POV Zaki
Saat itu, kupikir undangan yang kami datangi di sebuah perumahan elite adalah undangan terbuka dari orang yang tidak kukenal. Namun, ternyata itu adalah undangan dari keluarga Ana Melissa, istri pertamaku.
Kesal saat mendengar pernyataan yang satu demi satu membuka jati diri keluarga dari Ana. Ternyata mereka merahasiakan jati dirinya yang sesungguhnya dariku dan keluarga. Termasuk dari Lita yang tidak lain adalah istri keduaku.
Ada perasaan malu saat mendengar mereka bicara di atas panggung. Namun, rasa kesal kepadanya itu yang lebih menggebu-gebu. Apalagi mereka sengaja bekerja sama dengan keluarganya Lita. Untuk apa semua itu? Apa ada dendam yang sedang mereka rencanakan?
"Lita, kita pergi dari sini," bisikku setelah mengetahui bahwa Ana adalah pemilik rumah tempatku berdiri. Jangan sampai ia mengejutkan satu hal lagi. Aku yakin setelah ini akan ada pengumuman pertunangannya dengan Pak Gilang.
Lita pun hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah kaki ini ke arah parkiran.
Rumah gedung dua lantai berukuran sangat besar itu aku tinggalkan secara diam-diam. Kami pergi tanpa permisi, aku rasa itu tak perlu dan tak penting lagi.
Di sepanjang perjalanan, aku tidak bisa konsentrasi atas apa yang telah aku dengar tadi. Pantas saja Pak Ardi Dinata tak pernah datang menemui Ana. Rupanya ia orang terhormat yang enggan menginjakkan kakinya ke rumahku. Kenapa aku tidak mengetahui hal ini dari dulu? Begitu rapatnya Ana menyimpan semuanya.
"Mas, kamu nyesel telah memperlakukan Ana seenaknya?" tanya Lita. Aku bergeming, sedang tidak mood menjawab apapun yang berhubungan dengan Ana.
Kemudian, aku berinisiatif untuk pulang ke rumah mama terlebih dahulu. Agar ia tahu tentang Ana dan keluarganya.
"Kita pulang ke rumahku ya," ajakku sambil mengalihkan pembicaraan.
"Mas, aku tanya kenapa nggak dijawab?" tanya Lita dengan emosi.
"Aku ingin beritahu Mama tentang Ana," jawabku. Kemudian, ia pun berubah cemberut. Wajahnya ditekuk bagaikan kertas yang dilipat menjadi empat.
"Mas, sudahlah. Berhenti memikirkannya. Mama tak perlu tahu tentang hal ini. Nanti malah aku yang ditendang oleh Mama. Mama kamu kan materialistis," tukasnya membuatku kesal. Sembarangan saja mulutnya menyebut mamaku matre.
"Kamu bisa lebih menghargai Mama atau tidak!" tegasku. Kemudian tak bicara lagi padanya.
"Aku pinta ke bengkel sekarang. Tidak perlu ke rumah Mama!" suruhnya. Aku pun terpaksa menuruti kata-kata Lita. Di dalam rahimnya ada benih yang telah aku tanam.
Bengkel masih ramai sekali, aku dan Lita turun dari mobil lalu ke kantor untuk melanjutkan pembicaraan dengan Lita.
Tidak ada pembahasan dari mulutnya. Ia masih merajuk karena cemburu dengan Ana.
"Lita, kamu tidak usah cemas dengan kehadiran Ana yang tiba-tiba menjadi sosok wanita kaya raya, aku tidak mungkin kembali padanya." Merayu Lita agar ia tidak terus menerus memikirkan hal ini. Seharusnya ia berpikir jernih, tidak akan mungkin aku kembali pada Ana, pastinya ia takkan mau kembali denganku. Sudah ada Pak Gilang yang menggantikanku untuk menjadi suaminya.
"Benar? Kamu tidak akan kembali pada Ana?"
"Lita, sejak dulu orang tuanya tidak pernah setuju dengan pernikahan kami. Tidak akan mungkin aku bisa kembali padanya," jelasku.
"Aku juga nggak nyangka, kalau ternyata Ana adalah anak pemilik PT. Asam Manis Makmur," tambah Lita.
"Apa?" Tiba-tiba suara mamaku dan Yuni terdengar. Ternyata ia mendengar juga kenyataan ini. Padahal, aku dan Lita berniat untuk merahasiakannya.
"Mama, sejak kapan datang?" tanyaku sambil meraih tangannya.
"Baru saja, apa betul yang Lita bicarakan tentang Ana?" tanyanya.
"Iya, Mah. Aku juga tidak menyangka."
"Mas, PT. Asam Manis Makmur adalah tempat aku melamar kerja sebagai HRD di sana. Apa jangan-jangan ini semua rencana Mbak Ana?" sambung Yuni. Aku sepemikiran, ini pasti sudah rencana mereka untuk membalas dendam pada keluargaku.
"Sepertinya apa yang kamu pikirkan itu benar. Ana dan Papanya dengan sengaja memperkerjakan kamu di PT. Asam Manis Makmur."
"Kalau gitu, muluskan saja rencananya, kamu tetap lanjutkan tes kerja di sana," suruh Lita. Untuk apa? Merendahkan diri sendiri di hadapan Ana gitu?
Yuni terkekeh-kekeh dengan apa yang disarankan Lita. Aku sendiri heran dengan ucapannya.
"Maksudnya gimana Mbak Lita?" tanya Yuni.
"Nanti aku arahkan. Untuk sementara, ikuti saja tes di sana."
Kami pun mengangguk, mengindahkan apa yang Lita ucapkan.
"Oh ya, kalau gitu mama dan Yuni pamit dulu, mau belanja, tadi ke sini mau berikan kunci pada kamu, Zaki. Tidak sengaja malah mengetahui rahasia besar tentang Ana," gumam mama sembari memberikanku kunci.
"Iya, untungnya kita ke sini dulu, jadi tahu sebenarnya bahwa Ana Melissa itu sedang mempermainkan keluarga kita," ketusnya. Yuni adalah orang yang memang amat membenci Ana sedari dulu. Apalagi mendengar bahwa Ana itu sedang memainkan peran untuk balas dendam.
Kemudian, mereka pun pergi. Aku dan Lita masih berada di bengkel. Kami berdua mengecek keuangan bengkel yang sudah tiga hari belum direkap.
Di sela-sela waktu, kami sempatkan diri bicara dengan beberapa pekerja di bengkel. Namun, alangkah terkejutnya kami, saat melihat tiba-tiba ada kobaran api di sebuah rumah. Kami sontak berdiri berbarengan. Kemudian melihat sedikit ke arah depan.
"Kebakaran ... kebakaran ...." teriak para warga. Aku dan yang lainnya memastikan bahwa api itu takkan merambat ke mana-mana.
"Arman, kamu bantu padamkan bersama anak-anak bengkel lainnya!" tegasku.
Sementara mereka ke sana membantu memadamkan api, aku dan Lita hendak ingin menyelamatkan diri. Namun, ternyata ada perusuh yang datang ke toko-toko beramai-ramai.
"Astaga, kenapa itu jadi rusuh?" Lita cemas melihat kerusuhan di depan mata. Kemudian, terlihat segerombolan menuju bengkel.
"Masuk, Sayang!" teriakku. Kami pun masuk kembali ke kantor. Agar tak kena sasaran amukan perusuh.
"Mas, aku takut," keluh Lita.
"Tenang, Sayang," pintaku.
Tidak lama kemudian, perusuh itu perlahan melarikan diri. Meskipun harus kehilangan banyak barang sparepart mobil, tapi aku bersyukur di antara kami tidak ada yang terluka.
"Mas, dadaku sesak sekali," keluh Lita lagi. Sepertinya pengaruh asap yang sempat menyeruak ke dalam kantor bengkel.
Di depan banyak sekali wartawan. Namun, aku harus segera membawa Lita ke rumah sakit.
Akhirnya aku coba menerobos ke luar, meskipun harus berhadapan dengan wartawan dan reporter televisi.
Aku hanya bicara sedikit pada media yang mencari tahu apa yang telah terjadi. Keselamatan Lita lebih penting dari apapun. Setelah berbicara sedikit memberikan keterangan, aku membawanya ke sebuah klinik rumah sakit.
***
Beruntungnya Lita hanya sulit mengatur napas karena asap yang menggumpal. Setelah ditangani oleh dokter, Lita pun boleh dibawa pulang.
Aku membawanya pulang ke rumah mama. Ini semua agar ia bisa diawasi oleh orang tuaku.
"Kamu di sini dulu, agar bisa diawasi oleh Mama." Entah kenapa ada firasat tidak enak untuk hari ini.
"Aku kan sudah biasa di rumah sendirian," tukasnya. Sepertinya memang semua menantu tidak ingin kumpul bersama mertuanya. Aku pikir hanya Ana yang tidak mau serumah, tapi Lita juga agak keberatan dengan ini.
Aku bergeming, tidak ada gunanya membalikkan omongan masalah sepele. Wanita memang harus dimengerti.
Tok ... tok ... tok ....
"Nah, itu mungkin Mama dan Yuni pulang," cetusku. Kemudian aku tunggu mereka membuka pintu. Namun, tidak ada suara pintu terdengar.
"Kami buka sana, mungkin bukan Mama," serunya. Lalu aku bergegas membuka pintu. Kenyataannya bukan mereka, tapi pihak kepolisian yang datang.
Krekek ....
"Selamat sore, Pak Zaki."
"Sore, Pak. Ada apa ini?" tanyaku.
"Maaf, Pak. Saya ke sini membawa surat penangkapan atas laporan Bu Ana. Kasus menikah diam-diam atau perzinahan." Aku terkejut mendengar hal ini, bagaimana bisa ia melayangkan laporan secepat ini.
"Tapi, Pak. Saya menikah lagi karena dia mandul," jelasku.
"Jelaskan nanti di kantor, Pak." Aku menghela napas dalam-dalam, dan bersedia mengikuti prosedur laporan yang telah Ana buat.
"Tunggu sebentar, Pak."
"Mas ... ada apa?" Tiba-tiba Lita ke luar. "Loh ini ada apa, Pak?" tanya Lita heran.
"Ana melaporkan aku, Lit, tolong nanti sampaikan pada Mama dan Yuni," pesanku.
"Mari, Pak!" ajaknya.
"Oh ya, tolong bawakan pengacara segera," suruhku. Lita hanya mengangguk. Ada air mata yang tertahan di kelopak matanya.
***
"Apa betul Bapak menikah secara diam-diam?" tanya polisi.
"Betul, Pak. Tapi ini karena dia mandul," timpalku.
"Bagaimana dengan video ini, pernikahan bapak dengan wanita lain tanpa persetujuan isteri," tuturnya sambil menyodorkan sebuah video.
"Betul, Pak. Kan saya bilang ini saya lakukan karena mandul. Apa bisa dikasuskan jika seperti ini?" tanyaku.
"Bisa, Pak, jika isteri sah keberatan. Namun, tetap nanti hakim yang memutuskan apakah perkara ini bisa dipidanakan atau ditolak," tukasnya. Syukurlah kalau begitu, sepertinya pengacara kepercayaan Lita lebih paham menghadapi ini.
"Selamat sore, Pak." Tiba-tiba Pak Hendi datang. Akhirnya, aku harap ia bisa membawaku pulang ke rumah.
"Silahkan duduk, Pak."
"Saya yang akan menjamin bahwa sampai saat persidangan, Pak Zaki tidak akan kabur." Pak Hendi tanpa basa-basi membicarakan ini pada polisi. Dadaku gemetar sekali saat ini, rasanya khawatir Pak polisi tidak mengabulkan permohonan Pak Hendi.
Ada dua petugas yang berembuk. Sepertinya mereka sedang menelaah kasusnya juga.
"Baiklah, mendengar penuturan Pak Hendi yang menjamin Pak Zaki, dan karena bukti-bukti juga kurang menyudutkan. Pak Zaki juga sudah memberikan keterangan yang sesungguhnya. Kami putuskan untuk jadi tahanan rumah terlebih dahulu. Hingga waktu sidang nanti dimulai. Persidangan akan digelar secepatnya, kami segera hubungi Anda kembali," pungkasnya membuatku lega.
Saat polisi sudah bersedia memutuskan untuk menjadi tahanan rumah. Namun, tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
"Tidak bisa!" tegasnya membuat kami semua terkejut. Aku dan Pak Hendi menoleh ke belakang dengan mata membulat.