#Prisil
.
.
.
Seminggu sejak kejadian itu hubunganku dengan Alif baik-baik saja. Tak ada kemajuan atau konflik yang membuat kita renggang. Kalau orang bilang mulus atau lempeng.
Aku juga tidak berani menanyakan soal niatnya untuk melamarku. Aku hanya bisa menunggu dan menunggu.
"Sil ... hubungan kamu sama Alif gimana?"
Entah kenapa Papi tiba-tiba bertanya soal ini. Hari ini masuk siang dan tengah ngobrol di toko kecil milik kami.
"Kenapa Pi kok nanya soal itu?" Tanyaku balik. Kulihat ke arah Papi yang sedang tersenyum lembut.
"Papi kan cuman tanya Sil. Apa Alif benar-benar serius sama kamu?"
Keningku mengkerut. Aku menatap Papi yang kini tengah duduk di sebelahku.
"Maksud Papi gimana ya? Prisil nggak ngerti deh Pi!". Aku menegakkan dudukku. Mulai omongan Papi mulai serius. Apa yang harus-jangan Pikirkan tentang rencana Alif?
"Papi denger Alif mau melamarmu. Tapi sudah lewat 1 minggu kenapa keluarga mereka belum ke sini juga?"
Sekering kerongkonganku mengering. Aku mengembalikan tubuhku membelakangi Papi. Ku gigit bibir bawahku. Apa yang harus saya katakan?
"Sil ... kamu ada masalah sama Alif?"
Aku kembali menatap Papi dan kuberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.
"Pi..ada hal penting yang pengen Prisil bicarain sama Papi!" Kataku dengan nada lirih. Kening Papi langsung mengernyit. Melihat respons Papi aku jadi ragu mengatakannya.
"Kenapa Sayang. Ngomong aja sama Papi!"
"Tapi janji Papi nggak akan marah ya ..!" Pintaku. Papi tersenyum lalu mengusap rambutku.
"Memangnya kenapa Papi harus marah?"
Aku mengambi nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"Prisil sayang sama Alif. Nama lengkapnya Muhammad Alifi. Dia bekerja di sebuah kantor dan menjabat sebagai CEO. Dia yang berjanji akan melamar Prisil dan dia seorang mus--lim!"
Aku semakin merendahkan nada bicaraku saat menyebutnya muslim. Raut wajah Papi langsung berubah. Senyumnya menghilang dan dingin.
"Pi...!" Panggilku. Tak ada respon. Rahang Papi mengatup. Air mataku seketika menetes. Aku tau akhirnya akan seperti ini.
Aku menatap Papi. Berharap Papi bisa menerima Alif apa adanya. Papi lalu menoleh ke arahku dengan pandangan mata tajam.
"Sejak kapan kamu tau dia beda?"
Aku terdiam dan menunduk. Tak mungkin aku mengatakan jika sudah lama aku mengetahuinya. Papi pasti akan semakin murka. Aku terisak.
"Papi harap kamu tidak goyah dengan keyakinanmu hanya karena seorang laki-laki!" Ucap Papi dingin lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku.
Apa seperti ini cinta beda agama? Bukan hanya orang tua yang akan menentang..tapi aku juga harus menaklukan dua tempat yang berbeda. Antara Rosario dan Arah Kiblat.
#Alifi
.
.
.
Aku berkali-kali menelpon Prisil tapi sama sekali tak ada jawaban. Bahkan smsku juga tak ada yang di balasnya. Apa mungkin terjadi sesuatu sama Prisil?
"Lif...kamu kenapa? Kayak banyak pikiran gitu?" Tanya Bunda yang datang dari arah dapur. Aku meletakkan hpku ke sofa sebelahku lalu menyandarkan kepalaku di sandaran sofa yang agak tinggi.
"Prisil kenapa ya Bun. Akhir-akhir ini kayak menghindar. Aku telpon nggak di angkat. Aku sms juga nggak di bales!" Keluhku sambil memikirkan apa yang menyebabkan Prisil terasa menjauhiku.
"Kamu nggak datengin ke rumahnya?"
Aku menggeleng. "Belum Bun!"
"Trus katanya kamu mau melamar dia? Kamu serius nggak sih sama Prisil?"
"Ya seriulah Bun...!" Selaku cepat.
"Kapan kita ke rumahnya?"
"Aku perlu bicarain dulu sama Prisil Bun..!"
"Jangan kelamaan mikirnya...keburu di ambil orang!"
Aku terdiam. Sebenarnya bukan itu yang mengganggu pikiran ku selama ini. Bukan soal Prisil akan berpaling dan mencari laki-laki lain. Tapi tentang perbedaan antara aku dan dia.
"Bun...kalau Prisil ternyata jauh sama yang Bunda harapkan gimana?"
Bunda menatapku dengan alis saling bertautan. Keningnya mengkerut sampai berlapis-lapis kerutannya.
"Maksudnya gimana Lif? Bunda nggak ngerti deh...!"
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Kita...!" Aku menghentikan kalimatku dan melirik sekilas ke arah Bunda yang tampak menungguku. "Dia...non muslim!"
Aku lemas seketika setelah mengatakan hal itu. Inilah alasan kenapa sampai sekarang aku belum datang ke rumahnya untuk melamarnya. Aku masih memantapkan hatiku.
"Kamu bercanda kan Lif?" Tanya Bunda. Aku menggeleng tanpa menatap Bunda.
Bunda terdiam di dalam duduknya. Aku hanya bisa meliriknya dari sudut mataku.
"Bun...!" Panggilku pelan. Bunda sedikit kaget dan mencoba tersenyum walaupun terlihat kaku.
"Sejak kapan kamu tau Prisil beda?"
Aku mengalihkan pandanganku. "Sudah hampir seminggu ini"! Jawabku pelan.
"Dan kamu baru bilang sama Bunda?" Bunda sedikit meninggikan suaranya. Aku hanya bisa terdiam. "Mungkin anaknya Tante Wina lebih cocok sama kamu Lif!"
Aku spontan menoleh ke arah Bunda. Bunda hanya mengangkat kedua pundaknya dan langsung meninggalkanku, masuk ke kamarnya.
Aku mendesah kecewa. Haruskah kisahku berakhir di sini?
Aku tak kuat memendam masalahku sendiri. Akhirnya aku menceritakan semuanya ke Leo. Sekretarisku. Leo hanya manggut-manggut dan kadang ber-oh ria mendengar semua uneg-unegku.
"Gue bingung Le..Bunda nggak setuju gue ngelanjutin hubungan gue sama Prisil!" Kataku lesu.
Leo menghela nafas dengan berat. "Gini deh Li. Sebaiknya lo omongin dulu sama Prisil. Lo kan juga tau sendiri gimana hukumnya nikah beda agama. Ya boleh aja sih cuman Prisil-nya gimana? Kira-kira nanti dia mau nggak ngikutin langkah lo..!"
Aku mengangguk mendengar wejangan dari Leo.
"Tapi kayaknya Bunda bener-bener nggak mau gue ngelanjutin hubungan gue sama Prisil. Malahan Bunda bilang gue mau di jodohin sama anaknya tetangga!"
Tubuh Leo bergetar hebat. Ia menahan tawanya agar tidak meledak tapi percuma saja. Leo tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Lo pikir ini lucu!" Protesku.
"Heh..bentar-bentar. Gue ijin ketawa dulu ya!"
Leo masih saja tertawa keras dan sekali-sekali menyeka sudut matanya yang sedikit basah oleh air mata. Aku hanya bisa terdiam dan menatapnya tajam.
"Sorry Bos. Gue nggak bisa nahan!" Katanya sambil menggelengkan kepalanya. "Lucu juga nyokap lo. Masa di jodohin sama anak tetangga. Nggak sekalian kucing tetangga aja!"
Tawa Leo kembali meledak.
Sialan. Sekretaris sialan.
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan ruanganku. Ku putuskan untuk pergi ke rumah Prisil. Aku tau hari ini dia masuk siang dan jam segini dia masih di rumah.
Mobilku terparkir di halaman rumahnya. Aku keluar sambil menatap rumahnya yang terlihat sepi.
Kulangkahkan kakiku menuju pintu rumahnya.
Tok
Tok
Tok
"Iya sebentar!" Suara Prisil menyahut dari dalam membuat jantungku berdetak tak karuan.
Saat daun pintu terbuka. Mata kami bertemu pandang. Prisil tampak kaget dengan kedatanganku. Dia hampir saja akan menutup pintunya kembali tapi dengan cepat aku mencegahnya.
"Sil. Dengerin dulu penjelasanku!" Kataku sambil menahan pintu itu dengan bahuku. Prisil masih saja terus mendorong pintu itu agar tertutup.
Apa Prisil marah gara-gara aku tidak menepati janjiku untuk segera melamarnya?
"Nggak ada yang perlu di jelasin lagi. Lupain aku!"
Suaranya terdengar bergetar. Aku sedikit kaget mendengarnya
"Maksud kamu apa Sil? Aku nggak mungkin bisa ngelupain kamu...!"
"Udahlah Lif. Anggap aja kita nggak pernah ketemu!" Selanya.
"Sil...dengerin dulu--!"
"Suruh dia masuk!"
Suara berat itu membuat tubuhku menegang. Itu suara Om Rizal. Perlahan pintu terbuka. Aku melangkah masuk dan mendapati Prisil masih berdiri di belakang pintu dengan pandangan mata menunduk.
"Siang Om!" Sapaku. Om Rizal hanya mengangguk tanpa melemparkan senyumnya ke arahku. Tatapan matanya terlihat dingin. Aku duduk di ujung sofa sementara Prisil menyusul duduk di sebelahku. Tepatnya di antara aku dan Om Rizal.
"Apa tujuan kamu ke sini?"
DEG!
Aku menatap ke arah Prisil tapi ia sama sekali tak mengangkat wajahnya. Pandangannya terus menunduk. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Om Rizal menganggapku hanya main-main untuk melamar Prisil?
"Saya kesini untuk membicarakan hubungan saya dengan Prisil, Om!"
"Hubungan yang mana?" Tanya Om Rizal lagi masih dengan nada ketusnya.
Aku menelan salivaku dengan susah. Aku bingung harus menjawab apa. Aku hanya terdiam dan ikut menunduk.
"Om minta selesaikan masalah kalian di sini. Besok saya harap kalian tidak bertemu lagi!"
Spontan aku mendongak menatap Om Rizal tak percaya. Ada apa ini?
"Maaf Om. Sebenarnya ada apa ini?"
Om Rizal menegakkan posisi duduknya. "Selama ini kamu membantu saya apa karena ada maunya?"
Maksudnya? Keningku mengernyit. Masih gagal paham sama apa yang Om Rizal katakan.
"Saya ikhlas Om. Saya tidak meminta balasan apapun!" Jawabku penuh keyakinan.
Om Rizal terlihat tersenyum sinis.
"Di dunia ini tidak ada yang gratis. Om yakin sebenarnya kamu menginginkan imbalan!"
Astaghfirullahal adziiim...aku mengusap wajahku pelan. Kebaikanku selama ini di salah artikan.
"Saya tegaskan Om. Saya sama sekali tidak berniat meminta imbalan ataupun sejenisnya. Saya ikhlas--!"
"Tapi saya tidak bisa menerima bantuan orang lain begitu saja. Tenang saja. Om akan mengembalikan semua uang yang kamu keluarkan. Tinggal sebutkan saja berapa jumlahnya!"
Aku menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran Om Rizal. Kenapa beliau berubah secepat itu?
"Maaf Om. Tapi saya tidak akan menerimanya..!"
"Sombong sekali kau anak muda!" Suara Om Rizal meninggi. Aku terhenyak. Hampir saja aku terbangun dari dudukku tapi sebuah tangan menahanku. Aku menatapnya dan tangan Prisil yang terasa dingin sedang menggenggam jemariku.
Aku menatapnya tapi ia terus menunduk dan menangis. Ada apa ini?
"Om..saya serius akan melamar Prisil. Secepatnya!"
Aku langsung mengutarakan niatku. Tak peduli perkataan Bunda kemarin yang akan menjodohkan aku dengan anak temannya.
"Maaf. Saya menolak!"
Mataku terbelalak mendengarnya. Bukankah Om Rizal sudah sangat setuju atas niatku untuk memperistri Prisil? Tapi kenapa sekarang berubah?
"Maksudnya Om?!"
"Saya hanya ingin Prisil mendapatkan seorang suami yang seiman!"
Aku mendesah kecewa. Sekarang aku tau. Kenapa Om Rizal marah dan kenapa Prisil menghindariku. Ternyata perbedaan keyakinan yang membuat Om Rizal menolak niat baikku.
Setelah obrolan panas itu aku keluar dari rumah Prisil dengan langkah gontai. Sesekali aku berbalik dan menatap rumahnya yang sudah tertutup rapat.
Kali ini aku kalah...
Kita bukan Istiqlal dan Katedral, yang di takdirkan berdiri berhadapan dengan perbedaan, namun tetap harmonis.
Jika mereka punya nyawa, siapa yang tau jika mereka berdua saling jatuh cinta?