Bab 21 POV Dimas "Kamu mau angkat teleponnya? Silakan!" Ana terlihat mendelik dan sungkan saat aku mempersilahkan ia untuk mengangkat teleponnya. "Nggak ah, aku bukan siapa-siapa Pak Dimas," cetus Ana. Kemudian, ia pun mengalihkan pandangannya ke depan. Suara dering telepon pun terhenti. Syukurlah Bu Lita memutuskan untuk berhenti menghubungiku. Aku letakkan kembali ponselnya dan memfokuskan diri untuk melihat ke arah jalan. Teringat ucapan Ana, bahwa ia akan membicarakan tentang pengakuanku pada Sinta. Aku hendak menanyakan maksud dari ucapannya. Sebab, aku khawatir ia salah paham dengan ucapanku. "Maaf, Bu Ana," potongku. "Ana saja," sahutnya. "Kalau gitu, sebut aku dengan nama juga, jadi sama-sama enak, bukankah kita sudah bukan mitra kerja lagi?" terangku. Kemudian ia pun menga

