JALAN TERBAIK 11

2608 Words
#Alifi . . . Ya Allah kenapa Engkau ciptakan cinta seperti ini ... cinta yang jauh dari RidhoMu. Aku menarik nafas dan menghembuskannya. Ku ulangi sekali lagi. Tapi dadaku terasa semakin padat. Aku duduk terdiam di atas sajadahku. Aku mengusap wajahku perlahan. Dan kembali menghela nafas. 2 hari ini aku benar-benar tidak bisa tidur. Makanpun terasa tak enak. Setiap sepertiga malam aku selalu bersimpuh. Tentang semua yang terjadi. Aku tau ini semua bagian dari rencanaNya dan aku tau Dia sedang mengujiku. Beberapa besar cintaku padaNya. Apakah aku akan berpaling dariNya dan lebih memilih orang yang berbeda dari jalan yang sudah di tentukanNya. Mataku udara kembali menitik. Bagiku ini ujian terberatku. Di saat aku sudah memantabkan hati dan menjatuhkan pilihanku ternyata dia seorang wanita yang jauh dari persyaratan utamaku untuk menikah. Meskipun Prisil sudah tahu dari awal tetapi disetujui tak masalah. Melihatku menerawang jauh ... teringat kejadian malam itu. # Kilas balik di # "Oh iya..makasih ya Lif!" Sahutnya lalu memasangkan kalung itu ke lehernya. Wajahnya senang dengan senyuman. Setelah kalung itu kembali bertengger di lehernya ia langsung mendapat liontin salib itu dan mengecupnya lama. Aku hanya bisa terdiam mematung melihat semua itu. "Aku bersyukur bisa bertemu sama kamu Lif. Kamu itu Malaikat penolong yang Tuhan kirim untukku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berdiri di sana. Senyumku mengembang dengan tulus. "Kenapa kamu gak ngomong dari awal?" Tanyaku selembut agar agar ia tak tersinggung. Kulihat raut langsung berubah masam. "Jadi kamu memilih mundur setelah aku bukan dari golonganmu? Apakah semua manusia di dunia ini sama? Mereka hanya akan memandang sempurna dari golongannya sendiri?" Prisil menyeka air yang baik sejak kapan pun sudah membasahi kedua pipinya. "Kita semua sama hanya Tuhan kita yang berbeda. Apa salah kalo aku mencintai seorang muslim?" Aku menggeleng pelan. Kuraih senang yang terasa dingin. "Bukan itu maksudku Sil. Aku hanya khawatir tentang pendapat orang lain--!" "Sekarang aku tanya!" Selanya cepat. "Yang meyakinkan hidupmu apa orang lain?" Aku menggeleng. "Yang menentukan pilihanmu apa orang lain?" Aku akan menggelengkan lagi. "Kita sudah melampaui ini. Apa kita akan mundur?" Aku menatap lekat mata hazelnya dan aku menggelengkan lagi. Senyum di bibirnya langsung merekah. Di usapnya air mata dengan punggung disetujui. "Kita bertemu Dia yang terlibat. Kita bersatupun sudah pasti bagian dari rencanaNya. Kenapa gak kita coba saja jalani sesuai dengan skenarioNya?" Prisil terlihat dewasa. Bagaimana pun saat ini dia bisa bijak. Tapi aku hanya bisa terdiam. Hatiku mulai goyah. Tiba-tiba saja ia menghambur ke pelukanku. Memelukku sangat erat. "Aku bener-bener nggak bisa mengembalikan kamu Lif. Kamu orang yang Tuhan kirim untuk aku. Aku yakin itu!" Ungkapnya pelan. Perlahan aku mengelus rambutnya yang menjuntai ke belakang. "Aku akan mendukung kamu dan kamu juga harus mendukung aku. Kita jalani saja dulu ya!" Balasku. Prisil mengangguk di dalam pelukanku. # Flashback off # "Astaghfirullahal adziiim!" Aku menangkupkan kedua telapak tanganku ke wajahku. Ku lirik jam di dinding kamarku. Pukul 3 pagi. Suara dering hpku berbunyi bersamaan dengan suara ketukan pintu. "Seumur hidup ... ayo sahur!" Panggil Bunda dari luar kamar. "Iya Bun. Alif udah bangun. Bentar lagi Alif nyusul!" Sahutku sambil meraih hpku yang tergeletak di atas meja sebelah tempat tidur. "Ya udah Bunda tunggu!" Setelah itu tidak terdengar lagi suara Bunda. Aku memperhatikan layar hpku yang terpampang foto Prisil. Ada panggilan masuk darinya. "Assala --- iya halo Prisil!" Aku tidak melanjutkan salamku dan langsung memanggilnya. Prisil terdengar terkekeh pelan. "Iya Lif . Kamu udah bangun?" Aku tersenyum mendengar suaranya. "Udah kok. Ini mau sahur!". Jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku dan melipat sajadah dengan tangan kananku. Meletakkannya di tempat Biasanya. "Makan yang banyak ya biar nggak lemes. Jangan lupa minum s**u juga!" Aku kembali tersenyum. Sambil terus berbicara, aku pergi keluar kamar dan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Bunda. "Iya iya sayang. Ya udah ya aku mau sahur dulu. Keburu imsak!". Prisil terdiam. Aku pasti bicara tentang panggilan sayang yang aku ucapkan tadi. Aku menarik kursi dan duduk di hadapan Bunda. Bunda terlihat menahan senyumnya. "Ya udah kalo gitu. Aku lanjut istirahat ya. Bertemu sahur ya ..!" "Iya. Kamu juga ya ..!" Godaku. "Hehehe apaan sih? Ya udah aku tutup ya! " "He'em!" "Cinta kamu... " Aku juga !" Klik. Sambungan telpon terputus. Aku menempatkan hpku ke kantong celanaku. "Ciyeee yang lagi di bangunin buat sahur!" Goda Bunda sambil bermain alisnya naik turun. Aku hanya tersenyum simpul. "Kapan kita ke Wisma Lif?" "Hah? Kerumahnya? Ngapain Bun?" Tanyaku spontan sambil menatap bingung ke arah Bunda. "Kamu katanya mau ngelamar anak orang? Gimana sih? Baru juga 2 hari puasa masa udah pikun!" Aku terdiam tanpa ekspresi. Bunda belum tau semuanya. Apa aku ngomong sekarang soal Prisil? "Bun kalo seandaikan ---!" "Jangan terlalu khawatir!" Sela Bunda. "Semua belum di jalani Lif. Kalau kamu pesimis ya sama aja kalah sebelum berperang!" Benar Tapi Bunda belum sepenuhnya tau soal Prisil. Salah aku sendiri terlalu cepat mengambil keputusan sebelum aku tahu lebih jauh tentangnya. Apa aku menyesal? Sedikit. Tapi tidak juga aku tidak bisa berhenti begitu saja. Senin pagi ini aku sama sekali tak bersemangat. Rapat tidak bisa fokus. Pikiranku kemana-mana. "Bos ... lo beneran nggak apa-apa?" Pertanyaan Leo yang sudah aku dengar hampir 10x sejak tibaku pagi tadi. Sampai jam makan siangpun Leo masih bertanya hal yang sama. "Gue nggak apa-apa ..!" Jawabku lesu. "Nggak maksi bos? Udah selai 12 loh!" "Gundulmu!" Umpatku sambil melempar pulpenku ke arahnya. Leoakkan kilat menghindar. "Gue kirain laper bos!" Aku terdiam lagi tak mau menyetujui celotehannya. "Ck. Berasa ngomong sama manekin kalo kayak gini!" Dumelnya. pandanganku langsung menuju ke konversi. Aku menatapnya tajam hingga ia menjadi salah tingkah sendiri. "Natapnya jangan horor gitu donk Bos. Merinding disko nih gue!" Susah payah aku pegang tawa tapi akhirnya pecah juga tawaku. Leo hanya melongo melihatku yang tertawa terbahak-bahak. Sukses juga aku mengerjainya. "Muka lo kayak ABG mau di perkosa!" Ucapku sambil terus tertawa. Leo berdecak kesal. "Kayak pernah perkosa anak orang aja lo Bos sampe tau ekspresi mukanya!" "Pernah emang!" Potongku. Seketika Leo mendelik ke Arahku. "Siapa Bos cewek yang beruntung itu?" "Elo!" Tawaku kembali meledak. Leo lagi-lagi mendelik. "Suka-suka Bos aja deh. Selama bisa bikin lo seneng!" Aku sulit meredakan tawaku dan menyusut sudut mataku yang sedikit basah. Sejenak aku bisa melupakan masalahku. "Eh Bos kabar cewek lo gimana?" "Siapa?" "Aelaaah ... kayak punya banyak cewek aja lo. Cewek yang kemaren nooh!" Aku langsung bungkam dan menyandarkan punggungku di kursi kebesaranku. Ku tatap wajah Leo yang juga terlihat masam. "Kok diem lagi Bos? Ada masalah?" Aku menarik nafas panjang. Butuh aku butuh teman curhat. "Dapatkan rencana buat dia dia ---!" "Waaah ide bagus !" Potongnya. "Lebih cepat lebih baik Bos. Apalagi cewek jaman sekarang kalo gak segera di tali cepet lepasnya. Ketemu yang bening dikit bisa langsung dipindahkan haluan dianya!" "Prilsil nggak kayak gitu Le!" "Aku suka Prisil kayak, gitu cuman, kan gak ditutup. Dia masih muda, masih labil Bos!" Aku terdiam. Merenungi ucapan Leo. Tapi cuma aku percaya Prisil bukan tipe cewek seperti itu. "Tapi senang bukan Le!" "Lalu?" Leo terlihat antusias menunggu menunggu jawabanku. "Lo tidak denger kan. LDR yang jauh itu bukan LDR beda kota tapi LDR beda tempat ibadah?" Hening. Kami terdiam. Leo tampak sedang mencerna kata-kataku dan beberapa detik kemudian dia angkat bicara. "Maksud lo .... dia .... non muslim?" Tanyanya ragu. Aku mengangguk. "Ya elaaah Bos. Jadi cuman gara-gara ini lo dari tadi kayak mayat hidup?" Kini gantian aku yang di buat melongo oleh kata-kata Leo. Memangnya dia pikir ini masalah sepele? "Gue bingung Le ...!" "Lo ragu? Lo nyesel?" Pertanyaan Leo langsung menohokku. Aku mengangguk pelan. "Susah sekali kayaknya idup lo Bos. Sebenarnya nih masalah sederhana. Tinggal lo-nya aja yakin nggak sama jalan lo?" "Bisakah di perjelas nggak omongan lo?" Aku menarik punggungku dari sandaran kursi dan menatap Leo. "Lo itu udah dewasa harusnya bisa bijak. Kalo lo labil gini sama aja donk lo kayak Prisil. Yang masih butuh bimbingan!" "Beda agama bukan penghalang kamu nikah Bos. Tuhan aja mempertemukan kamu kenapa agama yang memutuskan?" Menyalak. Betul sekali kata-kata Leo. Mungkin ini sudah takdirku. Mencintai seseorang yang bukan berasal dari golonganku. Aku menatap ke arah Leo yang dengan pedenya menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. "Gimana? Masih nyesel ketemu sama Prisil?" Aku tersenyum lalu menggeleng. "Tapi jujur. Impian gue bisa liat dia pake jilbab. Pasti lebih cantik!" Aku mulai membayangkan wajah Prisil yang memakai jilbab dan tubuh mungilnya yang terbalut baju gamis. Senyumku mengembang. Andai semua itu terwujud ... pasti aku akan senang sekali. "Jadi seperti itu menginginkanmu?" Aku terhenyak mendapati suara seseorang. Prisil. Mataku menatap sosoknya yang tengah berdiri di pintu masuk ruanganku lengkap dengan baju transisi. Sejak kapan dia ada di sana? Apa dia mendengar semuanya? Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan menghampirinya. Leo hanya bisa berdiri di tempatnya. "Hei sayang. Udah lama kamu di sini--!" "Ya !!" Selanya dengan nada ketus sambil menepis tanganku yang terulur untuk mengundang pundaknya. "Kamu nyesel kan ketemu sama aku? Kamu nyesel kan dengan apa yang menjadi kepercayaanku?" Aku menggeleng pelan. "Nggak. Bukan itu maksudku--!" "Lalu apa?" Prisil menyusut air rusak. "Aku tau kita beda. Kita nggak mungkin bisa bersatu. Bagaimana kalau kamu nggak bisa nerima aku lalu kenapa kita lanjutkan hubungan kita ini? Yang jelas-jelas kamu sendiri tau bahas!" Setelah mengatakan itu Prisil Langsung berlari meninggalkan ruanganku. Aku hanya terdiam di tempatku. Aku dibuka menghilang di balik pintu lift yang ditutup. Kesadaranku pulih saat Leo menepuk pundakku. "Bos ... nggak di kejar itu Prisil-nya?" Aku tersentak dan langsung berlari keluar. Aku salah. Kenapa aku mengatakan hal itu. Jelas-jelas Prisil beda dan aku tak mungkin bisa bisa cocok denganku. Langkahku sampai di lobi kantor. Tapi aku terlambat. Prisil sudah tidak ada. Saya hanya melihat motor yang membantu saya terparkir di halaman kantorku. Prisil meninggalkannya. Aku lalu menelpon Mang Jaja dan beberapa menit kemudian mobilku sudah siap di depan mataku. "Jalan Mang!" Aku tau aku harus mencarinya kemana. Dalam keadaan kalut seperti ini, tak mungkin dia akan pergi ke suatu tempat. Akhirnya mobilku berhenti di depan Rumah. Rumah yang dulu pernah saya datangi. Aku pelan-pelan masuk ke suasana. Keadaan sepi. Kemana dia? #Pri sil . . . Aku tak percaya dengan pendengaranku. Berhijab? Apa itu artinya Alif tidak bisa menerimaku? Dengan kepercayaan yang aku miliki? Aku langsung berlari masuk ke kamarku. Tak mempedulikan panggilan Papi. Aku hanya ingin sendiri. "Prisil ... sayang kamu kenapa? Ada Alif itu di luar!" Suara Papi terdengar dari luar pintu sambil mengetuk daun pintu kamarku. Aku menangis tanpa suara. Sebisa mungkin aku memanggil isak tangisku dari pendengaran Papi. Aku tak mau masalah ini akan memperburuk kondisi Papi yang baru saja pulih dari sakitnya. "Prisil capek Pi. Suruh pulang aja Alif!" Jawabku dengan suara serakku. "Kamu nggak kerja Sil? Kan kamu masuk siang hari ini? Kamu sakit?" Rentetan pertanyaan Papi semakin membuatku menangis. Aku sakit Pi. Aku memang sakit. Dan entah obat apa yang bisa menyembuhkannya. Aku menggenggam kalung salibku dengan erat. Mengadu disetujui ... Tuhan ... kenapa kau pertemukan aku? Engkau tau cinta ini terlarang dan tak bisa bersatu. Mengapa Engkau memberiku takdir yang sangat sulit untuk kujalani? "Ya ...!" Suara Papi terdengar lagi. Aku terdiam tak bisa menjawabnya. Tak lama kemudian suara Papi tak terdengar lagi. Aku kembali menangis. Sendiri. Aku dibuka mataku lambat. Aku rupanya tertidur. Ya Tuhan padahalkan hari ini aku masuk siang? Ku cek hpku dan benar ada panggilan dari Bu Luna dan Fita. Pasti mereka bertanya keberadaanku. Ku putuskan untuk menelpon balik Bu Luna. Aku meminta ijin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Masa bodoh dengan gaji yang akan aku terima nanti. Pikiranku benar-benar kacau. Setelah selesai menelpon Bu Luna aku keluar kamar dengan langkah pelan. Hari sudah sakit dan sudah malam. Saat aku tiba di ruang tengah, aku berdiri mematung. Aku menatap ke arah Ruang tamu dan mendapati 2 sosok laki-laki yang sangat aku cintai. Papi dan Alif. "Prisil. Sini sayang. Gimana badan kamu udah enakan?" Tanya Papi dengan senyum mengembang. Aku berjalan pelan ke arah Papi dan duduk di sebelahnya. Aku menatap ke arah Alif yang juga memasang senyum manisnya. "Kok kamu masih di sini?" Tanyaku begitu saja. Papi malah tertawa mendengar pertanyaanku. Apa yang terdengar lucu? "Dari tadi Alif nungguin kamu. Kamu yang di tunggu malah tidur!" Aku mencembik mendengar jawaban Papi. Alif hanya diam sambil menyisir rambutnya yang paling penting dengan jari jarinya. Aku mendengar suara orang mengaji dari Masjid seberang sana dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Pi ... aku mau ngajak keluar Alif. Boleh kan?" Tanyaku. Papi tersenyum lalu mengangguk. Alif hanya melongo menatap ke Arahku. Tanpa memandang ke arahnya Aku kembali ke dalam. Mandi dan Siapkan diriku. Aku tak punya banyak waktu jadinya hanya selang setengah jam aku sudah kembali ke ruang tamu dengan tampilan berbeda dari sebelumnya. Seperti biasa kaos oblong dan celana jeans sobek selalu menjadi pilihan utamaku. "Pi. Prisil keluar bentar ya!" pamitku sambil melirik ke Arah Alif. Alif seperti kode paham yang aku berikan. Diapun ikut beranjak dari tempat duduknya dan ikut berpamitan. "Ya udah ati-ati ya kalian!" Aku dan Alif mengangguk lalu menuju mobil Alif yang terparkir di halaman depan. "Aku kira kamu masih marah sama aku!" Ungkapnya sesaat setelah mobil melaju mulus di jalanan kota Surabaya. "Aku masih marah sama kamu!" Jawabku dingin. Alif hanya menghela nafas berat. "Kamu mau buka puasa di mana?" Semarah-marahnya aku, aku mungkin mau Alifihkan buka puasanya. Kata Fita buka puasa tidak boleh di tunda dan harus di segerakan. Makanya aku memilih mengajak Alif keluar untuk berbuka. Aku belum siap menjelaskan ke Papi soal ini. Mungkin tidak akan pernah siap. "Kamu masih peduli sama aku?" Tanyanya pelan. Aku menoleh ke arahnya sementara dan kembali membuang muka. "Sesama koleksi ciptaanNya apa salahnya kita saling menghormati?" Masih dengan nada ketus aku menjawabnya. "Tuh ... aku minta maaf soal kantor tadi. Aku nggak setuju nyinggung perasaan kamu. Aku cuman ... cuman ...!" Hening. Alif takkan menerima kata-katanya. Aku diam-diam berpikir. Aku dan dia memang beda. Perbedaan yang menyatukan kami. Mungkin ini memang jalanNya dan aku tak mungkin menyalahkan Alif. Aku beralih menatapnya. "Udahlah Lif. Lupain soal tadi. Aku juga tau semua laki-laki muslim pasti suka hal itu dan aku nggak nyalahin kamu atas impian itu. Kita semua punya impian. Akupun juga punya impian. " Aku kembali tersenyum ke arahnya. Alif. Aku bisa memikirkan apa yang diinginkannya. Mobil melambat dan akhirnya berhenti di sebuah rumah makan. Alif segera turun dan akupunir saja. Suasana rumah makan sedikit ramai karena mereka pasti akan berbuka puasa di sini. Alif menuntunku untuk duduk di salah satu kursi kosong. "Kamu pesen apa?" Tanyanya. Aku masih sibuk memesan menu buku di tanganku. "Samain aja sama kamu!" Jawabku sambil menutup menu buku. Ambil satu dan pesan 2 porsi ayam bakar dan 2 gelas jus jeruk. "Em ... Umur. Kabar Bunda gimana?" Tanyaku memecah keheningan. Alif tersenyum. "Alhamdulillah baik Sil. Papi kamu kayaknya juga tambah sehat ya!" "Itu semua berkat kamu!" Ungkapku tulus. Alif menggeleng pelan. "Udah nggak usah di bahas lagi soal itu!" Aku tersenyum dan mengangguk. Tak lama pesanan datang dan tertata rapi di meja makan depan kami. "Ya udah sekarang kamu makan ya!". Titahnya. Aku menggeleng. "Kenapa?" Tanyanya dengan kening mengkerut. "Aku pengen ngerasain gimana rasanya berbuka puasa!" Kening Alif mengernyit. "Aku nggak mungkin makan di depan orang yang sedang berpuasa. Jadi anggap saja kita berdua sedang menunggu waktu berbuka!" Alif tersenyum lalu meraih jemariku. Senyum yang sangat manis. Andaikan saja kami tidak berbeda mungkin aku juga akan tersenyum manis. Alif yang selalu aku rindukan. Kudengar adzan sudah berkumandang dan saling bersahutan-sahutan. Alif mengangkat kedua sementara aku menangkupkan kedua telapak tanganku. Kita berdoa sesuai keyakinan kita masing-masing. Alif langsung meneguk minumannya. Aku hanya bisa melihat tersenyum lega. "Ayo makan!" Ajaknya. Aku mengangguk dan menerima perintah Alif. Sambil sesekali melirik ke Arah Alif yang terlihat lahap menyantap menu buka puasanya. Aku tersenyum melihat. Sungguh indah dunia ini jika kita bisa saling menghormati. Selamat berbuka puasa ya Lif ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD