku tak memiliki kunci serep kamar mu? aku akan mengambil nyaa." ujar Zuzu yang mencoba menggila Ranran
"Aku yakin pernah melihat pria itu! bahkan dari dekat! sampai aku bisa melihat seberapa panjang bulu mata nya! tapi diaman?" fikiran nya yang mengingat sesuatu.
Keesok kan hari nya Ranran pun mulai kencan kembali namun semua pria yang ingin ia kencani sudah di singkir kan Luo ia berniat melaku kan itu kerena untuk belas dendan atas kejadian kemari saat Ranran membawa pergi Dion dengan patuh.
"Kenapa lama sekali? hujan pun turun! seharus nya hari ini ada dua pria yang ku temui." gumaman Ranran.
Ting.. suara pesan telephone Ranran berbunyi.
"Maaf.. kita batal kan saja kencan nya." ujar salah satu pria yang seharus nay berkencan dengan Ranran.
"Bagus sekali, yang satu membatal kan yang satu tidak ada kabar! pergi saja lah!" ujar Ranran bergegas pergi ke luar.
Krek.. suara payung Ranran yang sedang ia buka.
"Terimakasih.. seharus nya kata kata itu keluar dari mulut mu Ranran." ujar tiba tiba Luo yang langsung mengambil payung Ranran dengan bantuan bodyguard nya.
"Apa ini rencana mu? bisa kah kau tidak mengganggu ku Luo? apa harus aku membuat Dion berpaling?" ujar ketus Ranran dengan air hujan yang mulai membasahi seluruh tubuh nya.
Plak! tamparan keras mengarah ke arah wajah Ranran dengan Cepat.
"Uh.. itu pantas untuk mu! ku peringat kan Dion adalah tunangan ku dalam 1 hari lagi dia akan menjadi suami ku! dan kau berhenti lah mengganggu bagaikan kucing liar!" ujar keras Luo.
Cringg.. suara telephone Luo tiba tiba berbunyi.
"Ayah? ayo kita harus pulang sekarang." ujar Luo berjalan pergi.
Ranran "Bagaimana jika aku berhasil membuat nya berpaling? ku harap kau akan mengata kan terimakasih pada ku juga Luo!" ujar nya yang membuat Luo kesal namun karena telephone dari ayah nya ia harus bergegas pergi.
Zressss.. suara gemuruh hujan yang semakin lama semakin besar dan lebat.
"Dari awal aku memang sudah sendirian atau aku baru menyadari nya sekarang? bahwa aku di takdir kan tidak memiliki seorang pelindung?" gumaman Ranran sembari melihat kearah Luo yang di lindungi dua orang bodyguard dan sebuah payung lebar yang melindungi tubuh Luo dari air hujan.