Madame Rose menelan ludahnya. Dengan terpaksa ia mengangguk."Baiklah, kau bisa bawa Fellycia. Tapi, ingat...jangan pernah membawanya kembali padaku atau dia nggak akan pernah keluar lagi dari sini selamanya."
“Tentu! Terima kasih atas kerja samanya." Kevin tersenyum puas.
“Fell, Fell!" Hani cepat-cepat masuk ke dalam kamar Fellycia.
Fellycia yang barus selesai mandi itu menatap Hani dengan heran."Ada apa? Kukira kau sudah pulang."
"Iya, aku suntik kamar sebelah,"kata Hani."Tadinya aku sudah mau pulang, tapi, nggak sengaja dengar percakapan Madame sama laki-laki tampan. Katanya dia akan menbawamu pergi dari sini."
"Masa sih? Siapa? Apa aku dijual sama Madame dalam keadaan hamil?" Fellycia menatap dirinya di depan cermin dengan sedih.
“Sepertinya nggak deh, laki-laki itu baik."
"Siapa?" Fellycia sungguh tidak bisa menebak siapa orangnya. Ia pun menyisiri rambut panjangnya. Tidak lama kemudian, pintunya diketuk.
Hani membuka pintu kamar Fellycia. “Madame..."
"Kau masih di sini rupanya!"kata Madame Rose yang kemudian beralih pada Fellycia."Kevin ingin bertanggung jawab atas kehamilanmu. Pergilah bersamanya, ingat ...jangan pernah kembali padaku. Sekali saja kau kembali, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi!"
Fellycia menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca,"apa benar...kamu mau bertanggung jawab, Kev?"
Kevin mengangguk,"iya, Fell."
"Tapi, Kev..."
“Sudah, kita bicara nanti saja di rumah. Sekarang ambil barang-barang penting kamu...kita pergi sekarang."
Fellycia mengangguk cepat, dibantu dengan Hani, ia mengumpulkan barang-barang penting, memasukkannya ke dalam koper. Felly berpikir ini adalah mimpi, tapi, rasanya memang lebih baik bermimpi saja jika kenyataannya ia tidak bisa keluar dari sini.
Wajah Madame Rose muram ketika Fellycia sudah kelyar kamar membawa kopernya. Setelah ini ia akan kehilangan salah satu sumber mata pencahariannya.
"Fell, kau tidak boleh stres ya. Vitamin yang kukasih harus diminum. Kau juga jangan malas makan,"kata Hani memberi wejangan.
“Baik, Han, terima kasih kamu sudah banyak bantu aku." Fellycia memluk Hani.
“Iya. Hati-hati ya. Berbahagia dengan kehidupan barumu?"
Kevin dan Fellycia pun pergi. Madame Rose langsung masuk ke dalam dengan wajah cemberut. Hani pun segera menuju Rumah bordir Barbara, saingan Madame Rose. Sesampai di sana, Hani segera menemui wanita yang sedang duduk di mini bar sambil merokok.
“Barbara!"panggil Hani.
Barbara tersenyum, ia mematikan rokoknya."Halo, sayangku..."
"Aku punya berita baik untukmu!"
Barbara tersenyum penuh arti, sepertinya ia sudah tahu apa yang akan disampaikan oleh Hani."Apa itu...cepat katakan! Aku sudah tidak sabar!!"
“Felly sudah keluar dari rumah Madame Rose...selamanya."
Mata Barbara terbelalak."Kau serius? Selamanya?" Wanita itu pun tertawa."Bagaimana bisa? Kau berhasil membuatnya hamil saja aku sudah bahagia...dan ternyata sekarang dia sudah pergi dari Rose selamanya."
“Pria yang menghamili Felly, mau bertanggung jawab. Kau tahu siapa laki-laki itu?"
Barbara menggeleng."Siapa?"
“Kevin!"
Barbara tertawa terbahak-bahak, ia senang sekali dengan berita ini."Biar tahu rasa kamu, Rose, kau sudah berkali-kali menghancurkanku, mengambil pelangganku. Sekarang...kau kehilangan sumber mata pencarian terbesarmu." Barbara memeluk Hani dengan senang, tidak sia-sia ia membayar Hani supaya tidak menyuntikkan obat supaya tidak hamil pada Fellycia. Bahkan kebalikannya, Felkycia disuntikkan obat vitamin, perangsang kehamilan. Fellycia pun akhirnya dinyatakan positif hamil.
Di perjalanan, Fellycia meremas tangannya sendiri, duduk dengan tegang di sebelah Kevin. Pria itu juga belum ada mengajaknya bicara sejak meninggalkan Rumah Bordir Madame Rose. Sesekali ia menarik napas panjang, menatap jalanan yang panjang, melewati hutan-hutan kota. Terkadang ia menatap sopir di depan, tapi, sama saja, pria paruh baya itu juga diam.
Fellycia sesekali menoleh, kemudian ia membuang pandangannya setelah Kevin sadar sedang diperhatikan.
Kevin berdehem, kemudian menatap ke arah Fellycia."Kamu baik-baik aja, Fell?"
Fellycia tersenyum kikuk,apa lagi sekarang ia sedang bertatapan dengan laki-laki itu. “Iya...aku...masih kaget karena kamu sudah membawaku keluar dari sana. Aku sangat berhutang budi padamu, Kevin...terima kasih."
Kevin mengusap punggung tangan Fellycia dengan lembut."Iya. Ada peluang kalau itu anakku, kan?"
Fellycia mengangguk,"tapi, bagaimana jika ternyata ini bukan anakmu?"
“Tidak apa-apa. Membantu wanita hamil itu bukan kejahatan kan? Aku senang bisa menolongmu!"jawab Kevin dengan tatapan lembut."Mamaku hamil...dan laki-laki yang menghamilinya tidak bertanggung jawab. Aku tahu itu sangat berat bagi Mama, menjalani kehamilan tanpa suami. Begitu juga aku...berat menjalani hidup tanpa figur Ayah. Aku tidak mau ada wanita dan anak lain yang mengalami itu."
Fellycia terharu mendengarkan kata-kata Kevin."Terima kasih, kita bernasib sama...tidak punya Ayah, tapi kamu punya Ibu, aku tidak punya keduanya. Bahkan Ibuku sudah meninggal."
Kevin merengkuh tubuh Fellycia."Iya. Kita harus tegar menghadapi semuanya ya. Lagi pula sekarang ada aku...dan juga Mama di rumah."
“Mama kamu?" Fellycia terbelalak."Apa beliau tidak akan marah kalau kamu bawa aku?"
“Nggak akan marah, Mama pasti senang sekarang dia punya anak perempuan." Kevin tersenyum."Kamu tidak apa-apa kan kalau tinggal bersama kami?"
“Tentu saja, justru aku sangat berterima kasih dan juga merasa tidak enak karena ini belum tentu anak kamu. Aku minta maaf jika membuatmu sulit." Fellycia tertunduk sedih.
Kevin tersenyum saja, kemudian ia menatap lurus ke jalananan, sebentar lagi mereka akan memasuki komplek perumahannya. Fellycia menatap kagum rumah-rumah besar bak istana itu. Lalu mobil berbelok ke salah satu rumah besar warna putih.
"Ini rumah Mama...ayo kita turun,"ajak Kevin.
Fellycia turun dari mobil, melangkah dengan gemetaran. Kevin memberi kode agar mengikutinya masuk ke dalam. Rumah itu begitu besar, tapi, terlihat sunyi."Dimana Mamamu?"
"Mama sedang pergi, dua hari lagi baru kembali. Yuk, kuantar ke kamarmu,"katanya lagi.
Langkah Fellycia terhenti, ia takut karena tidak bertemu dengan Mama Kevin, mungkin saja ia belum dapat izin sepenuhnya untuk tinggal di sini. Kevin menoleh, seakan mengerti, laki-laki itu menggandeng tangan Fellycia dan membawanya ke sebuah kamar. Kamar itu letaknya persis di sebelah kamar Kevin, jadi, kalau wanita itu butuh sesuatu, mudah saja untuk memanggilnya.
"Ini kamarmu..."Kevin membuka pintu kamar."Sudah bersih semuanya, kamu istirahat saja. Oh ya kamu sudah makan?"
"Belum, tapi, aku nggak lapar kok."
“Kamu ngidam?"
"Nggak. Aku baik-baik aja, seperti tidak hamil, cuma aku gampang lelah."
"Kubawakan makanan ke kamar ya? Kamu harus makan karena yang di dalam sana butuh nutrisi." Kevin mengusap perut Fellycia.
Air mata Fellycia mengalir."Kev, terima kasih, nggak seharusnya baik banget sama aku, aku ini cuma seorang p*****r, kenapa kamu baik sekali...aku ini wanita hina, kan?"
"Yang menentukan kita hina atau nggak bukanlah kita, manusia, tetapi Tuhan. Setelah ini...hidup kamu akan baik-baik saja. Jangan sedih, ini adalah jalan hidup yang memang sudah ditentukan. Sesulit apa pun hidup kamu saat ini, sudah kurasakan semuanya,"kata Kevin dengan sendu, ia jadi ingat dengan masa-masa kelamnya dulu, susah payah mencari uang membantu sang Mama, mereka hanya berdua, hingga akhirnya mereka bisa sukses seperti sekarang ini.