JALAN TERBAIK 9

1912 Words
#Alifi . . . Aku melipat sajadahku. Hari kamis. Tanggal merah. Selesai shalat shubuh seperti biasa aku akan olahraga sebentar. "Lif. Mana katanya kamu mau bawa calon mantu ke rumah?". Aku selesai menali sepatuku dan bersiap untuk olahraga pagi. "Bentar ya Bun. Alif masih cari waktu yang tepat!" "Lama nggak nyarinya? Keburu di ambil orang looh!" Seloroh Bunda. Aku tersenyum kecil ke arah Bunda yang sedang menyandar di pintu ruang tamu. Kurenggangkan kedua tanganku. Melakukan pemanasan sedikit. "Insya Allah secepatnya Bun. Lagian nggak bakalan ada yang berani ngambil Bun. Udah Alif stempel kok!" "Surat kali di stempel!" Sahut Bunda. "Alif jalan dulu ya Bun. Mumpung masih pagi!" Pamitku. Bunda hanya mengangguk. Aku memulai olahraga ini dengan berlari kecil memutari komplek. Dengan headset di telingaku aku terus berlari. Lagu favoritku menjadi temanku pagi ini. Virgoun - surat cinta untuk starla. Rasanya pas sekali menemani olahragaku pagi ini. Lagu ini juga mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Selang setengah jam keringat mulai bercucuran. Aku membelokkan langkahku menuju rumah. Ku rasa pagi ini cukup. "Assalamualaikum...!" Teriakku. "Wa'alaikum salam. Kok cepet Lif. Biasanya jam segini belum pulang?" Bunda terlihat sibuk di dapur. Bau aroma masakannya langsung tercium di hidungku. Aku berjalan ke arah kulkas sambil mengelap keringatku dan meraih sebotol minuman dingin. "Hari ini mau keluar Bun. Mau ke rumah sakit!". Aku meneguknya dan rasanya plong. Segar. "Ada keluarga temen yang sakit!" Aku melangkah menuju meja makan dan merobohkan tubuhku di kursi kayu bercat coklat. "Ooh..tapi nggak lama kan?" "Kenapa emangnya Bun?" Bunda datang sambil membawa sepiring nasi goreng dan meletakkannya di meja makan. "Ada yang pengen ketemu sama kamu!" Ketemu? Siapa? "Siapa Bun?" Aku mengernyitkan keningku sambil memainkan botol minuman di tanganku. "Tante Wina tetangga baru kita!" Tetangga baru? Seorang tante? "Bunda mau aku ketemu sama Tante-Tante?" Tanyaku curiga. Apa tidak salah dengar? "Ngawur!" Sahut Bunda dengan telapak tangan di ayunkan ke arahku. "Anaknya Tante Wina cuantik Lif. Namanya Dinda!" Dinda. D-I-N-D-A. Siapa lagi? Apa Bunda berniat menjodohkanku lagi? Di lihat dari namanya sepertinya dia cewek gaul. Dinda. Aku mengulang namanya dalam hati. "Maksudnya Bunda apa?" "Selama janur kuning belum melengkung...semua milik umum kan?" Sahut Bunda sambil memainkan kedua alisnya naik turun. "Ya Allah Bun. Kan Alif udah bilang kalo Ali mau cari sendiri. Lagian Ali udah ada pilihan kok! Alif nggak mau ah...Bunda aja yang ketemu!". Aku lalu bangun dari dudukku dan berniat masuk ke kamar. Tapi suara Bunda membuat langkahku terhenti. "Mau sampe kapan janjiin Bunda terus Lif? Bunda nggak butuh janji tapi bukti!" Skakmat. Benar apa yang Bunda bilang. Aku menoleh ke arah Bunda yang sekarang sedang sibuk di meja makan. "Alif bakalan bawa dia kerumah hari ini Bun!". Setelah mengatakan itu aku langsung masuk ke kamar. Aku menyandarkan tubuhku di pintu. Ku tarik rambutku kuat-kuat. Apa yang harus aku lakukan? Apa bisa aku mengajak Prisil ke rumah sementara keadaan orang tuanya lemah? Aku lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi kasur. Kuraih hp yang berada di meja coklat sebelah tempat tidur. To : Prisil Sil...gimna keadaan beliau? Setelah berhasil terkirim aku masih menggenggam hpku. Sesekali melihatnya. Mengecek apa ada balasan darinya. Tapi hampir 20 menit tak ada tanda-tanda sms masuk ataupun panggilan telpon. Seketika perasaan ku tak enak. Aku bergegas mandi dan berniat langsung ke rumah sakit. Tunggu aku Prisil Sesampai di rumah sakit aku mendapati ruang ICU kosong. Prisil juga tidak ada di ruang tunggu. Apa mungkin.... Astaghfirullah...aku mengusap wajahku kasar. Aku tak mau berpikiran negatif sebelum melihat semuanya. Aku lalu melihat ada beberapa suster yang berjalan ke arahku. "Permisi Sus. Pasien yang kemarin di sini kemana ya?" Suster itu tampak berpikir sebentar. "Maksudnya Pak Rizal?" Aduuh. Aku lupa menanyakan namanya. "Em..maaf saya kurang tau namanya. Tapi beliau habis operasi paru-paru Sus!" "Oooh beliau sudah di pindahkan ke kamar pasien Pak. Ruang Azzahra no 10. Koridor ini Bapak lurus saja nanti belok kiri ya Pak!" "Oh iya terima kasih banyak Sus!" Suster itu tersenyum sambil mengangguk. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ruangan yang di tunjuk oleh Suster tadi. Dan akhirnya aku menemukannya. Pelan ku buka pintu kamar. Pemandangan pertama yang ku lihat adalah deretan beberapa ranjang yang masing-masing ranjangnya ditempati pasien-pasien rumah sakit. Aku mengernyit saat mendapati Prilly sedang duduk di tepi brankar. Wajahnya sedikit cerah. Rupanya ia belum sadar kedatanganku. Dengan langkah pelan aku menghampirinya. "Sil...!" Sapaku pelan. Seketika ia mendongak dan menatapku. Dalam beberapa detik ia sudah ada dalam pelukanku. Memelukku sangat erat dan menangis. Aku reflek mengusap kepalanya pelan dan mencium pucuk kepalanya. "Terima kasih. Terima kasih!" Hanya itu kata-kata yang bisa aku dengar. Aku kembali mengusap kepalanya dan menciumnya lebih lama. Setelah agak tenang dia melepaskan pelukannya dan menyusut air matanya. "Terima kasih. Berkat kamu, Papiku sudah sadar!" Aku tersenyum mendengarnya. "Iya sama-sama. Bukan aku yang menolong Papimu tapi Dia!" Jelasku sambil mengangkat jari telunjukku ke atas. Prilly kembali tersenyum. "Siapa Sil...?" Aku dan Prisil menoleh saat mendengar suara lemah itu. Prisil langsung mendekat kearahnya dan mengelus lengannya. "Pi. Kenalin ini namanya Alif. Alif ini Papi aku!" Ucap Prilly sambil menoleh ke arahku. Aku mengangguk ke arah beliau. "Dia yang nanggung semua biaya operasi Papi kemarin!" "Udahlah Sil. Soal itu nggak usah di bahas!" Selaku. "Terima kasih nak Alif..! Om Rizal sangat berhutang kepadamu!" Ucap beliau dengan suara seraknya. "Tidak perlu berkata begitu Om. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Tolong jangan pernah bilang bahwa Om berhutang kepada saya!" Jawabku tulus. Setulus niatku ingin melamar Prisil secepatnya. Asseeeek... "Terima kasih Nak Alif. Om sangat bersyukur bisa mengenal orang sebaik kamu!" Aku menangguk dan tersenyum. Sepertinya Allah memberiku jalan. Dengan membaiknya keadaan orang tua Prisil maka niatku untuk membawa Prisil ke rumah semakin mantab. "Em..Om. Sebelumnya maaf kalau saya lancang. Saya ingin mengajak Prisil ke rumah saya. Ingin mengenalkan kepada orang tua saya. Apakah boleh?" Aku mengatakan itu dengan nada pelan sebisa mungkin. Terkesan mendadak dan to the point. Aku tidak jago dalam berbasa-basi. Mendengar hal itu Prisil malah menghadiahiku sebuah cubitan di lengan kiriku. "Aaaw!" Pekikku sambil mengelus lenganku. "Tolong jangan memanfaatkan keadaan!" Bisiknya. "Om tidak akan melarang. Tolong jaga dia ya!" Prisil langsung mendelik ke arah Papinya. Dalam hati aku bersorak ria. Akhirnya aku bisa membawanya ke rumah. "Oh iya Om. Satu lagi!". Aku sempat melirik ke arah Prisil sebentar yang memasang tampang cemberut. "Saya akan meminta Dokter untuk memindahkan Om ke ruangan khusus...!" "Maksudnya?" Sela Om Rizal cepat. "Saya hanya menginginkan perawatan yang terbaik untuk Om!" Seketika wajah Om Rizal tersenyum. "Terima kasih Nak Alif. Entah dengan cara apa Om bisa membalasnya!" Balas dengan menikahkan Prisil dengan saya Om. Aku hanya bisa membatin. Setelah perbincangan yang singkat itu aku langsung mengajak Prisil pulang. Ke rumahku. Sementara Om Rizal langsung di tangani dan di proses untuk segera pindah ke ruang VVIP. "Apa nggak terlalu cepat Lif?" Tanyanya khawatir begitu mobilku sampai di rumah. Prisil tampak cemas. Sesekali ia melirik ke arah rumahku. Ia meremas ujung bajunya sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. "Tenang aja. Bundaku baik kok. Ayo!". Aku langsung turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Prisil masih terdiam di tempatnya. Ia masih melihat ke arah rumahku dengan takut-takut. Akhirnya aku langsung menarik tangannya, menggenggam jemarinya yang terasa dingin. "Aku takut Lif. Nanti Bunda kamu curiga gimana kalo kita cuman pura-pura?" Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku. "Rileks ya. Semua serahin ke aku!" Prisil diam. Kedua alisnya bertautan. Ekspresi wajahnya benar-benar sedang memperlihatkan ketakutan. "Ass---!" "Looh Alif...kamu udah pulang?" Baru saja aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu tapi sudah di sambut oleh Bunda. Ku lihat Bunda sedang duduk dengan seorang wanita seusianya. Mungkin itu yang namanya Tante Wina. "Iya Bun. Alif bawa calon mantu!" Jawabku. Seketika raut wajah Bunda berubah cerah. Tapi tidak dengan seorang wanita yang duduk di sebelahnya. "Jadi dia orangnya?" Sahut Bunda sambil berdiri dan menghampiri kami. "Cantik. Ayo duduk!". Aku menuntun Prisil untuk duduk dan aku duduk di sebelahnya. "Permisi ya jeng. Sepertinya saya menganggu!" Sela seorang wanita menampilkan wajah masamnya. Dia lalu meraih tasnya dan berdiri. "Loooh kan Jeng Wina baru datang. Kita ngobrol di belakang yuk!" Ajak Bunda sambil menggandeng lengan Tante Wina. Dengan pelan Tante Wina menepisnya. "Maaf ya Jeng Resi. Lain kali saja!". Wanita itu langsung pergi meninggalkan rumah kami. Bunda mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Bun...!" Panggilku. Bunda menoleh dan tersenyum ke arahku. Lalu duduk di tempatnya semula. "Ini namanya Prisil!" "Prisil Tante!" Prisil menyodorkan tangannya ke arah Bunda dan Bunda menyambutnya. Ku kira Prisil akan mencium tangan Bunda tapi nyatanya tidak. Tak apa mungkin untuk pertama kalinya tidak tapi besoknya pasti ada perubahan. "Nama yang cantik ya seperti orangnya. Kamu pinter ya Lif pilih calon istri. Bening gini!" Cerocos Bunda membuat pipi Prisil bersemu merah. "Bun...udah ah. Lihat tuh muka Prisil sampe merah gitu!" Timpalku dan malah mendapatkan pukulan mesra di pahaku. "Kalian udah lama ya kenalnya?" "Sebulan Bun!" Selaku. Prisil langsung menatapku. "Kenapa baru di kenalin sama Bunda? Kan tau gitu bisa Bunda ajak shopping Lif!" "Ya kan Alif bilang nunggu waktu yang tepat Bun!" Prisil hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. "Kamu kerja di mana sayang?" Hening. Kami saling bertatapan sebentar. Aku sama sekali tidak pernah kepikiran Bunda akan menanyakan soal ini. "Di minimarket Tante. Hanya pegawai kasir!" Jawabnya lembut. "Ooh...nggak apa kerjaan apapun yang penting halal!" Huuft. Aku bernafas lega. Ku kira Bunda akan mempermasalahkan soal pekerjaannya. "Masih kenal sebulan jadi masih masa penjajakan ya---!" "Alif mau nglamar Prisil Bun!" Selaku. Bunda dan Prisil langsung menatap kearahku. Keduanya terlihat kompak. Aku hanya tersenyum ke arah Prisil. "Kan perjanjiannya gak pake acara lamaran!" Bisiknya. "Udah tenang aja!" Jawabku dengan berbisik juga ke arahnya. "Nggak mau ah...nanti di kiranya aku hamil!" "Bagus. Lebih cepat lebih baik. Langsung nikah!" "Ehem!" Aku dan Prisil sedikit terlonjak dan langsung menyadari jika Bunda masih di depan kami. "Kamu serius Lif?" Bunda menanyakan dengan nada yang berbeda. Aku langsung meraih pundak Prisil dan merangkulnya dengan erat. "Serius lahir batin Bun. Alif cuman mau nikah sama Prisil!" Berkali-kali Prisil terlihat menarik nafasnya dengan pelan dan membuangnya. Lalu kembali sampai terjadi berulang kali. Kami berada di dalam mobil. Aku membawanya ke sebuah taman yang tidak jauh dari area rumah sakit. "Kamu bikin aku sesak nafas!" Ucapnya pelan. Aku terkekeh mendengarnya. Tanganku spontan terulur dan mengusap kepalanya. "Tinggal ngomong sama calon Papi mertua trus beres!" Prisil seketika menatapku tajam. "Kamu sadar apa yang kamu omongin barusan?" Aku mengangguk pelan. Memang salah ya mengajak orang menikah? Yang pasti dia cewek tulen kan? "Tapi kan kamu bilangnya cuman pacar pura-pura...kenapa malah jadi kayak gini sih?" "Jadi kamu kira aku nggak serius soal tadi?" "Maksudnya?" Aku meraih kedua pundaknya. Ku tatap manik matanya. "Sil...aku beneran sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu dan aku mau menikah sama kamu!" Prisil terdiam. Tubuhnya menegang dan mulutnya menganga. "Aku nggak mau kita hanya pura-pura. Aku maunya kamu jadi istriku. Jadi pendamping hidupku!" Prisil tersadar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar. "Aku nggak yakin...aku nggak yakin bisa Lif!" Kuraih dagunya agar kembali menatapku. "Tapi aku yakin Sil. Aku yakin kalo kamu jodohku. Sejak kejadian itu aku sebenarnya mulai menyukaimu. Mungkin ini sebagian rencanaNya. Mempertemukan kita lewat kejadian itu!" Prisil masih terdiam. Sepertinya ia masih meragukanku. Ku alihkan tanganku menangkup kedua pipinya dan ku dekatkan wajahku. Tanpa ada keraguan aku menciumnya. Tak ada penolakan darinya. Aku bisa merasakan bibir tipisnya yang manis. Suara khas orang berciuman terdengar di telingaku dan aktifitas kami terhenti saat aku menyadari ini adalah kesalahan. "Astaghfirullahal adziiim..!" Aku mengusap wajahku setelah ciuman kami terlepas. Ku lihat Prisil menundukkan wajahnya. "Maaf...tadi itu---!" Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku tapi seseorang sudah memelukku sangat erat. Tangan kecilnya melingkar di leherku. Akupun tersenyum. Indahnya cinta yang terbalas...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD