Rencananya aku tidak ingin punya pengalaman dimarahi suami. Hell ya, siapa dia gitu? Suami dalam kardus, tersegel rapat dan diletakkan di sudut kamar. Suami pilihan bokap, bukan yang hatiku inginkan. Sumpah aku makin sebal sejak malam hujan itu.
Kejadiannya sudah lewat beberapa hari. Sampai sekarang aku enggak bisa melupakan sorot mata Ergi yang menyalahkanku.
“Harus kamu tahu, Ay, feeling aku cukup kuat untuk datang ke sini,” kata Ergi setelah Arya pergi diajak Nada.
Nada datang di saat yang enggak tepat. Dia sepertinya suka banget aku diinvasi oleh Ergi. Nada mengajak Arya keluar mencari kacang rebus. Alasannya bagus banget itu anak. Arya ragu-ragu mengikuti Nada. Matanya enggak bisa menyembunyikan itu. Lo tahu Arya suka sama gue, meninggalkan gue dengan pria lain itu bukan pilihan yang tepat. Walaupun kita semua tahu, pria yang dimaksud adalah orang kepercayaan bokap garis miring suamiku sendiri.
“Gue tahu apa yang lo maksud. Dan gue nggak suka dituduh.”
“Bagimu pernikahan ini pura-pura, Ay. Tapi aku enggak. Aku yang bertanggung jawab untuk mengingatkan jika kamu mulai salah.”
“Tuh kan lo nuduh gue! Udahlah, Gi, gue lagi pengin tenang. Gue nggak mau dengerin apa-apa.”
“Ay!”
“Lepasin tangan lo. Gue bisa teriak supaya lo diusir dari sini dan nggak akan pernah diizinkan nginjakin kaki di daerah ini lagi.”
“Aku minta maaf. Aku nggak mau kita marah-marahan seperti ini lagi, Ay. Kita damai? Oh iya, kalau kamu lupa. Aku selalu mengantongi ini.”
Kartu nikah kami berdua. Bagus banget aturan sekarang, kartu itu enggak bisa bohongin orang mengenai status gue.
Lalu setelah Arya dan Nada kembali, aku meninggalkan Ergi bersama mereka. Tak tahu apa yang dia bicarakan karena saat paginya aku terbangun, semuanya sudah kembali seperti biasa. Sudah tak ada Ergi di rumah kos kami.
Aku beruntung karena minggu ini Ergi ditugaskan bokap mengurus kantor cabang yang ada di Aceh.
“Senyum-senyum, s***p lo.”
Nada mengempaskan tubuhnya di sebelahku. Gadis itu berpakaian rapi menandakan dia akan segera keluar.
“Mau ke mana?”
“Tahu nih Dewa ngajakin ke mana. Gue mah ngikut aja.”
“Mau dilamar kali lo.”
“Oh, ya? Gue mau banget. Lo doakan gue ye, Lala. Kalau bener si Dewa mau ngajak kawin gue, lo gue doain deh cepet hamil.”
“Doa lo nggak ada yang lain apa?”
“Ada dong. Gue berharap lo hamilnya anak kembar. Atau sebenarnya di dalam sini udah ada isinya?”
“Isi apa, Nad?”
Aku memukul tangan Nada hingga dia menjauhkan tangannya dari perutku. “Awas lo! Kalau sampai lo bocor lagi, gue sleding pala lo!”
“Aw!!” teriak Nada bikin kaget, “jadi beneran udah hamil?”
“Siapa bilang!” Aku membisikinya, “Jangan sampai Arya tahu hubungan gue sama Ergi. Awas, lo!”
“Bahas apa sih kalian seru banget?”
“Nggak ada. Ini Nada kencan melulu.”
“Kalau mau, kita juga bisa.”
“Ke mana?” tanyaku dengan cepat.
“Ayla,” teriak Nada, tapi suaranya seperti orang kegencet batu.
“Ikut aja, kamu pasti suka. Nggak ada kegiatan apa-apa di kampus?”
“Gue mau jalan-jalan. Kebetulan lagi bosan. Ke tempat terbuka atau tertutup?” Aku akan menyesuaikan busana yang cocok.
“Terbuka.”
“Gue ganti baju dulu. Tunggu ya, Ar.”
Nada membuntutiku hingga kamar. “Jangan main api, Ayla. Gue seneng lo nikahnya sama Ergi. Jangan ginilah, Lala. Lo harus bilang yang sebenarnya ke Arya biar dia berhenti ngarepin lo. Lo sudah nggak sama lagi. Lo udah nikah dan Ergi nggak pantas lo perlakukan seperti ini. Arya juga. Lo harus tegas sama Arya. Jangan iya iya aja kalau diajakin ke mana.” Panggilan khusus itu biasanya muncul kalau Nada lagi serius.
“Gue cuman jalan-jalan kok, Nad. Kita sudah biasa hang out bareng. Nggak usah dilebihkan-lebihkan. Percaya deh sama gue. Gue tahu apa yang gue lakukan. Gue nggak main api, paling demen gue main air, Nad. Basah nggak panas.”
Aku selesai mengganti kaus rumahan dengan t-shirt putih longgar dan jeans sepanjang lutut. Mengikat rambut tinggi-tinggi, kemudian menggelungnya hingga seputaran leherku bersih dan terhindar dari gerah. Sentuhan terakhir kupoleskan lip balm.
“Lo nggak senang dengan Ergi, tapi nggak gini juga dong, Ayla. Apa yang lo lakukan sama Arya ini namanya menyeleweng. Gue takut nanti lo menyesal. Gue sayang lo, Lala. Dengerin gue, ya?”
“Lo berlebihan, Nad. Gue sama Arya temenan aja. Kita jalan-jalan ke tempat terbuka. Lo dengar sendiri itu tadi.”
“Gue nggak bisa bohong. Kalau Ergi nyariin lo, gue bakalan bilang ke mana.”
“Tenang aja. Dia di Aceh kok. Jauh. Cowok lo mana sih lama banget? Gue pergi duluan deh jadinya.”
“Hati-hati ya, Lala. Awas kalau lo sampai macem-macem.”
“Apaan sih, Nada. Lo udah kayak tante-tante deh bawelnya. Gue pergi. Bye.”
Setengah jam kemudian kami sampai di sebuah area pemancingan. Tempatnya luas sekali. Di tepi kolam masih terdapat padang rumput dan aneka pepohonan. Setelah itu barulah ada pagar kokoh yang mengisolasi tempat ini dari perkotaan. Udaranya masih segar oleh angin yang ditiupkan oleh dahan pohon. Ada saung-saung penjual nasi dan ragam jajanan.
“Ini, Ayla. Aku biasa mancing di sini kalau senggang waktu kamu pulang ke rumah orang tuamu. Sudah lama aku ingin mengajakmu ke mari.”
“Ini keren sekali. Adem banget. Lo dapat aja sih tempat refreshing seperti ini. Ajarin gue mancing, ya.”
Dari kegiatan ini kita bisa menilai sampai di mana kesabaran seseorang. Perbandingan kami jauh bedanya. Arya orang yang sabar banget. Belum lagi menghadapi kailnya yang sering di-PHP-in ikan. Menghadapi emosiku yang meledak-ledak ini pun Arya masih tahan. Dia juga banyak memberitahu filosofi memancing menurutnya sendiri. Ah, bersama Arya memang momen terbaik. Dia menghipnotisku pelan-pelan. Semuanya berjalan secara alami sebagaimana dia bernapas. Santai dan pasti untuk tetap hidup.
Dulu sekali, Arya mengatakan kalau dia tertarik kepadaku. Perhatian yang dia berikan tidak membuatku muak seperti lelaki lain di luar sana saat coba mendekatiku. Mungkin karena dia tahu aku tidak suka menjalin hubungan dengan lekaki—dalam artian aku masih ingin bebas dengan diriku sendiri.
“Ar, apa pendapat lo tentang gue?”
“Kamu?” Arya mencampakkan kailnya ke kolam. Dia meletakkan tangkai pancingnya ke tiang yang disediakan. “Kamu perempuan istimewa. Semua wanita itu istimewa karena dari merekalah lahirnya generasi baru. Dan kamu lebih istimewa lagi karena kamu berdiri sebagai diri kamu sendiri. Kamu menikmati hidup tanpa peduli orang lain mengatakan apa. Kamu menghadapi semua masalah yang datang padamu dengan sangat baik. Aku ingat saat kamu bersedih, nggak tahu saat itu kamu kenapa. Kamu nggak mau cerita. Besoknya kamu sudah bisa lupa hal itu seolah ada mantra yang dibisikkan ke telingamu. Padahal banyak di luar sana perempuan yang akan menangis seharian jika mereka bersedih, tapi kamu tidak. Bahumu yang kecil itu kuat dan kokoh menopang masalahmu. Karena itu, aku ingin menjadi tempat bersandarmu di saat kamu sudah bosan menjadi kuat.”
“Kamu mengistimewakanku.” Ini yang kubutuhkan. Aku hanya ingin mendengar seseorang mengatakan aku benar, aku mampu, dan mendukungku. “Gue saja nggak tahu bagusnya gue di mana. Yang gue punya dan banggakan selama ini adalah kecantikan. Yang sesungguhnya telah dibagi dua sejak gue lahir. Karena kalau gue memuji diri sendiri secara fisik, maka gue akan memuji saudara gue. Sementara dia sudah mendapatkan itu banyak banget bahkan sampai nggak terhitung.”
“Kata orang, mutiara letaknya jauh di dasar lautan sehingga orang tidak mampu melihat kilaunya. Begitu pun kamu. Kamu tidak perlu bersinar untuk semua orang. Biarkan kami yang menarikmu ke permukaan dan menunjukkan kepada dirimu sendiri bahwa kamu sangat istimewa.”
“Kalau gue bukan orang yang seperti lo pikirkan gimana?”
“Apakah aku akan salah setelah selama ini mengenalmu, Ayla?”
“Entahlah, Ar. Gue bingung sama hidup gue sendiri. Tujuan gue ini apa? Keinginan gue yang terdalam sebenarnya apa?”
“Kamu mau mencoba menyamakan tujuan kita, Ayla?”
“Apa itu?”
“Jangan dibahas sekarang. Aku takut kamu akan terbebani. Aku ingin kamu menyelesaikan kuliahmu dengan baik. Bahagiakan kedua orang tuamu. Itulah yang harus kamu pilih terlebih dahulu.”
Oh Tuhan. Laki-laki ini tidak mengenal orang tuaku, tetapi dengan ikhlas dia memikirkan mereka. Sekali, hanya sekali Arya bilang suka kepadaku. Setelah itu, dia menjagaku. Dia percaya kepadaku. Dia tak mendesakku. Dia justru memintaku memilih orang tuaku sebelum dia.
Kenapa Pak Hadi tidak bisa bersikap seterbuka ini? Kenapa Pak Hadi suka memaksakan kehendaknya? Semua yang Arya lakukan adalah segala yang tidak Pak Hadi miliki.
“Makasih.”
Cuma itu yang dapat aku ungkapkan untuk Arya. Itu mewakili segalanya.