BAB 3 : Pertengkaran Aneh

3385 Words
Rintikan sisa-sisa hujan terlihat berkilauan di antara cahaya lampu yang aku lihat. Ada setumpuk kecanggungan yang menyesakanku. Tony masih belum memberi kabar, sementara aku dalam perjalanan pulang dan terjebak dalam kemacetan. "Kamu masih mau diam seperti itu Eiko" suara Aska mengganggu lamunanku. Ya. Aska yang mengantarku pulang, karena mang Latif mengantar om Roy. "Memangnya saya harus bicara apa" tidak ada yang perlu kami bicarakan. "Hubungan kamu sama Anthony bagaimana?." "Baik." Aska menghela nafas bebera saat, dia melihatku dan tersenyum sedih. "Apa dulu aku membuat kesalahan sama kamu Ei?, sikap kamu jadi berubah" tanyanya lembut. Tidak ada yang salah. Tapi, aku ingin menjaga jarak karena sekarang ada Tony!. Aku ingin menghargai Tony karena aku mencintainya. "Enggak ada" jawabku seadanya. Mobil bergerak lagi beberapa meter, lalu berhenti lagi. "Salah ya kalau aku berharap hubungan kita tetap seperti dulu?" Suara Aska menekan dan terdengar ambigu di telingaku. Apa yang sebenarnya dia harapkan? "Maksudnya?" Aku butuh penjelasan yang lebih detail. "Aku inginkamu berhenti menjauh dan menjaga jarak. Rasanya sangat tidak nyaman dengan ini semua. Aku tahu kamu menjaga perasaan Anthony, tapi walau bagaimanapun juga tidak baik kamu memperlakukan aku seperti musuh." Apakah aku selalu bersikap berlebihan, setiap kali berinteraksi dengan Aska hingga dia berfikir demikian?. Memang ada benarnya, walau bagai manapun Aska adalah kakak Tony. Sangat tidak baik jika hubungan kami tidak harmonis hanya karena kekecewaan di masalalu. Seharusnya aku menjadi orang yang lebih bijak dan dewasa. Jika aku memusuhi Aska dan terus menerus mengungkit masalaluku yang pernah patah hati karena dirinya, sama saja aku tidak bisa move on. "Saya minta maaf" sesalku tulus, ada sedikit kelegaan yang tiba-tiba melonggar di dadaku. "Panggil aku kamu. Eiko, betapa aku sangat merindukannya." Ralat Aska mulai terdengar kehangatan di nada suaranya. Aku mengangguk dan meneliti gerimis yang terlihat cepat berjatuhan karena kecepatan mobil yang melewati mereka. Kemacetan mulai mereda dan jalanan menjadi luas memberi banyak ruang. Aku masih menunggu kabar Tony, sebenarnya aku bisa menelpon dia lebih dulu. Namun aku takut mengganggu pekerjaannya, apalagi sekarang Aska mengantarku pulang. Aku harap Tony tidak tahu dan tidak bertanya.. Aku malas menghadapi kemarahan dan rajukannya Sama-samar aku aku melihat sesuatu di depan, di bawah gerimis hujan tengah malam seseorang mendorong motornya di pinggiran jalan. Ketika mobil semakin mendekat, aku sadar jika bukan hanya satu orang yang berada di bawah gerimis itu. Seorang anak kecil duduk bertengker kedinginan dengan baju basahnya dan tubuh menggigil. "Mas, tolong menepi sebentar" pintaku panik, perlahan Aska menghentikan mobilnya dan menepi tepat di depan pria tua itu. Tanpa berfikir lagi, aku segera melompat keluar dan melihatnya lebih jelas. Anak kecil yang semula hanya terlihat punggungnya saja, kini dapat aku lihat dia menggigil mencengkram stang motor. "Ada yang bisa saya bantu pak?" Suaraku gemetar, rasa empati dan simpati di hatiku meningkat. Pria tua itu berhenti mendorong motor tuanya dan bernafas tersenggal-senggal. Mataku memanas.. Ia tersenyum menampakan giginya yang sudah menghilang, wajah keriputnya pias karena kedinginan. "Tidak apa-apa non, saya hanya kehabisan bensin" Aska manarik tanganku, "Kita panggil tukang derek saja Eiko." "Lama mas, kasihan anak kecilnya. SPBU masih jauh dari sini" aku gemetar tidak tegamelihat tubuh mungil itu menggigil di bawah hujan tanpa jas hujan atau apapun yang dapat melindunginya. Mengapa aku harus memanggil orang lain jika aku bisa?. Aska terdiam melihat kesedihanku, namun pria tua itu sepertinya berfikir jika aku dan Aska tengah bertengkar. Aku langsung mendekati anak kecil yang sejak tadi diam dan memperhatikanku. Wajah mungilnya dengan bibir gemetar itu tidak bicara, dia menatapku bingung. "Sayang, kamu masuk dan duduk di mobil dulu ya. Kakak punya biskuit" aku merentangkan kedua tanganku, si tampan kecil di hadapanku berkaca-kaca tanpa bicara. "Non, jangan repot-repot." Anak kecil itu melompat ke dalam pelukanku, aku menggendongnya dan membawa dia di kursi belakang. Aku segera melepaskan jaket yang sejak tadi ku kenakan, Jaket Tony yang semula di gunakan untuk menutupi kiss mark di leher, kini membungkus tubuh mungil yang kedinginan itu. Aku juga takut Aska marah kursi mobilnya basah Untung ada cokies yang tante Anita berikan padaku, anak itu perlu mengisi perutnya juga agar tidak sakit. Aska sedang terlibat percakapan dengan pria tua itu lalu mendekat ke arahku. "Mas gak marah kan kalau aku ngambil bensin dari tangki mobilnya?" Tanyaku cepat. Aska tersenyum dan menggeleng lembut, "aku nyari selang dulu" Syukurlah dia tidak keberatan. Aku segera mencari kantong plastik atau apapun untuk wadah bensin. Sementara Aska mengubrak-ngabrik koper tempat kunci untuk mencari selang. Cukup lama kami di buat pusing di bawah hujan, aku memakai kantung kue cokies untuk bensin. Setelah memindahkan, dan memasukan bensin, pria yang bernama Santo itu menyelah beberapa kali. Motornya kembali hidup. Senyuman dan hembusan nafas lega terpancar di wajah lelah pak Santo, anak kecil yang tidak aku ketahui namanya melompat keluar mobil. "Kakak, terimakasih jaketnya" tangan mungilnya menyerahkan jaketku yang menjuntai ke aspal. "Pakai sama kamu de, kamu kedinginan." Aku tidak tega mengambilnya. "Tapi non, itu jaket punya non. Saya sudah sangat berterima kasih dengan bantuan semua ini, Jodi cucu saya pasti kuat, perjalanan kami hanya empat kilo lagi" Aku meragu, dengan senyuman memaksakan aku mengambil jaketnya lagi. Jaket itu punya Tony, memang sebaiknya aku menyimpannya. Aku takut dengan harganya.. Dengan senyuman sendu di matanya pak Santo menatapku dan Aska bergantian, "Saya gak tahu harus berkata apa. Terimakasih atas kebaikan non dan mas, saya tidak bisa membalasnya. Semoga tuhan selalu melindungi orang-orang berbudi luhur seperti kalian" Aku dan Aska mengangguk dan tersenyum. "Saya permisi. Sekali lagi terima kasih, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian" Aku tersenyum melihat tubuh tua nan ringkih itu menyelah motornya lagi, dia menengok dan tersenyum menangguk, membunyikan klakson. "Kamu luar biasa" aku tersentak, merasakan tangan Aska mengelus kepalaku. Dia tersenyum hangat dengan wajah basah karena hujan. Tubuhnya terlalu dekat denganku hingga aku bisa merasakan aroma parfum kesukaannya yang tidak berubah sejak dulu. Jujur saja, aku ingin mundur dan menepis tangannya, namun aku ingat dengan perkataan kami beberapa menit yang lalu. Aku harus bersikap baik. “Ayo masuk” ajak Aska memecahkan lamunanku. Dia membukakan pintu, aku segera memakai jaket Tony lagi. Dan segera masuk ke dalam mobil. Kecanggunangan di antara aku dan Aska terasa sedikit mencair setelah beberapa patah kata kami bicara ketika menolong pak Santo. Ketika mobil berhenti di depan rumah. Aku melepaskan sabuk pengaman dan mengambil tas, "Mas Aska mau ganti pakaian dulu?, itu basah. Banyak pakaian Tony disini" tawarku basa-basi. Memang bajunya basah, dan aku sedikit merasa bersalah. Bagaimana jika dia sakit?, itu artinya mengganggu tugasnya juga. "Kamu tidak keberatan?" Apa maksudnya?, apa dia menerima tawaranku?. Sial, aku menyesal. Mengapa aku sangat plin-plan "Tidak-tidak, ayo" jawabku cepat. Aku lebih dulu keluar dan mengambil kunci untuk membuka pintu, "Silahkan masuk" Pintu aku buka lebar-lebar agar tidak menimbulkan fitnah. Bagaimana dengan Tony yang bisa seenaknya tidur disini?, tanpa menimbulkan fitnah apapun. Tony mengaku kami sudah menikah secara sirih, karena itu semua warga sekitar tidak masalah. Setiap kali ada yang bertanya, kapan kami akan menggelar resepsi. Kami sepakat menjawab sedang menabung. Aku mempersilakan Aska masuk, ini untuk yang kedua kalinya dia datang kemari. Dulu dia datang sebagai sahabat yang aku cintai, sekarang datang sebagai kakak kekasihku. "Mas pilih saja pakaian yang cocok" aku membuka lemari pakaian Tony dan berusaha tidak memperhatikan keterjutan Aska melihat kamarku. Lebih tepatnya kamar Tony.. Hampir semua barangnya ada disini.. Tidak ada barang milikku yang berharga disini, kecuali celengan panda yang besar dari tanah Liat, tersimpan di pojokan kamar. Aku selalu menyisihkan uang gajian sebanyak dua puluh persen ke dalam celengan, sisanya di dalam buku tabungan. "Saya menunggu di luar" aku segera keluar kamar setelah melihat Aska mengambil kemeja putih milik Tony. *** Dalam kesunyian malam aku duduk di kursi kerja Tony, hujan di luar mulai berhenti meski angin cukup kencang. Setelah mandi air hangat dan berganti pakaian, aku menyempatkan waktu untuk menggambar. Ya, aku suka melakukannya. Aku suka menggambar, terkadang aku menyalurkan isi hatiku yang sedang terluka atau perasaan sepiku kedalam kertas. Bayangan-bayangan di masalaluku sangat kuat dan menyakitkan, aku membencinya. Terkadang aku benci hidupku. Terkadang aku menangis sendirian, tidak ada satupun orang yang tahu masalaluku. Kecuali orang-orang b******k itu, dan Tony.. Tony tahu semuanya, dia adalah kesempurnaan yang aku miliki saat ini. Dia tulus dan selalu berusaha membuatku bangkit dari cengkraman bayangan-bayangan masalaluku. Tony selalu menjadi sosok yang menyadarkan aku jika masih ada orang yang menginginkan aku di dunia ini. Bertahun-tahun aku terpuruk dan menutup diri, aku terluka dengan bayangan masalalu dan lingkungan keluarga yang broken home. Orang tuaku tidak bercerai, namun setiap hari sepanjang waktu mereka bertengkar. Impianku sebagai pelukis hancur di tangan mereka, di tangan egois mereka. Aku berjuang untuk tetap hidup dengan obat penenang, namun setelah kedatangan Tony. Kehidupanku yang abu-abu perlahan memiliki banyak warna. Deringan di telepon mengganggu kesunyianku, aku mengambilnya dan melihat layar. Tony. Aku mengangkatnya. Wajah Tony terlihat di layar, dia masih memakai jubah hijau dan bersandar pada tembok, wajah tampannya terlihat kelelahan. "Kamu kenapa sih, tujuh kali aku menelepon gak di angkat?, mamah bilang kamu di antar mas Aska, kamu udah ingkar janji Eiko. Kamu ngapain aja sama mas Aska?. Harusnya kamu nunggu aku saja, aku pasti datang ko setelah operasi" cecarnya langsung dengan se truk omelan. "Tony, tenanglah" aku mendesah putus asa, dia sangat rewel seperti anak kecil. "Kamu mau aku nunggu sampai jam satu malam?. Sementara sekarang kamu masih di rumah sakit" "Engga" suaranya melembut sedih, "Mas Aska gak ngapa-ngapain kamu kan?, gak nyentuh kamu" "Tidak Tony, berhentilah berfikiran negatif." "Aku tidak bisa pulang. Ada yang perlu di operasi lagi, aku harus mengambil cincin yang tertelan. Tapi, aku terlalu mengkhawatirkanmu, jadi aku sedikit gugup" kepalanya tertunduk sedih dengan wajah lelah kurang tidurnya. Itu sangat mengerikan, dia harus fokus karena itu menyangkut nyawa. "Aku baik-baik saja Tony. Fokuslah, kamu bisa menelponku setelah melakukan operasi" "Kamu harus tidur." "Aku tidak bisa tidur" suaraku menghilang, air mataku tumpah tanpa alasan. Aku merasa takut sendirian, aku benci kesunyian. Aku butuh musik meditasi agar tenang lagi. Obat penenangku habis. "Sayang, jangan menangis" Tony mengusap wajahnya, dia menatapku lagi dengan kekhawatiran. "Tidurlah" "Aku kangen" "Jangan merayuku Eiko" bentak Tony menyentak tangisanku, "Tidurlah. Aku mohon." "Iya" aku mendorong kotak pensil warna dan nenutup kertas gambar, "Aku akan tidur." Aku sudah duduk di ranjang di bawah selimut. "Letakan handponemu di bantal, aku harus melihat dan memastikan kamu benar-benar tidur" Mataku terpejam, memeluk guling. Suara langkah di handpone terdengar Samar-samar, ada percakapan antara Tony dan temannya sebelum akhirnya handpone di masukan kedalam loker. "Tidurlah Ei, besok kita bertemu." Aku tersenyum dalam pejaman mata, membiarkan sambungan telepon masih menyala, dengan begitu Tony masih bisa mengecek keadaanku ketika dia selesai bertugas. Tony sering melakukannya setiap kali sibuk, aku tidak tahu apa tujuannya, dia tidak pernah memberikan alasan yang jelas. *** Aku terbangun dengan tubuh yang berat, kakiku terasa dingin berkeringat, kepalaku pusing Mungkin karena semalam hujan-hujanan Arah jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh. Aku terlambat bekerja! Dengan sigap aku bangkit dan berlari ke kamar mandi, aku mandi dengan cepat mengabaikan bersin-bersin dan kepala pusing. Langkahku terseok-seok berlari untuk berpakaian dan memakai make up. Penampilan itu penting!, tidak boleh munafik. Setelah semuanya selesai, aku masih memiliki waktu lima belas menit untuk merapikan kamar. Tidak perlu memikirkan sarapan, itu membutuhkan waktu yang lebih lama. Aku menenteng tasku dan melangkah terantuk-antuk sembari memakai sepatu. Tanpa di sengaja kakiku terayun keras ke depan. BRAKK "Aww...." aku terjungkal ke lantai, kakiku sakit luar biasa. Rasanya keram dan ngilu di kuku, ku lirik ke depan melihat kakikku. Darah merah segar merembes di bawah kuku. Sial, sangat sakit luar biasa dan ngilu yang tidak tertahan. Aku terisak menangisi kecerobohanku, dengan tertatih-tatih aku mengambil tishu dan membungkus jempol kaki yang sudah basah karena darah. Sepatu yang semula aku pilih, kini terlempar jauh dan di ganti oleh sendal jepit, menyeret kakiku untuk melangkah menuju mobil. *** Sebagian orang sudah datang ketika aku sampai ruangan kerjaku, ku lihat Danis duduk di samping Sasha, mereka berdua sama-sama sudah datang terlihat berusaha mengakrabkan diri. Melihat kedatanganku yang terlihat sedikit aneh dengan kaki pincang seperti zombie, Shasa melihat ke bawah. "Ya ampun Eiko! Ada apa denganmu!" Teriaknya dengan suara melengking. Danis mendekat dan membantuku duduk di kursi kerjaku, "Kaki kamu kenapa?" "Aku terjatuh" senyumku malu, tentu saja aku malu mengakui telah menendang pintu karena memakai sepatu saat berjalan. "Apakah sudah di obati?, aku bisa membeli kain kasa, di dekat sini ada apotik, darahnya keluar banyak" tawar Danis. Aku menggeleng cepat, aku tidak mau merepotkannya, ini akan sembuh dengan cepat bila aku tidak bersikap lebay. "Tidak perlu, duduklah. Sebentar lagi masuk" *** Sudah empat jam aku duduk dan berkutat dengan laptop, kini waktu istirahat telah tiba. Tubuhku mengeliat dengan kedua tangan merentang melepas kepenatan. "Kita makan!" Perutku sudah sangat sakit menahan lapar, sudah saatnya mengisinya sampai penuh. Sepanjang hari ini, aku hanya minum air putih untuk menutup mulut lambungku agar berhenti bersuara. "Sini, biar aku bantu" tangan Danis terulur, ada keraguan di benakku untuk menerimanya. Namun aku membutuhkannya. "Cepetan Ei, kita ke restorant depan saja. Bosan di kantin terus" teriak Sasha di ambang pintu. Aku segera menerima uluran tangan Danis dan melangkah selebar mungkin. Saat berjalan, ada beberapa karyawan yang melihat ke arah kami, mungkin tepatnya kepada Danis. Tidak heran jika Danis menjadi pusat perhatian, selain tampan dengan ketampanan khas pria Fhilipina, tubuh tingginya dan sifatnya yang ramah menambah kesempurnaan diri Danis. Tidak mungkin kan mereka mau memperhatikan gerak jalan dan kakiku?, jelas Danis lebih menarik untuk jadi objek "Kita harus menyebrang" genggaman Danis semakin erat di tanganku, dia melangkah lebar di ikuti olehku di saat para pengendara berbesar hati untuk berhenti memberi waktu kami lewat. Sasha yang sejak awal berjalan di depan kami, kini dia berbalik lagi setelah sampai pintu restorant, wajahnya sedikit gugup dengan senyuman hangatnya. "Eiko biar aku yang bantu" "Tidak apa-apa, sebentar lagi juga sampai" ujar Danis masih memegang tanganku. "Udah,ayo!" Sahsa menarik tanganku dengan keras hingga genggamanku dengan Danis terlepas, aku berlajan di belakang Shasa saat pintu terbuka. Baru beberapa langkah kami melangkah, suara tawa orang-orag mengalihkan perhatianku. Aku melihat sekumpulan dokter di ujung ruangan, termasuk Tony ada di sana. Menyadari kehadiranku, Tony melihat ke arahku dan tersenyum lebar melambaikan tanganannya, ekspresinya persis seperti anak TK yang pulang di jemput orang tuanya. Dengan menahan malu, aku tertunduk semampu yang aku bisa, aku berpura-pura tidak melihat. Restorant ini memang tempat paling dekat dengan kantorku dan rumah sakit tempat Tony bekerja. "Kenapa kamu gak bilang sejak tadi, sebelum kita masuk?" Bisikku di telinga Sasha. Aku takut Tony menghampiriku, aku takutdia berkenalan dengan Danis, pasti cukup mengganggu. "Hehe maaf Ei, kita duduk saja disana, jangan biarkan si ganteng Danis kebingungan." Aku melangkah berusaha senormal mungkin menahan sakit jempolku yang tertekan. Kami duduk meja yang cukup jauh dari keberadaan Tony. "Kamu mau pesan apa?" Tawarku pada Danis, dia masih tidak tahu apa-apa mengenai Indonesia, selain itu dia hanyabisa berbicara bahasa Indonesia yang cukup fasih karena pernah kuliah di jurusan bahasa Indonesia. Danis menggaruk dagunya dan meneliti buku menu, bibirnya melebar dengan senyuman malu, "Kalian yang pilih, aku tidak tahu mana yang enak." "Kita makan nasi goreng dan sate saja" seru Shasa. Aku dan Danis mengangguk setuju. Aku sudah sangat lapar, lidahku semakin basah melihat waiters membawa makanan pesanan orang lain. "Berapa lama kamu di tugaskan Indonesia?" Shasa membuka percakapan di sela kebisuan kami menunggu makanan datang. "Enam bulan" jawab Danis singkat. Tatapan Sasha terjatuh ke atasku, ia tersenyum lebar dan mengangguk kecil dengan sopan. "Ei." Aku tersentak merasakan remasan lembut Tony di bahuku, wajahku memerah malu merasakan jika dia mengecup puncak kepalaku di depan Sasha dan.. Oh sial!, Danis menatap kaget Aku terburu-buru bangkit, "Aku permisi sebentar" senyumku selebar mungkin menyembunyikan kegugupanku. Dengan kuat aku menarik tangan Tony menuju halaman belakang restorant, disana tidak ada kaca besar, jadi tidak akan terlihat siapapun. "Tunggu Ei" Tony balas menarik tanganku, dia melotot kesal. "Kenapa dengan kaki kamu?" Teriaknya panik. "Aku terjatuh." "Apa maksud kamu?" Suaranya meninggi, kini giliran aku yang di tarik seperti anak kecil yang bandel. Tony langsung membungkuk ketika kami sudah berada di luar, bungkusan tishu yang berdarah kering terlepas dari jempol kakiku. "Kamu kenapa ceroboh sekali sih!" Omelnya bersungut-sungut. "Aku baik-baik saja Tony, berhenti bersikap berlebihan" "Berlebihan katamu?, ya ampun Eiko" geramannya keluar, tubuhku terayun karena dia membopongku tiba-tiba dan duduk di kursi kecil. Tubuhku tergeser karena Tony mengangkat kedua kakiku dan menelitinya lebih dekat. "Kuku kamu robek sampai ke dalam, dan kamu bilang baik-baik saja?" Dia melotot kesal. Itu kecelakaan, mengapa dia terus mengomel?, siapapun juga, tidak ada yang mau mengalaminya. Begitu pula aku! Aku menarik nafas dalam-dalam berniat menurunkan kedua kakiku, namun Tony menahannya dan masih melotot marah. "Aku lapar Tony, berhentilah mengomel. Aku belum makan apapun sejak kemarin malam." "Bagus Eiko, sakiti terus tubuhmu sampai kamu puas!" Bentaknya semakin marah. "Kamu akan terus mengomel seperti ini?, pesanan makanannku pasti sudah datang. Aku lapar!" Balasku membentak kesal. Tony menurunkan kakiku, "Tunggu disini. Akan aku ambilkan" Tony pergi meninggalkan aku sendirian di bawah pohon rindang halaman restorant. Tidak ada pemandangan apapun disini, kecuali tembok pagar dan taman bunga di sekitarku. Tony telah kembali dengan nampan di tangannya, dia meletakan makananya diatas meja bundar yang kecil. "Terimakasih" aku langsung mengambil suapan besar dan mengunyahnya cepat, makan di saat lapar memang waktu yang sangat tepat. Lezat. "Pelan-pelan Ei, nanti kamu tersedak" Tony mengusap bibirku, "Semalam kamu sama mas Aska bicara apa saja?." Aku menggeleng., mengambil satu tusuk sate dan menggigitnya, "Tidak ada." "Mustahil." "Kamu inginnya apa?, kamu ingin melakukan apa yang kamu fikirkan?" Sindirku lembut. "Tidak!" Tony menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, dan menjatuhkan kepalanya di pundakku "Ceritakan. Apa saja yang kalian lakukan?" Kenapa dia masih terus bertanya?. "Ei.." desak Tony kini memeluk pinggangku, "Kamu gak mau cerita?." "Dia mengatarku, kami berhenti di tengah jalan menolong pria tua yang kehabisan bensin. Lalu kembali jalan lagi, setelah itu kakak kamu mengganti pakaiannya karena basah." Pelukan Tony terlepas, "Apa!, atas dasar apa kamu membiarkan mas Aska berganti pakaian?, di rumahmu?. Kamu melihat tubuhnya?." Pertanyaan Tony semakin konyol dan memicu ardenalinku untuk bertengkar. Kepalaku pusing, dan perutku masih sangat lapar. "Sudah aku bilang tidak ada apa-apa!. Aku hanya takut dia sakit!" Bentakku kesal dan kehilangan selera makan, Tony merenggut dan tertunduk melihat kemarahanku. "Kenapa kamu perhatian sama si b******k itu?, dia sudah besar." Rajuknya dengan gerutuan kecil kekesalannya. Aku memejamkan mata, menetralkan nafasku, "Jaga bicaramu, dia kakak kamu. Jika dia sakit. Dia tidak bisa bertugas, menjadi pilot itu tanggung jawabnya sangat besar Tony!" "Aku juga punya tanggung jawab besar. Tapi kamu gak pernah memberikan aku pakaian setiap kali aku selesai mandi. Tubuh aku kan basah dan kedinginan." Ya Tuhan.. sabarkan aku "Aku pusing Tony, berhenti bersikap konyol!" "Maaf Ei" suaaranya langsung mengecil, dia mencuri-curi pandangan padaku dari kepala tertunduknya. Dia benar-benar seperti anak kecil "Aku suapi ya" senyumnya mengajak berbaikan, Tony mengambil alih sendok di tanganku, "Buka mulut kamu Ei." Aku bungkam enggan membuka mulut, hanya ada tatapan kesal yang aku berikan padanya. Sendok di tangan Tony terjatuh di atas piring, kedua tangannya kini menangkup wajahku agar aku melihat ke arahnya, "Jangan marah.." rajuknya mencium kedua pipiku dan memelukku dengan erat. Dia selalu berhasil meluluhkan hatiku dengan jurus andalannya, yaitu merajuk. Aku mengambil sendok dan menyuapkan makanan yang tersisa. Sebentar lagi waktu istirahatku akan segera habis, tidak ada gunanya aku menanggapi sikap Tony. "Minggirlah Tony, aku sudah selesai makan" "Enggak" pelukannya mengerat, dia menatapku dengan puppy eyesnya, "Kamu mau kan kakinya aku obati dulu?." Aku menggeleng, "Ini hanya luka kecil Tony, tidak akan apa-apa." Suaraku merendah, mengelus kepalanya seperti anak kecil. Tony tertunduk menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. "Aku suka." Saat tanganku turun dari rambutnya, Tony menahan tanganku dan meletakannya lagi ke kepalanya, "lagi Ei, aku suka." Nafasku tertahan di tenggorokan, tanganku kembali mengelus rambutnya. Ku lihat Tony memejamkan matanya tampak tenang. Sepertinya dia kelelahan karena pekerjaannya. Aku tertunduk mengecup keningnya, "Aku harus segera kembali Tony" bisikku mengingatkan. Pelukan Tony mengendur, dia mengangguk dan memberiku ruang untuk keluar. "Nanti malam kita jalan-jalan ya?." Tidak bisa. Aku harus menyelesaikan novelku karena akan segera di cetak, semakin cepat aku menyelesaikan pekerjaanku, semakin banyak uang yang terkumpul. "Maafkan aku, aku tidak bisa" senyumku memaksakan, melambaikan tangan dan pergi menemui Danis juga Sasha yang ternyata baru selesai makan juga. Sahsa tersenyum lebar menyeka mulutnya dengan Tishu, "Dimana dokter Anthony?, aku belum berterimakasih" ucapnya sambil mengedarkan pandangan mencari Tony. "Untuk apa?" Tanyaku bingung. "Dia yang membayar semua makanan kita" pekik Shasa senang. Aku membuang nafas lega, ku lihat Danis bersikap biasa saja. Sepertinya tidak ada perbincangan apapun yang Tony buat dengan Danis. "Ayo" langkahku melebar segera keluar, sebisa mungkin agar Tony tidak mengampiriku lagi dan bersikap macam-macam di hadapan Danis. To be continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD