Bab 18 POV Dimas Aku coba tenangkan diri, segera kuambil ponsel yang ada di saku celana. Kemudian, aku klik sunyi untuk dering telepon. Lega rasanya telah mengatur silent nada deringnya. Kemudian, aku perhatikan ia mulai menekan tombol panggilan dan meletakkan ponselnya di telinga. "Nggak diangkat," cetusnya. Ia tampak kesal karena aku tak angkat telepon darinya. Kebetulan sekali, berhubung masih megang ponsel, lebih baik aku videokan saja aktivitas Bu Lita bersama laki-laki berhidung bangir yang bernama Angga itu. Ia letakkan kembali ponselnya, kemudian berbincang-bincang dengan Angga. "Sudahlah, tak perlu kesal, sebentar lagi nama kamu dipanggil suster," gumam Angga. Ia tampak memperlakukan Bu Lita sangat istimewa. Ini membuatku semakin penasaran. "Ya, semoga anak kita sehat-seh

