7 | Bertemu si Kadal K*reng

1185 Words
    Tebakanku tak meleset saat pulang Nada bilang habis dilamar oleh Dewa. Sekarang dia dan Dewa mengadakan party untuk merayakan lamaran Dewa yang diterima.  Pertunangan akan dilangsungkan di Sulawesi, kampung halaman Nada. Gadis itu ingin acara demi acara menyangkut Dewa dihadiri oleh keluarganya.  Nada juga mengundang Sayla. Demi apa Sayla hadir di pesta yang orang-orangnya pada mabuk begini? Sinting si Nada. Sayla melendot kepadaku sejak heels-nya menginjak marmer rumah Dewa. Aku enggak udik-udik bangetlah seperti Sayla. Melihat cewek berpakaian seksi, Sayla mengucap dan mengelus d**a. Walau bisa dihitung jari yang penting aku pernah masuk kelab. Saat itu anak-anak mengajak dugem lepas tugas mata kuliah yang super bikin pening dan botak. Icip wine juga pernah. Untung rasanya enggak enak, jadi aku tidak ketagihan. Aku ingat sekali hari s**l itu. Aku lupa bahwa Sabtu itu jadwal Ergi menjemput balik. Dia membuatku kaget karena tiba-tiba bisa menyusulku ke sana. Namun, dia enggak bilang apa-apa. Kukira dia ingin mengadukan perbuatanku. Aku terpaksa tutup mulutnya dengan menemani dia makan selama seminggu penuh. Aku tidak dibolehkan keluar malam olehnya. Cukup seminggu yang menyebalkan. Aku pun tak lagi pergi ke diskotik. Selain takut, aku juga tidak betah di ruangan bermusik keras. Kembali kepada Sayla yang berkeringat dingin. Tangannya meremas lenganku dan bikin aku malu. Belum lagi pakaiannya yang tidak cocok sama sekali hadir di tempat ini. ”Sebentar saja, Ayla. Di sini nggak aman buat kita.” ”Nggak aman pale lo!  Ini rumahnya Dewa. Lo kira ini penangkaran macan.” Aku melepaskan remasan kuat Sayla. ”Tuh lu duduk di sana. Tunggu sampai acaranya selesai. Gue mau senang-senang.” ”Kamu mau ke mana, Ayla?” tanyanya cemas. Ah, kenapa juga dia mau ikut kalau jadinya merepotkan gue? ”Gue ke sini untuk merayakan hubungan Dewa sama Nada yang naik selangkah, bukan mau ngurusin bayi gede.” Tak peduli pada wajah pias Sayla, aku meninggalkannya untuk menemui teman-teman semasa kuliahku dan Nada. Kebanyakan dari mereka ialah mahasiswa angkatan kami. Kesempatan ini dimanfaatkan sekali oleh para ’maboker skripshit’ untuk bersenang-senang. Sambil menari, aku melirik ke tempat Sayla. Ayla bodoh. Kenapa gue harus memedulikan Sayla sih? Biarkan saja dia urus dirinya sendiri. Tahu-tahu dia sudah mendapat teman mengobrol. Orang yang paling kuhindari untuk bertemu. ”Mana laki lo?” Nada berada tepat di depanku. Mengenakan gaun putih gading sebatas lutut tanpa lengan yang menonjolkan bagian pundaknya. Sebuah kalung berbandul mutiara menggantung di leher jenjangnya. Sapuan make up minimalis menjadi pilihannya. Dan rambut Nada dijalin dengan gaya modern. Totally perfect calon pengantin satu ini. ”Masih belum balik dari Aceh. Sudah gue bilang ke elu, Sandal Jepit.” ”Lo nggak kenal yang namanya basa-basi apa?” ”Basi lo kebanyakan basa-basi. Eh, itu si Pokemon lo undang juga?” Nada menepuk keningnya pelan. Gitu-gitu takut juga make up-nya luntur. Mungkin MUA-nya abal-abal kena tepuk saja sudah hilang. ”Sorry sorry, gue kagak ingat. Gue mengundang teman satu angkatan, yang enggak banyak. Selebihnya pada udah caw ’kan tinggal kita-kita ini.” ”Itu si Kadal k****g kenapa jadi dekat-dekat saudara seorok gue?” Nada tertawa meremehkan. ”Ih,  jangan bilang lo cemburu sama Sayla. Lo udah punya laki. Taken. Lo juga yang maki-maki si Mondy saat nembak lo.” ”Tapi gue merasa nggak enak. Perasaan gue bilang ada hal buruk deket-deket gue.” Nada mendorong keningku. ”Lo belum minta izin kali sama laki lo sebelum datang ke sini.” Jelas. Aku pamitan tadi, tapi kepada Pak Hadi. Pesan Tuan Rumah adalah jaga Sayla baik-baik. Dikira Sayla anak kecil. Dan aku bukan babysitter. Udah bisa bikin anak tuh si Sayla, enggak perlu dijagain. ”Beb, gue ke Dewa. Anyway,  makasih lo sudah ngedukung gue sama Dewa selama ini. Jadi tempat s****h gue kalau sedang galau. Walaupun ini bukan ujung dari kisah gue sama Dewa, gue tetap mau bilang thank you so much. Tanpa lo gue nggak sanggup nahan kesabaran dinikahin Dewa. Untuk itu gue juga sangat mendukung lo sama Ergi jadi samawa.” ”Ujungnya nggak enak. Padahal di awal, gue udah terharu.” ”Doa tulus, Lala. Gue sayang sama lo. Gue senang lo dikawinin Ergi. Lo akan bahagia sama dia karena dia—” ”Please deh, gue sama Ergi nggak ada kecocokan. Kita cuman teman.” Nada menepuk bahuku sebelum pergi. Saat itulah aku melihat Sayla dan si Pokemon berdiri. ”Yang lo ajakin makan itu bukan gue. Lo nggak kaget lihat orang yang lo pikir gue pakai jilbab? Dia adek gue, Kadal.” Mondy tak kaget. Sepertinya mereka sudah bicara banyak sebelum ke sini. Mondy mengambil paksa tangan kananku kemudian melihat jari manisku. ”Benar, sudah merid lo?” Sayla! Untungnya ada Arya yang baru datang meredam emosiku pada Sayla. Tanpa kata aku meninggalkan sejoli menyebalkan itu. ”Sibuk banget lo, Ar. Acara sudah mau kelar baru nyampe.” ”Namanya juga kerja, Ayla. Kamu juga akan mengalaminya nanti.” Saat mengobrol dengan Arya, aku sempat melihat Nada menyolok matanya dengan isyarat dua jari lalu melemparkan isyarat yang sama kepadaku. Artinya, aku mengamatinya Ayla. ”Ayla, aku ingin bicara dengan Mas Arya. Sebentar.” Tak lama mereka kembali. Arya mengajakku pulang. Sayla mengatakan berani pulang sendiri. Jadi, aku tak mempermasalahkannya. Dia sudah besar, pasti tahu tempatnya pulang ke mana. Di mobil ada panggilan dari Ergi. Aku tak mengabaikannya. Embusan napas lega dari laki-laki di seberang sana menjadi salam pembuka. Tak peduli dengan lirikan penasaran di sebelahku, aku meladeni Ergi. Mendengar ceritanya tentang kegiatannya sehari tadi. ”Aku diminta Papa bicara denganmu.” ”Apa itu penting?” ”Lupakan. Aku juga akan pulang besok sore. Jadi kamu nggak perlu menginap di rumah.” Yang Ergi maksud itu rumah Bu Mala. Ergi diperintahkan oleh  Pak Hadi menyuruhku tidur di rumah mertua. Hell no. Malas banget. ”Aku bawakan kamu banyak oleh-oleh. Kamu pasti suka. Sebenarnya aku mau kamu juga ada di sini. Kita bisa jalan-jalan di pantai. Lain kali aku ajak kamu, pasti Papa mengizinkan.” ”Nggak usah repot-repot. Gue nggak butuh oleh-oleh—” ”Karena yang kamu butuhkan adalah aku pulang dalam keadaan sehat iya ’kan,  Ay?” ”Basi lo, Gi! Belajar dari mana ngegombal?” Anehnya, aku tertawa. Membayangkan wajah Ergi yang imut saat berkata seperti itu pasti lucu sekali. Si pelit itu tumben mau mengajak aku jalan-jalan. Jemput aku saja kalau bukan Pak Hadi yang nyuruh mana mau. ”Aku rindu kamu .... ” Aku mencongkel telinga, ”Lo bilang apa barusan? Kangen sama gue—aduuh!” Mobil berhenti mendadak. Tubuhku yang ditahan sabuk pengaman terempas ke jok mobil. ”Ar, lo ngagetin gue! Kenapa juga rem mendadak?” ”Kamu sedang sama Arya, Ay?” ”Aku tidak fokus nyetir.” Arya menjelaskan tanpa minta maaf. ”Nah gimana dong. Lo mau gue gantiin nyetir? Mau gue antar pakai keranda secepatnya? Gue biasa disupirin bukan nyetir sendiri.” ”Sebaiknya kamu diam. Aku kehilangan konsentarsi mendengar suaramu.” Aku hendak melempar ponselku ke wajahnya dengan geram. ”Lo nggak bisa mengemudi bilang dong!” ”Aku nggak ingin dengar suara berisikmu.” Ternyata Ergi sudah memutuskan sambungan teleponnya. Mungkin dia mendengar perdebatan barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD