"Bagaimana bisa kamu seceroboh itu, Xel? Mama tahu kamu ingin membawa Nasha ke sini, tapi jangan mendadak seperti ini."
Omelan Mama menyambut begitu aku memasuki rumah. Aku yang baru saja pulang dari kantor hanya bisa diam. Ini pertama kalinya, setelah bertahun-tahun, Mama mengomeliku. Terus terang saja, aku rindu Mama yang selalu menegurku saat salah. Setelah kepergian Papa, Mama jadi sosok yang asing di mataku.
Akhirnya, Mama yang dulu kukenal bisa terlihat lagi. Aku yang ingin menyalahkan Sean atas mulut besarnya jadi mengurungkan niat. Berkat keteledorannya itu, aku menemukan sosok wanita sepuh yang kurindukan.
"Axel sudah menyiapkan semuanya, Ma. Jadi, Mama tidak perlu repot-repot mema--"
"Tidak perlu repot katamu?" potong Mama cepat.
Aku melirik ketiga adikku yang berdiri tak jauh dariku. Sean meringis dan menangkupkan tangan di d**a. Sementara Vanny dan Jenny hanya diam. Apa mereka pikir aku takut karena dimarahi Mama? Seharusnya aku memang takut, tapi ini sangat menyenangkan. Aku rela berbuat salah terus, jika Mama mau berteriak begini. I really miss it.
"Meski begitu, seharusnya kamu tidak terburu-buru. Masa sudah ke sini, malah makan makanan restoran. Mama kan mau memasakkan calon menantu Mama."
Wajahku memanas mendengar istilah 'calon menantu' yang keluar dari mulut Mama. Hal itu membuatku membayangkan bagaimana jika Nasha menjadi istriku. Sesuatu yang sudah lama aku inginkan. Kapankah aku bisa meminang Nasha?
"Mama, kan, bisa masak lain waktu. Toh, Kak Nasha akan sering ke sini," kata Sean pelan.
"Diam, Sean! Mama sedang berbicara pada kakakmu."
Sean membuat gerakan mengunci mulut dengan tangan. Dia menyeringai padaku. Aku memutar mata. Karena suasana hatiku sedang baik, aku akan memaafkan adikku itu kali ini.
"Sudahlah, Ma. Bukankah yang penting Nasha mau ke sini. Memangnya Mama tidak mau segera menggendong cucu Mama?"
Mata Mama berbinar mendengar perkataanku. Sesuai dugaanku. Kata 'cucu' adalah senjata ampuh untuk melunakkan hati Mama. Aku tahu jika Mama diam-diam membeli beberapa baju bayi untuk diberikan pada Ares. Mama bahkan menyiapkan ruangan khusus untuk bermain anakku.
"Ares benar-benar akan datang?"
"Tentu saja, Ma. Mana mungkin Nasha datang sendirian. Dia dan Ares itu satu paket. Jadi, tidak bisa dipisahkan."
Aku meringis ketika Mama tanpa terduga memukul lenganku sedikit keras. Aku bisa melihat Sean yang hampir tertawa karena menyaksikan kakaknya disiksa. Untungnya dia lebih cepat menyadari lirikanku yang mematikan. Kalau ada yang paling diandalkan dariku, itu adalah mata tajam. Semua orang setuju kalau tatapanku memang sulit untuk dikalahkan. Kamu juga akan menyetujuinya setelah bertemu denganku.
"Mama semakin tidak sabar. Kamu jemput Nasha sekarang saja," kata Mama.
"Ma, ini kan baru jam empat. Axel jemput Nasha jam tujuh saja, ya. Lagi pula Axel sudah bilang akan menjemput jam tujuh. Bagaimana kalau Nasha belum siap?"
"Kamu bisa menunggunya. Kamu, kan, sangat betah berada di apartemen Nasha."
Sekakmat!
Apa yang dikatakan Mama memang benar. Aku sangat nyaman berada di apartemen Nasha, sampai terkadang suka lupa waktu. Tempat itu sudah terasa seperti rumahku sendiri. Keberadaan Ares semakin membuatku betah. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah pada Sean yang harus menyelesaikan berbagai hal di kantor. Sementara aku bersantai. Tapi, adik laki-lakiku itu tidak merasa keberatan. Dia santai-santai saja saat aku tidak ada. Aku juga sudah meneliti setiap pekerjaannya, semua terselesaikan dengan baik.
Melihat bagaimana Sean bisa diandalkan, aku yakin dia akan menjadi pemimpin yang baik suatu hari nanti. Dia memang sudah serius menangani bisnis kami sejak beberapa tahun terakhir. Apalagi ketika aku mengalami masalah setahun lalu. Sean tidak mengetahui jika aku melakukan kesalahan semalam dengan Nasha. Saat aku harus menyelesaikan permasalahan itu, Sean mendukung. Aku bersyukur dia tidak menggunakan mulut besarnya untuk menginterogasi.
"Axel, kamu akan menjemput Nasha sekarang, kan?" tanya Mama mengulangi. Aku menghela napas. Sepertinya aku akan kalah, jadi aku hanya mengangguk.
"Good! Vanny sama Jenny, bantu Mama siap-siap. Cepat!" Mama berjalan tergesa menuju dapur. Diikuti oleh kedua adik perempuanku.
"Jadi, apa yang Kakak katakan pada Kak Nasha?"
Sean tahu-tahu sudah ada di sampingku. Aku mendengkus. Mengapa dia terlalu ikut campur urusanku? Setelah mengetahui bahwa kelemahanku adalah Nasha, dia selalu menggunakan wanita itu untuk memojokkan diriku. So perfect!
"Kenapa Kakak harus mengatakannya padamu? It's not your business."
Sean mengusap dagu sambil memberi tatapan penuh selidik padaku. "Kakak nembak Kak Nasha, ya?"
Aku langsung terbatuk mendengar tebakan Sean yang tepat. Bagaimana bocah itu bisa tahu? Dia tidak mengikutiku, bukan?
"Sean benar, kan?" desak Sean.
Aku berdeham keras, lalu menepuk pundak Sean berulang kali. "Kamu terlalu sok tahu. Lebih baik kamu bersiap untuk mencari jodoh. Sebentar lagi Kakak menikah. Kamu juga akan segera menyusul. Umurmu sudah tiga puluh," ujarku mengingatkan.
"Kakak tenang saja. Sean lebih mudah mencari wanita. Tidak seperti Kakak. Apa Kakak lupa kalau Sean sangat berpengalaman?"
Kepalaku mengangguk berkali-kali. Tentu saja aku ingat bagaimana petualangan cinta Sean yang memalukan. Dia mengatakannya, seolah itu sesuatu yang membanggakan. Apa kerennya saat kamu bisa menipu banyak wanita untuk dimanfaatkan? Itu aib, bukan prestasi.
"Lebih baik kamu berhati-hati, Adik kecil. Jangan terus membodohi wanita yang menyukaimu. Kamu tidak akan mau diperalat oleh orang yang sangat kamu sukai, bukan? Think about your future! Good luck!"
Sekali lagi, aku menepuk pundak Sean. Lalu, pergi tanpa mendapat balasan darinya. Sejujurnya, aku sedikit heran karena dia tidak membantah ucapanku. Apa dia sudah pernah mengalami hal itu? Sayang sekali malam itu aku tidak bisa berpikir jernih. Jadi, aku belum menyadari gelagat tak biasa dari seorang Sean.
???
"Kenapa sudah jemput?"
Aku disambut oleh wajah bingung Nasha begitu tiba di apartemennya. Dia baru saja selesai memandikan Ares. Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku meminta Ares dan menggendongnya. Anakku itu semakin hari, semakin mirip denganku.
"Mama memintaku untuk menjemputmu sekarang. Kita salat magrib dulu, baru berangkat. Bagaimana?"
Nasha mengangguk. "Mau salat di sini?"
"Maunya begitu, tapi aku salat di masjid saja."
Aku berjalan menuju sofa tanpa menunggu dipersilakan oleh Nasha. Wanita itu berjalan menuju dapur tanpa mengatakan sesuatu. Ares sedikit meronta dalam gendonganku. Mata kecilnya menatapku. Aku mengubah posisinya agar dia lebih nyaman. Tidak lama kemudian, dia sudah mengoceh.
"Ares harus jadi anak yang baik, ya. Tidak boleh merepotkan Mama," kataku sambil membelai pipi Ares. Aku tidak menyangka akan memiliki anak secepat ini. Ternyata anak bisa membuat hidup kita lebih bersemangat dan bahagia.
"Anak Papa sudah harum, ya?" Aku mulai menciumi wajah Ares. Bayi mungilku itu tertawa.
"Kenapa mendadak ke sini? Katanya mau jemput jam tujuh." Nasha meletakkan secangkir kopi di meja, lalu duduk agak jauh dariku.
"Aku sudah bilang kalau Mama yang menyuruh," ujarku setelah berhenti menciumi Ares. "Mbak Tina sudah pulang?"
"Belum. Itu masih beres-beres di dapur." Nasha berdeham. "Tidak apa-apa, kan, kalau aku hanya membawa kue ini?" tanyanya ragu.
Aku tersenyum. "Sebenarnya tidak perlu membawa apa pun. Mama cuma ingin bertemu denganmu dan Ares. Mama tidak butuh yang lainnya."
"Tapi tidak mungkin aku ke sana dengan tangan kosong. Itu tidak sopan namanya."
"Mau menyogok Mama supaya cepat-cepat menikahkan kita, ya?"
"Apaan, sih?" Aku tersenyum melihat wajah Nasha yang memerah. Entah mengapa aku jadi ahli merayunya. Aku hanya mengikuti nurani. Apa mungkin setiap pria diberi bakat untuk membuat wanita merona?
"Kamu tahu, Xel?" tanya Nasha tiba-tiba.
"Apa?" Nasha memasang wajah serius. Aku sampai menegakkan badan karena penasaran.
"Kamu sekarang suka menggoda, lho. Yakin kamu tidak pernah dekat dengan wanita mana pun?"
Perkataan Nasha memang benar. Belakangan ini aku jadi suka menggodanya. Tapi hanya dia wanita yang aku rayu. Sebelumnya, aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Bagiku, keluarga adalah prioritas. Jadi, aku tidak pernah memperhatikan orang lain, terlebih kaum hawa.
Teman wanita banyak, tapi tidak ada yang benar-benar dekat. Mungkin hanya satu dan dia sudah tinggal di Singapura bersama kekasihnya. Sesekali kami saling menyapa. Sekadar memastikan jika kami masih mengenal satu sama lain. Lagi pula, kekasihnya juga sahabatku sejak kecil. Jadi, hubungan kami dekat karena wanita itu memiliki hubungan dengan temanku. Just it.
"Kamu sedang menginterogasiku? Kamu mencemburui seseorang?"
"Nah, kan. Kamu sedang menggodaku," kata Nasha seraya menjentikkan jari.
"Aku sedang bertanya, bukan menggoda."
"Tidak. Kamu berniat menggoda," kata Nasha bersikeras.
"Memangnya kenapa kalau aku menggoda calon istriku?"
Lagi-lagi Nasha tersipu. Aku bisa mendengar dia mendengkus. Dia meraih gawai dan mulai sibuk mengetik sesuatu. Ya ... itu tandanya dia sedang merajuk. Mengapa aku justru senang, ya? Aku memandangi wajahnya yang semakin indah. Sepasang mata yang penuh cinta. Alis mata yang tegas. Buku mata lentik. Hidung kecil yang mancung. Bibirnya mungil. Yang paling menarik adalah kedua pipi chubby yang selalu ingin aku cubit. Kapan aku bisa menyentuh pipi itu?
"Axel!" Nasha mengibaskan tangan di depan wajahku. Adegan ini terasa familier. Apa aku pernah mengalami hal ini sebelumnya? Aku mendongak karena sekarang Nasha sudah berdiri di dekatku.
"Kenapa, Sha?"
"Kamu yang kenapa. Katanya tidak boleh bengong kalau sedang menggendong Ares," ucap Nasha dengan wajah cemberut. Dia mengulurkan tangan dan meminta Ares. "Sudah hampir magrib, sebaiknya kamu ke masjid sekarang."
"Oh," gumamku seperti orang bodoh. Aku menyerahkan Ares pada Nasha, lalu berdiri.
"Bersiaplah. Setelah magrib kita akan langsung berangkat. "Nasha mengangguk. Dia berjalan ke arah kamar. "Nasha!" panggilku sedikit keras.
"Ya ampun, Xel. Tidak usah berteriak. Kita tidak sedang berada di hutan."
Aku hanya meringis. "Maaf."
"Kenapa lagi?"
"Jangan berdandan terlalu cantik."
"Kenapa? Bukannya aku harus tampil cantik?"
"Sebaiknya jangan." Nasha memandangku penuh selidik. Aku tidak mungkin bilang kalau dia sudah cantik tanpa harus berdandan, bukan? Nanti dia bilang aku menggodanya lagi. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu aneh," ujar Nasha, masih dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kalau kamu terlalu cantik, nanti Sean akan merayumu."
Tanpa kuduga, Nasha malah tertawa. Aku tertegun menyadari wajah Nasha yang bertambah menarik saat memamerkan deretan giginya yang putih. Apa dia tidak sadar kalu dia semenarik itu?
"Kamu cemburu pada adikmu sendiri, Xel?" tanya Nasha ketika sudah menguasai diri.
"Kamu tidak mengenal Sean, jadi sebaiknya tidak usah terlalu dekat."
Nasha berjalan mendekatiku. "Apa Sean benar-benar playboy?" tanyanya.
"Apa maksud kamu benar-benar playboy? Memangnya kamu mengenal Sean?"
"Aku bertanya karena penasaran. Kenapa kamu sinis begitu?"
"Siapa yang sinis?" Memangnya aku terlihat sinis? Mana mungkin Sean bisa membuatku sinis?
"Sudahlah. Kamu pergi saja. Aku akan berdandan dengan sangat cantik, sampai kamu terpesona," kata Nasha sambil mengedipkan mata.
"Tidak perlu begitu. Tanpa berdandan, aku sudah terpesona."
Nasha memalingkan wajah. "Kamu masih ingat letak pintu keluar, kan? Aku mau siap-siap," ucapnya dengan nada tajam. Wanita itu lalu berjalan cepat menuju kamar. Dia bahkan tidak menoleh meski aku memanggil.
Aahhh
Mengapa menggoda Nasha terasa menyenangkan? Ekspresi Nasha yang malu-malu malah menghanyutkanku. Membuat aku semakin ingin menggodanya. Apa ini? Ternyata menggoda wanita itu menimbulkan kepuasan tersendiri. Pantas saja Sean suka menggoda kaum perempuan.
Tenang saja. Aku hanya akan menggoda Nasha seumur hidupku. Memangnya siapa lagi yang akan aku buat merona seperti itu. Nasha adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Cukup dia. Aku tidak membutuhkan siapa pun lagi.
Terkadang aku takut dengan perasaanku sendiri. Nasha pernah jatuh cinta setengah mati pada pria lain. Bisakah aku menghapus nama pria itu? Bagaimana jika rasa cintaku tidak cukup besar untuk menggantikan posisi Alfa?
Aku menarik napas untuk menenangkan hati. Hidup bersama Nasha adalah pilihanku. Setelah kami menikah, aku akan memiliki banyak waktu untuk membuatnya menatapku. Hanya menatapku. Lagi pula, dia sudah bilang kalau dia mencintaiku. Aku tidak mungkin melepasnya setelah pengakuan itu. Dia terlalu berharga untuk direlakan.