5. Nasha

1900 Words
"Kamu enggak makan dulu?" tawarku sekali lagi saat Axel sudah berada di depan pintu apartemen. Axel tersenyum. "Sean baru saja menghubungiku. Katanya ada sedikit masalah yang harus kami selesaikan." Aku mengangguk paham. Sedikit kecewa karena kami tidak makan bersama. Kenapa aku jadi sedih begini? Axel, kan, hanya pergi ke kantor. Nanti malam kami juga bertemu lagi. Ini lagi. Kenapa pula jantungku meronta-ronta di dalam sana? Apa dia tidak bisa sedikit saja pengertian padaku? Bagaimana kalau Axel menyadari detak jantungku yang tidak normal. Ya Allah! Bisa-bisanya aku tadi bilang 'cinta'. Padahal aku sudah berniat untuk memperbaiki diri. Aku sudah berjilbab segala untuk mendukung hijrahku. Ternyata, menjaga hati itu tidak semudah saat mengatakannya. Kamu bisa dengan mudah bilang untuk mengontrol perasaan. Nyatanya, hati tidak mudah dikendalikan. Apalagi ketika kamu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta? Benarkah aku jatuh cinta pada Axel? Apa ini benar-benar cinta atau hanya rasa nyaman? Pria itu sudah terlalu sering wara-wiri dalam keseharianku. Mungkin saja aku cuma terbiasa dengan kemunculan sosoknya. Tidak! Aku cemburu waktu melihatnya dengan wanita lain. Cemburu itu tanda cinta, kan? Please, deh, jantung! Jangan konyol. Kamu seperti anak a-be-ge yang baru mengenal cinta. Jelas-jelas kamu sudah pernah menyukai lawan jenis. Mengapa harus nervous begitu, sih? Karena ini pertama kalinya cintaku dibalas. Aku merasa lebih bersemangat dan bahagia. Ya Allah. Ini sungguh memalukan. Bolehkan aku menyukai pria seperti ini? Aku merasa terpikat dan sulit melarikan diri. "Nasha!" Axel mengibaskan tangan di depan wajahku. "Ya?" Aku mengerjap. Apa aku tadi melamun? "Kamu kenapa? Jangan melamun saat menggendong Ares," ujar Axel sambil menunjuk Ares yang berada dalam gendonganku. Anak itu menggapai-gapai wajahku. "Maaf, Sayang. Mama tadi tidak sadar." "Mamamu sepertinya masih ingin bersama dengan Papa." Aku melirik Axel dengan tajam. Bisa kurasakan kalau seluruh wajahku memanas. Apa aku merona? "Lihat saja wajah Mama, semerah tomat." "Axel!" tegurku kesal. Axel membuatku semakin malu. "Aku jemput jam tujuh malam," kata Axel setelah berusaha menyembunyikan tawanya. Aku hanya mengangguk. "Jaga Mama buat Papa, ya. Jangan rewel. Kasihan Mama." Axel membelai pipi Ares dan membuat bayiku tersenyum. Ares selalu suka saat Axel menyentuhnya. Aku senang menyadari keduanya sangat dekat. "Aku pamit." "Hati-hati di jalan." Axel bersiap membuka pintu, tapi kemudian berbalik. "Ada yang tertinggal," katanya. Aku mengernyit. "Apa?" "Assalamualaikum," ucap Axel pelan. "Waalaikumsalam," jawabku malu-malu. Setelah itu Axel pergi. Aku menghela napas, lalu menatap Ares yang terus menggumam. Anakku itu masih menggapai-gapai wajahku. Perlahan, aku meraih tangan mungilnya dan mengecup lembut. "Kenapa, Nak? Kamu juga tidak sabar ingin bertemu dengan Nenek?" Ares menggeliat dalam dekapanku. Sepertinya dia juga ingin segera bertemu dengan neneknya. Aku merasakan ada sesuatu yang menyusup dalam hati. Perasaan ragu kembali menderaku. Apakah keluarga Axel bisa menerima kehadiranku? ??? Aku meletakkan baju di atas tempat tidur yang sudah penuh sesak. Tiba-tiba aku merasa perlu untuk memiliki baju baru. Padahal aku sudah membawa beberapa baju dari butik kemarin. Mengapa tidak ada yang terasa pas untuk dipakai malam ini? Gaya seperti apa yang disukai oleh ibu Axel? Dia tidak akan keberatan karena aku menggunakan jilbab, kan? Meski Axel mengatakan kalau keluarganya sudah menanti kedatanganku, tetap saja aku masih merasa perlu untuk tampil maksimal di depan mereka. Aku menghempaskan badan di lantai dan melihat tumpukan baju di tempat tidur. Belum pernah aku merasa sebingung ini untuk memilih baju. Aku adalah desainer ternama. Sudah banyak orang terkenal yang menggunakan desainku. Aku selalu percaya diri dengan penampilanku. Tak ada baju yang tidak cocok saat kugunakan. Semua orang mengatakan jika aku pantas mengenakan baju apa pun. Sekarang, aku pikir itu tidak benar. Lihat saja semua baju itu! Tidak ada yang cukup baik dipakai untuk makan malam dengan keluarga Axel. Semua busana terasa terlalu biasa. Aku ingin sesuatu yang lebih menarik. Helaan napas lolos dariku. Ada yang salah pada diriku. Mengapa saat berhubungan dengan Axel, selalu saja ada yang kurang? Apa aku memang tidak pantas berada di dekat pria itu? Axel adalah pria idaman wanita mana pun, tapi aku? Hanya kesalahan semalam. Aku bukan siapa-siapa jika saja tidak ada Ares. Mataku melirik Ares yang sudah tertidur pulas di dalam boks hangatnya. “Apa menurutmu Mama terlalu terburu-buru?” tanyaku mulai meragukan Axel. Kami baru saling kenal. Axel merupakan sosok asing yang tiba-tiba muncul untuk menyelamatkan hidupku. Dia menjadi pahlawan karena membebaskanku dari Alfa. Setelah dipikir-pikir, aku sama sekali tidak mengenal Axel. Aku hanya mengetahui segala hal tentangnya melalui internet. Ternyata kami belum sedekat itu sampai harus menceritakan kepribadian masing-masing. Apa Axel juga merasa begitu terhadapku? Selama ini Axel tidak pernah menanyakan apa pun tentangku. Dia memang sering berkunjung berjam-jam ke apartemenku, tapi kami nyaris tak pernah mengobrol. Pria itu lebih banyak berinteraksi dengan Ares. Sementara jika Ares tertidur, dia akan menyibukkan diri dengan mengecek pekerjaan melalui tabletnya. Lalu, aku menyelesaikan tugasku yang menumpuk. Benarkah Axel tidak pernah mencintai wanita mana pun sebelumnya? Tidak mungkin, kan, tidak ada wanita yang dekat dengannya selama ini. Dia itu perfect. Tidak sulit untuk menumbuhkan rasa cinta pada sosoknya. Aku sudah pernah bilang bagaimana pribadi Axel, kan? Aku menghela napas entah untuk yang ke berapa kali. Tanganku meraih ponsel dan membuka galeri. Keluarga Axel tampak sempurna, kecuali dengan absennya sang ayah. Mereka terlihat bahagia di foto. Semua tersenyum ke arah kamera. Usia Mama Axel sudah hampir enam puluh tahun, tapi dia masih tampak cantik dengan rambut sebahu yang telah ditumbuhi beberapa uban. Senyumnya terlihat tulus dan penuh kasih. Mengingat bagaimana Axel menceritakan tentang mamanya, pasti dia adalah sosok yang sangat berarti bagi pria itu. Sean, adik pertama Axel. Wajahnya sangat tampan. Jika dilihat dari ekspresinya, dia pribadi yang lebih ceria. Senyumnya merupakan yang paling lebar di antara semua orang. Mata tajamnya mengingatkanku pada salah seorang teman yang memiliki kebiasaan bergonta-ganti pasangan. Tapi, tidak ada berita satu pun yang mengabarkan jika Sean seorang playboy. Sebaliknya, dia dikenal sebagai sosok yang paling memperhatikan sang ibu. Adik kedua Axel, Vanny, membuka sebuah usaha tas lokal bersama dengan si bungsu, Jenny. Mereka tampak sangat dekat. Ada Vanny, pasti ada Jenny. Oh, iya, Jenny sekarang masih kuliah semester enam. Wajar sih kedua gadis itu dekat, jarak umur mereka hanya dua tahun. Jenny sepertinya lebih ekspresif daripada Vanny yang cenderung diam. Vanny memang tersenyum, tapi tidak lepas. Kurasa dia gadis pendiam yang terjebak di antara saudara-saudaranya yang ceria. Tentu saja maksudku adalah Sean dan Jenny. Pas sekali, kan? Empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Dua sosoknya ceria dan dua lagi pendiam. Sangat serasi. Keluarga mereka melengkapi satu sama lain. Tidak pernah ada gosip perselisihan di antara mereka. Mereka selalu kompak di setiap kesempatan. Aku merasa iri karena Axel memiliki keluarga yang bahagia. Dia di kelilingi orang yang penuh kasih. Berbeda denganku yang lahir dalam keadaan yatim. Sulit bersosialisasi, sehingga aku tidak pernah benar-benar memiliki seorang teman. Alfa adalah satu-satunya teman dekatku. Kedekatan kami bermula ketika dia menolongku dari sekumpulan anak yang mengejekku karena tidak mempunyai ayah. Saat itu merupakan hari pertama aku menginjakkan kaki di SMP. Alfa yang sangat baik menjagaku mulai hari itu. Kalau ada yang berani mencibirku, dia tidak akan ragu untuk maju. Memiliki sahabat yang selalu berada di sampingku ternyata sangat menyenangkan. Aku mulai menjelma menjadi orang yang lebih percaya diri. Alfa sudah berusaha melindungiku, setidaknya aku tidak boleh terlalu membebani. Mulailah aku merangkai mimpi agar bisa sukses. Aku berjanji akan membalas segala kebaikan Alfa di kemudian hari. Lalu, sosok Hana muncul. Hana itu teman sebangkuku saat SMA. Bertolak belakang denganku, Hana sangat ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun. Dalam sekejap, kami menjadi sahabat. Saat itulah bencana dalam hidupku di mulai. Sahabat baikku, Alfa, jatuh cinta pada Hana. Mengetahui hal itu, aku merasa kecewa. Alfa memang tidak pernah sekali pun mengatakan cinta padaku, tapi kami selalu bersama. Aku hanya tidak menduga kalau dia bisa secepat itu dekat dengan Hana, bahkan mencintainya. Ketika akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih, akulah yang paling menderita. Semua teman kami menyebut-nyebut keduanya sebagai pasangan serasi. Tentu saja, Alfa dan Hana merupakan idola seluruh sekolah. Tak ada yang tidak mengenal keduanya. Memangnya aku siapa? Aku hanya cewek yang selalu mengekori si cowok populer. Hampir semua orang setuju kalau aku hanya pesuruh Alfa. Meskipun Alfa sudah sering menjelaskan tentang posisiku sebagai sahabatnya, mereka tidak percaya. Mereka mungkin memperlakukanku dengan baik saat ada Alfa. Tapi, aku tahu mereka selalu membicarakanku. Si Nasha yang tidak tahu malu. Untuk apa dia berada di dekat Alfa? Si Nasha yang tidak memiliki ayah. Dia hanya merusak reputasi Alfa yang keren. Si Nasha yang hanya bermodal kepintaran. Mengapa dia selalu menempeli Alfa? Aku tidak membesar-besarkan masalah. Mereka memang membenciku. Seolah aku tidak berhak berada di tengah-tengah mereka. Oke. Aku masuk SMA favorit memang karena beasiswa. Lalu, di mana kesalahanku? Jadi, aku mulai menjaga jarak dengan Alfa. Hana yang manis itu sebenarnya tidak masalah kalau aku dekat dengan Alfa. Dia bahkan selalu membantu ketika ada yang membandingkan posisiku dengannya. Tak pernah sekali pun dia terpengaruh dengan teman-teman kami. Tapi terkadang Hana terlihat terlalu baik. Awalnya, aku mulai merelakan kebersamaannya dengan Alfa. Sampai hari itu datang. Hari di mana aku melihat dia dengan laki-laki lain. Aku yakin dia bukan teman atau keluarga Hana. Mereka tampak sangat dekat. Aku yang penasaran langsung menanyakan masalah itu pada Hana. Kalian tahu apa jawabannya? “Itu Herry. Dia pacar pertamaku dan cowok yang paling aku sayangi. Dia tidak keberatan jika aku memiliki pacar lain. Asalkan aku selalu kembali padanya.” Ya ampun. Teganya Hana. Aku tidak menyangka dia gadis seperti itu. Bagaimana bisa dia mempermainkan perasaan orang lain, apalagi Alfa. Dia sangat tulus mencintai Hana. Aku sudah sering mendengar tentang rencana masa depan yang disusun Alfa dan ada nama Hana di sana. Saat Alfa tahu semua itu, akulah yang berada di sampingnya. Mendampingi Alfa mengobati luka. Alfa benar-benar terpuruk karena patah hati dan memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi. Miris sekali. Padahal ada aku yang siap mengorbankan apa pun untuk dirinya. Aku mencoba peruntungan dengan mengungkapkan perasaanku pada Alfa setelah beberapa tahun berlalu. Sayangnya, Alfa menolak. Dia hanya menganggapku sebagai sahabat berharganya. Yang paling menyedihkan lagi adalah ketika Alfa mengatakan akan membuka hati untuk wanita baru, Almira. Perasaanku tidak bisa terbendung lagi. Bisa-bisanya dia menolakku dan mengizinkan orang baru untuk memasuki hatinya. Aku begitu putus asa dan pergi ke Singapura untuk menenangkan diri. Naas bagiku karena di sana malah terlibat masalah dengan Axel. Yah, cerita masa lalu yang membosankan. Aku tidak menyangka kisahku akan setragis itu. Sekarang aku malah jatuh hati pada orang yang kuanggap pernah menghancurkan masa depanku. Siapa yang tahu Allah akan melabuhkan perasaanku pada Axel. Rahasia takdir sungguh sangat menakjubkan. Aku mendapat kebaikan karena diberi pria seperti Axel. Setelah apa yang kulakukan pada Alfa dan Almira, aku merasa sangat berdosa. Jadi, jika sekarang pria sesempurna Axel mendatangiku dengan tangan terbuka, tidak ada alasan untuk menolaknya, kan? Itulah jalan terbaik yang diberikan oleh-Nya. Aku hanya harus menjalani dan menjaga hubungan ini. Semoga saja keputusanku tidak salah. Aku berharap kisahku dan Axel tidak akan serumit masa laluku. Baiklah. Dari pada aku terus mengingat masa kelam, lebih baik sekarang mempersiapkan diri. Aku harus tampil meyakinkan di depan keluarga Axel. Supaya mereka tahu bahwa aku memang menginginkan Axel. Aku ingin mereka melihat ketulusanku. Dengan pikiran yang lebih segar, aku bangkit dan mulai membereskan baju-baju malang di atas tempat tidur. Mengapa aku harus memberantakkan lemariku. Padahal aku baru merapikannya. Ini sedikit menyebalkan. Gerakan tanganku berhenti ketika terdengar suara ponsel. Aku meraih benda itu dan membeliak begitu menatap layarnya. Napasku bahkan terasa berhenti sejenak. Ya Allah, bagaimana ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD