#Author
.
.
.
Pulang kerja Alif berniat mampir ke tempat kerja Prisil. Ia perlu bicara empat mata dengan Prisil. Prisil sendiri tidak menyangka Alif masih mau menemuinya setelah perkataan Papinya kemarin. Ia berpikir Alif akan marah dan tidak mau menemuinya lagi.
Jam 5 sore mereka keluar dari toko. Tepat saat jam istirahat Prisil. Mereka duduk berhadapan di sebuah kafe tak jauh dari tempat pertemuan.
"Mau minum apa?" Tawar Alif sambil menatap lembut sosok gadis yang di cintainya. Prisil hanya menggeleng pelan.
"Bukannya aku udah pernah bilang? Aku nggak akan makan di depan orang yang lagi puasa!"
Alifsangat bahagia mendapatkan jawaban yang tenang dari Prisil. Saat ia memutuskan untuk mencoba Prisil, sebenarnya ia tidak yakin Prisil akan menerimanya tetapi pikiran buruknya hilang setelah melihat senyum tulus Prisil.
"Aku pengen bawa kamu ke rumah!" Kata Alif tiba-tiba. Prisil melempar tatapan bingungnya ke Arah Alif. "Aku pengen kamu ketemu Bunda!"
Alif berharap hati Bundanya bisa melunak setelah melihat Prisil dan akan tetap merestui hubungan mereka.
"Kenapa? Apa Bunda sakit? Atau Bunda kenapa-napa?"
Alif menggeleng sambil tersenyum. Terima kasih pada Prisil yang sangat memperhatikan Bundanya.
Prisil menghela nafas saat melihat Alif menggelengkan kembali.
"Apa besok pagi kamu ada waktu?"
Prisil terlihat berpikir. "Aku nggak yakin bisa keluar. Kamu tau Papi sekarang kayak gimana!"
"Kalo itu besok biar aku yang ijinin sama Papi kamu--!"
"Jangan!!" Sela Prisil cepat. "Aku nggak mau kamu di marahi sama Papi gara-gara aku!" Ucapnya lesu.
"Jadi kamu nguatirin aku?" Goda Alif. Prisil terlihat salah tingkah. Ia lalu menggaruk pelipisnya.
"Em...itu...itu.. maksud aku. Aku nggak mau ngerepotin kamu. Gampang deh besok aku cari alasan sendiri aja!"
"Kamu yakin?"
Prisil mengangguk dengan senyum mengembang. Alif ikut tersenyum lega. Ia sangat berharap Bunda bisa mencair dengan datangnya Prisil.
"Buka puasa masih setengah jam lagi. Kamu mau aku anterin balik ke toko?"
Prisil mengerling lalu menggeleng. Membuat Alif lagi-lagi tersenyum. Di raihnya jemari Prisil yang sedari tadi ia letakkan di atas meja.
"Janji sama aku. Apapun yang terjadi kita nggak akan berpisah!"
Prisil sedikit tertegun mendengar permintaan Alif. Matanya mulai berkaca-kaca dan setitik bening lolos dari mata hazelnya. Ia mengangguk pelan.
Mereka tau. Jalan mereka untuk bersatu sangatlah sulit. Banyak orang yang menentang cinta mereka. Tapi mereka yakin akan satu hal. Jika Tuhan saja mau mempertemukan mereka kenapa hal lain yang membuat mereka terpisah?
Alif masuk ke rumah dengan langkah cepat dan senyum merekah di bibir tebalnya. Saat kakinya akan memasuki kamar tiba-tiba suara Bundanya terdengar.
"Baru pulang Lif?"
Alif menoleh dan mendapati Bunda sudah berpakaian muslim lengkap. Akan berangkat sholat tarawih.
"Habis buka di luar sama temen Bun!" Jawabnya enteng.
"Bener sama temen? Apa jangan-jangan sama Prisil?" Tanya Bunda sambil memicingkan matanya menatap Alif.
"Em...sama Prisil Bun!" Sahutnya pelan. Bunda menggeleng pelan sambil berdecak.
"Sudah berapa kali Bunda bilang. Lupain Prisil. Masih ada banyak gadis soleha di luar sana yang mau nikah sama kamu Lif. Kamu tinggal tunjuk trus jadi deh...atau kamu mau nikah sama anaknya Tante Wina. Dia cantik loh Lif. Pakai hijab nggak seperti Prisil!"
Alif menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat.
"Bun...Alif sreg-nya sama Prisil. Bukan sama yang lainnya!" Sahut Alif dengan wajah kecewanya mendengar Bundanya memuji gadis lain.
"Bunda setuju kalo Prisil mau ngikutin kamu. Tapi kalo enggaaaak....ya udahan aja!" Setelah itu Bunda melenggang pergi sambil membawa sajadah di dekapannya.
Alif tau maksud Bundanya apa. Bunda menginginkan Prisil menjadi mualaf. Menjadi istri soleha. Tapi apa mungkin keluarga Prisil menerimanya?
Pintu kamar terbuka dan Alif langsung merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Di raihnya hp yang berada di saku kemejanya dan ia mulai menulis pesan untuk seseorang.
To : My Bie
Nanti pulangnya ati2 ya..
Alif tak menunggu balasan dari Prisil. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok.
Alif berjalan mondar mandir di teras rumahnya. Sesekali ia melongok ke arah luar pagar rumahnya. Orang yang di tunggunya belum datang juga. Alif mendesah kecewa. Telat 10 menit dari yang di tentukan. Pikirannya mulai negatif. Ia takut Prisil kenapa-napa. Atau mungkin Prisil tak di ijinkan untuk keluar.
Baru saja ia akan melangkah menuju mobilnya tapi suara motor matic Prisil terdengar. Alif tak kuasa menahan senyum bahagianya. Tanpa pikir lama ia berlari kecil menghampiri Prisil yang nampak kerepotan mengeluarkan standart motornya.
"Sini biar aku bawa masuk motornya!" Kata Alif sambil mengambil alih motor dari tangan Alif.
"Makasih ya Lif!" Ucap Prisil lalu berjalan mengekor di belakang Alif. Saat Prisil akan melepas helmnya lagi-lagi Alif dengan sigap membantu Prisil. "Makasih ya!"
"Makasih terus..bayar donk!" Sahut Alif dan meletakkan helm Prisil di salah satu kaca spion motor pemberiannya.
"Nggak ikhlas niih...!" Ledek Prisil. Alif langsung menggamit leher Prisil dengan lengan kekarnya.
"Buat kamu ikhlas kok. Apapun itu!" Sahut Alif. Prisil langsung mencubit pipi Alif yang tampak gembil.
"Iiiiih gemes deh kamu chubby banget siih!"
"Bukannya kamu juga chubby!" Alif balas menjewer pipi Prisil. Saat mereka tengah asik dengan candaan masing-masing, tiba-tiba seseorang berdehem dan menatap sinis ke arah Prisil.
"Lif, nggak usah berlebihan. Inget lagi puasa!" Titah Resi dengan wajah dingin.
Prisil langsung terdiam sementara Alif langsung menarik lengannya yang dari tadi bertengger di pundak Prisil.
"Pagi Tan. Gimana kabar?" Sapa Prisil dengan ramah.
"Baik!" Sahut Resi dengan sinis dan langsung masuk ke dalam rumah. Prisil menatap Alif dengan wajah bingung.
"Masuk yuk!" Alif langsung meraih jemari Prisil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Duduk dulu ya aku ambilin minum!"
"Ah. Nhgak usah Lif. Aku nggak haus!"
Kening Alif mengernyit tapi dia paham maksud Prisil. "Ya udah aku panggil Bunda dulu ya!"
"Bunda di sini!"
Alif mengurungkan niatnya memanggil Bundanya yang ternyata sudah berjalan menghampiri mereka berdua. Masih dengan tatapan dinginnya Resi lalu duduk di sofa paling ujung.
Prisil mengangguk sedikit saat melihat Resi menatap dirinya. Resi sama sekali tak menampilkan senyumnya membuat Prisil kalut dan takut.
"Lif..kamu harus secepatnya mengambil keputusan. Ingat umur kamu sudah matang untuk segera menikah!"
Seketika wajah Alif bersinar mendengar Bundanya membahas soal pernikahan.
Apa Bunda setuju kalau aku menikah dengan Prisil? Batin Alif.
"Jadi Bunda setuju kalo Alif nikah sama Prisil?" Tanya Alif dengan was-was. Resi terdiam dan mengalihkan pandangannya. Menatap ke arah Prisil dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Bunda cuman kasih kamu 1 syarat buat nikah..!"
"Apa itu Bun?" Alif sudah tak sabar mendengarnya begitu juga Prisil. Dalam hati ia berdoa semoga syarat yang di ajukan calon mertuanya tidak terlalu sulit.
"Bunda pengen punya mantu yang berhijab!"
Seketika senyum Alif menghilang. Ia menoleh ke arah Prisil yang sudah menundukkan wajahnya. Di raihnya jemari Prisil dan di genggamnya dengan sangat erat. Tapi sayang Prisil sama sekali tidak mampu mengangkat wajahnya.
"Apa salah kalo Bunda pengen mantu yang berhijab? Apa kamu juga gak pengen punya istri yang soleha?"
Pertanyaan Resi sangat tajam dan menyakiti hati Prisil. Ia hanya mampu menunduk. Air matanya menggantung. Ia tau dari tadi Alif menatapnya, mencoba menguatkan hatinya. Tapi usaha Alif sama sekali tak memberikan efek apapun terhadap dirinya.
Prisil menitikkan air matanya. Ia menangis dalam diam sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.
Apa ini yang di rasakan Alif saat Papi menolaknya kemarin? Apa seperti ini rasa sakit saat aku tidak di terima menjadi istri seorang Muslim? Jerit Prisil dalam hati.
"Bun..cukup!" Sela Alif pelan. Ia sudah tak kuat melihat Prisil begitu terluka.
Resi bangkit dari duduknya. "Kamu boleh menikah dengan siapa saja Lif. Asalkan dengan 1 syarat yang Bunda ajukan tadi! Bunda harap kamu mengerti Lif!"
Resi langsung melenggang pergi. Air mata Prisil semakin menetes deras. Bahunya berguncang hebat. Alif tak berkuasa menahannya. Dengan cepat di raihnya tubuh mungil Prisil dan di dekapnya dengan penuh.
"Ssssst! Sabar ya ... pasti ada jalan!" Bujuk Alif. Ia sendiri tidak bisa menahan air untuk menetes. Tapi sia-sia saja. Matanya sudah basah.
Ternyata benar-benar sulit disatukan dua hati yang berbeda keyakinan. Rintangan yang sangat berat dan restu dari orang tua tak akan pernah mereka peroleh.