BAB 1 : Dia 'Anthony'

2980 Words
Aku berjalan terseok-seok, menarik koper merah dengan hils yang cukup tinggi, telapak kakiku tersa sangat pegal dan betisku terasa keram. Perjalanan dari Fhilipina cukup melelahkan, dan sekarang aku butuh istirahat di tempat tidur. Aku membuka pintu dengan cepat setelah memutar kunci dan segera masuk, sejenak melihat langit menghitam karena malam. Seperti biasa, hanya ada sofa sederhana, ruang tamu kecil dan langsung mengarah ke dapur yang menyambutku. Aku merindukan tempat ini, rumah kecilku. Tidak, lebih tepatnya hanya sebuah kontrakan. Tapi tunggu... Ada piano, treandmill. Dan oh, aku baru sadar ruangan ini di cat ulang dan lantainya juga ikut berubah. Aku meletakan koper di dekat meja makan dan pergi ke kamar, mencari perubahan apa lagi yang sudah terjadi. Ranjangku berubah menjadi lebih besar. Ukuran king size dengan seprai berwarna merah maroon, dengan lemari pakaian baru dan tv besar yang menempel di dinding, di bawah terdapat konsol game yang bertebaran. Sekarang aku punya dua tv di rumah kecil ini. Dia pasti mengatur semuanya.. tanpa sepengetahuan dan izinku. Fantastis! Aku tidak mau ambil pusing sekarang. Aku hanya butuh membersihkan diri dan tidur. Mengabaikan lambungku meremas meminta makanan dan kekesalan yang terjadi pada emosiku. Aku kesal karena rumahku di rombak, meski sangat bagus, aku tidak mau dia menghabiskan uangnya hanya untuk ini. Aku buakanlah orang kaya, menghamburkan uang adalah suatu kehancuran untuk masa depanku. Setiap bulan aku hanya akan membeli stok makanan, membeli alat make up, dan sepasang pakaian baru. Bahkan untuk membeli jajanan pun aku selalu memikirkannya dua kali.. Terutama masalah uang dan kedua adalah masalah kalori yang harus aku buang saat olahraga. Dia telah merubah banyak hal selama aku aku pergi ke Fhilipina. Apa yang sebenarnya dia fikirkan?. Apakah dia ingin memamerkan hartanya lagi?. Jika dia tidak nyaman dengan rumahku yang kecil ini, sebaiknya dia tetap diam di rumah atau apartemennya yang mewah, itu akan menjadi lebih mudah. Dia tidak perlu repot-repot mengubah rumahku agar dirinya nyaman saat tinggal disini. Setelah membersihkan diri, aku naik ke ranjang dan tidur, mengenakan kaus miliknya yang sangat besar di tubuhku di padukan celana pendek yang membuatku nyaman. Aku tertidur dan merasakan ranjang baru yang um… nikmat. Aku bisa mencium aroma farfumnya disini.. Aku merindukan dia.. *** Ada suara keributan kecil di luar. Dengan terpaksa aku bangun dari tidurku sejak satu jam yang lalu. Suara ketukan semakin cepat dan keras terdengar di balik pintu. Aku sengaja memasang kunci di pintu, agar dia tidak masuk sembarangan ke rumahku. “Ei” suara itu memanggilku. Aku membuang nafas sedikit gusar dan membuka pintu. Aku tersenyum lebar menyambutnya, tapi dia tidak! “Kenapa tidak menelponku jika kamu pulang lebih cepat” cemberutnya terlihat kesal. Dia melenggang melewatiku dengan angkuh, dan meletakan belanjaan yang di bawanya. “Kamu tidak bisa di hubungi” dia kembali berbalik ke arahku, menatap tajam dan marah. “Baterai handponeku habis.” “Aku merindukanmu” dia mendekat, menarikku dengan keras dan menempatkan bibirnya di bibirku. Aku tersenyum kecut di dalam lumatannya, merasakan tekanan mulutnya mendominasinya. Aku merasakan anggur dan aroma manis di sana. Sial, dia pasti mabuk. Aku benci itu! Aku balas menciumnya, menumpahkan perasaan rindu dan kesal yang menjalar di setiap sarafku. Dia mengerang, meremas pinggangku dan mengangkatku dengan mudah, aku langsung melilitkan kedua kakiku di pinggangya. Dia mendorongku ke dinding dan kami kembali berciuman dengan panas disana. “Mmh.. sayang” dia mengerang, menikmati gigitanku di bibirnya, aku menarik lidahnya dengan lembut, dan menguburkan jari-jariku di helaian rambutnya. Aku terengah-engah kehabisan nafas, dengan lembut mendorongnya dan kembali turun. Dia terlihat masih cemberut saat menarik pinggangku lagi dan memeluk dengan erat hingga terasa sesak di d**a, dia menguburkan hidungnya di tengkukku. “Kamu kurusan Ei” bisiknya di leherku. Ya. Dia tahu segalanya... Bekerja menjadi staf biasa memang tidaklah istimewa. Aku hanya gadis biasa, bekerja di salah satu perusahaan kecil, mendesain beberapa bangunan. Namaku Eiko, dan tidak ada yang bisa aku banggakan lagi dari semua hal yang aku miliki. Aku hanya seorang arsitek kecil yang tidak luas pengalaman, usiaku dua puluh satu tahun. Aku keturunan Jepang dan Indonesia, hanya itu yang bisa aku banggakan. Selain dari itu, semuanya adalah hal buruk. Aku benci masa laluku, impianku dan semuanya.. Dan pria yang masih memelukku ini adalah kekasihku, Anthony. Tony adalah seorang dokter bedah. Sudah hampir dua tahun kami berhubungan. Dia menghabiskan waktunya di rumah sakit, belanja, bermain game dan tidur di rumahku. Selain dari itu, dia hanya pria yang rewel seperti anak kecil di mataku. Mungkim ini terdengar konyol, tetapi begitulah adanya. Kebiasaannya adalah merajuk, bersantai-santai seperti pengangguran dan keras kepala saat keinginannya belum terpenuhi. Itu sangatlah menyebalkan. Tony tidak suka makanan pedas, setiap kali makan di luar aku akan mencicipi makanannya dan memastikan apakah itu cocok dengan lidahnya atau tidak. Tony suka kerapihan dan sesuatu yang higenis. Salah satunya adalah, saat rumahku kotor dan kami lelah sepulang bekerja, dia akan memanggil assistant rumah tangga yang bekerja di rumahnya untuk datang secepatnya. Tony selalu mengaturku dengan cara yang konyol, dia selalu memilihkan pakaian yang mana yang harus aku pakai setiap kali kami akan bepergian, dia juga selalu mendandaniku ketika kami akan pergi bersama. Saat ada waktu santai kami sering bermain game bersama sampai bertengkar dan berteriak-teriak sampai tetangga terganggu, kami juga sering mencuci pakaian bersama-sama, dan ketika aku sedang memasak di pagi hari Tony selalu membersihkan rumah. Aku menguraikan pelukanku dan mengalihkan perhatian pada belanjaan di meja untuk memeriksanya. Tony membawa banyak makanan, dan aku bisa makan sekarang, “Jadi. Kamu sering kesini saat aku tidak ada?” Dia mengangguk dengan senyuman, “Aku mandi dulu” Tony membungkuk, mengecup bibirku sekilas dan pergi ke kamar. Sikapnya benar-benar seperti tuan rumah. *** Ada banyak makanan lezat yang bisa kami santap dan aku tidak ingin berhenti mengunyah. Aku mengambil sepotong paha ayam dengan sumpit, menggigitnya dengan rakus. Selama Sembilan hari bekerja aku tidak makan dengan layak, aku di forsir hanya untuk bekerja dan bekerja. Setiap kali lapar aku hanya akan makan roti, lalu meminum kopi untuk menghilangkan rasa kantukku dan kembali menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. “Jadi, kamu tidur disini selama aku pergi?” Aku memulai percakapan. Tony mengangguk singkat, “Sesekali. Saat aku rindu kamu” Apa maksudnya itu?, dia mengatakan hal yang lucu dengan wajah seserius itu. Memikirkan Tony tidur di rumah kecil ini sendirian, meninggalkan sarangnya yang mewah hanya karena rindu padaku?, lucu. Tapi aku tersanjung. “Lalu, bagaimana dengan barang-barang baru itu?” “Aku kesepian, jadi iseng-iseng mencari aktifitas” katanya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Ini gila, dia membeli piano, mendekorasi ulang rumahku, membeli alat-alat fitness, ranjang, televisi, konsol game baru, dan dia bilang hanya iseng?. Aku harus mengumpulkan uang mungkin lebih dari dua bulan untuk membeli barang-barang seperti ini, dan dia menghamburkan uangnya seperti membeli sepatu di pinggir jalan. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya dengan antusias. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, merasakan hawa panas dan merah di pipiku. Aku tidak tahu harus membicarakan ini atau tidak, mungkin sebaiknya Tony tidak tahu. “Lancar.” Tony mengaduk-ngaduk makanannya dengan malas, sekilas dia melirikku dengan senyuman malu-malunya. Dia kenapa? “Ei” dia memanggilku dengan nada merajuk manja. Aku menelan makananku pelan, melihat dia dengan waspada. Jujur saja aku curiga. “Ada apa?” “Kamu pulang lebih cepat” wajah tampannya bersemu kemerahan, aku merasa gemas melihatnya. “Kamu membawa hadiah untukku?.” Hadiah?. Dia fikir aku liburan apa!. Aku berdehem menyembunyikan rasa geliku. “Hadiah apa?” Wajah Tony berubah pucat, matanya yang berbinar-binar kini menghilang, “Kamu lupa Ei?” Lupa?. Lupa akan apa? Aku mengerutkan keningku, sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan kami. Tony meletakan sendoknya dengan kasar, garis rahangnya di tekan keras. “Kamu lupa ulang tahunku Ei. Itu sangat keterlaluan.” Ulang tahun?. Ya ampun tanggal berapa sekarang? Tony pasti berfikir aku pulang lebih cepat karena dia ulang tahun. Sebenarnya aku pulang lebih cepat karena pekerjaanku tidak ada yang perlu di refisi. Dan bos membelikan tiketku lebih awal. Tony beranjak dari duduknya dan pergi dengan cepat ke kamar. Aku segera membereskan piring-piring kotor, Tony sudah kehilangan selera makannya. Aku harus mencari jalan keluar, ini untuk ke dua kalinya aku melupakan hari ulang tahunnya. Sementara Tony?, dia tahu kapan ulang tahun aku, ibu dan ayahku. Meski kedua orang tuaku tidak mengenalinya. Bahkan dia tahu kapan tanggal-tanggal terdekat saat aku akan datang bulan. Dengan cepat aku mencuci piring dan membersihkan semua yang ada di meja agar dapat menyusul Tony. Saat memasuki kamar Tony sudah tertidur miring di sisi ranjang. Aku naik pelan-pelan dan mendekatinya. “Sayang, aku minta maaf” aku mengusap bahunya, mencoba mengajaknya berbicara. Tony tidak bergeming. “Tony.. bicaralah” “Kamu keterlaluan Ei” jawabnya ketus. Aku menggaruk kepalaku kebingungan. Ini sudah malam, aku tidak bisa pergi keluar mencarikan kue untuknya, dan aku tahu Tony akan tetap seperti ini sampai besok bila aku tidak kunjung memperbaiki suasana hatinya. Haruskah aku pergi keluar dan mencari toko yang masih buka?, atau membuatnya. Membuatnya.. *** Aku meremukan beberapa biscuit cokelat ke blender dan menuangkan s**u, aku memutuskan membuat kue dengan bahan-bahan yang ada meski tanpa tepung dan bahan-bahan yang layak lainnya. Tony masih berada di kamar dengan kemarahannya, sementara itu aku sedang membuatkan cake untukknya dan menahan rasa lelahku yang semakin bertumpuk. Dia ingin hadiah, hadiah apa? Aku ingat sesuatu. Sebelum pulang kemari aku sempat membeli sebuah jam untuk ayahku. Bukan untuk Tony, mungkin kali ini aku harus mengesampingkan hadiah untuk ayah. Setelah memasukan adonan ke dalam oven, aku menarik koperku dan mengobrak-ngabrik isinya, mencari jam yang aku butuhkan. Ini dia, jam rolex tipe biasa yang sederhana masih tersimpan baik di dalam kotak. Mungkin besok aku harus pergi ke toko, dan membeli jam untuk ayahku. Atau menunggu gajian bulan depan. Aku melihat ke arah kamar, dan Tony masih betah di dalam mempertahankan kemarahannya, aku tidak suka membuatnya kecewa. Kue telah jadi setelah sekitar dua puluh lima menit di dalam oven, aku memindahkannya ke piring. Aku menuangkan mentega dan s**u, membuat cream untuk menutupi kekurangan kue. Dan akhirnya… Kue telah jadi. Aku memasuki kamar, melihat Tony yang masih di posisi yang sama. Aku menyalakan lilin, bukan lilin untuk kue, tapi lilin besar untuk ruangan. Aku meletakan di atas nakas tepat di depannya. “Tony” aku memanggilnya, dia tidak bangun. Tapi aku tahu, dia berpura-pura tidur. Aku duduk di sampingnya, melihat wajah tampannya yang masih memejamkan mata, aku merunduk dan mencium bibirya terus menerus, sampai Tony bangun dan berhenti marah. “Ei” dia mengerang setengah protes. “Selamat ulang tahun.” Tony melirik kue dan lilin di atas nakas, matanya langsung berbinar-binar melukiskan kebahagiaan yang menghangatkan hatiku. Dia langsung duduk dan tersenyum lebar, “Kamu tidak lupa Ei?” “Tentu saja tidak. Tadi aku hanya bercanda” aku tersenyum berusaha bersikap normal. Karena sebenarnya aku lupa. Aku mengambil lilin dan menyuruhnya meniupnya, Tony langsung meniupnya dengan penuh semangat. “Kue itu untukku Ei?” Aku mengangguk malu, “Mungkin rasanya tidak enak. Kamu tidak perlu memakannya jika tidak suka.” Tony tersenyum malu-malu, dia menarikku dengan kuat dan menempatkanku di pangkuannya, kami berpelukan dengan erat dan nyaman. “Apapun yang kamu buat. Aku akan memakannya Ei” Hatiku mengembang, sial dia sangat manis ketika sedang bahagia. Aku mengeluarkan kotak beludru dari saku bajuku, “Ini” aku menunjukannya. Tony menganga, matanya mengerjap beberapa kali, dia mengambilnya pelan-pelan dan membukanya, dia tidak bicara. Tony meliriku dan melihat jam tangan dalam genggamannya, lalu melihatku lagi. “Ei..” suaranya menghilang. Aku sedikit malu, tapi dia harus mengerti dengan hadiah yang aku berikan padanya. “Maafkan aku Tony, memang tidak mahal, tapi” “Terimakasih Ei, aku mencintaimu” potongnya dengan cepat, membuat kegelisahanku pupus seketika. Tony memakainya dengan tidak sabaran, dia terlihat bangga saat melihat pergelangan tangannya. Tony meraih tengkukku, dia menciumku dengan keras. Aku balas memeluknya, dan menikmati apa yang sedang kami lakukan, tidak terasa tubuhku terguling dan tenggelam di bawah Tony. Aku mendesah merasakan remasan tangannya di atas payudaraku, ciuman kami terlepas dan dia berpindah mencumbui leherku. Aku merasakan tangan Tony sedang sibuk menaikan bajuku. “Mmph.. Tony” aku tidak dapat menahan desahanku saat Tony meremas dan menghisap payudaraku juga. Sial! Ini harus segera di akhiri, sebelum dia kebablasan. “Ah… Tony” aku memejamkan mata, menutup rapat kedua kakiku saat tangannya ingin menuju kesana.“Tony. Makanlah kuemu, dan aku akan menulis” aku mendorong bahunya untuk menjauh dan membuatnya berhenti menyentuhku. Tony mengerutkan bibirnya setengah protes, “Tapi aku ingin b******u Ei” matanya membulat sempurna setengah protes namun dalam mode bahagia. Aku menyentuh rambutnya yang lembut di tanganku, dia mengangguk patuh dan kembali menurunkan pakaianku. Tony mencium pipiku sekilas lalu duduk dan mengambil kuenya. Aku bangkit mengambil laptopku, dan mulai menulis ceritaku yang sempat tertunda beberapa hari. Ku lirik Tony yang duduk bersila di sampingku, dia memakan kuenya dengan lahap dan tidak berhenti terseyum. “Ei, kenapa Raymen harus meniggal sih?” Aku tersenyum masam. Selama di Fhilipina aku merasa galau dan terbawa suasana yang menyakitkan dengan fantasiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuat salah satu tokoh dalam ceritaku meninggal. “Sebuah cerita tidak semuanya happy ending.” Jawabku sekenanya. “Ei.” Aku malas menjawab dan focus mengetik. “Eiko..” panggilnya lagi. “Apa?” “Kuenya tidak matang semua.” Aku mengangkat kepala dan tersenyum malu, melihat Tony nyengir dengan gigi di hiasi kue yang masih berbentuk adonan. “Maafkan aku, kau buang saja.” “Aku akan memasukannya lagi kedalam oven” dia berlari keluar dari kamar membawa kuenya. *** Aku terbangun dalam remang kegelapan, ku rasakan sebuah pelukan hangat di bahuku. Tony masih tertidur pulas, wajah tampannya nampak relax dan polos bersandar pada dadaku. Aku mencintai pria ini.. Meski dia kekanak-kanakan, dan menjengkelkan. Usia kami terpaut delapan tahun, dan kini menjadi Sembilan tahun. Tapi aku merasa Tony lebih muda, terkadang juga aku menganggap dia anak SMA yang sedang terperangkap di usia mapannya. Tony sering merengek dan bersikap keras kepala saat bersamaku, tapi dia akan menjadi pria dingin dan berwibawa saat di luar. Terkadang aku tidak mengerti mengapa dia bersikap demikian, tetapi aku nyaman dengan sikap dirinya yang apa adanya. Aku bergerak hati-hati dan mencoba melepaskan diri, jam di atas nakas menunjukan pukul empat pagi. Aku memutuskan untuk pergi berolahraga dan mandi setelahnya, mungkin setelah itu memasak untuk menyiapkan sarapan pagi. *** “Ei, kamu lihat buku saku milikku?” Tony muncul di balik pintu kamar ketika aku sedang sibuk memasak. Dia terlihat tampan dan sudah rapi. “Di laci” Dia kembali menghilang beberapa saat kemudian kembali muncul setelah aku menata sarapan pagi kami, aku membuat omelet dan segelas juss buah tanpa gula. Kami duduk berhadapan dan mulai sarapan pagi kami. “Hari ini kamu libur kan?,” aku melirik tangannya yang sedang bergerak, dia memakai jam tangan yang aku berikan semalam. Kekasihku yang manis. Tony mengguk dan tersenyum. “Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan?” Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dering panggilan masuk di handponeku mengintrupsi. Aku menarik handponeku dari dalam saku celana dan melihatnya di bawah meja. Sial! Aku langsung mematikan panggilan masuk itu. “Kenapa Ei?” Tony melihat gerak gerikku dengan seksama, dan sekarang aku gelisah di bawah tatapannya. Panggilan masuk datang lagi, dan yang melakukan itu orang yang sama. Danis. Rekan kerjaku yang baru, kami tergabung dalam satu tim selama di Manila, dan sekarang dia di pindah tugaskan ke Indonesia. Permasalah terberatku adalah, dia menyatakan perasaan kepadaku dua hari yang lalu, dan aku belum belum menceritakannya pada Tony. Mau tidak mau aku mangangkat teleponnya. Aku sudah berjanji, akan membantu Danis untuk mencarikan apartemen untuknya, semalam dia tidur di hotel. Dan aku kasihan, karena dia belum mengenal daerah disini. “Eiko, apa kamu sibuk?” Tanya Danis di seberang sana. Aku berdehem tidak nyaman, melihat tatapan tajam Tony padaku. “Lumayan, apakah kamu baik-baik saja?” Aku bergerak setenang mungkin saat mencoba menjauh dari Tony dan pergi ke kamar. “Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menanyakan, pukul berapa kita akan mencari apartemen?” “Sebentar lagi aku akan kesana.” “Aku akan menunggumu. Sampai jumpa Eiko” Aku menutup sambungan telepon dengan cepat. Danis pasti merasa kesepian sekarang. “Jadi, siapa yang menelponmu?” Aku terlonjak kaget, bersamaan dengan jantungku yang berdetak cepat. Ku lihat Tony sedang bersandar di kusen pintu kamar. “Temanku, dia baru datang dari Fhilipina, aku akan membantunya mencarikan apartemen.” Jawabku dengan susah payah, mencoba untuk bicara jujur tapi tanpa mengatakan nama orangnya. “Oh” Tony mengangkat satu alisnya, “Siapa namanya?.” Aku menelan ludah, sial! Kenapa dia selalu ingin tahu urusanku!. “Danis.” Tony terdiam beberapa saat, dia hanya berkedip beberapa kali dan menarik nafasnya dalam-dalam. “Kenapa kamu gugup Ei?” “Tidak apa-apa Tony” aku tersenyum kaku dan melewatinya dan kembali duduk melanjutkan sarapanku yang tertunda. Ku lihat Tony masih berdiri di tempat yang sama dan masih melihatku. “Sedekat apa kalian?” dia melontarkan sebuah pertanyaan yang hampir menohok jantungku. Aku dan Danis cukup dekat, karena aku berfikir dia teman yang sangat baik dan menyenangkan, tetapi pria itu berfikiran yang berbeda. Aku tidak bermaksud menggoda dan menarik perhatiannya, hingga dia menciumku dan menyatakan perasaanya padaku. Apakah aku harus mengatakannya?, sial! Aku tidak mau melihat Tony marah dan merajuk. Itu sangat merepotkan!. “Dia menyatakan cinta padaku” ucapku dengan gemetar, ku lihat ekspresi pertama Tony yang menarik nafas dalam-dalam dengan tangan terkepal. “Aku mengabaikannya. Percayalah, boss memintaku untuk mencarikan apartemen untuknya dan aku kasihan dia sendirian disini, aku harus membantunya” aku segera menjelaskan dengan cepat, sebelum Tony berbicara. “Tapi kamu tidak menolaknya Ei, itu artinya kamu memberikan harapan.” Aku tertunduk, Tony benar. Aku tidak menolak ataupun menjawab perasaan Danis, aku membutuhkan waktu yang tepat. Aku tidak mau Danis menjadi sangat canggung di hari pertamanya datang ke Indonesia karena penolakanku, setidaknya itulah yang aku fikirkan. “Aku minta maaf.” Aku sungguh menyesal, dan kini Tony terlihat marah juga padaku. “Aku tidak lapar” Tony menghilang dan pergi ke dalam kamar. To be continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD