JALAN TERBAIK 10

2224 Words
#Author . . . Kamis romantis. Itu yang mereka berdua rasakan saat ini. Tak di sangka perjalanan mereka untuk mendapatkan cinta sangatlah mudah. Dan hari Jumat ini Prisil maupun Alif kembali memulai aktifitasnya. "Aku denger Papi kamu sakit ya Sil?" Tanya Vita saat mereka selesai bersiap diri. "Iya Fit. Kemarin habis operasi dan Puji Tuhan Papi udah sadar sekarang!" "Alhamdulillah...maaf ya Sil aku gak bisa jenguk. Aku titip doa aja semoga beliau selalu di beri kesehatan!" "Amiin!" Prisil menangkup kedua telapak tangannya. "Makasih ya Fit!" Fita mengangguk tapi kali ini sepertinya ada yang beda pada diri sahabatnya. Orang tuanya memang sakit tapi wajah Prisil dari tadi pagi terlihat cerah. "Kayaknya hari ini kamu seneng banget ya Sil?" Prisil langsung menoleh ke arah Fita. Senyumnya semakin mengembang. "Gue serasa mimpi Fit!" "Mimpi?" Cicit Fita sambil menautkan kedua alisnya. "Mimpi apaan?" "Gue jadian sama Alif!" "WHAT?" teriak Fita dan otomatis tangan Prisil membekap mulut Fita. Tak banyak pelanggan toko yang menoleh ke arah mereka berdua. "Nggak usah pake teriak segala keles!" Cibir Prisil. Fita meringis sambil menarik ujung jilbabnya. "Hehehe sorry. Tadi aku refleks. Kaget aja kenapa kamu bisa jadian sama Om-Om itu!" "Iya sih...kenapa gue bisa suka sama dia ya? Pantesnya dia jadi Om gue emang!" Sahut Prisil sambil membayangkan wajah Alif yang di penuhi dengan bulu di sekitar dagu dan pipi bawahnya. "Nasib kamu mungkin Sil. Nggak pernah pacaran dan sekalinya pacaran dapet Om-Om!" Fita langsung tertawa sambil menutupi mulutnya. Sementara Prisil malah mendelik ke arah Fita. "Idup lo kayaknya seneng banget liat gue sengsara!" Dumel Prisil. Fita langsung menghentikan tawanya saat seorang pelanggan datang ke kasir dan membayar belanjaannya. Alif menyandarkan punggungnya sambil memainkan jari telunjuknya. Mengetuknya ke dagu beberapa kali. Pandangan matanya menatap langit-langit ruangannya dan senyumnya merekah saat bayangan wajah Prisil terlintas. "Bos! Bos!" Suara sekretarisnya membuat Alif tersadar. "I-iya ada apa Le?" Tanyanya dengan tergagap. "Ya elah Bos dari tadi gue jelasin sampe mulut gue berbusa gini. Situnya malah meleng!". Leo ikut menyandarkan punggungnya di kursi dan menekuk kaki kirinya. Meletakkannya di atas paha kanannya. "Aduh.kenapa gue ngeblank gini ya?" Alif menggaruk tengkuknya dan membenarkan posisi duduknya. "Udah sampe mana tadi?" Leo berdecak kesal. "Ck. Capek ah gue bos. Gue udah jelasin dari A sampe Z masa sekarang di suruh ngulang lagi?" Kening Alif langsung mengkerut. Segitu besarnya pengaruh Prisil dalam hidupnya sampai ia tak bisa konsen kerja. "Masalah apaan sih bos? Soal cewek yang kemarin ya?" Alif hanya menahan senyumnya. Memang akhir-akhir ini otaknya hanya di penuhi dengan bayang-bayang wajah Prisil. "Ck. Susah ngomong sama orang yang lagi kasmaran. Di tanya malah senyum mulu!" Alif tersadar dan seketika memasang ekspresi datar. "Bos..besok kan udah mulai puasa nih? Nggak pengen apa ngajakin gue bukber gitu bos?" Seketika Alif tersadar. Ya ampun kenapa gue bisa lupa ya? "Ide bagus Le!" Leo langsung memasang wajah cerahnya mendapat tanggapan dari bosnya. "Asiiik. Beneran nih bos gue di ajakin bukber? Kemana besok acaranya?" Tanya Leo antusias. Sementara Alif hanya menaikkan sebelah allisnya mendengar rentetan pertanyaan dari Leo. "Emang siapa yang ngajakin lo bukber?" "Lah kan situ sendiri tadi yang bilang!" Muka Leo mendadak berubah masam. Alif terkekeh pelan. "Maksud gue ide lo cemerlang. Gue bisa ngajak dia jalan sambil bukber! Seru tuh..!" "Ck. Kirain gue yang di ajakin. Ya udahlah bos gue mau ke ruangan dulu. Mau garuk-garuk tembok!" Leo beranjak dari tempat duduknya sambil merapikan bajunya. "Habis di garuk jangan lupa di plester lagi ya!" Celetuk Alif. Leo hanya mendumel pelan dan keluar dari ruangan Alif. Tak lama hp Alif berdering. Ada pnggilan masuk dari Prisil. Membuat wajah Alif semakin cerah. "Halo..!" Suara Prisil terdengar pelan. "Ya Sil. Ada apa?" "Aku ganggu kamu nggak?" "Nggak kok. Ada apa?" Prisil terdengar menarik nafas dan membuangnya dengan cepat. "Papi aku hari ini sudah boleh pulang Lif. Aku seneeeeng banget!" "Oh ya? Kapan pulang?" "Nanti sorean---!" "Aku jemput!" Potong Alif dengan cepat. "Em...nggak usah Lif. Kamu udah terlalu banyak bantu aku. Bahkan semua biaya rumah sakit kamu yang tanggung. Kamu juga sibuk!" "Sore jam berapa?" Alif malah tak menghiraukan ocehan Prisil. "Jam 5. Tunggu Dokter Arka datang!" "Ya udah nanti tunggu aku ya. Aku jemput!" "Tapi beneran kamu nggak repot?" "Sama sekali nggak kok. Aku malah seneng!" Hening. "Udah dulu ya Lif. Aku cuman mau nyampein itu aja kok!" "Yakin nih cuman ngomong itu aja?" "Maksudnya?" Alif terkekeh mendengar reaksi Prilly. "Nggak kangen apa sama aku?" Hening. Seketika wajah Prisil bersemu merah. Ia mencoba menahan senyumnya. "Em...ya udah ya. Aku tutup dulu. Aku lagi kerja soalnya!" "Ya udah..nanti pulangnya beneran tunggu aku ya. Kita ke rumah sakit bareng!" "Iya. Bye Alif!" "Iya Sil...see you!". Alif menutup sambungan telponnya dan senyumnya mengembang. Ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 10 pagi. #Alifi . . . Jam 3 aku sudah keluar dari kantor. Aku langsung menuju ke tempat kerja Prisil. Hari ini aku memilih menyetir sendiri tanpa Mang Jaja. Aku langsung masuk ke dalam toko layaknya pelanggan lainnya. "Selamat datang di Alfamart. Selamat berbelan--ja!" Suara seseorang menyapaku. Tapi aku tau itu bukan suara orang yang aku rindukan. Kemana dia? Biasanya dia selalu menyambutku. Aku menoleh ke arah kasir dan mendapati seorang wanita berhijab yang mungkin seumuran dengan Prisil sedang berdiri di sana sambil tersenyum ke arahku. "Nyariin Prisil ya Pak?" Tanyanya langsung. Aku tersenyum dan mengangguk. "Prisil masih di belakang Pak. Tunggu ya saya panggilin!" "Ah nggak usah. Saya mau belanja dulu!" Cegahku. Wanita itu mengangguk. Aku langsung menuju rak makanan dan mengambil apa yang aku butuhkan. Tak lama aku kembali ke kasir dan ternyata di sana sudah ada Prisil. Dia sangat cantik dengan baju kerjanya. Walaupun tak berhijab tapi dia tetap cantik. "Loh kok kamu udah di sini Lif? Ini masih jam setengah 4 loh!". Aku tersenyum kecil dan meletakkan belanjaanku di meja kasir. "Apa seperti ini menyambut pelangganmu? Kamu mengusirku secara tidak langsung!" Ia terlihat mencembikkan bibirnya membuatku gemas dan ingin mencubit kedua pipinya. "Aku kan tanya kenapa kamu jadi nuduh aku?" "Gitu aja ngambek!" Prisil tak menjawab ia lalu menscan belanjaanku dan memasukkannya ke kantong plastik. "Semuanya 138ribu!" Aku lalu menyodorkan kartu atmku dan dia menerimanya. "Ati-ati jangan sampe salah input lagi!". Prisil langsung menatapku tajam dan menghentikan aktifitasnya. "Maksudnya kamu berharap aku salah input lagi?" "Iya!" Jawabku cepat. Seketika matanya mendelik ke arahku dan dia melanjutkan pekerjaannya. Selesai. Aku menerima kantong belanjaanku. Sebelum pergi aku melirik jam tanganku. "Masih setengah jam lagi!" Kataku sambil menatap ke arahnya. "Salah siapa dateng jam segini. Aku belum jadwalnya pulang!" "Nggak apa-apa. Nunggu selama apapun aku mau kok!" Wajahnya langsung bersemu merah. Ternyata dia bisa juga blussing. "Gombal terus Pak!" Kamipun tertawa tanpa mempedulikan seseorang yang sedang mengamati kami dari sudut ruangan. "Terima kasih Dokter Arka. Berkat Dokter Papi saya sudah bisa di bawa pulang!" Ungkap Prisil dengan mata berkaca-kaca. "Berterima kasihlah sama yang di Atas Prisil dan juga Pak Alif yang selalu membantu!" Balas Dokter Arka. Aku hanya tersenyum sambil menggaruk tengkukku. Setelah acara pamitan itu selesai. Aku, Prisil dan Om Rizal langsung pulang. Aku mengemudi sementara Prisil duduk di sebelahku dan Om Rizal duduk di seat belakang. Mobil sampai di rumah begitu adzan maghrib berkumandang. Aku menuntun Om Rizal memasuki rumah sementara Prisil membuka pintu dan mempersilahkanku masuk. Rumah yang kecil dan sederhana. Dengan sebuah toko kecil di sebelahnya. Aku duduk di sofa ruang tamu dan Prisil duduk di sofa panjang bersebalahan dengan Om Rizal. "Terima kasih banyak ya Nak Alif. Om benar-benar beruntung bisa mengenal Nak Alif!" Ucap Om Rizal dengan suara lemahnya. Aku tersenyum lembut dan mengangguk. "Sudahlah Om. Saya hanya melaksanakan apa yang seharusnya saya lakukan. Bukankah sesama manusia harus saling membantu?" Om Rizal mengangguk beberapa kali. "Benar. Ternyata selain baik kamu juga berpikiran luas. Jarang sekali menemukan anak muda jaman sekarang yang seperti dirimu!" Aku tersenyum kembali. Ku lirik ke arah Prisil yang sedari tadi terdiam tapi senyum manisnya terus mengembang. "Sil ada tamu tapi gak kamu ambilin minum?" Tanya Om Rizal sedikit menoleh ke arah Prisil. "Oh iya Prisil sampe lupa. Em...Alif kamu mau minum apa?" "Nggak usah repot-repot Sil. Kamu duduk aja!" "Nggak perlu sungkan Nak Alif. Anggap aja rumah sendiri!" Aku mengangguk. "Om..sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan!" Wajah Prisil menegang tapi tidak dengan Om Rizal yang terlihat santai. "Mungkin ini terlalu cepat. Tapi bagi saya lebih cepat lebih baik. Saya....!" Aku menghentikan kata-kataku dan ku lirik ke arah Prisil yang terlihat cemas sambil menggigit bibir bawahnya. "Saya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Prisil Om. Saya berniat melamarnya dalam waktu dekat ini. Apa Om Rizal menyetujuinya?" Ku beranikan diri menatap ke arah Om Rizal. Aku ingin terlihat sungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Om Rizal tersenyum lalu merangkul bahu Prisil. "Om tidak pernah melarang Prisil untuk dekat dengan siapapun. Om hanya berpesan agar bisa menjaga diri karena Om tau, di luar Om tidak bisa mengawasi Prisil. Om percaya apapun yang Prisil pilih pasti yang terbaik buat hidupnya kelak!" Jawaban Om Rizal membuatku menarik nafas lega. Aku tersenyum ke arah Prisil dan diapun membalasnya. Bulan Ramadhan yang penuh berkah. "Em...Om. Apa malam ini saya boleh mengajak Prisil keluar sebentar? Ada hal yang ingin saya sampaikan!" Om Rizal kembali tersenyum sambil mengusap-usap bahu Prisil. "Memangnya kamu mau di ajak Alif keluar?" Goda Om Rizal dengan menatap Prisil. "Iiiiiih Papi...!" Rengek Prisil sambil menenggelamkan wajahnya di d**a Om Rizal. "Ya udah kamu siap-siap sana!" "Tapi Pi...Papi kan baru pulang dari rumah sakit masa aku tinggalin di rumah sendirian?" "Papi mau istirahat Sil. Kamu keluar aja nggak apa. Papi baik-baik aja kok. Papi janji!" Prisil melepas pelukannya dan menatap Om Rizal. "Beneran?" Om Rizal mengangguk dan mengusap pucuk kepalanya. Prisil tersenyum lalu berpamitan untuk ganti baju. Selang 10 menit Prisil keluar dari kamar dan sudah rapi dengan kaos oblong dan celana jeansnya. "Om saya permisi dulu!". Pamitku sambil menjabat tangannya dan membawa Prisil keluar rumah. "Mau kemana sih?" Tanyanya setelah ia selesai memasang sabuk pengamannya. "Cuman pengen jalan berdua aja. Besok kan udah mulai puasa...jadi bertemunya juga harus di batasi!" "Oh iya ya aku lupa kalo besok udah mulai puasa!" Prisil terkekeh pelan. Aku sedikit heran? Dia lupa kalau besok puasa? Tapi biarlah. Mungkin dia terlalu sibuk sama Papinya yang sakit dan harus di rawat inap. Aku mulai menjalankan mobilku. Baru saja beberapa meter tapi hpku berdering. Bunda menelpon. "Ya Bun...!" "Alif kamu di mana. Kok jam segini belum pulang? Kamu nggak ikut tarawih?" Aku mengulum senyum mendengar celotehan Bunda. "Maaf Bun. Hari ini aku pulang telat. Aku ada keperluan!" Aku melirik ke arah Prisil dan di balas dengan senyuman manisnya. "Ya udah ati-ati kalo gitu. Bunda mau berangkat tarawih dulu!" "Iya Bun ati-ati ya!" Aku menutup sambungan dan kembali melajukan mobilku. Kami duduk berdampingan di sebuah bangku taman kota. Suara bilal di masjid terdengar bersahut-sahutan. Sayang sekali malam ini aku tak bisa ikut tarawih. Aku mengalihkan pnadanganku ke arah seorang wanita cantik yang kini duduk di sebelahku. Menatapnya lama. "Kok ngeliatnya sampe kayak gitu?" Protesnya. Aku menggeleng pelan dan memalingkan wajahku. "Sil...!" "Hem!" Aku kembali menatap ke arahnya. "Aku serius soal tadi!" Prisil terlihat mengernyitkan keningnya. "Soal yang mana?" "Soal aku ingin melamarmu!" Seketika Prisil memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia tidak menyukainya? "Sil...!" Panggilku pelan. Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arahku. "Apa kamu yakin?" Aku mengernyit lalu mengangguk. "Kenapa? Apa aku salah?" Prisil menggeleng. "Bukan itu maksud aku. Aku cuman nggak mau aja kamu salah pilih. Apalagi kita belum kenal lama!" Terlihat kekhawatiran di raut wajahnya. Aku meraih kedua tangannya dan menggenggam jemarinya. Pandangan mata kami saling bertemu. "Aku percaya. Kesalahan yang kamu lakukan kemarin itu adalah bagian dari rencanaNya. Dan akhirnya kita di pertemukan. Soal lamaran itu aku benar-benar serius. Secepatnya aku akan membawa Bunda ke rumah dan menemui Papi kamu!" Prisil menunduk. "Aku takut. Aku takut Tante Resi nggak setuju sama hubungan kita!" "Hei..kamu ngomong apa sih? Kamu kemarin udah liat reaksi Bunda kan. Bunda seneng banget waktu aku ngajak kamu ke rumahku. Aku yakin Bunda pasti akan dukung kita!" Prisil kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku sendu. "Aku nggak percaya semua ini terjadi. Aku membuat kesalahan dan kamu malah menolongku. Menyelamatkan hidup Papi--!" "Sssst!" Aku mengatupkan jari telunjukku ke bibir tipisnya. "Bukan aku yang menyelamatkan beliau. Kamu harus ingat itu. Bukan aku. Aku cuman menjadi perantara saja!" Prisil lalu tersenyum tapi air matanya malah berhambur keluar. Aku menyekanya tapi air matanya terus mengalir. "Kenapa, hm?" Prisil menggeleng pelan sambil tersenyum walaupun air matanya terus mengalir. "Aku cinta sama kamu Sil. Selamanya akan selalu cinta!" Prisil langsung memelukku dengan erat. Aku terdiam sejenak mendapatkan serangan seperti ini tapi tak lama kemudian aku membalasnya dengan mengelus kepalanya. "Love you too!" Ungkapnya pelan membuatku semakin mengeratkan pelukanku. Setelah agak lama berpelukan akupun melepaskan kaitan tanganku di pinggangnya. Prisil menyeka air matanya. "Pulang yuk udah malem. Aku kuatir sama Papi!" Aku mengangguk. Dia berdiri dari duduknya dan saat aku ingin beranjak dari tempat dudukku tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Sebuah benda berwarna putih metalik jatuh tepat di sebelahku. Aku meraihnya. Sebuah kalung perak berliontinkan salib. Aku tertegun menatapnya. Benda milik siapa ini? Mungkinkah.... "Sil...apa ini punya kamu?" Dengan sangat pelan aku mengangkat kalung itu dan liontin salib itu tergantung dengan jelas. Prisil berbalik dan tersenyum. Lalu meraih kalung itu. "Oh iya..makasih ya Lif!" Sahutnya lalu memasangkan kalung itu ke lehernya. Badanku terasa gemetar dan lututku lemas seketika. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari hal ini? Hal sangat penting dalam hidupku saat aku mulai menentukan pendamping hidupku? Tak hanya cantik tapi dia juga harus seiman. Kenapa aku sampai melupakan syarat utama itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD