9 | Dicemburui Itu Enggak Enak

1304 Words
  Hal ter-bullshit yang aku lakukan adalah duduk manis di meja makan dapur Bu Mala. Dua orang perempuan beda usia, sesama memakai penutup rambut hingga d**a masak berdua. Aku hanya melihat mereka karena tidak tahu harus mengerjakan apa. Plus larangan Bunda yang katanya aku mending duduk saja. Pekerjaan hampir selesai karena sejak tadi siang dibantu Sayla. Hebatnya lagi, Bunda memasak makanan kesukaan Sayla juga. Pergi ke depan bertemu Ergi, mengajak ngobrol pun hanya sia-sia. Dia mendiamkanku sejak aku tiba. Pura-pura bicara dengan Yogi, yang artinya dia lebih suka ngomong sendiri dibandingkan denganku. “Kue yang Ayla bawa, Bunda simpan untuk besok, ya. Kita tidak boleh berlebih-lebihan. Tadi Sayla juga sudah buat kue.” Jadi, Bunda lebih memilih kue dari Sayla. Karena dia sendiri yang membuat? “Ulang tahun Bunda yang keberapa? Aku ragu-ragu mau beli lilinnya, jadi cuma beli yang kecil-kecil.” Bunda tersenyum lembut, “Empat puluh dua. Nggak apa-apalah tidak pakai lilin segala. Bunda mah sudah tua, nggak semestinya dirayakan segala. Makan malam ini hanya kebiasaan yang sudah Bunda lakukan untuk setiap orang di rumah ini yang sedang berulang tahun. Cuman seadanya, yang penting kebersamaan.” Kebersamaan? Seperti apa sih?  Pesta ulang tahunku dan Sayla selalu dirayakan besar-besaran, mengundang banyak teman. Namun, pesta itu tidak terasa hangat seperti kilau yang terpancar di mata Bunda Mala. “Kapan ulang tahunnya kalian?” tanya Bunda Mala, melihat ke arah Sayla yang sedang mengaduk sesuatu di kompor. “Tujuh Mei, Bunda.” Aku lebih dulu  menjawab Bunda sebelum Sayla. “Bunda ingin melakukan hal yang sama untuk Ayla, boleh? Kata Ergi biasanya ulang tahun kalian diadakan secara meriah oleh papa kalian. Pagi atau besoknya boleh Bunda masak untuk Ay dan Sayla?” tanya Bunda dengan lembut. Tapi, kenapa harus dengan Sayla juga? “Tidak perlu Bunda,” tolakku. “Ide yang bagus, Bunda,” sela Sayla setelah mematikan kompor. “Ayla, kamu keluarganya Bunda. Perlakuan yang samakan, Bunda?” Kedua sudut bibir Bunda tertarik membentuk bulan sabit dan menepuk ringan pundak Sayla. “Kamu juga keluarga Bunda. Apalagi ulang tahun si kembar sama, kamu harus ikut juga,  Sayla.” Ketika kuperhatikan, senyuman Sayla tak sampai ke matanya. Seolah apa yang dia lakukan—tersenyum—hanyalah kewajiban terhadap sikap baik Bunda Mala. Dia bukan Sayla. Sayla biasanya tampak tulus. Kali ini dia terlihat terpaksa. Tak mungkin dia tidak suka dengan rencana Bunda. Dia bahkan sangat antusias jika didengar dari suaranya. Bagaimana menjelaskannya? Sayla sepertinya memiliki sesuatu yang dia sembunyikan lewat senyumannya. Dia lantas masuk ke kamar mandi yang terletak di sebelah lemari pendingin. “Aku numpang kamar mandi juga, Bunda.” Bunda mengangguk. “Mau ke mana?” “Kamar mandi depan.” “Oh, iya.” Namun, setiba di sana aku menjerit sangat kuat melihat Yogi tak memakai celana sedang berdiri di ruangan yang kutuju. Ya ampun! Kotor sudah mataku oleh penampakan tak senonoh itu. Remaja tinggi itu sama sekali tidak merasa bersalah. Dia membuka bajunya lalu mencampakkan sembarangan di lantai yang basah. Pemuda tujuh belas tahun itu sudah tak memakai sehelai benang pun. Mataku ditutup oleh kedua telapak tangan milik seseorang. Aku diarahkan oleh si pelaku ke kiri. Setelah dia membuka mataku, ternyata kami sudah berada di kamar yang dulu pernah kutempati. Yang menyelamatkanku dari pemandangan tadi ternyata Ergi.  Dia membuka sebuah pintu yang ternyata sebuah kamar mandi juga. “Maaf, Ay. Aku tadi tidak sempat menutup pintu kamar mandi Yogi sebelum menerima telepon. Harusnya kamu langsung ke sini saja, Ay. Kamar mandi di dalam kamar ini punya kita. Yogi nggak pernah masuk ke mari.” Aku menarik napas panjang. “Gue nggak akan kena sialkan lihat o***g?” Ergi mengusap puncak kepalaku. “Maaf. Aku akan lebih hati-hati menjaga Yogi kalau kamu lagi di sini.” Udara terasa panas secara tiba-tiba. Aku buru-buru meninggalkan Ergi dan menutup pintu berwarna biru.     Aku berkali-kali mengomeli mata dan hatiku yang aneh malam ini. Sejak duduk di bangku meja makan, mengelilingi masakan Bunda bersama Sayla yang kelihatan lezat, aku selalu mencuri lihat kepada Sayla. Kenapa dengan gadisnya Pak Hadi itu? Sayla tadi hampir saja menumpahkan semangkuk sop ayam akibat melamun. Untung tangan Ergi sangat cepat menahan mangkuk panas tersebut. Sayla tersenyum tipis dan terima kasih kepada Ergi pelan. Hingga sehabis acara selesai, Sayla mencuci piring dan membuat kaget seluruh isi rumah. Peralatan makan yang terbuat dari beling terjatuh ke lantai dan menciptakan kegaduhan. Lagi Ergi sigap menarik tangan Sayla dengan hati-hati, menghindari pecahan-pecahan. Aku memperhatikan Sayla. Keadaannya tidak baik-baik saja. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Masalah apa yang tengah dia hadapi? Namun, sikap Ergi yang begitu peduli kepadanya mengusikku. Apa yang telah kulewatkan di sini? “Sayla pulang, Bunda. Sudah makin malam. Maaf ya, Bunda, sudah membuat rumah Bunda berantakan. Sayla bisa membersihkannya sebelum pergi.” Bunda melarang Sayla melakukannya. Kata Bunda, biar Bunda saja. Aku pun tidak mengajukan diri untuk kesalahan yang dilakukan Sayla. Rugi. Kenapa aku yang harus repot-repot memungut beling itu?  Bunda sih keterlaluan baiknya. Seharusnya dia biarkan saja Sayla yang membereskan. “Benar kamu nggak mau menginap di sini saja?” Sayla menggeleng keras kepala. “Ergi yang antar, ya?” tawar Bunda. Sayla tercengang kemudian menggeleng. “Sayla bawa mobil sendiri.” “Mobilnya besok saja diantar Ergi saat ke kantor. Kamu diantar Ergi, Bunda nggak izinkan kamu menyetir sendirian.” “Gue yang bawa mobil lo nanti. Gue pinjem ke kosan. Lo ambil besok di rumah kos gue.” “Kamu nggak ke mana-mana malam ini, Ay. Kamu menginap di rumah ini.” Kalimat dari Ergi membuat Sayla berkedip-kedip. Dia memaksa senyumannya. “Kalau begitu aku pamit, ya, semuanya.” “Ergi, itu Sayla pulang sendirian—” Ucapan Bunda terputus begitu saja setelah melirik Ergi. Bunda menatapku. “Ayla, malam ini di sini, ya.” Bunda Mala merangkul bahuku ke dalam. “Terima kasih ya, Nak, sudah mau datang. Maafkan Bunda.” Bunda memelukku. “Maaf untuk apa, Bunda?” “Sudah membuat kamu merasa tidak nyaman. “ “Nggak ...  Ay nggak apa-apa, Bunda.” Apa karena aku melihat Yogi t*******g? “Bunda akan makan kue dari Ay besok. Khusus dari Ay, nggak boleh dicampur dengan makanan lain di perut Bunda.” “Tapi ... kuenya bukan Ay yang bikin.” “Yang penting siapa yang membawanya untuk Bunda. Menantu kesayangan Bunda. Bunda senang kamu mau  menginap di sini,  Sayang.”     Aku berbalik-balik ke kanan dan kiri di tempat tidur. Ada apa dengan Sayla? Dia suka Ergi bahkan masih cinta. Aku tahu itu sejak sebelum pernikahan. Dia sendiri yang bodoh tak mau menyambar tawaranku. Sekarang dia hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Padahal Ergi juga suka kepadanya. Dilihat dari perhatian Ergi sepanjang yang kuamati. “Kenapa kamu nggak mengantar Sayla tadi? Memang dekat sih dari sini, tapi waktu itu kamu bilang perempuan nggak aman menyetir sendirian malam-malam. Kamu menahan aku tidur di sini, ingat nggak malam itu? Sayla juga mau kok kelihatannya kalau kamu paksa antar dia pulang. Lagian dia sepertinya punya masalah gitu, Gi. Dia sering melamun.” “Itu kamu tahu, rumah Papa dekat dari sini.” “Ya, nggak enak sama Sayla. Bunda juga tiba-tiba diam aja dan membiarkan Sayla pulang sendirian.” “Karena Bunda sama pemikirannya denganku. Rumah ini rumahmu dan bukan kamu yang harus pergi,” kata Ergi. Dia bergeser ke sisiku hingga tak berjarak sedikit pun dariku. “Boleh peluk kamu?” Aku berjengit dan otomatis beringsut menjauh. “Waktu itu aku nggak bohong. Aku rindu kamu, Ay.” Kutelan air ludahku seperti orang sekarat. Berat.  “Lo serius? Emang bisa kangen sama gue?” Ergi langsung menarikku hingga duduk lalu melingkarkan tangan ke tubuhku. “Maaf tadi, ya. Aku sedang kesal karena kamu diantar Arya. Jadi bersikap nggak baik ke kamu. Diam aja waktu kamu tiba sampai kejadian di kamar mandi.” “Gue mau ke sini sama siapa? Lo sih ninggalin gue.” “Aku ...  mungkin cemburu pada Arya.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD