BAB 2 : Keluarga Anthony

2493 Words
“Aku tidak lapar” Tony menghilang dan pergi ke dalam kamar. Selera makanku juga ikut hilang karena kemarahannya, aku menyimpan sarapan yang sempat di buat ke dalam lemari, setelah itu aku ke kamar menyusul Tony. Ku lihat dia tengah membaca buku di meja kerjanya, pandangannya tetap menunduk, dan Tony tidak menggubris keberadaanku. Aku mendekatinya hati-hati, mengukur seberapa besar kemarahannya sekarang. “Aku akan kembali dengan cepat, setelah itu kita pergi jalan-jalan. Maafkan aku Tony, jangan marah.” Tony melirikku sejenak lalu menutup buku yang di bacanya, dia membuang muka dan bersedekap menatap ke luar di balik jendela. Aku segera mengambil pakaianku dan bersiap-siap pergi, kemarahnnya mungkin akan mereda beberapa jam lagi. Danis membutuhkan bantuanku secara professional rekan kerja. Setelah selesai mengganti pakaian dan dandan secukupnya, aku keluar dari kamar mandi. Posisi Tony masih duduk dan berpose yang sama sejak tadi, namun pandangannya meneliti tubuhku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan tajamnya. “Kamu gak boleh pakai baju itu, bahumu terbuka” perintahnya terdengar membentak. Aku tidak boleh membalas kemarahannya, jika itu terjadi maka waktuku akan terbuang banyak oleh perdebatan omong kosong. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali menuju lemari dan mencari pakaian lain untuk kembali berganti pakaian. Saat aku keluar dari kamar mandi.. “Kamu gak boleh pakai rok dan hils” koreksinya lagi tanpa cela. Oh astaga… “Iya iya” aku kembali menuruti apa katanya. Jika dia terus mengaturku dengan sikap kanak-kanaknya, maka aku akan mengatasinya dengan sikap lebih dewasa. Setelah aku keluar memakai kaus biasa, celana olahraga dan sendal jepit, Tony tidak protes lagi. Bahkan dia jauh terlihat lebih tenang dan adem. Aku mengambil dompet dan handponeku. “Aku pergi dulu” ucapku sebelum keluar kamar. Ada rasa kelegaan yang terasa di dadaku, kali ini dia tidak banyak bicara dan membiarkan aku pergi begitu saja, mungkin dia mengerti keadaanku. Tapi… Aku salah... Saat aku menarik gagang pintu, rasanya terasa sulit. Beberapa kali aku mengguncangnya dengan kuat, namun pintu tetap tertutup dengan rapat. Sial! b******k! Dia mengunci pintunya!. “Tony kamu kemanakan kunci pintunya?” Aku berteriak dan berdecak pinggang mulai kesal, berdiri di ambang pintu kamar. Tony yang kini terbaring di atas ranjang melirikku sejenak dan menggeleng polos. Tangannya bergerak di konsol game dan dia fokus melihat layar televisi dengan kacamata 3dnya. “Aku tidak tahu Ei.” “Baik. Jika kamu gak mau ngasih kuncinya, aku akan pergi lewat jalan belakang.” “Silahkan.” Aku mengatur semua emosi yang membeludak di d**a, kejahilan dan sikap menyebalkan Tony benar-benar tidak bisa di atur dalam situasi dan kondisi. Saat aku hendak membuka pintu belakang, pintu sama-sama susah di buka. Dia menguncinya juga! “Tony!” Aku berteriak frustasi. Tony masih asik dengan gamenya dan terbaring dengan santai saat aku kembali ke kamar, dengan kesal aku mengambil bantal dan memukuli wajahnya. “Mana kuncinya!, kamu menyebalkan!” “Aku enggak tahu Ei..” dia melepaskan kacamatanya sambil menahan senyuman geli di bibirnya, dan itu menambah kekesalanku padanya. “Menyebalkan!” Aku memukul kepalanya dengan bantal lebih keras lagi. "Kemarikan kuncinya Tony!" Teriakku marah. "Aku enggak tahu Ei" jawabnya dengan tawa yang menyebalkan, Tony turun dari ranjang menghindari pukulanku. Aku melemparkan tasku ke lantai, tanpa fikir panjang melompat naik ke atas ranjang dan mengumpulkan tenaga. Kakiku terayun cepat. Aku menendang pantatnya dengan keras. BUGH "Ampun Ei, sakit" "Kemarikan kuncinya!" Bentakku tersulut emosi. Dengan terseok-seok sambil mengusap pantatnya, Tony berjalan menuju akuarium kecil di dekat jendela. BUGH Aku menendang pantatnya lagi lebih keras, "Ambil!" Teriakku menunjuk dia seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. “Jangan pergi Ei” ucapnya lembut seperti anak kecil yang menahan tangisannya. “Aku akan pergi sebentar, hanya dua jam!. Mengapa kamu bersikap berlebihan sih!” Dengan cemberutan kecil di bibirnya dia memasukan tangannya kedalam akuarium dan mengambil kunci pintu. "Aku akan memasang timer agar kamu enggak ingkar janji" Demi apapun aku ingin menendang pantatnya lagi sekarang dan memaki sikap kekanak-kanakannya. Dengan emosi yang tertahan aku merebut kunci dari tangannya dan mengambil tasku. *** Sebelum mencari apartemen untuk Danis, aku menemaninya untuk makan. Danis cukup kesulitan mencari makanan yang cocok dengan lidahnya. Kami mencari apartemen yang paling dekat dengan kantor supaya Danis tidak kesulitan untuk bekerja. "Terimakasih Eiko, ini sangat cocok denganku" Danis tersenyum puas setelah berkeliling melihat apartemennya. Aku harus berterimakasih kepada Serena karena mau menjual salah satu apartemennya. "Apakah ada sesuatu yang kamu perlukan lagi?" "Tidak ada" Sudah saatnya aku pulang jika semuanya selesai. "Kalau begitu aku akan pulang" Danis tersenyum dengan anggukan, kakinya melangkah lebar mendekatiku. Dia memeluku dengan erat dan mengucapkan kata terimakasih. Aku menjadi gugup tanpa membalas, meski aku tahu Danis melakukannya kepada semua orang. Namun kebiasaannya ini mungkin harus dia ubah mulai sekarang. "Sampai jumpa besok" aku melambaikan tanganku sebelum pergi. Perasaan gugup mulai menyerangku, sudah seharusnya barusan mengatakan jika aku sudah memiliki kekasih dan menjauhkan Danis dari zona perasaan. Dari awal aku memang ingin mengatakannya, andai Danis tidak bertugas di Indonesia. Sekarang aku akan menunggu waktu yang tepat sampai Danis merasa nyaman dan betah di kantor. Itu akan mengurangi kecanggungan kami. *** Aku keluar dari mobilku menenteng belanjaan keperluan makanan sebulan. Samar-samar aku mendengar suara piano di rumah, dan ternyata benar. Ketika aku membuka pintu, Tony sedang bermain piano dengan segelas kopi di atasnya. Tatapannya mengunciku... Aku menutup pintu dan meletakan belajaan di meja dapur. Apakah dia masih marah? Aku mendekat dan dia berhenti bermain. "Apa aku terlambat?" Tanyaku ragu. Tony membuka tangannya memberi isyarat jika aku harus duduk. Masih dengan perasaan ragu, aku duduk di pangkuannya. "Dua puluh tujuh menit" gumamnya tidak suka. Aku hanya bisa tersenyum bersalah mengusap kepalanya yang terjatuh di ceruk leherku, "Maafkan aku. Tadi mampir di minimarket" "Mamah mengundang kamu untuk makan malam di rumah" Tubuhku menegang. Ini bukan pertama kalinya ibu Tony mengundangku ke rumah, kami juga sering bertemu di restorantnya. Aku juga akrab dengan ayah Tony, tidak jarang kami sering bermain catur karena paksaannya. Mereka sangat baik dan lembut. Tapi aku tidak nyaman, aku selalu malu setiap kali bertemu dengan keluarga Tony. "Sayang, kamu dengar gak sih?" "Tony, sepertinya aku tidak bisa" jawabku terbata-bata. "Apa maksud kamu Ei?" Kemarahannya mulai bertambah. Apa yang harus aku jelaskan?, seharusnya dia mengerti. "Tony aku hanya pacar kamu. Kita hanya sebatas itu, aku tidak pernah memperkenalkan kamu kepada keluargaku. Sementara kamu?, kamu sudah memperkenalkanku pada ayah dan ibu kamu. Mereka sangat baik. Tapi mereka selalu menganggap hubungan kita akan lebih dari ini setiap kali aku datang. Mereka selalu mengungkit pernikahan, aku  merasa tertekan." Tony terdiam, dia menelaah apa yang telah aku katakan. Aku selalu terdesak setiap kali kedua orang tuanya mengatakan sebuah pernikahan di antara kami. Itu membuatku canggung. Aku dan Tony berpacaran sudah lama, tapi tidak pernah ada kata serius apalagi membicarakan sebuah pernikahan. Aku malu jika suatu saat nanti kita tidak berjodoh setelah semua kebaikan yang orang tuanya berikan padaku. Aku juga punya alasan lainnya.. "Ini hanya makan malam Ei. Jangan membuat dirimu sendiri pusing" "Tony bukan itu" "Aku mohon Ei" lirih Tony sedih. Pelukan mengerat, aku tahu ini hari ulang tahunnya dan ini pasti berharga baginya. "Baiklah." *** Telapak tanganku terasa dingin karena keringat gugup, Tony memeluk pingggangku dan membawaku pergi memasuki rumah orang tuanya. "Den Tony, Silahkan masuk. Nyonya Anita sedang membuat barbeque di halaman belakang" sambut seorang asistant rumah tangga orang tua Tony. Aku tersenyum gugup, melangkah kedalam rumah. "Tony, aku gugup" "Sayang relaxlah" kekehnya menganggap kegugupanku lucu. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi setiap kali aku akan bertemu mereka aku benar-benar gugup. "Ei" Tony mengusap wajahku dan tersenyum lembut. Aku nyaman dalam sentuhannya. "Aku sangat senang kamu datang kesini, begitu pula orang tuaku. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, jangan malu, aku selalu bangga padamu. Kamu megerti?" "Iya" aku mengangguk malu dalam pelukannya. Perkataannya membuatku tenang. "Cium aku" "Apaan sih" Tony mempererat pelukannya dan menunduk, "Cepetan Ei." Aku melihat kesana kemari takut ada yang melihat, setelah memastikan tidak ada siapapun kakiku menjinjit dan megecup bibirnya sekilas. Pelukan Tony mengendur, dia tersenyum geli melihat raut wajah maluku. "Ayo" Tony menarik tanganku. Untuk sampai ke halaman belakang, kami perlu melewati banyak ruangan di rumah besar itu. Ketika kami sampai halaman, tante Anita tengah berbincang dengan om Roy di antara kesibukan mereka memanggang dan memotong sayuran. Perhatian keduanya berpindah kepada kami ketika Tony menyapa. "Hay" tante Anita tersenyum lebar membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk Tony. "Anthony, selamat ulang tahun." "Terimakasih mah" Pelukan tante Anita terlepas, dia tersenyum padaku dan memelukku juga, "Saya senang kamu ikut Ei." "Selamat datang Eiko" sambut om Roy sambil membuka kedua tangannya. Mau tidak mau aku memeluknya meski canggung. "Apa kabar?." "Baik om" jawabku. Seperti biasa, mereka menyambutku dengan baik. Tony dan ayahnya sudah menghilang ketika datang, mereka langsung pergi memancing di sebuah danau buatan sebelah halaman. Sementara aku dan tante Anita memasak bersama. Aku bisa melihat Tony dan ayahnya yang berada sekitar beberapa puluh meter dari halaman. "Bagaimana pekerjaan kamu di Fhilipina?" Tanya tante Anita yang berada di sampingku. "Baik tante" "Anthony sekarang sudah berusia tiga puluh Ei. Meski sifatnya masih manja dan kekanak-kanakan. Saya ingin sekali kalian membicarakan hubungan kalian ke arah yang lebih serius, saya berharap banyak kepada kamu. Anthony sangat bahagia setiap bersama kamu" Tante Anita memulai lagi. Aku hanya bisa tersenyum canggung, jujur saja aku belum siap menikah. "Kamu mengerti maksud keinginan saya kan Eiko?" Tante Anita menegaskan permintaannya karena aku tidak kunjung menjawab. "I.. iya tante" Tante Anita tersenyum puas mendengarnya. "Malam ini kamu menginap ya" Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi!. Tapi aku tidak tahu cara menolaknya seperti apa. "Mah" Suara itu.. "Aska" Genggaman tomat yang akan aku iris terjatuh, tubuhku kaku enggan berbalik dan melihatnya. Askara Wigura Dia tersenyum lembut saat aku melihatnya sekilas, dia berdiri memeluk tante Anita masih dengan pakaian seragam pilotnya. Inilah alasan terbesar kenapa aku tidak mau datang kemari. Karena Aska, cinta pertamaku. Jauh sebelum mengenal Tony aku mengenal Aska, kami sangat dekat hingga kedekatan itu telah aku salah artikan. Aku jatuh cinta padanya secara diam-diam Dan aku patah hati secara diam-diam setelah mengetahui Aska berpacaran dengan temanku. Di saat aku sedang patah hati Anthony datang kepadaku, dia mengobati semua lukaku dengan ketulusannya. Aku menerima Tony dan memanfaatkannya sebagai pelampiasan. Tony mengetahui persaanku kepada kakaknya setelah kami berpacaran. Karena itu, dia selalu menjadi lebih posesif ketika ada Aska di antara kami. Perasaan ku kepada Aska sudah hilang sejak aku memanfaatkan Tony sebagai pengganti kakaknya. Dan, seiring berjalannya waktu aku telah benar-benar mencintai Tony seutuhnya. Dengan segala kekurang dan kelebihannya. Meski tidak ada perasaan apapun lagi, aku selalu canggung setiap dekat dengan Aska. Dulu kami sangat begitu dekat, aku berubah setelah dia bersama Ana, aku menjauhinya. Kebersamaan kami yang terbangun lama hancur begitu saja karena perasaanku sendiri. "Hay, lama tidak bertemu" Aska mengulurkan tangannya, aku meraihnya dan tersenyum seadanya. Genggaman di tangan Aska meremas tanganku yang kecil, aku berusaha menariknya. Dia semakim erat menggenggam. "Kamu cepat ganti pakaian dan bergabung kesini, sebentar lagi semuanya matang" tante Anita tersenyum lebar mengusap bahu Aska, aku menarik tanganku dengan cepat. "Iya mah" Aku tertunduk mengalihkan kontak mata di antara kami. Akhirnya Aska berbalik dan pergi memasuki rumah. "Sayang, bisakah kamu mengambil piring dan gelas di dapur?" Tanya tante Anita. "Iya tante" Aku bergegas pergi, rumah keluarga Tony sangat besar sehingga pergi menuju dapur pun memakan waktu yang cukup lama. Bi Mar seorang asistant rumah keluarga rumah tersenyum lebar melihat kedatanganku. "Eh, non Eiko, ada yang bisa saya bantu?" "Tidak perlu bi, saya cuma mau mengambil piring dan gelas" "Oh silahkan non, kalau begitu saya melanjutkan menyetrika." Gelas-gelas berjajar rapi dalam rak, aku mengambil tumpukan piring yang masih berada di atas mesin pencuci dan mengelapnya terlebih dahulu. "Ada yang bisa aku bantu?" Suara bariton Aska berhasil membuatku terlonjak kaget. "Tidak ada mas" piring sudah tertumpuk rapi di bawah gelas dan tinggal dibawa, dan pergi secepat mungkin. Aku tidak suka berlama-lama dengannya. "Kamu berubah Eiko" "Memang sudah seharusnya"jawabku dingin. Ku angkat piring-piring dan gelas, melangkah hati-hati dan melewati Aska. "Itu berat" bahu Aska menyentuhku dan menarik ke belakang, dia mengambil tumpukan piring dan gelas di depanku, "Aku yang bawa." "Terimakasih" aku mengikuti langkahnya. "Kamu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang itu" ucapnya datar. Sialan! Aku benci mendengar pujiannya. Dia tidak pernah menunjukan rasa hormatnya kepadaku sebagai kekasih adiknya. Aku benci Aska yang sekarang, dia selalu memancing amarahku dengan sikapnya yang selalu mendekat dan mengenang masalalu kami. "Dan kamu akan menjadi lebih cantik lagi jika tersenyum padaku Eiko" tambahnya lagi dengan senyumannya sama seperti saat tadi aku melihatnya. "Terimakasih" jawabku dingin. Saat aku sampai halaman Tony dan om Roy sudah kembali, mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tony menatapku... Ada kekhawtiran di matanya.. Aku tersenyum kepadanya mencoba membuat dia tidak berfikiran macam-macam karena melihatku dengan Aska bersama. Aku dan tante Anita menata semua piring dan gelas yang sudah terisi, kami duduk berkumpul dan memulai makan. "Apa ini pedas?" Tony berbisik di telingaku, dia menunjuk jamur di mangkuk. Aku mengambilnya dengan sumpitku dan mencicipinya. Rasanya lezat dan lumayan pedas "Pedas" jawabku menahan tawa saat melihat ekspresi kecewanya sambil mengunyah daging bakar. "Mamah kenapa sih masak makanan pedas, inikan hari ulang tahunku" gerutunya pada tante Anita. "Itu kesukaan Aska, dan semua makanan favoritmu juga sudah ada disini Anthony" Anthony mencebikan bibirnya tidak suka, dia mengambil ikan salmon di depannya dan memilih diam untuk makan. "Maaf Ei, bisa tolong ambilkan jamur itu untukku" Aska menyodorkan piringnya, mangkuk jamur di depanku itu tidak bisa di jangkau Aska. Saat aku mengambilkan jamur untuk Aska, tangan Tony meggenggam tanganku dengan erat di bawah meja. "Ngomong-ngomong kapan kalian akan menikah?" Om Roy membuka suara. Aku tersedak oleh makanan. "Kami memikirkannya. Eiko masih muda" Tony menyodorkan minuman padaku, dia tidak malu mengusap mulutku di hadapan semua orang. "Tapi kamu sudah tua" "Kenapa harus aku dulu sih, tuh mas Aska lebih tua dariku. Harusnya dia lebih dulu menikah" bela Tony melemparkan masalah ke Aska. "Aku tidak punya pacar tuh, aku dan Gisel sudah putus dua bulan lalu" jawab Aska acuh. Hubungannya dengan Ana memang tidaklah panjang, mereka bertahan sekitar tiga bulan. Setelah itu Aska menjalin hubungan dengan beberapa wanita. "Makanya kalau pacaran, jangan baiknya cuma saat di ranjang doang mas" "Kamu bilang seperti itu, karena lagi beruntung saja dapat Eiko. Kalau ceweknya bukan Eiko mungkin gak bakal lama juga hubungannya. Aku juga kalau ceweknya kaya Eiko mungkin sudah aku lamar sejak awal." Aku menelan makananku dengan susah payah menahan pekikan sakit karena Tony semakin menggenggam tanganku dengan kuat. Aku benci dengan kata-kata manis Aska yang seakan memancing pertengkaran, dulu aku boleh saja tersipu dengan gombalannya. Tapi sekarang aku kesal. "Berhentilah bertengkar, mamah pusing dengarnya" relai tante Anita yang otomatis membuat Tony dan Aska diam. Aku menyelesaikan suapan terakhir sosis dan menelannya dengan cepat, perasaan tidak nyaman itu semakin mencekikku jika terlalu lama duduk disini. "Apakah kalian mau menginap disini?" Om Roy membuka suara, dia melihatku sejenak, "Aku masih penasaran ingin mengalahkan Eiko dalam catur." "Tentu saja, Eiko sudah setuju" timpal tante Anita bohong. Tony melepaskan genggaman tangannya, aku membalas tatapannya yang lembut. "Kamu seriusan sayang?" Bisik Tony tidak percaya. Aku tersenyum canggung, "Mamahmu bohong" bisikku hati-hati. To be continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD