Bertemu Madam G.

1086 Words
Hujan deras mengguyur kawasan kelas menengah pinggiran Kota Jakarta. Beberapa sebagian orang yang berkendara di jalanan lebih memilih untuk berteduh dipinggir jalan. Termasuk dengan seorang gadis berparas cantik bernama Sissy yang kini tengah berteduh dari pada berjalan kaki menggunakan payung. Dia berdiri di sisi warung yang sudah tutup bersama para pejalan kaki yang lain. Malam yang mulai merangkak naik, sesekali dihiasi dengan petir yang berkilat menakutkan bagi mereka yang menerobos hujan lebat. Sissy enggan beranjak dari tempat dia berdiri. Malam ini dia bekerja hingga larut dan waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam. Saat diperjalanan, mendadak hujan turun sangat lebat. Sudah hampir satu tahun ini, dia tinggal di Jakarta karena mendapatkan beasiswa penuh masuk Universitas Negeri. Hubungannya dengan sang ayah nampak merenggang, sejak ayahnya menikah lagi di usia Sissy delapan tahun. Hidupnya serba kekurangan bersama sang bunda. Namun begitu, dia dan sang bunda tampak lebih bahagia setelah lepas dari sang ayah. Sissy sudah terbiasa hidup seperti itu sejak dia masih remaja. Tak jarang, dia pun membantu bundanya untuk bekerja selepas sekolah. Entah kenapa, hari ini dia terlihat resah. Rasanya, dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, beristirahat dan bertemu dengan sang bunda. Sebetulnya, beberapa jarak di depan ujung jalan sana, dia sudah bisa sampai di halte. Tempat dia biasa menunggu angkutan bus yang akan dia tumpangi dengan tujuan rumah kontrakannya. Tapi dia urungkan, karena kondisi hujan yang belum berhenti dan lebat. Ponsel Sissy bergetar, seiring dengan suara nyaring untuk meminta sang pemilik segera mengangkat panggilan itu. "Halo,-" "Sissy... lo di mana? Buruan ke rumah sakit. Ibu lo jatuh di kamar mandi." Seseorang memangkas sapaan Sissy dan langsung berbicara pada intinya. "Hah! I-iya!" Bergegas memasukkan kembali ponsel ke dalam tas selempangnya. Sissy berlari menerobos hujan lebat untuk sampai di halte. Beruntung saat sampai di sana bus itu datang, dia lalu masuk ke dalamnya. Kini tujuan dia bukan lagi rumah, melainkan rumah sakit di mana saat ini bundanya tengah mendapat penanganan. Sissy berlari tanpa arah dengan tangis yang terus saja terisak. Sesekali dia menyeka air mata itu menggunakan punggung tangannya. Gadis itu tak menghiraukan tatapan bingung dari beberapa orang yang berpapasan dengannya. Sissy terus saja menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan sepi. Tujuan Sissy ingin segera sampai di ruang IGD, dia ayunkan langkah kakinya dengan lebar. Dari kejauhan dia dapat melihat seorang perempuan yang dia kenali sebagai tetangganya yang beberapa menit lalu menghubungi dia. "Mpok!" Panggilnya. "Syukur dah lo bisa cepet sampai. Tadi gue disuruh tanda tangan, kaga tau emak lo mau diapain." Ujar Mpok Ana dengan logat betawi yang ceplas ceplos. Sissy mengangguk paham, kemudian mengatur napasnya yang terengah-engah setelah berlari sedari tadi dengan air mata yang sudah menetes dikedua pipinya. "Terima kasih ya, Mpok." "Sama-sama, mudah-mudahan emak lo kaga kenapa-kenapa, bisa cepet sembuh." "Sekali lagi terima kasih banyak, Mpok." "Kaga apa, jangan terima kasih terus sama gue. Kayak sama siapa aja... lo yang sabar ya." Ujar Mpok Ana mengelus bahu Sissy, yang di respon dengan anggukan oleh gadis itu. "Kalau gitu, gue pulang ya. Ngeri bang Togar udah pulang dari pasar induk, gue malah kaga ada di rumah. Bisa berabe urusannya" "Iya, Mpok. Sekali lagi, Sissy sangat berterima kasih." *** Langkah kaki dua gadis muda memijaki lantai karpet berbulu di sebuah gedung yang tidak besar namun juga tak terlalu kecil. Gedung tersebut memiliki empat lantai dan dirinya tengah diarahkan menuju ruang pertemuan lantai paling atas. "Sebelah sini.... mari, Nona!" Dia mengangguk dengan wajah gugup, matanya terus mengedar disekeliling ruangan. Manangkap beberapa lukisan estetik yang terlihat indah saat dipandang. Namun dia tidak menghiraukan itu, dia fokus pada apa tujuan dia datang ke tempat itu saat ini. "Nggak usah takut. Gue tunggu di sana, Lo masuk aja.... bos gue itu baik sekali. Nanti lo ceritakan apa yang menjadi tujuan lo datang ke sini." Dia menunjuk pada sofa dipojokan ruangan sebelah dan membiarkan temannya itu untuk pergi. Setelah mengangguk, gadis itu melangkah kembali hingga sampai di depan pintu besar yang sudah dibukakan oleh seorang lelaki bertato dan berbadan kekar. Lalu menampilkan seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan dengan senyum ramahnya. "Selamat datang gadis cantik..." Sapa wanita itu penuh kehangatan. "Sini duduk sayang." Mempersilahkan Sissy untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Setelah kepergian Mpok Ana, Sissy dipersilahkan datang ke dalam ruangan Dokter. Di sana Sissy mendapat penjelasan tentang bagaimana kondisi bundanya saat itu. Hingga setelah lima hari sang bunda mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Sissy memberanikan dirinya untuk bertemu dengan sahabat baiknya semasa Sekolah Menangah Atas di pinggiran Kota Jakarta. Sissy tahu, jika Venny adalah seorang wanita malam di rumah bordil. Untuk itu, Sissy datang menemui Venny untuk meminta pekerjaan. Dan di sinilah sekarang Sissy berada, duduk berhadapan dengan pemilik rumah bordil yang kerap di panggil dengan sebutan Madam G. "Perkenalkan, Saya Tatiana. Tapi anak-anak biasa memanggil saya dengan sebutan Madam G..." Ucap wanita itu dengan masih menampilkan senyuman hangat. "Nama kamu siapa sayang?" "Sa-saya Sissy, Bu... eh, Madam." Jawab Sissy dengan gugup, ujung tangannya memilin dres selutut yang dia kenakan. Madam G mengangguk dan tersenyum lagi. Wanita itu sudah tidak sabar mengetahui apa maksud dan tujuan gadis lugu yang ada di hadapannya itu. Walaupun dia sudah tahu, jika ada yang ingin bertemu dengannya adalah mencari pekerjaan secara Instant. "Apa ada yang bisa madam bantu?" Sissy mendongakkan kepala, menatap pada wanita yang ada dihadapannya itu. Yang direspon dengan anggukan, artinya, Sissy dipersilahkan untuk bercerita. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf jika kedatangan saya ini sudah menyita waktu, Madam. Saya ingin mencari pekerjaan sebagai pelayan tamu." Kening Madam G mengernyit, mendengar penuturan gadis yang tengah menundukkan pandanganya itu. Kemudian dia kembali tersenyum lagi sembari mendekati Sissy, menggengam tangan gadis itu yang terasa dingin. Dia yakin bahwa Sissy meminta pekerjaan padanya dengan sangat terpaksa. Saat ini dia hanya ingin mendengar apa yang mendasari Sissy hingga datang menemuinya. "Kamu tentunya sudah tahu. Semua gadis-gadis yang datang ke tempatku meminta pekerjaan dan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya kepada para pelangganku. Apa kamu yakin?" "Bu-bukan, seperti itu..." Jawab Sissy kembali gugup. "Lalu? Aku tidak mengerti. Coba kamu ceritakan." Madam G mendengar semua penjelasan Sissy tanpa ada yang kurang satupun. Sissy meminta agar dirinya dipekerjakan sebagai pelayan tamu, yang artinya, hanya menemani para tamu yang datang untuk bersenang-senang dan bukan sebagai wanita malam. Madam G menyetujuinya, karena merasa kisah Sissy yang begitu terenyuh menyentuh hatinya. Dia teringat akan mendiang anaknya yang meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu Sissy mulai berkerja dan menekuni apa yang kini telah dia putuskan. Sissy bekerja untuk biaya kuliahnya yang tidak murah dan sebentar lagi akan selesai. Juga untuk tambahan biaya pengobatan sang bunda yang di vonis terkena sakit kanker Serviks.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD