09
“Bintang, Kejora, cepat ke ruang makan, ya. Kita sarapan sama-sama,” pekik Naina setelah mengetuk dua pintu kamar yang bersebelahan itu secara bergantian.
Dari sekian juta detik yang ada, entah kenapa bisa-bisanya baik Kejora maupun Bintang memilih detik yang sama untuk keluar dari kamar mereka masing-masing. Dan hal itu ternyata sungguh tidak Bintang sukai.
“Cepet lo turun duluan.”
“Lo aja turun duluan. Kan lo yang lebih deket sama tangga?” sahut Kejora tidak mau kalah.
Bintang berdecak, menahan kesal. Hingga akhirnya ia putuskan untuk turun lebih dulu. Setelah itu barulah Kejora menyusul beberapa langkah di belakangnya.
“Galak banget, sih. Kalau bukan karena permainan pianonya gue juga nggak bakalan suka sama, tuh, cowok jutek!”
“Eh, eh, eh, tunggu!” titah Naina tiba-tiba, yang Bintang dan Kejora seketika sama-sama menahan langkahnya, sebelum mereka sampai di meja makan. “Kalian satu sekolah?”
Sesaat Bintang dan Kejora saling menoleh melempar tatap. Lalu dengan kompak mereka menjawab, “Enggak.”
“Kalian berdua bohong. Jelas-jelas seragam kalian sama, tuh, lihat!”
Lagi-lagi dengan kompak untuk kali yang kedua Bintang dan Kejora menunduk. Saat keduanya melihat seragam masing-masing yang baru mereka sadari ternyata memiliki motif sama pada atasannya juga warna yang sama pada bawahannya, saat itu pula mereka langsung menyialkan kebodohan masing-masing.
“Bintang, kenapa kamu pakai bohong segala, sih, sama Mama?” tanya Naina sambil mencubit perut Bintang, sampai Bintang meringis kesakitan. Kemudian Naina beralih lagi pada Kejora namun tentunya tidak dengan cubita seperti yang ia lakukan pada Bintang. “Kamu juga Kejora, kenapa bohongin Tante sama Tante kamu semalam? Tadi juga, kalian samanya.”
“Kita emang nggak kenal, Ma. Soalnya walaupun satu sekolah, tapi kita nggak sekelas. Beda jurusan juga. Apalagi Bintang masih anak baru di sana.”
Menanggapi kebohongan Bintang yang kedengarannya sangat natural membuat Kejora hanya bisa mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Bintang saja.
“Ya, ya, ya. Kamu itu kan emang paling jago ngeles dari kecil!” tukas Naina, sambil mengusap kepala Bintang. Meskipun Bintang tidak menggubris dan malah berlalu ke meja makan mendahului yang lain. “Ya sudahlah, lupakan saja. Tidak penting juga. Yang terpenting kita sarapan dulu. Ayo, Kejora, sini. Biar nggak terlambat ke sekolahnya.”
“Iya, makasih, Tante,” ucap Kejora seraya membungkukkan badannya. Sebelum akhirnya ia duduk menghampiri meja makan yang di atasnya sudah tersedia pilihan nasi goreng, roti, dan selai.
Sementara Bintang menyendok nasi goreng ke piringnya, Kejora lebih memilih untuk mengambil dua lembar roti, yang ia tumpuk menjadi satu, dan kemudian ia selipkan selai cokelat di tengahnya.
“Kejora, kamu kok cuma makan roti?” heran Naina. “Nanti kamu tidak kenyang, lho.”
“Kenyang, kok, Tan. Di rumah kalau Tante Milka udah berangkat kantor duluan dan nggak sempat buatkan sarapan, biasanya juga aku sarapan roti selai.”
“Kenapa begitu? Takut telat, ya?”
“Iya, takut ketinggalan bus juga.”
“Curhat,” celetuk Bintang walau dirinya tidak diajak bicara.
“Oh iya, kalian kan satu sekolah, Kejora, kenapa nggak bareng Bintang aja berangkatnya?”
“Uhuk-uhuk,” Mendengar itu tiba-tiba Bintang tersedak kunyahannya sendiri. “Nggak bisa, Ma. Bintang kan mesti nganter Rasi dulu.”
“Iya, iya. Mama lupa,” timpal Naina, baru teringat akan hal itu. “Kalau gitu kamu bareng Tante aja? Tante antar sampai sekolah, mau?”
“Mama, giliran Bintang yang minta anter nggak pernah mau.”
Melihat kecemburuan Bintang, entah kenapa malah membuat Naina tertawa kecil. “Kalau kamu, mah, beda. Pertama, kamu laki-laki. Beda sama Kejora yang perempuan. Perempuan itu nggak aman kalau naik-naik angkutan umum. Yang kedua, kamu udah Mama sediain motor, dan bisa kendarainnya sendiri.”
“Iya, tapi, kan, waktu itu si Cinta sempet sakit. Dirawat inap di bengkel. Tapi tetep aja Mama nggak mau nganter, kan? Giliran anak orang aja dianterin.”
“Cinta?” Kejora menyelas sesaat.
“Nama motor kesayangan gue. Mau apa lo?!” sahut Bintang tidak senang hati.
Kejora langsung membungkam mulutnya. Diam-diam ia menahan diri agar tidak keceplosan menertawai Bintang.
“Kamu kan laki-laki, Bintang. Sekarang Mama tanya, emangnya kamu mau disamain sama Kejora yang perempuan?”
“Nggaklah.” Tentunya Bintang menandas mantap. “Udah, ah. Selera makan Bintang hilang. Gara-gara Mama menyudutkan Bintang melulu.”
“Dih, Mama disalahin?” Naina menahan tawanya. Seketika ia melirik pada Kejora. “Lihat, tuh, Kejora, kelakuan Bintang kayak gimana kalau di rumah. Marah-marah mulu kayak nenek-nenek kurang sirih.”
Karena Naina tertawa, Kejora jadi ikut tertawa. Memutuskan untuk kompak meledek Bintang. Hingga akhirnya Bintang tidak mau ambil pusing dan segera bergegas keluar membawa ransel juga kunci motornya.
***
“Bintaang!” Belum juga Bintang mengeluarkan Cinta, di seberang sana Rasi sudah menyambutnya dengan senyum lebar dan lambaian tangan.
Menyadari itu, sambil menyalakan mesin Cinta dagu Bintang bergedik. Setelah Cinta berjalan dan berhenti sejenak di hadapan Rasi, barulah barulah Biru bertanya, “Apa?”
“Aku mau cerita!” seru Rasi semangat.
Tanpa perlu Rasi beritahu, sebenarnya Bintang sudah bisa menebak. Gadis itu pasti ingin bercerita soal semalam padanya. Namun karena tidak memiliki pilihan lain selain berpura-pura tidak tahu, Bintang akhirnya menimpali, “Cerita apa? Soal Biru?”
“Ih, kok, kamu bisa tau, sih? Kamu cenayang, ya?”
“Hidup kamu kan emang nggak pernah jauh-jauh dari Biru!” ketus Bintang, yang tak lama menjalankan Cinta, berlalu bersama Rasi yang duduk di belakangnya.
Membayangkan kejadian semalam, seketika untaian senyum tergambar di bibir Rasi. “Semalam Biru nyatain perasaannya ke aku.”
“Emangnya gimana perasaannya dia ke kamu?”
“Dia bilang dia suka sama aku. Gila, ya, setelah sekian lama akhirnya aku dengar juga kata-kata itu keluar dari mulut Biru.”
Nyiittt
Mendengar kalimat barusan, tiba-tiba tangan Bintang refleks menarik rem tangan Cinta. Sampai-sampai saat Cinta berhenti mendadak, baik dirinya maupun Rasi terangsur ke depan. Bagus saja tidak sampai terlempar.
Plak
Dengan kasar Rasi menepuk bahu Bintang, kesal. “Kamu kenapa, sih?! Habis mabok kecap, ya, semalam?!”
“Sori-sori. Tadi ada kucing lewat.”
“Ish!” desis Rasi.
Bersamaan dengan dua roda yang berputar, Cinta kembali berjalan.
Beberapa saat Bintang terdiam. Pikiran Bintang mulai menduga-duga, membuat kesimpulan sendiri dari hasil apa yang Rasi katakan tadi. Ketika dua orang sudah saling memiliki perasaan yang sama, tentulah siapapun juga tahu seperti apa spekulasi berputar di kepala Bintang saat ini.
“Biru bilang, dia sayang aku selamanya,” tambah Rasi, lagi.
Saat Rasi mengatakan itu, tiba-tiba seperti ada kenyerian yang terselip di d**a Bintang. Kenyerian yang terasa agak menyakitkan, hingga membuat napasnya berhembus sedikit tidak beraturan pagi itu. Kalau boleh Bintang akui, Bintang mengakui bahwa dirinya adalah seorang sahabat terjahat yang pernah ada di muka bumi ini. Karena sebagai sahabat kecil Rasi, seharusnya saat ini ia senang karena akhirnya perasaan Rasi pada Biru terbalaskan. Bukan malah menyesalinya, dan berharap Biru sedang berbohong pada Rasi.
“Di dunia ini nggak ada yang bersifat selamanya. Semua pasti akan berubah seiring berjalannya waktu.” Termasuk perasaan aku ke kamu, Ras. Yang entah kapan kamu bisa sadari itu, lanjut Bintang. Namun sayang tak tersuarakan.
***
“Makasih banyak, ya, Tan,” ucap Kejora seraya mengecup punggung tangan Naina.
Sesaat bibir Naina menipis. “Iya, sama-sama. Nanti kalau Bintang macem-macem sama kamu di sekolah, kamu bilang aja sama Tante, ya. Biar Tante yang turun tangan.”
“Siap, Tante!” Kejora tertawa. Dalam hati menggerutu, andai saja Bintang memiliki sikap yang sama perhatiannya dengan Naina, mungkin Kejora akan betah mau tinggal berlama-lama di rumah mereka juga.
Kejora turun dari mobil berwarna silver milik Naina. Berjalan menelusuri koridor, menuju kelasnya. Namun saat Kejora melewati tikungan koridor, tiba-tiba Kejora dikejutkan dengan tangan seseorang yang membekap mulutnya dari belakang. Lalu menarik tubuhnya hingga terpentok di balik dinding.
“Hmmffppf!” Teriakan Kejora tertahan sampai akhirnya ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menyingkirkan tangan seseorang itu dari mulutnya. “Lo si―”
“Ssssst!” Seseorang itu berdesis pada Kejora, memosisikan jari telunjuknya di tengah bibir.
Sejenak Kejora mempertegas penglihatannya. “Bintang?”
“Iya, ini gue.”
“Lo ngapain, sih, pakai nyulik-nyulik gue segala?”
“Idih, ngapain gue nyulik lo? Rugi gue yang ada!” decih Bintang mentah-mentah. “Denger, ya, gue tarik lo ke sini karena gue cuma mau ngingetin lo, untuk jangan pernah kasih tau siapapun di sekolah ini, kalau kita tinggal serumah. Ngerti?! Harus ngerti!”
Belum Kejora menyahut sepatah kata pun, Bintang langsung meninggalkan Kejora acuh tak acuh di area koridor sepi yang memang paling jarang dilewati siswa. Sumpah demi kecoa bunting, baru kali ini Kejora melihat orang semenyebalkan Bintang!
***
Rasi Aquilla: Biru, lagi apa?
Rasi Aquilla: Kamu sibuk, ya?
Rasi Aquilla: Biru?
Rasi memandangi layar ponselnya. Terlihat beberapa kali Biru online. Namun entah mengapa sampai detik ini Rasi belum-belum juga mendapat balasan dari cowok itu.
“Ras, makanan lo nggak dimakan? Ntar keburu bel, lho,” ujar Aurel, yang tidak ingin seporsi nasi dan ayam goreng di piring Rasi mubazir.
“Iya-iya aku makan.” Rasi menyuap sesendok nasi bercampur sedikit potongan ayam ke dalam mulutnya. Tapi setelah itu perhatiannya kembali teralih pada layar ponselnya yang menyala.
Sampai saat tertera tulisan online tepat di bawah nama kontak Biru, tanpa berpikir lagi Rasi segera meneleponnya.
“Ras, lo kalau nggak laper, mending itu makanan buat gue, deh.”
Alih-alih menggubris ucapan Aurel, Rasi fokus mendengarkan nada sambung panggilannya pada Biru.
“Maaf, nomor yang anda tuju, tidak menjawab. Silakan―”
Rasi mematikan ponselnya. Hembusan berat pada napasnya seketika terdengar sangat jelas.
***
“Oke, jadi untuk kegiatan Hima kita kali ini gue akan mengusung tema―”
Drt drt drt
Di tengah-tengah rapat, getaran ponsel Biru yang tergeletak di atas meja lagi-lagi membuat semua orang di sana menjadi salah fokus. Bahkan getaran yang kali ini mampu membuat Dhani, seseorang yang merupakan ketua himpunan, seketika berhenti berbicara.
“Ru, ponsel lo geter-geter mulu, tuh. Angkat napa, ganggu tau. Atau kalau nggak, gue aja yang ngangkat, sini!” Abram, yang duduk di sebelah Biru, tangannya sudah terjulur ingin menghampiri ponsel Biru.
Namun cepat-cepat Biru segera menjauhkannya. “Nggak usah.”
“Kalau gitu lo matiin aja ponsel lo. Atau pasang mode silent, Ru,” saran Dhani. Beruntunglah nasib Biru karena Dhani masih benar-benar menganggapnya teman.
“Iya, udah.”
Setelah Biru mematikan ponselnya, rapat kembali berlangsung. Orang-orang di sana kembali memerhatikan sekaligus mendengarkan ide gagasan Dhani. Terkecuali Biru yang pikirannya masih melayang bebas memikirkan seseorang yang sejak tadi mengisi notifikasi ponselnya, Rasi.
Sejujurnya Biru tidak ingin berlaku seperti ini pada Rasi, karena Biru gadis itu pasti akan sangat tersakiti karenanya. Akan tetapi mau bagaimana lagi? Biru sungguh tidak memiliki pilihan lain. Keadaan mengharuskannya.
***
“Eh, sini lo!” Kepulangan Kejora dari sekolah, tiba-tiba disambut dengan sentakan suara Bintang yang sudah stand by menunggunya di ruang tamu, masih dalam keadaan memakai seragam sekolah, juga dengan beberapa atributnya yang tidak pernah lengkap.
“Gue?” Kejora menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, lo! Emang ada manusia lain di sini selain lo?!” sentak Biru lebih tegas. Entah kenapa kalau bicara dengan Kejora, Bintang bawaannya selalu emosi. Inginnya marah-marah, membentak, menyentak, dan sejenisnya.
Kejora yang tadinya hendak langsung ke kamar, langkahnya langsung membelok. Mendekati Bintang, lalu duduk di sofa lainnya.
“Selama lo tinggal di sini, gue mau lo harus mengikuti semua rules yang udah gue buat.” Bintang menyodorkan selembar surat tertempel dua buah materai di atas meja, pada Kejora.
Kejora mengambilnya, membacanya tanpa suara. Dalam surat tersebut Bintang menyebut dirinya sebagai Pihak Pertama, dan Kejora sebagai Pihak Kedua.
1. Pihak Kedua dilarang masuk ke dalam kamar Pihak Pertama tanpa mengetuk.
2. Pihak Pertama bebas melakukan apa saja di kamar Pihak Kedua
3. Pihak Kedua tidak boleh memberitahu satu orang pun di sekolah, mengenai keadaan mereka yang tinggal satu rumah.
4. Pihak Kedua harus berpura-pura tidak kenal dengan Pihak Pertama di sekolah
5. Pihak Kedua dilarang keras menyentuh barang-barang Pihak Pertama, di mana pun adanya.
6. Pihak Kedua tidak boleh melakukan hal-hal yang bersifat menyusahkan Pihak Pertama.
7. Pihak Pertama bebas menentukan pilihan atau keputusan mengenai kelanjutan peraturan-peraturan ini, tanpa perlu persetujuan apapun dari Pihak Kedua.
8. Pihak Kedua tidak diperizinkan untuk membantah, menyanggah, ataupun mengubah segala peraturan yang ada.
9. Pihak Kedua harus merahasiakan perjanjian ini dari siapapun, termasuk Naina Yunarita, sang pemilik rumah secara resmi.
10. Jika sampai ada salah satu pasal terlanggar, Pihak Kedua berhak disalahkan oleh Pihak Pertama. Yang artinya, Pihak Pertama berhak memberi sanksi/hukuman apa saja pada Pihak Kedua.
Kejora terpelongo membaca habis peraturan yang tidak ada kata adil-adilnya sama sekali itu. Terlebih untuk dirinya.
“Perjanjian macem apaan, nih?!” tandas Kejora tidak terima. “Gue bakal aduin ke Tante Naina!”
“Kalau lo berani ngadu ke nyokap gue, gue pastiin hidup lo nggak akan aman selama di sini!”
Ketusan Bintang yang terdengar mengancam namun cara pengucapannya seolah cuek seketika membuat Kejora kembali duduk. Bukan, Kejora duduk kembali bukan karena ia takut dengan ancaman Bintang. Melainkan karena bagaimana pun juga tinggal di rumah ini adalah kesempatan emas bagi Kejora, untuk selalu dekat dengan Bintang. Tidak peduli walau setiap harinya Bintang selalu menyebalkan. Karena mau semenyebalkan apapun Bintang, nyatanya hal itu tidak bisa mengubah perasaannya untuk Bintang.
“Yaudah, gue tandatanganin. Mana sini pulpennya?”
Baru saja Bintang mau beralih pada tasnya, seketika ia teringat kalau tiap hari dirinya tidak pernah membawa pulpen ke sekolah. “Gue nggak ada pulpen. Pake pulpen lo sendirilah.”
“Sekolah apaan lo nggak bawa pulpen? Cih,” decih Kejora, meremehkan, sembari mengambil pulpennya sendiri dari dalam tasnya.
Boro-boro membawa pulpen, punya saja tidak. Di sekolah Bintang memiliki langganan yang biasa meminjamkannya pulpen, yakni Oskar. Sedangkan di rumah, biasanya Rasi yang menjadi sukarelawan pulpen bagi Bintang. Dan pulpen berian Rasi itu, Bintang selalu lupa menaruhnya di mana.
Usai Kejora membubuhkan tandatangannya tepat di atas materai, Bintang tiba-tiba merampasnya tanpa izin. Bintang memerhatikan isi tulisan yang terketik rapi pada permukaan kertas itu dengan seringaian puas. Puas karena artinya gadis itu akan berada di bawah kendalinya mulai sekarang.
11.