8

2281 Words
Bintang menuruni anak tangga dengan malas-malasan. Kalau saja tangannya tidak terkait kuat dengan tangan mamanya sekarang, mungkin Bintang akan lebih memilih bersembunyi di balik selimutnya. Berlaku seakan sedang berpura-pura tidur. Namun karena kenyataannya mamanya telah terlanjur menyeretnya seperti ini, sehingga mau tidak mau yang Bintang bisa lakukan hanya menuruti kemauan mamanya untuk menemui tamunya itu. “Ayo, Bintang. Jalannya buruan dong, Mama mau kenalin kamu, nih, sama keponakannya Tante Milka. Cantik, namanya Kejora.” “Ribet banget, sih, Ma, pakai kenalan-kenalan segala.” “Iya, kamu harus kenal sama dia, karena nantinya selama Tante Milka dinas ke luar kota, dia akan tinggal di sini bareng kita.” “Apa?! Tinggal bareng kita?!” Refleks Bintang menarik tangannya bersamaan dengan langkahnya yang berhenti di tengah-tengah anak tangga. “Iya, tinggal bareng kita. Makanya sekarang kamu harus kenalan dulu sama dia. Ayo!” Naina meraih lengan Bintang kembali. Gemas melihat Bintang yang dari tadi bergerak seperti dilambat-lambatkan, terpaksa kali ini Naina menariknya lebih kuat. “Tuh, kan, Kejora udah nungguin.” Mendengar suara Naina yang semakin mendekat, sebelum berdiri Kejora segera meraih sebuah majalah fashion yang tergeletak di atas meja tamu, untuk menutupi wajahnya. Sementara Bintang yang masih belum mengenali wajahnya lantara terhalang oleh majalah, lagi-lagi hanya memerhatikan tingkah aneh gadis itu. “Ayo, Kejora, kenalin ini anak Tante. Namanya Bintang. Bintang, kenalin, ini keponakannya Tante Milka, namanya Kejora.” Dengan sedikit paksaan, Naina mendorong tangan Bintang sampai terangkat, untuk memberi salam pada Kejora. Masih dengan wajah yang tertutup, Kejora menjulurkan tangannya. Berniat untuk mengajak Bintang berjabatan tangan. Namun bodohnya, tangan Kejora malah terjulur ke arah yang salah. Sampai-sampai Milka harus ikut campur mengarahkan uluran tangan Kejora ke arah yang benar. Sambil menyambut uluran tangan Kejora, Bintang memperkenalkan dirinya, “Bintang.” “Kejora,” sahut Kejora. Sama seperti Naina, Milka pun melakukan hal yang serupa. “Kejora, kamu apa-apaan, sih? Masa mukanya ditutupin begitu? Nggak sopan. Cepat turunkan majalahnya,” perintah Tante Milka sesaat setelah ia menyadari tingkah aneh keponakannya, yang entah sejak kapan menjadi seperti itu. “Aneh,” ketus Bintang, terang-terangan. Sedangkan Naina hanya tertawa lucu melihatnya. “Kejora, cepat turunkan. Bintang kan mau kenal sama wajah kamu.” “I- i- ya, Tante.” Mendengar intonasi ucapan tantenya yang terdengar cukup serius, sedikit demi sedikit Kejora menurunkan majalah itu dari depan wajahnya. Perlahan-lahan, saat mengenali mata bundar Kejora yang tidak asing bagi Bintang, lalu melihat wajah Kejora usai majalah itu benar-benar sudah tidak lagi menghalangi pandangan Bintang, sontak Bintang terkejut bukan main. “Elo?!” sembur Bintang dengan pelototan. Membuat Kejora spontan memundurkan wajahnya bersamaan dengan kedua matanya yang terpejam otomatis. “Lho? Kalian udah saling kenal?” Naina menyeruak seketika. Bintang menoleh cepat ke arah mamanya. “Nggak, Ma. Bintang nggak kenal,” aku Bintang. Bintang tidak bohong. Karena walaupun wajah Kejora tidak asing di mata Bntang, faktanya Bintang memang tidak kenal dengan Kejora. Bahkan baru sekarang BIntang mengetahui kalau nama gadis itu adalah Kejora. Di sisi lain, Kejora yang masih terkaku pada posisinya cuma bisa diam tanpa berani melontarkan kata apa-apa. Mengingat kejadian saat di sekolah tadi, lalu sekarang dipertemukan dengan cara yang seperti ini, entah kenapa membuat Kejora seketika merasa bahwa dirinya kini telah benar-benar terkubur dengan rasa malu di hadapan Bintang. Sesaat Kejora beralih pada tantenya. “Tante Kejora tinggal di rumah aja, ya? Kejora berani, kok, sendiri. Atau nanti Kejora minta Naomi nginep di rumah buat nemenin Kejora. Ya, Tante, ya?” “Nggak, sayang. Tante nggak mau ambil resiko.” Milka menggeleng. Tangannya terangkat mengusap kepala Kejora. “Kamu tahu sendiri kan, ayah kamu itu orangnya nekat. Bagaimana kalau dia sampai macam-macam sama kamu setelah dia tahu Tante sedang tidak ada di rumah?” Dengan raut kecewa, Kejora menunduk, menerima pernyataan tantenya barusan yang tidak bisa terbantahkan lagi olehnya. “Bintang, berhubung kamu satu-satunya laki-laki di rumah ini, jadi Tante titip Kejora, ya, selama Tante dinas di luar kota.” “Kamu tenang aja, Mil. Aku pastikan Kejora akan aman tinggal di sini.” Saat Milka melihat ke arahnya, Naina mengangguk, meyakinkan, dengan bibir menipis. Sebelum memutuskan untuk menitipkan Kejora dengan Naina, Milka sudah menceritakan semuanya mengenai masalalu Kejora, dan juga ayahnya yang keras kepala, kepada Naina. Jadi Naina tahu betul tentang semuanya yang Kejora hadapi sejak kecil. Namun Bintang yang tidak tahu apa-apa, sama sekali tidak ada minat untuk penasaran. “Ya sudah, Tante berangkat dulu, ya. Nai, aku berangkat dulu, ya. Bintang, Tante titip Kejora, ya,” pamit Milka. Setelah berpelukan dengan Naina, lalu memeluk dan mengecup kening Kejora, dan menyambut tangan Bintang dan Kejora yang hendak mencium punggung tangannya, Milka bergegas keluar menuju pintu utama diantar oleh Naina. Saat Kejora ingin menyusul, tiba-tiba Bintang menahan lengannya dengan cengkraman kuat dan kasar. “Lo belum jawab pertanyaan gue tadi di sekolah.” “Pertanyaan apa?” tanya Kejora yang masih belum menangkap maksud tersirat Bintang. Bintang berdecak. “Udah, nggak usah pura-pura lupa. Lo tinggal ngaku aja. Biar gue nggak perlu caritahu lagi.” Seketika Kejora bergeming, menghindari matanya dari tatapan Bintang. “Kenapa diem?” “Kenapa juga lo nuduh gue?” Kejora balik bertanya, berupaya memberanikan diri untuk membalas tatapan Bintang. “Karena tulisan dalam sticky notes yang gue dapet semuanya sama. Jadi gue yakin, yang nulis pastinya juga satu orang yang sama. Dan orang itu lo? Iya, kan?” “Ngapain gue harus ngaku. Orang bukan gue yang ngelakuin itu semua.” “Kalau bukan lo, siapa lagi? Jelas-jelas cuma lo yang gue liat di saat-saat itu. Lo suka kan sama gue?” Kali ini tudingan Bintang benar-benar membuat Kejora mati bicara. Sampai saat Kejora teringat Naomi yang selalu ada bersamanya, seketika barulah Kejora memiliki jawaban. “Bukan gue yang suka sama lo. Tapi temen gue,” sanggah Kejora mencoba memutar balikan fakta. Maafin gue, Nom. Please, maafin gue. Semoga nanti lo mau ngerti... Sejenak Bintang terdiam sambil mengingat-ingat. “Tapi waktu di ruang musik lo―” “Bintang, Kejora, cepat kembali ke kamar masing-masing. Kejora, kamar kamu yang di sebelah kamar Bintang, ya.” Baru saja Bintang ingin bertanya lebih, tiba-tiba Naina kembali memotong kalimatnya yang belum sempat terselesaikan. Dan Kejora sangat mensyukuri hal itu, karena suka tidak suka, akhirnya Bintang terpaksa harus membebaskannya dari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. *** Sebuah mobil putih mengilat milik Biru berhenti di pinggir ruas jalan perumahan, yang tepatnya di depan gerbang rumah Rasi. “Makasih, ya, Biru. Untuk hari ini. Aku seneeeenggg banget, bisa menghabiskan waktu seharian sama kamu,” ungkap Rasi dengan sangat ekspresif. Biru tersenyum, seraya mengangguk samar. “Aku turun, ya, Biru.” “Tunggu.” Baru saja Rasi ingin beranjak, tiba-tiba Biru menarik salah satu tanganya, hingga tubuhnya kembali berbalik. Dan saat itu pula, Rasi terkejut ketika dengan gerakan cepat Biru menyambar bibirnya tanpa sempat ia untuk menghindar. Sampai beberapa saat kemudian, barulah Biru melepaskan bibir Rasi dari uluman bibirnya. Menjauhkan wajahnya dari wajah Rasi. Seketika Rasi menunduk, pun dengan Biru. Keheningan dalam mobil tiba-tiba merayap menciptakan kecanggungan di antara keduanya. “Selama ini lo mau tahu, kan, gimana perasaan gue ke lo?” Dengan gerakan kaku, Rasi mengangguk. Salah satu tangannya masih terus memegangi bibirnya. “Selama ini gue suka sama lo, Ras,” tutur Biru, yang sesaat berhasil membuat pandangan Rasi terangkat, mengarah padanya. “Gue, benar-benar jatuh cinta sama lo.” “Kalau selama ini kamu punya perasaan seperti itu ke aku, kenapa kamu nggak pernah bilang dari awal?” Karena ada banyak hal yang nggak bisa aku kasih tahu ke kamu, Ras. Biru hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng samar. “Nggak apa-apa. Gue cuma menunggu waktu yang tepat aja untuk kasih tahu lo tentang perasaan gue ini.” “Se-lama itu kamu menunggu waktu yang tepat?” “Iya,” balas Biru dengan anggukan. “Tapi, Ras―” Tak lama Biru menggantungkan kalimatnya. “Tapi apa, Biru?” “Tapi untuk saat ini gue belum bisa menjalin hubungan yang lebih jauh sama lo.” “Kenapa?” “Gue belum siap. Lo mau ngertiin gue, kan?” Seketika Rasi menundukkan pandangannya. Tentunya ada sedikit kekecewaan yang menyelinap di benaknya saat ia mendengar pernyataan Biru tadi. “Iya, aku ngerti. Aku turun, ya. Kamu hati-hati nyetirnya.” Dengan disertai kedipan, Biru mengiyakan. “Good night.” “Good night.” Rasi turun. Setelah menunggu sampai mobil Biru berlalu, barulah Rasi masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang setengah-setengah. Setengah bahagia, namun setengahnya, Rasi tidak tahu bagaimana ia mendeskripsikannya. Bahagia, karena akhirnya ia mengetahui bahwa selama ini Biru memiliki perasaan yang sama dengan perasaannya. Namun setengah perasaannya lagi, sungguh tidak bisa Rasi ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti kecewa, tapi nyatanya tidak sesederhana itu. Ada sakit yang lebih dari sekedar kecewa di dalamnya. Tapi tidak apalah, yang terpenting selama ada bahagia yang lebih mendominasi di antara keduanya, selama itu pula Rasi bisa menutupi semuanya. Dengan harapan semoga suatu saat ia dan Biru bisa saling memiliki satu sama lain. *** Sedangkan dari atas balkon kamar di seberang kamar Rasi sana, dalam diam Bintang hanya bisa menyaksikan segalanya dari awal melalui tembusan kaca depan mobil Biru, sampai akhirnya mobil itu berlalu dan Rasi pun masuk rumah. Tanpa Rasi maupun Biru ketahui. Sesak, memang. Tapi selama Rasi bahagia, Bintang tidak akan mempermasalahkan itu. Tidak masalah kalau kenyataanya hari di mana ia bisa memiliki Rasi seutuhnya tidak akan pernah datang. “Bintang!” Tanpa mengetuk lebih dulu, Kejora main langsung membuka pintu kamar Bintang, sehingga Bintang yang mendengar decitannya seketika menengok ke arahnya. “Lo bisa nggak, kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu?! Lo pikir ini rumah nenek moyang lo!” Bintang membentak spontan. Kejora agak tersentak dan kontan menghentikan langkahnya. Mengurungkan niatnya untuk masuk, Kejora memilih berdiri di batas pintu dengan kepala sedikit tertunduk. Diganggu di saat perasaannya sedang tidak keruan memang telah menjadi sisi lemah Bintang. Apalagi hal itu berkaitan dengan Rasi. Membuat emosi Bintang semakin rentan marah saja. “Lo mau apa ke kamar gue?” tanya Bintang dengan emosi yang sudah sedikit mereda. Terbukti dari suaranya yang sudah terdengar lebih rendah dan teratur dibanding sebelumnya. “Lemari di kamar gue nggak bisa dibuka, kekunci. Jadi gue pikir lo tahu di mana kuncinya.” Bintang menarik napasnya sejenak. Kemudian tanpa bicara lagi ia berjalan keluar menuju kamar di sebelah kamarnya, yang untuk sementara telah resmi menjadi kamar Kejora. Sementara itu, Kejora mengekorinya dari belakang Di dalam Bintang langsung mendekati sebuah meja yang merupakan tempat untuk menaruh apa saja. Bintang membuka salah satu laci meja itu. Setelah berhasil menemukan apa yang Kejora cari, tidak pakai basa-basi Bintang memberinya pada Kejora. “Udah?” Kejora mengangguk, tanpa berani menatap mata Bintang. Kejora baru tahu, kalau sedang marah atau pun diganggu, Bintang bisa membentak segalak itu. *** Biru memasuki kamarnya sambil terus senyum-senyum sendiri. Kemudian berdiri di hadapan dinding yang dihiasi dengan tempelan foto-foto, yang merupakan Rasi hasil cetakannya sendiri. Lega sekali rasanya, setelah ia jujur mengatakan semuanya pada Rasi secara langsung. Meskipun Biru belum memberi kejelasan tentang hubungan mereka ingin dibawa ke mana nantinya, setidaknya Biru sudah memberi kejelasan tentang perasaannya selama ini pada gadis itu. Benar kata Leon. Cinta memang seharusnya diungkapkan. Mau seberapa beratpun itu. Bukan hanya cinta, apa saja yang menyangkut soal perasaan akan terasa lebih baik jika diungkap dalam bentuk ucap. Karena siapapun tidak ada yang tahu bagaimana isi hati orang lain. Tangan Biru terangkat untuk mengusap wajah senyum Rasi yang terabadikan dalam salah satu foto tersebut. “Makasih banyak, ya, lo udah mau mengerti gue. Walaupun gue nggak pernah kasih tahu lo alasannya.” Pokoknya, Biru janji dengan dirinya sendiri, kalau sampai nantinya ia benar-benar sembuh, sesegera mungkin ia harus memperjelas hubungannya dengan Rasi. “Biru,” Biru menoleh. Tak lama bundanya masuk dengan senyuman hangat. “Kenapa, Bun?” “Ini, tadi Dokter Fajar telepon Bunda. Dia bilang jadwal check up kamu minggu ini dimajukan dua hari menjadi lusa. Soalnya di hari biasanya kamu check up, dia ada acara dengan keluarganya. Kamu bisa, kan? Kalau memang kamu ada kelas di hari itu, kamu izin sehari aja nggak masalah kan?” “Ooh, iya, Bun. Nggak masalah,” tutur Biru. “Ya sudah, Bunda cuma mau sampaikan itu saja ke kamu.” Aliya, wanita setengah baya berambut pendek itu tak lama kembali berbalik saat ia teringat akan sesuatu. “Oiya, kamu sudah minum obat, kan?”  Biru mengangguk. Sebelum akhirnya ia menjawab, “Udah, Bun.” “Baik, berarti sekarang kamu tinggal istirahat. Ingat, ya, Biru, kamu jangan sampai kelelahan.” “Iya, Bunda. Bunda jangan khawatir, aku baik-baik aja.” “Iya, Bunda percaya, karena kamu yang paling tahu kondisi kamu.” Aliya menipiskan bibirnya, sebelum akhirnya ia berlalu dan kembali menyisakan Biru sendirian di dalam kamarnya. Di pinggir ranjangnya, Biru terduduk. Mengecek ponselnya, dan langsung membuka ruang obrolan dengan Rasi. Langit Sabiru: Ras, Rasi is typing... Rasi Aquilla: Kenapa, Biru? Langit Sabiru: Selamat tidur, ya Biru tersenyum, memandangi layar ponselnya. Namun tiba-tiba senyum Biru pudar saat ia mendapati cairan merah yang menetes tepat di permukaan layar ponselnya. Saat Biru menoleh ke arah cermin, saat itu juga Biru menatap miris pantulan dirinya sendiri. Terlebih ketika Biru melihat ada noda merah di bagian bawah lubang hidungnya. Dengan cepat Biru meraih beberapa lembar tisu, untuk menyumpalnya supaya tidak mengeluarkan darah lagi. Seketika kepala Biru tertunduk dalam. Hingga sedetik berselang air matanya jatuh bersamaan dengan rasa sesak yang menjalar dalam benaknya. Tanpa ada isak, Biru menangis penuh sesal. Lagi-lagi penyakitnya kambuh di saat ia baru mulai benar-benar yakin dengan perasaannya, dan memperoleh kepercayaan diri untuk mengungkapkannya pada Rasi. Untuk yang ke sekian kalinya entah mengapa, Biru merasa pernyakitnya itu datang seolah memang bertujuan untuk mengingatkannya akan kenyataan yang tidak pernah sejalan dengan inginnya. Meskipun perlu Biru akui bahwa untuk kali ini, Biru sungguh-sungguh tidak siap jika penyakitnya itu mengharuskannya untuk menyakiti Rasi lagi. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD