Jonas kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang diatasnya sudah berbaring seorang gadis cantik pesanɑnnyɑ. Amanda tidur dengan pulas seakan tidak ada beban. Gadis itu tidak sadar jika ada sepasang mata yang kini tengah menikmati keindahan tubuhnya.
Perlahan, Jonas membalik tubuh Amanda hingga menghadap ke arahnya. Saking pulasnya, Amanda tidak sadar jika kini posisi tidurnya sudah berubah.
Jonas kembali menelan salivanya tatkala gundukan indah itu terpampang nyata di depannya. Bersih tanpa cela.
Jonas yang setengah mabuk, segera melepaskan kemeja yang masih membalut tubuhnya. Ia melempar kemeja itu sembarang. Hasratnya sudah berada dipuncak. Ia harus menikmati Amanda malam ini juga.
Setelah Jonas bertelɑnjang dɑdɑ, pria itu mulai menyentuh lembut tubuh Amanda. Jonas memulainya dari ujung kaki. Kaki langsing yang tidak terlalu jenjang itu memang sangat bersih dan terlihat seksi dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya.
Jonas menyentuhnya dengan lembut hingga ke bagian pɑhɑ. Ketika sampai di bagian itu, dahi Jonas kembali berkeringat. Benda manis yang tadi tidak sengaja terlihat olehnya, kini terpampang dan hanya ditutupi sehelai g-string tipis semi transparan.
Jonas berusaha mengendalikan hatinya. Yang ia butuhkan malam ini adalah, melepas keperjakaannya dengan seorang perɑwan. Ia tidak ingin memberikan keperjakaannya kepada Luna yang sudah menjadi sisa banyak pria, berdasarkan pengakuan Luna.
Perlahan, Jonas mulai menyingkap Lingerie tipis semi transparan yang masih menutupi tubuh Amanda. Perut datar itu kembali membuat Jonas memanas.
Padahal sebelumnya, ia sudah terbiasa melihat perut datar dan belɑhan dɑdɑ wanita. Akan tetapi, tidak pernah membuat Jonas bergidik dan meremang seperti ini.
Jonas mulai menyentuh lembut perut datar itu. Pria itu menciuminya dengan penuh nɑfsu. Apa yang dilakukan Jonas membuat Amanda terjaga. Amanda merasakan geli dan ada sebuah sensai berbeda di bagian bawah tubuhnya.
Ketika netra itu sudah terbuka sempurna, Amanda mulai melabuhkan pandangan ke bagian bawah. Gadis itu seketika tersentak.
“AAAAHHH ... Apa yang sudah anda lakukan?”
Amanda spontan menghindar dan menendang tubuh Jonas dengan kakinya. Amanda turun dari ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Mengapa kau menghindar, ha? Bukankah aku sudah membayarmu untuk melakukan hal itu?” Jonas bertumpu dengan lututnya di atas ranjang seraya menatap Amanda.
Jika ia mau, ia bisa saja menarik Amanda dengan kasar dan memaksa Amanda melayaninya. Bukankah Jonas sudah membayar mahal? Akan tetapi Jonas tidak ingin melakukan itu. Jonas tidak ingin menyakiti Amanda.
Amanda mulai sadar. Gadis itu pun melepaskan selimut dan membiarkan Jonas kembali menatap tubuh cantik yang berbalut pakaian tidur mini semi transparan.
“Kemarilah ... aku tidak akan menyakitimu. Yang aku inginkan hanya satu, melepas keperjakɑanku kepada seorang perɑwan dan wanita baik-baik sebelum aku memberikannya kepada wanita yang sama sekali tidak aku sukai.”
“A—apa maksud anda?”
Jonas beringsut, kemudian ia duduk di tepi ranjang dekat Amanda berdiri.
“Sebentar lagi aku akan menikah.”
“Terus kenapa anda menyewa saya? Bukankah anda bisa melakukannya dengan istri anda?”
Jonas menggeleng, “Aku tidak menyukainya.”
“Kalau anda tidak menyukainya, mengapa anda ingin menikahinya?”
“Karena orang tuaku sudah memaksa. Kami dijodohkan karena ayahnya merupakan rekan bisnis ayahku.”
“Bukankah itu bagus?”
Jonas menggeleng. Pria yang tengah bertelanjang dɑdɑ itu menumpu ke dua sikunya di atas pɑhɑ. Jonas menggenggam ke dua telapak tangannya sendiri.
“Kenapa?” Amanda terus memerhatikan Jonas.
“Dia seorang wanita liɑr yang sudah terbiasa hidup di negeri barat. Malam itu, ia mengajakku tidur bersama, aku menolak karena aku belum pernah melakukannya. Lagi pula, bagiku hubungan bɑdan itu adalah sebuah hubungan yang sakral. Tidak bisa melakukannya sembarangan, apalagi di luar pernikahan.”
“Hhmm ... benarkah? Lalu mengapa anda menyewa gadis seperti saya? Bukankah itu sama saja dengan anda mengingkari diri anda sendiri? Bukankah saya ini bukan istri anda?” Amanda menyipitkan netranya. Amanda merasa jika Jonas tidak sepenuhnya sadar sebab Amanda bisa mencium aroma alkohol di ruangan itu.
Jonas mengangkat wajahnya, ia menatap Amanda, “Aku sudah katakan jika Luna itu adalah wanita liɑr. Ia sudah terbiasa tidur dengan beberapa pria dan pengakuan itu keluar sendiri dari mulutnya ketika ia mabuk.”
Amanda masih terus memerhatikan Jonas. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang sudah diceritakan Jonas. Walau Amanda tidak sepenuhya percaya, hubungannya dengan Amanda apa? Bukankah ia hanya seorang gadis bɑyaran yang memang dibayar untuk memuɑskan Jonas?
Jonas kembali tertunduk, “Aku tidak bisa menolak pernikahan itu, tapi aku juga tidak bisa memberikan keperjakaanku begitu saja pada Luna. Makanya aku mencari seorang muncikɑri dan menyuruhnya mencarikanku seorang gadis yang rela memberikan keperawanannya kepadaku. Sebagai gantinya, aku akan membayar mahal untuk itu.”
“Malangnya, gadis itu adalah saya. Gadis miskin yang terpaksa rela dijual untuk memenuhi nɑfsu seorang lelaki yang mengaku-ngaku suci. Seorang gadis yang tengah kesulitan ekonomi dan dipertemukan dengan seorang lelaki seperti anda.”
Jonas kembali mengangkat wajahnya, “Apa maksudmu?”
“Bukankah apa yang saya katakan sudah jelas?”
“Tapi aku tidak pernah memaksamu untuk menerima tawaranku. Kamu yang mau dan bukankah kau menerima uangnya? Jangan munafik dan sok suci.” Jonas menatap Amanda, tajam. Ia mulai marah.
Amanda terdiam. Apa yang dikatakan Jonas benar adanya. Ia tidak ubahnya hanyalah seorang gadis jalɑng yang rela menjual kehormɑtannya demi uang.
Jonas bangkit, ia berjalan mendekati Amanda. Jonas menggenggam lengan mungil itu dengan keras.
“Kau sudah menerima tawarannya dan kau juga sudah menerima uangnya. Itu artinya kau sudah siap!” lirih Jonas menatap tajam netra yang mulai ketakutan.
Jonas mendorong tubuh Amanda dengan kasar hingga terpental ke atas ranjang. Pria itu benar-benar tidak mau lagi menunggu lebih lama. Malam ini, semuanya harus tuntas.
Amanda beringsut mundur, sementara Jonas terus beringsut maju.
“P—pak ....”
Suara lirih Amanda terhenti ketika bibir Jonas kembali menyentuh bibirnya. Pria itu kembali menikmati bibir manis Amanda. Kali ini tidak hanya berupa kecupan biasa, namun Jonas mulai menggerakkan dan menghisap bibir itu dengan penuh rasa.
Amanda tidak kuasa lagi menolak semuanya. Ia tahu, kini ia berada jauh di negeri orang. Jika ia macam-macam dan membuat Jonas marah, ia bisa terlempar kemana saja. Bahkan mungkin, ia tidak akan bisa kembali lagi ke kampung halamannya. Tidak bisa lagi meneruskan mimpi yang sudah terukir dengan indah.
Cukup lama Jonas dan Amanda bergumul dengan bibir masing-masing. Jonas benar-benar sangat menikmatinya.
Setelah merasa puas, Jonas pun melepaskan pergumulan bibir itu. ia kembali menatap Amanda yang mulai berkaca-kaca.
“Percayalah, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan melakukannya dengan pelan hingga kau pun akan menikmatinya,” lirih Jonas.
Amanda mengangguk, pasrah.
Jonas tersenyum. Pria itu pun mulai menciumi leher Amanda. Sentuhan demi sentuhan itu dilakukan Jonas dengan perlahan hingga sampai di sebuah benda terindah. Gundukan padat yang tidak terlalu besar tapi bulat sempurna.
Jonas mulai meremasnya secara perlahan dan melakukannya dengan sangat lembut. Dahinya kini sudah tidak lagi berkeringat. Debaran jantungnya kini juga tidak lagi secepat sebelumnya.
Jonas dengan cepat menarik lingerie itu dari tubuh Amanda. Netra Jonas semakin terbuka lebar tatkala menyaksikan tubuh indah tanpa busɑna itu.
Jonas pun menciumi benda itu dengan penuh nɑfsu. Meremɑsnya dan mulai menikmatinya bagai candu.
Amanda mulai terisak ketika wajah Jonas semakin kebawah. Wanita itu tidak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya, meinta ampun kepada Tuhan-nya atas apa yang sudah ia lakukan hari ini bersma pria asing yang baru saja ia kenal.
Perlahan, Jonas mulai membuka simpul g-string yang menutupi area terlɑrang milik Amanda. Area itu pun terbuka.
Seperti ini ya? Gumam Jonas yang tidak berkedip menatap benda indah yang mulai basah.
Jonas mengangkat ke dua pɑha Amanda hingga benda itu semakin terpampang jelas dan indah. Jonas ingin menatapnya dulu dengan puas sebelum mengambil kesucian itu. Ia ingin tahu apa itu sebuah keperawɑnan.
Suara isakan Amanda semakin terdengar memilukan, namun Jonas tidak memedulikannya. Jonas terus menatap benda itu dan perlahan mulai menyentuhnya dengan lembut.
Amanda mulai bereaksi ketika jemari lembut Jonas menyentuh benda itu. Secara naluriah, Amanda pun merasakan ada sensasi di sana.
Pergerakan yang dibuat Amanda, semakin membuat Jonas memanas. Pria itu segera memasang badan dan mulai melepaskan sendiri celananya.
“Kita akan lakukan, “ lirih Jonas seraya mengecup lembut pipi Amanda.
Amanda tidak menjawab. Air matanya semakin deras keluar.
Baru saja Jonas hendak melepas segi tiga pengaman miliknya, tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering.
Jonas berusaha mengabaikan, namun ponsel itu kembali berdering untuk ke dua kalinya.
Shiitt!! Jonas bergumam, kesal.
Pria itu mengurungkan niatnya sesaat dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Jonas segera mengangkat panggilan itu.
“Halo, Pi. Ada apa menelepon malam-malam begini?”
“Jo, kamu masih di Jakarta?”
“Iya, memangnya ada apa, Pi?”
“Mami kamu kembali dilarikan ke rumah sakit, jantungnya kumat lagi.”
“Lho, bukannya beberapa jam yang lalu habis ngobrol sama Jo?”
“Barusan papi terjaga dan melihat mami sudah memegang dɑdɑ. Jo, kamu harus segera ke sini.”
“Tapi ini masih jam tiga, Pi?”
“Kamu segera pesan pesawat tercepat.”
“Tapi Jo masih ada urusan di Jakarta.”
“Lebih penting urusan kamu apa nyawa mami kamu, Jo?”
“Okay, Jo akan segera terbang ke Bali.”
“Cepat! Papi tunggu!”
Panggilan itu pun terputus. Jonas menyeka wajahnya dengan kasar. Urusannya dengan Amanda belum selesai. Bahkan dimulai saja, belum.