4. Axel

1894 Words
"Lalu, bagaimana cara Kakak menjelaskan kejadian kemarin pada Nasha?" "Bilang aja kalau Gladis itu teman Sean yang suka sama Kakak," jawab Sean tanpa beban. "Kamu pikir dia akan percaya begitu saja?" "Ya ampun, Kak. Saat wanita sedang cemburu, mereka enggak butuh penjelasan apa pun." "Maksud kamu?" Sean menggeram. Aku mengerutkan kening saat dia mengepalkan kedua tangan di hadapanku dengan gemas. Dia membuatku bingung dengan sikapnya itu. "Sudahlah, Kak. Apa pun yang akan Kakak jelaskan pada Kak Nasha itu enggak terlalu penting. Karena dia enggak bakal memercayai Kakak. Dia itu sedang cemburu, jadi segala hal yang Kakak sampaikan pasti akan dianggap salah." "Jadi, maksud kamu, Kakak tidak perlu menjelaskan apa pun pada Nasha?" "Ya ... itu bisa jadi, tapi kalau Kak Nasha terlihat penasaran, Kakak bilang saja seperti yang Sean katakan tadi," pesan Sean. Aku menghela napas dan mengangguk setuju. Sepertinya sekarang aku harus memercayakan masa depanku pada Sean. Dia tidak mungkin menjebakku, bukan? "Sudahlah, Kak. Kakak terlalu banyak berpikir. Bukankah tadi Kakak bilang merindukan Ares atau ... ," Sean menyeringai, "merindukan mamanya Ares?" Aku menatap tajam Sean yang tersenyum puas. Entah apa maksud senyumannya kali ini. Dia jadi lebih berani menggodaku setelah memberikan bantuan kecil di kafe kemarin. Kalau tahu akan begini, lebih baik aku tidak menerima saran darinya. Sangat menyebalkan! Tanpa mengatakan sesuatu lagi, aku melangkah meninggalkan Sean. Aku menulikan telinga saat mendengarkan berbagai kalimat yang meluncur dari mulutnya. Apa anak itu tidak bisa diam sebentar saja? "Jangan terlalu lama berpikir, Kak." "Wanita itu tidak butuh kata-kata manis yang penuh janji, mereka lebih suka bukti nyata." "Jangan terlalu gengsi buat mengakui cinta. Nanti Kakak pasti menyesal." "Kakak dengar? Jangan sia-siakan pengorbanan Sean kemarin." "Kakak tenang saja. Sean akan menyelesaikan urusan kantor hari ini. Jadi, Kakak santai saja di rumah Kak Nasha. Tidak usah terburu-buru." "Sean tunggu kabar gembiranya, ya." Aku mengangkat tangan tanpa menoleh pada Sean. Kalau aku berbalik, dia pasti akan semakin menggodaku. Aku tidak tahu dia punya banyak stok godaan seperti itu. Tapi, setidaknya dia telah membantu untuk membuka hati Nasha, meskipun belum tentu dugaanku itu benar. Mengutip kata-kata Sean 'Jangan terlalu lama berpikir', aku berjalan cepat meninggalkan kantor. Aku harus bertemu Nasha secepatnya untuk memastikan dugaanku. Semoga saja dia tidak mengabaikanku. ??? Aku berdiri di depan pintu apartemen Nasha beberapa menit. Tanganku ragu untuk menyentuh bel. Bagaimana reaksi Nasha melihat kedatanganku pagi ini? Apakah dia masih memikirkan kejadian di kafe kemarin. "Mas Axel tidak mau masuk?" Aku sedikit terkejut dengan kemunculan Tina. Kedua tangannya membawa kantong besar berwarna putih. "Ini belum waktunya belanja," kataku tanpa menjawab pertanyaan Tina. Aku tahu pasti kapan Nasha harus menambah stok barangnya. Lagi pula, Nasha biasanya ikut saat berbelanja. Beberapa kali aku bahkan mengantarnya. Tina tampak bingung untuk menjawab. Dia menatapku sejenak, lalu berdeham. "Ini camilan untuk Mbak Nasha." "Sebanyak itu?" tanyaku tak percaya. Nasha termasuk orang yang jarang memakan camilan, kecuali jika dia sedang bad mood atau tertekan karena terlalu banyak pekerjaan. "Dia sedang banyak pekerjaan?" "Sepertinya bukan itu, Mas Axel. Mbak Nasha .... " Aku menunggu kalimat lanjutan dari Tina, tapi dia terlihat ragu. Apa dia menyembunyikan sesuatu? Aku memicingkan mata dan mencoba menebak jalan pikiran Tina. "Dia marah pada saya?" Tina mengerjap. "Mas Axel sama Mbak Nasha ada masalah?" "Memangnya apa yang terjadi pada Nasha?" "Kemarin, setelah keluar, Mbak Nasha terlihat kesal. Dia mencopoti semua foto Mas Axel dan menyimpannya. Tapi, pagi ini, semua foto Mas Axel sudah terpasang lagi. Makanya saya bertanya seperti itu." "Jadi, dia memang marah?" gumamku pelan. "Sebaiknya kita masuk sekarang." Tangan kananku bersiap memencet bel, tapi pintu apartemen Nasha sudah terbuka terlebih dahulu. Wajah Nasha semakin cantik pagi ini. Dia menggunakan tunik dan jilbab biru, dipadukan dengan celana kain berwarna putih. Melihatnya sedekat ini membuatku terpaku. Kedua mata Nasha memandangku cukup lama, sebelum akhirnya menunduk. Aku bisa melihat dengan jelas jika pipinya merona. Dia berdeham seraya memencet hidung bangirnya. Lalu, kembali menatapku. Kali ini terlihat lebih tenang. "Kamu di sini?" tanya Nasha. "Masuk." Dia menyingkirkan badan dan membiarkanku masuk bersama dengan Tina. "Mau disimpan dulu atau langsung dimakan, Mbak?" tanya Tina sambil mengangkat kedua kantong belanjaannya. "Simpan saja dulu, Mbak," jawab Nasha. Dia berjalan menuju sofa dan duduk dengan tenang. Aku mengikutinya. "Ares tidur?" "Iya. Barusan." Nasha meraih tablet dan mulai sibuk menggambar. Jadi, Nasha berniat untuk mendiamkanku? Aku menghela napas keras-keras, berharap dia menyadari kehadiranku. Tapi Nasha tetap santai mencoret-coret layar tablet. Entah dia memang serius atau sekadar menghindari perbincangan denganku. "Kamu sibuk?" "Kamu bisa lihat sendiri, kan?" tanya Nasha dengan suara sedikit meninggi. Dia sama sekali tidak mengalihkan mata dari benda pipih yang dipegangnya erat. Terlalu erat malah. Sudut bibirku terangkat melihat reaksi Nasha yang sangat menggemaskan. Dia berkali-kali memijat pelipis. Pemandangan ini sungguh sangat menghibur. Aku sangat merindukan sosok itu, padahal kami baru bertemu kemarin. Rasanya sudah sangat lama aku tidak memandang wajah cantik wanita itu. "Kamu tidak mempunyai pekerjaan lain selain memandangiku seperti itu?" Nasha melirik sebentar ke arahku, lalu kembali berkonsentrasi pada tabletnya. "Kamu mendiamkanku?" "Aku sedang sibuk. Bukankah biasanya memang begini? Kenapa mendadak bicara seperti itu? Atau ada hal yang seharusnya aku tanyakan?" "Aku juga penasaran. Apa kamu ingin menanyakan sesuatu?" Tangan Nasha berhenti bergerak. Dia menatapku penuh selidik. "Kamu yang mau mengatakan sesuatu. Bukankah seharusnya kamu memberiku penjelasan?" Aku bungkam. Jadi, Nasha berharap aku menjelaskan sesuatu? Haruskah aku berkata jujur? Atau mengikuti permainan yang disiapkan oleh Sean? "Penjelasan seperti apa?" pancingku. Nasha meletakkan tablet. Sebenarnya sedikit membanting. Dia menyilangkan kedua tangan di d**a dan menatap lurus ke depan. Mengapa aku merasa jika dia menghindari tatapanku? "Axel, kamu sungguh akan bungkam?" "Maksud kamu?" Itu adalah pertanyaan pura-pura. Aku jelas tahu ke mana arah pembicaraan Nasha. "Forget it!" sentak Nasha. Dia kembali meraih tablet dan mengabaikanku. "Gladis itu teman Sean," ujarku mulai menjelaskan. Nasha menghentikan gerakan tangannya, tapi dia masih menatap tabletnya. "Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak." "Benarkah? Dia sangat cantik. Mengapa tidak tertarik padanya?" "Kamu sungguh tidak tahu alasannya?" Aku bisa mendengar Nasha menghela napas dengan kasar. Sekali lagi dia meletakkan tablet. Matanya memeriksa sekeliling. Mungkin sedang memastikan keberadaan Tina. "Bisakah kamu lebih jujur?" ucap Nasha dengan suara yang sangat pelan. Pandangan wanita itu tertuju pada lantai. Jadi, dia ingin aku mengatakan yang sebenarnya? Tunggu dulu. Dia tidak sedang memintaku untuk mengungkapkan isi hati, bukan? "Nasha," panggilku lirih. Nasha hanya memandangku sejenak. "Maukah kamu datang ke rumahku malam ini?" Wanita di hadapanku mendengkus. "Mengapa aku harus ke rumahmu?" "Untuk mengenalkanmu pada keluargaku." Nasha mengubah posisi duduknya. Dia terdiam sangat lama. Membuatku menduga kalau dia tidak menyetujui ajakanku. Mengapa dia masih tidak bisa memercayaiku? "Kenapa kamu harus mengenalkanku pada keluargamu?" Pertanyaan Nasha ternyata masih berlanjut. Aku tahu apa yang sebenarnya ingin Nasha dengar, tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan. Ini adalah pengalaman pertamaku menyukai wanita. Tidak mudah bagiku untuk sekadar bilang 'aku menyukaimu’ atau 'aku mencintaimu'. Lidahku kelu setiap kali mencoba mengatakannya. Seperti ada yang mencegahku untuk mengeluarkan kalimat keramat itu. "Nasha, bisakah kita menemui orang tuaku dulu? Haruskah aku mengatakan alasannya dengan jelas? Aku rasa kamu tahu apa alasanku melakukan itu. Kita sama-sama sudah dewasa," ujarku berkelit. Diam lagi. Tiba-tiba Nasha berdiri. "Kamu mau kopi?" tawarnya. "Sebentar lagi juga ada yang menyajikan," sahutku tenang dan seperti sudah menunggu waktu yang tepat, Tina muncul dengan secangkir kopi. Dia tersenyum padaku, lalu melirik Nasha yang berdiri. "Saya buatkan cokelat panas buat Mbak Nasha," kata Tina dengan senyum yang masih menghias bibirnya. "Terima kasih," ujarku ketika Nasha tidak menanggapi ucapan Tina. Tina sempat melirik majikannya lagi sebelum menghilang ke dapur. "Duduklah, Nasha." Nasha memejamkan mata cukup lama. Aku bisa melihat dia mengatur napas, sebelum akhirnya duduk kembali. Tatapanku tidak bisa beralih dari wajah cantiknya. Nasha selalu memesona di mataku. Apakah selama ini banyak pria yang beranggapan seperti itu? Sepertinya hanya Alfa yang tidak pernah menyadarinya. Atau sadar, tapi tidak mau mengakui. "Mau memandangku terus sampai aku bosan?" Aku tersenyum lebar mendengar pertanyaan Nasha. Dia seperti anak kecil yang sedang merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi. Mata indahnya bahkan tidak bermaksud menatapku. Menyadari hal itu, aku sedikit kecewa. Aku merindukan mata hitam Nasha yang selalu melihat ke arahku. "Nasha, aku ... ," Aku menelan ludah, "mencintaimu." Nasha menegang di tempatnya. Mata yang kurindukan itu mengerjap-ngerjap. Kedua tangan Nasha mencengkeram erat sisi sofa. Aku menatap cemas dan menunggu. "Kamu ... mencintaiku?" Aku mengerutkan kening mendengar nada tak percaya dalam kalimat itu. Apa Nasha tidak yakin padaku? Apakah selama ini semua tindakanku kurang jelas? "Kamu bukan hanya merasa bertanggung jawab kepadaku?" "Kamu meragukan perasaanku?" "Xel, aku hanya meyakinkan kamu supaya tidak menyesal nantinya. Aku tidak mau kamu menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab. Kamu tahu aku tidak menginginkan itu, kan? Aku sudah bilang kalau aku bisa mengurus Ares sendiri. Kamu tetap bisa menemuinya meski kita tidak bersama." Well. Aku mulai mengerti sekarang. Sepertinya Nasha memang sulit menerimaku. Benarkah dia meragukanku? Atau hatinya masih memikirkan Alfa? Aku tersenyum miris memikirkan kemungkinan itu. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Keduanya terasa buruk bagiku. "Do you still remember Alfa?" tanyaku tak sabar. "Axel, ini bukan soal Alfa. Kamulah yang aku khawatirkan. Aku tidak mau kamu salah menilai hubungan kita." "Salah menilai?" Suaraku mulai meninggi. "Kamu hanya mencari alasan untuk menolakku, kan?" "Bukan begitu, Xel. Aku mencintaimu, sungguh. Tapi .... " Nasha terdiam, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Dia mendesis dan memalingkan wajah. Aku sendiri masih terlalu terkejut karena perkataannya. Jadi, Nasha juga mencintaiku? Aku ingin berteriak karena sangat senang. "Kalau kamu memang mencintaiku, lalu mengapa terus menghindar?" "Aku ... aku ...." Nasha terus mengedarkan pandangan ke segala arah, tapi tidak mau berfokus padaku. Duduknya juga tidak nyaman. Dia terus berpindah posisi. Aku ingin tertawa melihat tingkahnya. Apakah dia gugup? "Bagaimana kalau nanti malam?" "Nanti malam?" ulang Nasha. Dia duduk tenang seketika. "Iya. Bagaimana kalau nanti malam ke rumahku?" Nasha menelan ludah. Dia menggigit bibir bawahnya. "Harus nanti malam? Aku masih takut." "Takut? Apa yang kamu takutkan? Atau siapa?" "Semuanya, Xel. Ibu dan adik-adikmu. Juga reaksi mereka dengan kehadiranku. Aku takut mereka ...." "Mereka sudah lama ingin bertemu denganmu, Sha. Aku sudah mengatakan kalau mereka mengetahui hubungan kita sejak awal, bukan? Selama ini mereka hanya melihatmu dari foto. Aku melarang mereka menemuimu, karena takut kamu akan terkejut. Walaupun sesekali mereka mencuri waktu untuk melihatmu dari jauh." Kedua mata Nasha melebar. "Benarkah?" tanyanya masih belum yakin. "Kalau kamu sebegitu tidak yakin, mengapa tidak menemui mereka langsung? Aku jamin kamu akan merasa nyaman di tengah-tengah keluargaku. Percayalah padaku," kataku meyakinkan. Nasha tampak belum yakin dengan kata-kataku. Dia masih diam. Mungkin memikirkan kejadian yang belum tentu akan dia alami. "Tidak ada yang perlu ditakuti, Sha. Kamu bisa pegang kata-kataku." Aku mencoba meyakinkan Nasha lagi. Sebenarnya aku ingin menggenggam tangannya, tapi itu terasa tidak sopan. Dia sedang dalam proses berhijrah sekarang. Setidaknya aku harus menghormati, bukan? Omong-omong soal hijrah. Nasha bertambah cantik dengan penampilan barunya. Aku senang dia memutuskan untuk berjilbab. Meski tidak terlalu mengenal agamaku, aku masih salat dan membaca Alquran. Mama juga terkadang memakai jilbab dalam momen-momen tertentu. Semoga setelah kehadiran Nasha, keluargaku lebih tertarik untuk berhijrah. "Kamu cantik dengan jilbab seperti itu," kataku tulus. Nasha tersipu. Dia tersenyum canggung. "Kamu keberatan aku memakai jilbab?" "Tentu saja tidak. Sebaliknya, aku mendukung keputusanmu. Jadi, nanti malam ke rumah?" Nasha berdeham, lalu mengangguk pelan. "Lebih cepat, lebih baik, kan?" "Lebih cepat buat menikah dan hidup bersama, bukan?" godaku yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nasha. Aku tergelak dan tidak bermaksud untuk menghentikannya. Saat ini aku sedang bahagia, jadi tidak ada salahnya aku tertawa. Lagi pula, kami tidak sedang berada di dalam mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD