5 | Kencan dengan Pria Lain Itu Rasanya ...

1553 Words
                       Satu kekurangan Ergi dan menjadi sifat yang paling aku enggak suka adalah bertindak tanpa musyawarah. Di luar kebiasaannya yang selalu kasih kabar, dia jarang mengatakan rencana yang mendadak. Tahu-tahu aku telah dibawanya ke rumah ibunya.Kejadiannya satu minggu yang lalu. Setelah minggu sebelumnya Ergi menjemputku dari kos-kosan ke rumah Pak Hadi, Sabtu berikutnya dia membawaku ke rumah Bu Mala. Seharusnya pekan itu aku memiliki kebebasan tanpa dia, bokap, atau ibunya. Karena itu bukan jadwalku untuk pulang ke rumah. Eh, tunggu. Kenapa aku masih memikirkan jadwal pulang seolah aku masih anaknya Pak Hadi yang dulu? Well, maksudku aku tidak perlu menjalankan kegiatan itu setelah menikah. Ibaratnya begini, setelah lo menikah, apakah lo masih rutin balik ke rumah orang tua lo? Misalnya aja nih lo udah tinggal jauh sama suami lo. Enggak mungkin ‘kan? Kenapa gue b**o banget waktu itu? Kembali ke minggu lalu di mana Ergi dengan seianya membawaku ke rumah orang tuanya. Bukankah aku pernah bilang enggak bisa tidur kalau ada suara-suara berisik? Itulah yang membuatku malas menginap di rumah Bu Mala. Setiap malam Yogi tak pernah absen untuk berpesta pora. Suara televisinya itu benar-benar bikin mabuk. Dan karena sampai sekarang aku masih kesal kepadanya. Bombardir pesan Ergi masih datang sampai detik ini.   Ergi Masih marah?   Ergi Malam ini kamu jangan keluar rumah, mendung pekat, Ay. Kalau lapar, pesan gofood aja. Nanti hujan menurut prakiraan BMKG.   Ergi Aku minta maaf, Ay.   Semua pesannya hanya k****a. Biar dia tahu kesalku belum hilang. Agar dia paham kalau ada dua kepala, bukan hanya satu yang dipakai untuk mencari keputusan. “Malam, Ayla.” Arya. Dia menutup daun pintu dari dalam. Lelaki itu meletakkan sepatunya di rak dekat pintu. “Sendirian? Nada belum pulang?” tanyanya sembari berjalan ke dapur. Kudengar dia membuka pintu kulkas. Dia kembali ke tempatku dengan sebotol air mineral dan gelas kosong. “Lo kayak nggak tahu Nada aja. Matahari masih di timur pacarnya udah jemput.” Lelaki itu ber-Oh. “Sepertinya mau hujan.” Arya bicara setelah meneguk minumannya. “Iya.” “Gimana kuliahmu, Ayla? Kalau ada yang bisa kubantu, bilang. Nggak usah pakai malu-malu.” “Beneran? Menurut lo, gue orangnya pemalu? Bukan Ayla kalau gitu, Ar. Kalau gue butuh bantuan lo, gue pasti akan bikin lo repot sampai mampus. Dan lo bakalan nyesel pernah kasih tawaran ke gue.” “Dan kamu belum tahu aku, Ayla. Aku akan melakukan apa saja untuk kamu.” “Ya ya ya, serah lo dah.” Suara gemuruh mulai terdengar. Aku segera mematikan televisi yang sebenarnya hanya menemani kesendirianku. Masalahnya sejak tadi aku tak pernah memperhatikan apa yang ditayangkan. Kedua kaki kembali kutekuk di atas sofa panjang. “Sudah makan? Ah, pasti belum,” katanya.  “Kamu bisa menunggu aku sebentar? Aku hanya butuh beberapa menit untuk mengganti kemeja ini.” “Memangnya kenapa?” “Kita makan sebelum hujannya turun. Aku ke kamar dulu. Tunggu sebentar. Ok.” Dia langsung hilang ke balik pintu kamar. Beberapa menit dia tinggalkan, aku mengetuk kamarnya. Arya berteriak dari dalam menanyakan ada apa. “Gue sakit perut. Lo nunggu agak lama nggak apa-apa? Kalau nggak mau, lo duluan aja. Nanti gue titip.” Tanpa menunggu, aku segera menuntaskan urusanku dengan closet. Aku tidak perlu malu mengatakan jika aku sedang buang air besar, kecil, atau datang bulan kepadanya. Arya dan Nada sama seperti keluarga. Mereka yang aku repotkan jika memerlukan apa saja, termasuk kebutuhan wanita seperti tampon. Ternyata Arya menungguku. “Kita berangkat sekarang?” tanyanya. Kami menuju sebuah rumah makan langganan yang pemiliknya telah mengenal kami. “Udah lama nggak mampir nih Neng Ayla sama Mas Arya.” Pak Sarjono menyapa kami diselingi kegiatannya menyusun makanan ke meja kami. Tangannya yang kurus menyembulkan urat keras tampak cekatan. Terlihat begitu terlatih akibat pekerjaan yang telah ditekuni sejak dua puluh tahun. Rumah makan ini katanya milik ayah Pak Sarjono. Sejak remaja beliau bantu-bantu hingga kini dialah yang mengendalikan usaha ini karena ayahnya telah tiada. “Saya sering pulang, Pak. Kalau Arya nggak tahu tuh. Ketemu sama saya saja jarang-jarang, Pak. Boro-boro ngajak makan bareng seperti ini.” “Proyeknya makin banyak, ya, Mas Arya?” tanya Pak Sarjono. “Usaha, Pak. Mau jadi pengusaha juga seperti Bapak.” Pak Sarjono tertawa. “Bapak doakan untuk kesuksesan Mas Arya. Silakan dinikmati makan malamnya, Mas Arya dan Neng Ayla. Bapak permisi dulu.” “Gue suka sama Pak Sarjono.” Aku menatap punggung kecil Pak Sarjono. Dia kurus banget. Buka rumah makan, tapi kok enggak gemuk-gemuk? “Andai gue lahir jadi anaknya dia. Pasti bahagia banget. Nggak apa-apa bau ikan asin sama terasi, asal tiap hari didoakan dan disenyumin kayak tadi.” “Pak Sarjononya yang nggak mau punya anak seperti kamu.” Komentar Arya merusak perasaan melankolisku. Aku melotot kepadanya lalu tertawa. Iya, sih. Aku tuh seperti diselubungi oleh kabut hitam dan bau. Sekadar jadi pelanggan saja, mungkin Pak Sarjono baik. Tapi kalau aku jadi anaknya, barangkali sikapnya enggak beda jauh dengan Pak Hadi. Karena sebagai anak, aku enggak ada manis-manisnya. Dan aku senang karena dengan begitu, aku tidak mirip Sayla. “Nasinya enggak akan habis kalau cuman kamu lihatin saja, Ayla.” Selesai makan, Arya tidak langsung pulang. Tidak peduli langit yang semakin hitam, Arya melajukan mobil ke sebuah lapangan. Ini lapangan futsal tempat dia biasa main. Dekat kok dari kosan. Kadang Arya ada waktu, suka gabung sama anak-anak sini. Malam ini lapangan diterangi oleh empat buah lampu yang tiangnya di masing-masing sudut. Ada tim yang sedang main. Maklum ini malam Minggu. Ketika kami keluar dari mobil, mulailah hujan. Mereka tidak takut akan diguyur. Arya juga sepertinya tidak peduli dengan cuaca. Dia tak mengajakku. Dia berjalan ke arah lapangan dan mau tak mau aku pun mengikutinya. Anginnya enak. Kedamaian ini begitu indah, bikin perasaan sendu jadi ceria. Aku suka kehidupan di sekitar sini. Oleh karenanya, aku betah mengekos. Aku tidak hanya diam di rumah, tetapi sering gabung dengan warga. Mereka baik-baik. Apa yang kuinginkan ada di sini. Rasa hangat kekeluargaan juga pertemanan. Arya punya peran penting mengenalkanku dengan semua ini. “Mas Arya, ayo lawan kami!” seru Zaki dari lapangan. “Duduk di tempat ini dan jangan ke mana-mana.” Arya berpesan sebelum turun ke lapangan. Aku berteduh di warung kecil Bi Inah di pinggir lapangan. Dari tempatku semuanya tampak jelas. Bagaimana para pemuda itu bermain dengan sportif. “Pisang goreng, Neng, masih anget.” Bi Inah menunjuk dagangannya. Sebenarnya aku masih kenyang, tapi satu pisang goreng kayaknya masih muat deh. Liurku seperti akan terbit. Pisangnya wangi. Dingin-dingin begini pasti sungguh lezat menikmatinya. “Mereka nggak takut sakit apa, Bik, main hujan-hujanan?” tanyaku membuka ruang obrolan. Bi Inah bilang tidak. Katanya hujan justru lebih disenangi. Setiap malam Minggu tempat ini pasti ramai. Tidak peduli panas atau hujan, lapangan tetap hidup oleh pertandingan. Sejam lebih aku dan Bi Inah mengobrol sembari menonton tim futsal. Akhirnya, Arya datang. Pakaiannya basah. Melihat itu akulah yang menggigil. “Kamu kedinginan, Ayla? Maaf aku keenakan main. Kita pulang?” tanyanya. “Aku ambil payung di mobil, tunggu di sini.” Arya berlari menembus hujan ke mobilnya. “Mas Arya kelihatannya sayang banget sama Neng Ayla. Neng Ayla juga baik. Kalian serasi,” kata Bi Inah. “Masak sih, Bik?” “Iya. Bibi mah sering memperhatikan bagaimana sikap Mas Arya ke Eneng. Bikin iri dia, Neng. Yang begitu cocok dijadikan suami. Kalau Bibi mah sudah nggak bisa milih. Hahaha ... jodohnya sudah lama jadi suami Bibi. Bibi terima aja walau nggak ada romantisnya.” “Arya romantis menurut Bik Inah?” “Iya, Neng. Bibi doakan langgeng terus,” doanya. Arya datang. Kami berpamitan kepada Bi Inah. Karena hujan, perjalanan jadi lebih lama. Arya mengendarai mobilnya pelan sekali. “Jangan turun dulu, aku ambil payung buat kamu.” Arya memang begitu. Dia laki-laki dewasa yang baik. Aku tak memungkiri ada ketertarikan di hatiku untuknya. Dia tidak pernah memaksakan kehendak dan keinginannya. Tetapi dengan caranya, aku tidak bisa menolak. Dia membuka pintu di sebelahku dan memayungiku. “Oh iya, aku lupa. Minggu ini harusnya kamu pulang ya, Ayla.” Arya menunjuk seseorang yang berdiri di teras. Rasa yang tadi nyaman jadi rusak saat melihat kehadirannya. Dia Ergi. Statusnya adalah suamiku. Aku tidak suka dia berada di sini, di hadapanku. Aku tidak menyukainya, ya Tuhan. Malam ini saja, aku sangat berharap bisa amnesia. Aku mau melupakan bahwa aku telah terikat dengannya. Pengaruh Arya sejak beberapa jam yang lalu sangat besar sehingga gangguan atas kedatangan Ergi telah mengacak-acak ketenangan jiwa dalam artian negatif. “Kamu dari mana saja, Ay? Aku menunggu dari tadi.” “Gue lagi nggak mau lihat lo. Bisa nggak  lo balik aja?” “Ay.” Arya membuka pintu. Dia mempersilakan Ergi untuk masuk. “Sebaiknya kamu ganti baju juga, nanti masuk angin, Ayla. Aku juga perlu mandi. Ehm, silakan duduk, Ergi. Saya minta waktu untuk bersih-bersih beberapa menit,” katanya kepada Ergi. “Kalian berdua dari mana?” Sepertinya interogasi ala Ergi segera dimulai. Part-part membosankan akan berlangsung. “Nada nggak di rumah, Ay?  Hanya kalian berdua di rumah ini?” “Gi,  please. Gue lagi nggak mood berdebat. Gue belum siap jawab semua pertanyaan lo. Lo pulang aja.” “Ay. Kamu nggak serius minta aku pergi?” “Kenapa enggak?” “Haruskah aku jelaskan kenapanya, Ayla Lovelya Baskara?” “Ada apa, Ayla, Ergi?” tanya Arya telah kembali ke ruang tengah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD