Kevin dan Adam beranjak dari kursi masing-masing. Hari ini mereka akan mengunjungi sebuah hotel untuk acara Ulang tahun perusahaan mereka. Mereka akan melihat apakah di sana cocok atau tidak untuk diadakannya acara itu.
Ketiga pria itu berjalan memasuki lobi hotel, ketiganya begitu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Mereka duduk di lobi, menunggu Manager hotel tiba.
"Nat!"Adam menepuk pundak Nathan.
Nathan menoleh.
“Itu orangtua kita bukan, sih?"
Nathan menoleh ke arah yang dimaksud Adam. Ia melihat Hans sesang berpelukan mesra dengan Diana, Mamanya Adam. Nathan membatu beberapa saat, sesaat ia emosi melihat kejadian itu, tapi, kemudian hatinya kembali melarang. Hans dan Diana sama-sama single parents, tidak ada yang salah dari hubungan mereka. Tapi, yang tidak pernah disangka Natjan adalah kenapa harus dengan Ibunya Adam, laki-laki yang sudah ia tahu segala tingkah baik dan buruknya, bahkan mereka sering berbagi wanita.
"Ya itu Papaku dan Mamamu, mereka sedang berciuman,"jawab Nathan pada Adam.
Adam tertawa."Kita bakalan jadi saudara tiri?"
“Memangnya kau yakin mereka akan menikah?
Adam mengangkat kedua bahunya, berpacaran belum tentu akan berakhir dengan pernikahan. Lagi pula keduanya pernah sama-sama gagal, mungkin akan berpikir ulang mengenai pernikahan."Jika mereka menikah, kau atau aku yang jadi kakak?"
"Aku lebih tua!"balas Nathan.
“Baiklah, Kakak!"
"Najis!" Nathan mendorong Adam.
Kevin duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya untuk menerima laporan dari sang Asisten Rumah tangga mengenai Felly. Katanya Felly sudah tidur usai sarapan tadi. Kevin mengembuskan napas lega,Felly sudah baik-baik saja sekarang.
**
Hari ini, Fellycia berkunjung ke dokter kandungan ditemani oleh Kevin, tapi, sayangnya, ketika sedang mengantri, Kevin harus pergi untuk urusan pekerjaan. Fellycia akhirnya harus sendiri, ditemani Pak Zacky yang menunggu di parkiran. Fellycia deg-degan, ia begitu bersemangat bertemu dokter hari ini sekaligus berkonsultasi.
Giliran Fellycia tiba, ia diperiksa,Dokter juga melakukan USG, hasilnya membuat Fellycia menangis haru, sayangnya Kevin tidak ada bersamanya. Pria itu pasti senang mendengar berita ini. Setelah selesai, Fellycia langsung pulang bersama Pak Zacky.
Felly menunggu Kevin di taman, katanya Kevin sudah di jalan menuju ke sini. Suara derap langkah mendekat, Fellycia membalikkan badannya, ingin memberi tahu hasil pemeriksaan hari ini. Senyumnya langsung sirna ketika orang itu ternyata bukanlah Kevin. Pria itu menatap Fellycia dengan heran, lalu ia mendekat.
“Kamu...Fellycia?"
Jantung Fellycia berdegup kencang."Iya...apa kabar." Wanita itu pun tersenyum.
"Aku baik, kenapa kamu ada di sini?" Evans melangkah mendekat, kemudian mengajak Fellycia duduk.
“Aku...diajak Kevin tinggal di sini, karena...." Fellycia tidak tahu harus menjelaskannya atau tidak pada Evans, seandainya Kevin ada di sini, mungkin Kevin bisa membantunya menjelaskan.
Evans melihat tangan Fellycia yang sedang memegang sebuah buku kecil. Keningnya berkerut, lalu diambilnya. Pria itu menatap Fellycia bingung."Kamu hamil?"
"Iya,"jawab Fellycia tercekat.
Evans terdiam beberapa saat,wajahnya terlihat sangat kaget."Hamil anak Kevin?"
Fellycia menggeleng cepat."Bukan...aku juga tidak tahu sedang mengandung anak siapa, karena...ya kau tahu kalau aku ini hanyalah seorang p*****r. Tapi, Kevin menolongku, karena...jika aku tetap berada di sana, mereka akan mengugurkan kandunganku. Aku tidak akan bisa membunuh kelima calon buah hatiku."
"Lima?" Evans terbelalak."Anakmu kembar lima?"
“Evans!" Kevin muncul tiba-tiba, pria itu sangat kaget melihat Evans ada di rumahnya.
"Hai!" Evans tersenyum."Dari mana?"
“Ngecek mobil,"jawab Kevin yang kemudian duduk di sebelah Fellycia."Nathan bilang kau bakalan pergi sebulan, jadi, aku nggak nyangka kau ada di sini."
"Iya, aku cuma kembali sebentar karena ada urusan. Oh ya...kau nggak cerita kalau mau bawa Felly ke sini?"
"Mendadak, ketika Madame Rose kasih tahu Felly hamil. Dan aku meyakini bahwa...Ayahnya adalah salah satu di antara aku, kau, Nathan, atau Adam,"jelas Kevin.
"Kalau ternyata aku adalah Ayahnya, aku sangat senang punya anak lima sekaligus,"jawab Evans yang langsung membuat wajah Fellycia merona mendengarkannya.
"Lima?"Kevin tidak mengerti.
“Anakku, kembar lima!" Fellycia menyerahkan hasil USG dari Dokter.
Kevin menatap Fellycia dengan takjub, ada perasaan senang sekaligus haru. Tanpa sadar pria itu memeluk Fellycia seolah-olah ia adalah benar suaminya, Ayah dari anak-anaknya."Kamu harus banyak istirahat, ada lima buah hati kamu di sini."
“Kau curang, Kevin, tidak pernah memberi tahuku soal ini, bagaimana kalau ternyata ini adalah anakku?" Evans mendecak sebal.
“Kita bicara soal itu nanti, bro, jadi, intinya...kau mau membantuku menjaga dan merawat Felly?"
“Ya tentu saja, seandainya kau bilang sejak awal, aku tetap menerimanya. Ya meskipun nanti bukan anakku, pasti mereka lahir dengan begitu lucu." Evans tersenyum pada Fellycia sambil mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
"Oke. Aku akan melibatkanmu dalam urusan Fellycia. Lalu, setelah ini kau bakalan pergi lagi?"
Evans mengangguk, walaupun sejak mendengar kehamilan Fellycia ia sudah tidak berminat untuk pergi. Tapi, ia harus tetap menyelesaikan urusannya di luar kota, nanti di waktu senggang ia bisa pulang untuk menjenguk Fellycia. Ia tidak peduli dengan status Fellycia, yang ia tahu, sekarang wanita itu sedang hamil dan memiliki kemungkinan sedang mengandung anaknya.
Evans menatap Fellycia dengan intens."Felly, untuk sementara kamu tinggal sama Kevin ya. Nanti kalau aku sudah kembali, aku bakalan ajak kamu ke rumah, ajak jalan-jalan, dan pergi untuk cari makanan kesukaan kamu. Jaga baik-baik anak kita ini."
"Belum tentu anakmu!"sahut Kevin.
Evans melirik Kevin dengan sebal."Anggap saja sekarang ini anakku dan anakmu, karena kita berdua yang akan mengurusinya."
"Betul juga." Kevin mengalah, ia tidak bisa melarang Evans berbuat demikian, laki-laki itu sebelumnya tidak diajak berdiskusi, sekarang pria itu datang dan mau ikut bertanggung jawab atas Felly. Ia harus mendukung Evans juga, saat ini ia dan Evans lah Ayah dari kelima janin itu.
Fellycia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika Evans terus bicara sambil mengusap perutnya. Perlahan air matanya menetes, semoga ini bukan mimpi. Jika ini mimpi, jangan biarkan ia bangun.
Mereka bertiga berbincang-bincamg di taman, tentunya Evans dan Kevin lebih banyak bicara mengenai pekerjaan. Fellycia hanya bisa duduk dengan gelisah, karena tidak tahu harus berbuat apa di sana.
“Fell? Kenapa?"tanya Kevin.
“Nggak apa-apa."
“Kamu pasti bosan ya, nih." Evans menyodorkan ponselnya.
“Untuk apa?"
"Kayaknya kamu nggak pegang hape, kalau kamu bosan kamu balik ke kamar aja istirahat, nonton tv, atau ngapain gitu?" Evans menatap Fellycia lembut.
Fellycia tertawa kecil."Iya, sih...tapi, apa boleh aku masuk ke dalam?"
“Boleh dong." Evans menyimpan ponselnya kembali
Kamu nonton tv di situ aja,"kata Kevin menunjuk ke arah ruangan yang berhadapan langsung dengan taman.
“Oh iya iya, aku ke sana dulu." Fellycia berjalan cepat, akhirnya ia lepas dari rasa bosan mendengar pembicaraan Evans dan Kevin.