Bab 11

1011 Words
Seumur hidup, Kevin tidak akan pernah bisa memaafkan Ayahnya, seandainya saja nanti mereka  dipertemukan. Laki-laki yang lari dari tanggung jawab adalah laki-laki yang bukan manusia,bahkan hewan saja punya hati nurani dan kasih sayang pada anak-anak mereka. Tapi, Ayah Kevin, dengan santainya ia mengatakan kalau Kevin bukanlah anaknya, lalu menuduh sang Mama memiliki pria idaman lain. "Kevin...." “Ah iya..."Kevin tertawa sendiri karena ia asyik dengan lamunannya."Kamu masuk dan istirahat ya. Nanti ada yang antar makanan, aku harus pergi karena ada pekerjaan." Fellycia mengangguk."Sekali lagi terima kasih, Kevin." Kevin mengusap puncak kepala Fellycia, kemudian melambaikan tangannya dan pergi.   ** Fellycia terbangun karena tiba-tiba saja ia merasakan mual yang luar biasa. Cepat-cepat ia turun dari tempat tidur dan muntah di wastafel. Kepalanya terasa berkunang-kunang, tubuhnya terasa lemas. Ia terduduk di lantai usai muntah yang sebenarnya tidak memuntahkan apa pun, hanya air ludahnya saja, lalu berakhir dengan cairan kuning yang sangat pahit. Keringat dingin mencucur deras dari keningnya. Ingin berteriak, tetapi, mungkin tidak akan ada yang dengar, rumah ini terlalu besar. Fellycia merangkak keluar dari toilet menuju tempat tidur. Suara pintu terbuka, Kevin muncul dengan celana pendek dan kausnya yang sedikit kusut. Pria itu terlihat baru bangun tidur. Melihat Fellycia di lantai, ia segera menghampirinya."Kenapa kamu di lantai?" Fellycia masih belum bisa menjawab karena kepalanya masih sakit dan tubuhnya lemas. Kevin membaringkan Fellycia ke atas tempat tidur. “Thanks,"ucap Fellycia lega setelah kepalanya mendarat di bantal. “Apa yang sedang terjadi, Fell?" “Aku cuma muntah, terus kepalaku pusing,"kata Fellycia, wajahnya sekarang memucat. Kevin mengusap kepala Fellycia."Kamu pengen makan apa? Apa pun katakan saja." Fellycia tertegun, lambungnya terasa kosong, ia masih merasakan sedikit mual, ia membutuhkan sesuatu yang asam untuk menetralkan mulutnya yang pahit. Tidak ada teori untuk itu, tapi, itu keinginanmya saat ini."Aku ingin buah mangga." “Baik, tapi, kamu minum air hangat dulu ya. Lemon tea mau? Atau mau minum yang lain?" "Iya, lemon tea." “Baik, sebentar ya." Kevin tersenyum sambil mengusap pipi Fellycia. Fellycia menatap punggung Kevin, ada perasaan senang sekaligus sedih,karena merasa sudah menyusahkan laki-laki asing yang belum tentu Ayah dari anaknya. Tapi, jika tidak ada Kevin, mungkin saja ia sudah begitu tersiksa bersama Madame Rose. Fellycia memejamkan matanya, ia merasa ngantuk, namun tidak bisa tidur. Kevin kembali dengan secangkir lemon tea panas. Ia meletakkan di atas nakas, lalu membangunkan Fellycia."Fell, yuk diminum." Fellycia membuka mata, pelan-pelan ia duduk dan meminum lemon teanya. Rasa mualnya menghilang."Terima kasih, Kev, tapi...bagaimana kamu tahu tadi aku sedang muntah-muntah?" “Feeling saja, kata Mama kalau pagi-pagi begini biasanya orang hamil akan muntah-muntah dan merasakan hal paling tidak enak dari masa ngidam,"jawab Kevin, semalam ia menghubungi Mamanya untuk menceritakan masalah Fellycia, dan wanita paruh baya itu dengan senang hati menyambutnya. Bahkan wanita itu sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan wanita muda itu. “Mamamu sepertinya sangat baik, aku jadi ingin bertemu." Fellycia tersenyum. "Iya...Mama menyuruhku menjagamu. Jadi, kamu jangan khawatir. Nikmati waktumu ya. Di rumah ini ada Pak Zacky, sopir di rumah ini. Lalu ada Bu Nana, istri Pak Zacky, beliau adalah asisten rumah tangga sekaligus penanggung jawab di sini. Dua hari sekali akan ada orang datang untuk membersihkan rumah." Kevin memberi informasi pada Fellycia tentang rumah ini. "Iya." “Di sana ada balkon, kalau kamu butuh udara segar, kamu bisa ke sana. Atau kalau kamu ingin berkeliling, kamu bisa minta tolong sama Bu Nana." "Iya."Fellycia tersenyum."Terima kasih, Kevin." "Berapa kali kamu berterima kasih, Felly?" "Sebanyak mungkin,setiap saat, setiap hari!" Fellycia tertawa. "Kamu ini..." Kevin mencubit pipi Fellycia pelan."Sebentar lagi mangga kamu datang, nanti kamu makan ya? Aku harus siap-siap ke kantor." Fellycia mengangguk selayaknya anak kecil yang dinasehati. Kevin menatap perut Fellycia, kemudian menempelkan telapak tangannya di sana."Jaga sebaik-baiknya ya. Besok kalau ada waktu luang, kita ke dokter." "Iya, Kevin." Kevin tersenyum, kemudian ia beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor bertemu dengan Nathan dan juga Adam. Kevin menghentikan mobilnya di pelataran kantor Adam, hari ini mereka bertiga sudah janji untuk bertemu di sini. Pria itu melangkah masuk, disambut oleh karyawan-karyawan di sana dengan ramah, bukan main cantiknya mereka karena mereka adalah tim pemasaran mobil, cantik, seksi, dan menggoda. Tidak jarang Adam membawa salah satu dari mereka untuk ditiduri. Tapi, tidak satu pun yang ditanggapi oleh Kevin, pria itu terus berjalan menuju ruangan Adam. Kevin membuka pintu, di dalam sana Adam tampak sedang bermesraan dengan seorang wanita cantik berambut panjang, mengenakan pakaian seksi. Wanita itu turun dari pangkuan Adam, mengambil tas kemudian pergi begitu Kevin masuk. "Hai, Bro!"sapa Adam. Kevin duduk di kursi di depan meja Adam."Mana Nathan?" "Di sini!"Nathan menjawab di ambang pintu, pria itu baru saja sampai."Itu perempuan baru, Dam?" “Mainan baru,"balas Adam sambil terkekeh. "Jadi, kemarin aku dapat kabar...kalau kau datang ke Rumah Bordir Madame Rose, Kevin...kaungapain? Cari perempuan?"tanya Adam. "Jemput Fellycia." Adam menaikkan sebelah alisnya."Fellycia siapa?" “Yang kita bawa ke pulau, kebanyakan perempuan ya sampai-sampai lupa!" Nathan tertawa. "Yoi, bro...!" "Jadi juga ambil Fellycia?"tanya Nathan sambil tertawa geli. “Iya. Jadi. Dia sudah di rumahku,"jawab Kevin dengan tenang. “Kurasa kau benar-benar gila ya, kau nggak ingat dia itu siapa ya?" Adam menatap Kevin dengan tajam,"kau nggak takut kalau kehadiran dia itu bisa menghancurkan karirmu...karir kita juga." "Karir apa?" Kevin tertawa sinis."Memangnya kalau orang tahu kita berbuat seperti itu, orang akan langsung tidak membeli produk-produk kita? Mereka tidak akan peduli, justru seharusnya yang kaupikirkan adalah mereka mungkin...tidak akan membeli produk kita lagi setelah kita menelantarkan seorang wanita hamil!" "Sudahlah, kenapa hanya gara-gara perempuan itu kalian berdebat. Adam, biarkan saja jika Kevin mau menolong wanita itu, yang penting kita tidak dilibatkan dalam masalah ini!"kata Nathan menengahi. "Awas saja...jika ternyata nanti hasil DNA mengatakan bahwa salah satu dari kalian adalah Ayahnya, aku nggak akan menyerahkan anak itu! Jika ada yang berani memintanya, siap-siap berhadapan denganku!"kata Kevin dengan penekanan. Nathan menepuk-nepuk pundak Kevin agar sahabatnya itu tidak marah,sepertinya Kevin tersinggung. Tapi, menurutnya Kevin terlalu berani mengambil resiko, jika memang itu adalah anak salah satu di antara mereka, mungkin masih bisa dibicarakan ke depannya bagaimana. Bagaimana jika ternyata itu anak dari laki-laki lain, Kevin benar-benar bodoh,pikir Nathan. "Ya sudah...lebih baik kita pergi saja sekarang,"ajak Nathan.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD