Bab 7

1038 Words
Fellycia mengemas barang-barangnya, ada sedikit rasa sedih karena harus berpisah dengan Adam, Evans, Kevin, dan Nathan. Kebersamaan mereka cukup berkesan. Tapi, gadis itu kemudian tersenyum pahit saat menyadari ia hanyalah wanita sewaan. Melihat kehidupan empat laki-laki itu menbuat Fellycia ingin hidup bebas, tidak lagi bekerja sebagai wanita malam. Masih banyak hal yang bisa Fellycia lakukan di luar sana, pekerjaan bukan hanya sebagai wanita malam. Ia pasti bisa melakukan itu. “Kamu udah selesai?" Fellycia menoleh."Eh, Evans...iya sudah. Apa udah mau berangkat?" "Setengah jam lagi. Oh ya...ini buat kamu." Evans menyodorkan sebuah kotak kecil berlapiskan kain beludry bewarna navy. "Apa ini?" “Hadiah kecil untuk kamu. Terima kasih sudah menemani kami selama liburan, dan terima kasih sudah memberikan banyak hal..." Fellycia tersenyum haru, itu membuatnya justru tidak ingin liburan ini benar-benar berakhir."Terima kasih juga ...kalian memperlakukan aku dengan sangat baik." "Tentu. Ayo." Evans membawakan koper Fellycia, lalu keluar dari kamar. Mereka semua pergi meninggalkan pulau penuh kenangan itu. Madam Rose menghitung uang yang diserahkan orang kepercayaan empat pemuda yang menyewa Fellycia. Kevin, Evans, Nathan, dan Adam langsung pergi dengan mobil mereka masing-masing setelah turun dari pesawat. Sementara Fellycia disediakan mobil khusus. untuk mengantarkannya pulang. "Oke, uangnya sudah pas." “Kalau begitu saya permisi,"katanya. Madam Rose mengangguk senang, lalu melihat Fellycia yang akhirnya sudah dipulangkan. “Bagaimana kabarmu, Felly?" “Baik-baik saja. Apa aku boleh cuti sementara waktu, Madam? Aku kerja lagi selepas menstruasi saja ya. Lagi pula aku sudah membuatmu mendapatkan uang yang banyak." "Baiklah kalau itu maumu, kamu boleh istirahat dan pergi jalan-jalan sampai kamu menstruasi dan selesai,"jawab Madam rose yang kemudian pergi membawa koper berisi uang itu. Fellycia masuk ke kamarnya, matanya menerawang ke langit-langit. Sekarang ia sudah kembali, hidupnya terasa sunyi. Ia mengambil hadiah dari Evans yang belum ia lihat isinya, sebuah kalung bermata berlian. Felly tersenyum tipis, rasanya ingin menangis saja, mereka semua sangat baik, tapi, ia harus ingat bahwa mereka semua tetap menganggap dirinya adalah p*****r. Ia tidak boleh terpengaruh dengan sikap baik mereka. Itu semua hanyalah rayuan laki-laki saja. Fellycia menyimpan kalungnya baik-baik, kemudian ia tidur.        **   Tiga minggu berlalu, semua beraktivitas seperti biasa. Di rumah bordir Madame Rose jika siang-siang begini tidak ada aktivitas, semua anak-anak Madame Rose sedang istirahat, menyiapkan tenaga untuk malam nanti. Madame Rose melihat kalender, keningnya berkerut, ia mulai menaruh curiga pada Fellycia, seharusnya ia sudah bisa kembali bekerja sekarang. Wanita bertubuh besar itu melangkah sambil mengayunkan kipasnya ke kamar Fellycia. "Felly?"diketuknya dengan keras. Fellycia yang belakangan ini merasa cepat lelah hanya bisa menggumam, ia masih mengantuk, ingin tidur sepanjang hari, atau mungkin saja ia sedang tidak enak badan. “Felly cepat keluar!"teriak Madame Rose. Felly membuka matanya dengan berat, kemudian melangkah menbuka pintu dengan lemas."Ada apa, Madam...ini kan masih siang, aku ngantuk." “Sini!" Ditariknya tangan Felly ke ruangannya."Ini sudah tiga minggu!" "Iya, Madame..." “Apa maksudmu, hah? Harusnya kau sudah kembali bekerja. Kau kan janjinya selepas menstruasi...lalu kerja lagi. Ini sudah tiga minggu dan jadwal menstruasimu sudah lewat." "Tapi, aku belum menstruasi, Madame...bagaimana aku bisa bekerja?" Madame Rose menyipitkan matanya curiga."Aku tahu itu cuma alasanmu, Felly, supaya tidak bekerja kan? Uang hasil kemarin sudah cukup banyak? Aku yang rugi..." “Tapi, Madame...aku memang belum menstruasi, lagi pula belakangan ini badanku tidak fit, mungkin itu faktor aku belum menstruasi, Madame,"jawab Fellycia. “Astaga..." Madame Rose memutar bola matanya. Diraih ponselnya untuk menghubungi Bidan yang biasa menangani anak-anaknya. Bidan itu juga yang selalu memberikan alat kontrasepsi pada anak-anak Madame Rose termasuk Fellycia. “Aku suruh Hani datang untuk mengecekmu, mungkin saja kau kurang sehat. Kau harus disuntik supaya kekebalan tubuhmu kuat. Kau tahu...sudah banyak yang mengantri ingin memakaimu!"katanya dengan wajah cemberut. "Baik, Madame...aku tunggu di kamar saja ya?"kata Fellycia sambil menguap lebar. Madame Rose mengangguk sambil mengembangkan kipasnya. Ia melirik kepergian Fellycia sambil mendengus sebal. Fellycia masuk ke dalam kamar, mematung di depan cermin. Ia mulai menyadari ada yang berubah dari bentuk tubuhnya, pipi yang semakin berisi, juga buah dadanya yang semakin membesar, tapi, wajahnya pucat. Ia duduk di sisi tempat tidur, merapikan rambutnya sambil menunggu Hani datang. Tiba-tiba saja Felly teringat dengan tawaran Kevin tentang sekolah, senyum Felly mengembang, andai ia sekolah, mungkin ia bisa mencari pekerjaan lain. Ia bisa menggunakan tabungannya untuk menyewa kamar, lalu sisanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari sambil menunggu menerima gaji. Fellycia bangkit, berjalan mendekati jendela, dibukanya lebar-lebar, lalu ia melihat jalanan di belajang gedung. Orang berlalu lalang dengan bebas, ia juga melihat beberapa oasang kekasih melintas mengendarai sepeda motor atau ada juga yang sedang berjalan kaki. Fellycia tersenyum tipis, kapan ia akan mengalami hal-hal seperti itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan kebebasan, melalukan apa saja yang ia mau. Pintu kamar diketuk, Hani dan Madame Rose datang. "Ayo, Fel, baring...kamu kenapa? Demam?"tanya Hani. "Nggak sih, cuma sering capek aja sejak dapat pelanggan empat orang langsung, setiap malam digilir,"keluh Fellycia, semoga saja Madame Rose mendengarnya sebagai keluhan Felly, sekaligus mengatakan kalau Felly sudah lelah dengan semua ini. "Kamu belum menstruasi? Kok bisa? Banyak pikiran ya?"kata Hani sambil memeriksa Fellycia. "Nggak juga, sih." Fellycia tertawa. "Kapan terakhir menstruasi?" Fellycia berusaha mengingat-ingat. “Hmmm...tanggal enam bulan lalu." Hani menatap ke arah Madame Rose."Ini kan sudah tanggal tiga belas. Sudah telat seminggu ya?" "Kalau hamil kan nggak mungkin, tiap bulan rutin suntik, kan?"balas Madame Rose. “Iya, sih, Madame...tapi, nggak ada salahnya kita test ya. Biar kita tahu penanganan selanjutnya." Hani berdiri, mengambil testpack dari tasnya kemudian memberikan pada Fellycia. Fellycia menerima testpack dari tangan Hani, ia masuk ke dalam toilet untuk buang air kecil. Ia sudah pernah testpack sebelumnya, jadi, ia sudah tahu bagaimana cara penggunaannya. Sekitar lima menit kemudian, Fellycia kembali dan memperlihatkan hasilnya. Hani dan Madame Rose teekejut setengah mati, hasilnya positif. "Felly!!"Madame Rose murka."Apa yang sudah kamu lakukan? Dibuang di dalam?" Fellycia mengangguk,"permintaan mereka, Madame, lagi pula aku kan sudah pakai kontrasepsi, aku pikir nggak bakalan hamil." “Felly...Felly...Felly!" Madame Rose bolak-balik sambil memegang kepalanya, ia sudah memegang banyak daftar permintaan untuk memakai Fellycia, tapi, tidak mungkin ia berikan wanita yang sedang hamil."Kenapa bisa sepetti ini, Hani? Harusnya kan tidak hamil? Apa obatmu tidak manjur?" Dipelototinya Hani. Hani menggeleng,"nggak tahu, Madame, obat itu juga kusuntikkan ke yang lain. Tidak ada masalah kan?" “Kau membuatku rugi saja!"bentak Madam Rose yang kemudian keluar dari kamar Fellycia. "Han, aku beneran hamil?"tanya Fellycia dengan gemetaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD