Si Pokemon yang nama sebenarnya Mondy Harahap pernah nembak aku. Kejadiannya saat aku di tahun ketiga. Jadi sekitar setahun yang lalu. Langsung saja kutolak. Dia mendesak, bicara macam-macam yang terkesan lebay. Siapa yang akan senang ditembak cowok dengan cara memohon-mohon? Memangnya aku tukang tilang.
“Gue nggak akan duain lo, Ayla. Pegang nih d**a gue. Gue berdetak kencang untuk elo. Gue juga cowok setia. Potong kaki gue kalau gue macam-macam di belakang lo.”
Masalahnya aku tidak peduli, mau dia setia atau setiap tikungan ada. Dia playboy cap ketek kuda pun aku tidak akan repot-repot buat kesal. Aku tidak tertarik mendengar pembelaannya. Itu urusan resleting celananya dengan rok wanita. Aku tahu sejak lama bahwa dia playboy berlabel Kadal Mandul. Mengajakku pacaran dengan modal kata setia. Siapa dia? Jangankan dia, cowok mapan seperti Arya saja saat itu kugantung. Pada waktu itu aku tidak suka punya hubungan khusus dengan pria. Percuma dikasih penjelasan apa pun.
Lo tahu apa yang membuat gue memaki-maki dia? Dia permalukan aku di lapangan universitas dengan banyak manusia yang melihat. Dia tirukan adegan sebuah film, jongkok di tengah lapangan. Memohon padaku agar menerimanya dan melihat perjuangannya. Aku yang punya masalah dengan emosi langsung menamparnya. Pada diri sendiri saja aku malu disukai oleh Pokemon. Apalagi terhadap orang lain. Waktu itu yang selalu kuulang adalah ‘Kenapa laki-laki sejenis dia yang suka kepadaku? Mengapa bukan cowok yang lebih bagus sedikit saja?’ Setidaknya saat itu, kalau orang seperti Fito—cowok keren di kampus—yang melakukan adegan di lapangan, aku mungkin takkan sempat malu. Malah bangga. Dan mempertimbangkan untuk menjalin sebuah hubungan.
“Dasar p***k! Udah syukur ada gue yang mengajak lo pacaran. Sok jual mahal sama gue. Padahal gue ingin membantu lo lepas dari status jomblo menahun. Lo malah ngegampar gue! s****n memang ini cewek. Body lo nggak bagus-bagus amat asal lo tahu. Gue bisa dapat cewek yang punya d**a semenarik Megan Fox!”
Sialan! Kata-katanya saat itu membuat seluruh tubuhku panas. Tak peduli dia laki-laki yang biasa datang ke gym tiap sore, aku menamparnya berulang-ulang.
“Makan nih Megan Fox! Gue sumpahin impoten lo, Sapi! Jangankan d**a Megan Fox, d**a setipis panekuk aja nggak akan lo dapat!”
Yang terjadi berikutnya, kami dipisahkan oleh petugas keamanan. Diberikan teguran secara tegas karena menciptakan keributan dan kata-kata tak senonoh. Aku tak lagi melihat si Pokemon atau malas menyadari keberadaannya. Mungkin itu juga terjadi dengannya. Hingga aku melihat dia sedang mengobrol dengan Sayla malam itu.
“Ay, kamu melamun. Sedang mikirin apa?”
“Pokemon.”
“Kamu dengar aku bilang apa barusan?”
“Apa, Gi?”
“Jangan lupa nanti kita makan malam di rumah Bunda. Merayakan ulang tahun si Bunda. Acaranya cuma makan aja, nggak ngundang tetangga. Si Bunda kalau ultah biasanya masakin makanan kesukaanku, Yogi, dan Ayah. Sekarang Bunda pasti menambah satu lagi jenis makanan, yaitu kesukaan Ay.”
“Iya, gue sudah dengar.”
Ergi sudah pulang tiga hari yang lalu. Sejak kepulangannya, kami belum bertatap muka sekali pun. Komunikasi selancar biasa, seperti ketika dia di Aceh. Tapi ada hal yang membuatku heran dengan anaknya Bunda Mala itu. Katanya waktu itu rindu, tetapi kenapa dia tidak datang ke kos-kosan?
Aku enggak ngarep dia mau kangen atau tidak. Kalau iya, aku tak marah. Kalau tidak, juga tak apa-apa. Cuman, yah, sepertinya abangnya Yogi ngerjain aku. Atau waktu itu aku yang salah dengar?
Ah, pusing. Enggak penting banget.
“Ayla. Ada pertandingan futsal di Lapangan Prayoga. Kamu ikut, ya?”
“Sekarang?”
“Ya. Jadwalnya jam tiga. Kita berangkat sekarang aja.”
Makan malam di rumah Ergi bagaimana? Coba kuhitung. Kalau tanding futsalkan enggak lama. Lalu pulang jam lima terus siap-siap sebelum Ergi jemput. Eh, tunggu! Nanti aku pergi sendiri atau sama Ergi?
Ya, terserah. Masih ada waktu untuk menyemangati tim Arya.
“Gimana, Ayla? Bisa pergi sekarang? Mau ganti kostum?”
“Gue ambil jaket dulu.”
Lapangan Prayoga telah ramai. Ketika tiba, aku menyapa Bi Inah. Membeli sebungkus kacang telor untuk kubawa menonton di pinggir lapangan. Tak berapa lama, pertandingan dimulai. Ditandai oleh peluit panjang wasit. Eh, itu yang jadi wasit kalau tidak salah namanya Bambang, keponakan Bi Inah. Dia akrab dengan Arya. Aku tersenyum kepadanya saat dia melihatku.
Pertandingan baru jalan tiga puluh menit ketika aku merasakan getaran di kantung celana. Ponselku menampilkan panggilan dari Ergi. Untuk sesaat keningku berkerut. Hari masih sore kenapa Ergi sudah telepon?
Mungkin ingin mengabarkan bahwa acaranya tidak jadi.
“Kamu di mana, Ay?” Suara Ergi terdengar gusar.
Aku semakin bingung dengan gelagat Ergi. Dia tidak biasanya punya emosi yang jelek seperti ini. Tidak sampai membentak sih, tapi dia terdengar kesal kepadaku.
“Kenapa memangnya Ergi ... makan malamnya jadi ‘kan?”
“Jawab aku, Ay.” Ucapannya penuh tekanan.
“Aku di lapangan.”
Kupikir tak ada salahnya pakai ‘aku’ agar Ergi tidak makin kesal. Ah, Ayla begok. Kenapa juga aku takut sama Ergi? Dia yang nyolot duluan, harusnya lu balas.
“Aku sudah di rumah kosan kamu. Aku tadi benar-benar percaya kamu mau ‘meluangkan’ waktu untuk Bunda.”
Kenapa aku sedih, ya?
“Gue-aku ... memang ingin datang. Aku nggak bohong, Gi.”
“Tapi kamu pergi. Sama Arya?”
Aku menggigit bibir dalamku. Aduh, Ayla bodoh. Katanya lo enggak punya rencana dimarahin suami? Lalu ini apa?
Ergi tidak marah, tapi kecewa. Dia kecewa karena aku membohonginya. Karena Ergi sudah berjanji kepada Bunda untuk mengajakku makan malam.
“Gi ... aku bisa jelasin. Tadi aku sudah mempertimbangkan—”
“Ya, sudah Ay. Enggak apa-apa.” Suara Ergi melunak.
“Gi!”
“Maaf, ya. Aku nggak maksud untuk membentak kamu. Aku janji ini terakhir kali aku bicara keras sama kamu. Aku langsung aja, ya, Ay. Bunda pasti sudah menunggu.”
“Ergi—”
Ergi mematikan teleponnya. Aku menghubungi nomornya. Suara Miss Operatorlah yang menjawabku.
Ergi! Gue mau ikut! Kenapa lo nggak mau dengar penjelasan gue? Gue nggak bilang kalau gue nggak mau pergi.
Ergi lo kenapa sih? Mau marah, ya, marah aja. Tapi kenapa lo malah minta maaf. Lo ninggalin gue lagi.
Kedatanganku ke lapangan ini rasanya tidak ada gunanya. Bukannya memberikan semangat kepada Arya, aku justru menggerutu sendiri akibat Ergi yang ngambek.
“Ar ... antarkan gue ke rumah mer—Perumahan Graha Merpati.”
Arya langsung menggangguk. “Aku ganti baju dulu supaya kamu tidak muntah dengan bau keringatku.”
Ini ulang tahun Bunda Mala. Hadiah apa yang cocok kuberikan?
“Sebelum itu, bisa antar gue ke toko kue?”
Kalau kata Ergi, ulang tahun Bunda Mala hanya makan-makan. Maka aku yang akan membuat tahun ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Nanti Bunda akan meniup lilin. Eh, ini ulang tahun keberapa?
“Siapa yang ulang tahun?”
“Bundanya Ergi.”
CRV Arya melaju mulus ke perumahan Ergi.
“Kamu juga merayakan ulang tahun ibu Ergi? Kalian dekat.”
“Ini juga baru yang pertama sih. Tadinya Ergi mau jemput gue. Waktu gue bilang lagi di lapangan, dia cabut duluan.”
Arya berdeham. Kami pun memilih diam hingga si hitam masuk ke g**g kompleks. Kami telah tiba di depan rumah ibu mertuaku. Kebetulan ada Ergi yang sedang menggandeng Yogi dari arah jalan. Aku mengucapkan terima kasih kepada Arya. Dibalas dengan senyum tipis olehnya. Ketika keluar dari mobil, mataku membelalak melihat siapa yang baru saja muncul dari pintu.
“Ayla datang,” sambutnya dengan manis.
Ergi yang membelakangiku bersama Yogi pun berbalik. Kudengar Arya membunyikan klakson sebelum pergi. Aku tersenyum canggung pada Ergi. Dia membawa Yogi ke dalam tanpa balas apa yang kulakukan. Sayla berlari kecil menyambut bawaanku seolah tuan rumah.
Sudah ada Sayla, jadi untuk apa aku datang?