JALAN TERBAIK 8

1913 Words
#Prisil . . . Baru kali ini aku masuk ke dalam kantor seorang CEO. Dan ternyata ruangannya sangat besar. Dia tersenyum menyambut kedatanganku dan meraih lenganku. Mengajakku duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerjanya. "Jadi dia penyebabnya!" Aku menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki dengan memakai setelan jas abu-abu berdiri di depan meja Pak Alif. Aku tak tau itu siapa. Dia sepertinya masih muda dan umurnya jauh di bawah Pak Alif. "Itu namanya Leo. Sekretarisku!" Aku tersenyum sambil mengangguk ke arahnya. "Pacarnya bos ya?" Celetuknya. Aku langsung menoleh ke arah Pak Alif dan langsung di angguki olehnya. "Iyain aja!" Bisiknya di telinga kiriku. "Main bisik-bisikan gitu. Elaaaah...gue di anggurin!" "Le...!" Panggil Pak Alif sedikit menajamkan tatapan matanya. Laki-laki yang bernama Leo tadi hanya menggaruk tengkuknya lalu melangkah keluar ruangan. Sebelum tubuhnya benar-benar menghilang ia sempat menyembulkan kepalanya. "Boz. Satu jam lagi meeting!" Plok! Pak Alif menepuk jidatnya. "Aduuuh. Gue lupa. Batalin semua jadwal gue hari ini Le!" Leo yang mendapat titah dari Pak Alif malah melongo di buatnya. "Hah? Pak Boz. Ini meeting penting loh. Main batalin aja...!" "Gampang. Nanti gue atur ulang jadwal ketemu sama mereka!" Leo hanya berdecak pelan lalu menghilang dari balik pintu. Pintu ruangan tertutup. Kini tinggal aku dan Pak Alif di dalam ruangan yang sangat besar ini. "Ada apa Sil? Kok nggak sms dulu kalo mau kesini?" "Maaf Pak-- eh Alif. Gara-gara aku kesini kamu jadi batalin meeting kamu!" Kataku pelan. Aku benar-benar merasa menjadi pengganggu untuk saat ini. Sekretarisnya bilang meeting ini sangat penting. "Aku pulang aja deh. Kamu kan mau meeting!" Baru saja aku hendak pergi tapi tanganku di cekal olehnya. "Tunggu Sil!" Katanya sambil melepas tanganku dari cengkramannya. "Aku sama sekali nggak terganggu kok. Aku malah seneng kamu mau main ke sini!" Keningku langsung mengernyit mendengar ucapannya. Apa tadi? Aku gak salah dengar kan? Pak Alif seneng kalo aku ke sini? Apa sebenarnya dia juga suka sama aku? "Jadi...ada apa kamu kesini?" Aku mencoba menenangkan degup jantungku dan memulai mengutarakan maksud kedatanganku. "Sebelumnya aku minta maaf. Tapi apa yang kamu berikan itu sangat berlebihan. Maaf aku tidak bisa menerimanya!" Jelasku dengan pandangan tertunduk. Pak Alif terdengar berdehem kecil sebelum membalas ucapanku. Ia lalu memegang kedua pundakku. Membuat kepalaku mendongak dan menatap manik matanya. "Berikan alasan kenapa kamu menolaknya!" Aku mengalihkan pandanganku. Mencari alasan yang tepat. "Em...itu terlalu mewah!" Keningnya langsung mengernyit. Dia tertawa lalu melepas tangannya dari kedua pundakku. "Apa yang sudah aku berikan gak mungkin aku ambil kembali Sil. Aku ikhlas kok!" "Tapi Lif...aku...aku nggak bisa!" "Kenapa? Kamu nggak suka?" Aku menggeleng. Aku bukannya tidak suka tapi aku merasa sangat beruntung mendapatkannya. "Aku nggak enak aja sama kamu. Aku ini bukan siapa-siapa kamu jadi nggak seharusnya kamu membelikanku barang yang mahal seperti itu. Aku nggak bisa!" Aku menunduk lemas. Pak Alif kembali meraih kedua pundakku. Pandangan kami kembali bertemu. "Kita nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Saat ini kita memang bukan siapa-siapa tapi entah untuk esok dan seterusnya!" Entah kenapa air mataku tiba-tiba meleleh mendengar penjelasannya. Dia menggerakkan kedua jempolnya dan mengusap kedua pipiku yang basah oleh air mata dan perlahan ia mendekatkan wajahnya. Mengecup keningku lama membuat mataku terpejam. Damai. Nyaman. Sampai ciuman itu terlepas mataku masih terpejam. "Maaf. Aku udah lancang!" Mataku terbuka saat mendengar suaranya. Tangannya sudah terlepas dan dia menundukkan kepalanya. Aku tersenyum sambil menggeleng pelan. "Terima kasih untuk semuanya. Entah dengan cara apa aku bisa membalasnya!" "Tak perlu!" Potongnya cepat. "Aku tak mengharapkan apapun atas pemberianku. Aku ikhlas. Aku hanya ingin membantumu tanpa ada niatan menghinamu!" Aku kembali tersenyum. Tak salah jika aku mencintainya. Dia benar-benar sempurna di mataku. Biarlah walaupun hanya cinta sepihak tapi itu cukup buatku. "Kalo gitu aku pamit pulang ya!" "Hah..gitu aja?" Aku mengernyit mendengar pertanyaannya. Memangnya mau ngapain lagi? Tujuanku hanya membahas soal kejutan yang dia berikan. "Oh iya. Plat nomernya belum keluar. Nanti aku minta data kamu ya!" "Hah? Untuk apa?" "Kan itu motor kamu. Jadi STNK atas nama kamu!" Ya Tuhan...mimpi apa aku? Ternyata dia serius dengan kata-katanya. Mungkin baginya harga motor itu tidak seberapa tapi untukku.... itu di luar kemampuanku. Aku mengangguk pelan lalu berniat berpamitan. "Tunggu!" Katanya sambil meraih tanganku. Aku menatap tanganku yang berada dalam genggamannya. "Em...masuk siang kan?" Aku mengangguk. "Ya udah ikut aku!" Ajaknya sambil menarikku keluar dari ruangannya. Langkah Pak Alif terhenti saat sampai di depan pintu bercat putih. Ia membukanya dan melongokkan kepalanya ke dalam. "Le..gue keluar bentar ya. Lo handle semua pekerjaan di sini!" "Bentar lo itu sampe jam berapa bos?" "Ck. Bentar doank. Udah nggak usah bawel!" Pak Alif kembali menarik tanganku. Melewati meja Melani dan masuk ke dalam lift khusus untuknya. Di dalam ruangan kotak silver ini kami terdiam dan tak tau kenapa genggaman tangan kami tidak terlepas. Aku sadar tapi aku membiarkannya. Mungkin ini juga salah satu tugasku. Berakting menjadi pacarnya. Pak Alif membawaku keluar kantor. Di depan sudah ada sebuah mobil menunggu kami. Aku di persilahkan masuk dan di ikuti Pak Alif yang duduk di sebelahku. Kami duduk berdampingan di jok belakang. Perlahan mobil mulai berjalan dan meninggalkan area kantor. "Kita kemana? Kamu nggak akan nyulik aku kan? Aku nggak punya apa-apa loh!" Celetukku. Terdengar konyol tapi wajar kan jika aku berpikiran negatif. Dia laki-laki yang belum genap seminggu aku mengenalnya. Walaupun setiap 3x seminggu aku melihatnya. Pak Alif tertawa. Biarkanlah. Wajar jika ia menertawakanku. "Aku nggak akan nyulik kamu tapi akan membunuhmu!" Aku mendelik ke arahnya. Dia juga balik menatapku dengan tatapan dinginnya. Darahku seketika membeku. Apa aku akan menjadi korban p*******n dan pembunuhan? Ya Tuhan tolong aku. Aku terus merapal doa dalam hati. Sesekali aku menelan ludahku dengan susah payah. Pak Alif kembali tertawa. Kali ini lebih keras. "Kan aku udah bilang. Jangan pernah menilai orang dari covernya. Aku nggak mungkinlah nyulik kamu. Ada-ada aja!" Aku meringis mendengar jawabannya. Aku menghela nafas pelan. Gimana sih aku ini? Jelas-jelas dia orang baik. Masa mau menculikku? Untuk apa juga menculik anak orang miskin sepertiku? Saat aku tengah asik dengan lamunanku tiba-tiba hpku berbunyi. Dari nomer tidak di kenal. Aku bingung mau mengangkatnya atau tidak. Akhirnya dengan nada pelan aku menyapanya. "Halo...!" Sapaku sangat lirih. "Prisil? Ini saya Dokter Arka!" "Iya Dok ada apa ya?" Dokter Arka yang menangani penyakit Papi. Perasaanku mulai tak menentu. Ini pasti ada hubungannya sama Papi. "Papimu masuk rumah sakit. Penyakitnya kambuh. Tadi beliau pingsan untung ada tetangga yang melihat!" Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Tetesan air mataku mengalir begitu saja. Bahkan hp di tanganku sudah terjatuh ke pangkuanku. Telingaku berdenging kuat. "......Sil. Pris......!" "...Sil. Prisil!" Samar-samar aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Aku tersentak dan mendapati tangan Pak Alif sudah memegang kedua pundakku. Tanpa bisa berkata apa-apa aku langsung menghambur ke pelukannya. Saat ini aku butuh sandaran. Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit. Sementara Pak Alif masih mengikutiku dari belakang. Aku mencari dimana Papi di rawat. Setelah menemukannya aku menghentikan langkahku. Papi berada di ruang ICU dengan beberapa selang menempel di tubuhnya. Kakiku lemas. Hampir saja aku ambruk ke lantai. Tapi Pak Alif menopang tubuhku. Aku kembali menangis ke dalam pelukannya. "Sabar ya Sil. Semuanya akan baik-baik aja!" Ucapnya pelan sambil mengusap punggungku. Aku semakin terisak. Aku tak tau apa yang terjadi dengan Papi sampai Papi seperti ini. "Prisil...bisa ikut saya!" Titah Dokter Arka membuatku melepas kaitan tanganku di pinggang Pak Alif. Aku mengusap pipiku dan mengangguk. Aku mengikuti langkah Dokter Arka menuju ruangannya. Dokter Arka duduk di kursinya dan aku duduk di depan mejanya. Pak Alif lalu duduk di sebelahku. Aku menoleh ke arahnya sebentar. Sebenarnya dia tak perlu mengikutiku tapi biarlah. Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari Dokter Arka dan semoga Papi baik-baik saja. "Gimana Dok keadaan Papi saya?" Aku sudah tidak sabar menanyakan keadaan beliau. "Harus segera di lakukan tindakan Sil. Jalan satu-satunya hanya operasi. Cairan di dalam paru-paru beliau sudah sangat banyak dan semakin mengental. Kalau tidak segera di tangani dampaknya akan buruk!" "Apa hanya dengan operasi Papi saya bisa sembuh?" Tanyaku lagi. Dokter Arka mengambil nafas pelan dan menghembuskannya dengan cepat. "Sebenarnya operasi juga tidak menjamin keselamatan beliau. Tapi minimal bisa memperpanjang umur beliau!" Air mataku lolos lagi. Berarti apapun langkahku akan sama pada akhirnya. Papi akan pergi juga dari hidupku. "Berapa biaya operasinya Dok?" Tanyaku lirih. "Biayanya lumayan besar Sil. Tapi sebelumnya saya membutuhkan beberapa kantong darah untuk persediaan--!" "Ambil darah saya saja Dok. Ambil sebanyak-banyaknya asalkan Papi saya bisa selamat!" Selaku lagi. "Masalahnya kami juga harus melihat keadaan pendonor apakah memungkinkan untuk mendonorkan darahnya!" Aku terdiam menunduk. Air mataku terus mengalir. Bagaimana kalau aku tidak bisa mendonorkan darahku untuk Papi? Apa yang harus aku lakukan? Dan aku bisa mendapatkan uang dari mana untuk operasi Papi. "Lakukan saja Dokter. Berapapun biayanya saya yang menanggung. Untuk darah tolong usahakan cari secepatnya. Kalau perlu saya akan mengerahkan orang saya untuk mencari darah yang sesuai untuk beliau..!" Aku terperangah mendengar ucapan Pak Alif. Apa yang dia lakukan? Menanggung biaya operasi Papi. "A-Alif...maksudnya...?" Pak Alif malah tersenyum lembut ke arahku dan mengusap pelan kepalaku. Nyaman itu kembali menghampiriku. "Baiklah. Tolong tanda tangani berkas ini sebagai tanda bahwa anda menyetujui operasi ini. Dan apapun resikonya kita serahkan sama Yang Kuasa. Karena hanya Dia yang bisa berkehendak...kita hanya berusaha!" Jelas Dokter Arka sambil menyerahkan kearahku selembar kertas yang entah apa isinya. Aku sama sekali tidak bisa konsen membacanya dan tanpa pikir panjang lagi aku menandatangani berkas itu. Semoga ini yang terbaik. Dan terima kasih untuk Pak Alif. Ah... tidak. Itu tidak cukup. Lalu dengan cara apa aku harus membayarnya? "Sebenarnya kamu tidak perlu melakukannya. Aku...aku...!" Aku menghentikan kalimatku. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hari ini aku menunggu Papi yang sedang menjalani operasinya. Entah untuk berapa hari aku ijin tidak masuk kerja dan pastinya akan berdampak buruk terhadap gajiku bulan ini. "Soal itu nggak usah di pikirin Sil. Aku cuman mau bantu kamu tanpa ada niatan menuntut balas!" "Lalu atas dasar apa kamu mau membantuku? Aku tau..sejak kamu bertemu denganku..kamu banyak mengalami hal di luar keinginanmu. Termasuk membiayai operasi Papi!" "Itu tak seberapa untukku. Materi itu hanya titipan. Cepat atau lambat Dia pasti akan mengambilnya!" Aku mengangguk, membenarkan kata-katanya. Tapi aku masih ragu. Sebenarnya kenapa dia mau membantuku sampai sejauh ini. Bahkan dia juga rela membelikanku motor untuk mempermudah aku berangkat ke tempat kerja. "Terima kasih. Aku tau itu tidak cukup. Tapi aku benar-benar tulus mengucapkan itu!". Aku menghela nafas berat. "Suatu saat nanti aku bakalan balikin uang itu!" Aku tersenyum ke arahnya tapi Pak Alif malah menggeleng. "Nggak perlu Sil. Aku ikhlas kok. Asalkan beliau bisa sembuh. Nggak usah bahas itu lagi ya?" Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku. Beruntungnya aku. Tapi apa keberuntungan ini akan terus berpihak kepadaku? Operasi Papi berjalan lancar tapi Papi masih belum bisa di jenguk. Beliau di tempatkan di ruang ICU. Sungguh miris melihat keadaanya pasca oprasi tersebut. Bayangkan, selang pernapasan dimasukkan ketubuhnya lewat mulut. Kemudian selang tersebut disambung ke mesin bantuan pernapasan atau mesin pemacu jantung. Belum lagi selang model suntik penyedot pleura yang ditancapkan sebelumnya diparu-paru kanan Papi yang disambungkan ke tabung ET. Jarum infus, selang oksigen, selang pencucian darah pasca oprasi yang disuntikkan dibagian d**a bekas oprasi. Alat pendeteksi denyut nadi. Mesin pendeteksi jantung. Sempurnalah penyiksaan secara halus tersebut di ruang ICU. Aku mencoba membayangkan bila aku berada di posisi itu. Apalagi dalam keadaan telanjang dengan ditutupi selimut rumahsakit. Mana udaranya dingin. Alias ber AC. Aku hanya bisa menatap Papi dari kejauhan. Hatiku terasa ngilu. Berharap akan ada keajaiban yang datang. Aku menangkupkan kedua tanganku sambil memejamkan mataku. Berdoa dan terus berdoa. Meminta kepadaNya untuk kesembuhan Papi. Setelah selesai dengan permohonanku aku meraih kalungku dan mengecupnya dengan sangat lama. Tuhan. Jaga dia untukku. Amiin...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD