Aku terpaku begitu melihat bagaimana megahnya rumah Axel. Kegugupan langsung menyergap saat mataku melihat dua orang pria berpakaian serba hitam yang berdiri di dekat pintu masuk. Lampu penerangan di halaman sangat sempurna, sehingga aku bisa melihat betapa luas pekarangan Axel.
Berbagai bunga mawar dengan warna dan jenis berbeda mendominasi. Membuatku menduga-duga, siapakah yang menyukai bunga itu. Ibu Axel? Lalu, aku teringat sesuatu. Tepat ketika kulihat Axel tersenyum padaku.
Mencoba mengatasi kegugupan, aku melangkah mendekati Axel. Pria itu memandangku dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Keningnya berkerut dan hanya memperhatikan langkahku.
"Kenapa?" tanya Axel dengan nada khawatir.
"Aku benar-benar melupakan sesuatu yang penting," bisikku sepelan mungkin agar penjaga pintu Axel tidak mendengar. Aku tidak tahu bagaimana wajahku saat mengatakan hal ini, tapi Axel terlihat gelisah.
"Apa aku perlu menyuruh seseorang untuk mengambilnya?"
Aku menggeleng cepat, lalu berkata dengan serius, "Siapa nama ibumu?"
Axel menutup mulut untuk menyembunyikan tawanya. Memangnya ini lucu? Aku sungguh-sungguh tidak mengetahui nama ibu Axel. Di setiap artikel yang aku baca, tidak ada yang menyebut-nyebut namanya. Atau aku yang terlewat? Tidak! Aku yakin sudah mencari semua informasi mengenai keluarga Axel. Maksudku, setidaknya aku harus tahu nama mereka sebelum kami bertemu. Axel, seperti yang sudah aku katakan, tidak pernah menceritakan tentang keluarganya.
"Aku serius, Xel," kataku tajam.
Axel berdeham. "Nama Mama Helma dan Mama memang tidak suka kalau namanya disebut-sebut di semua berita. Jadi, Mama melarang semua orang untuk menyebut namanya dalam setiap pemberitaan."
"Baiklah. Apa kita akan masuk sekarang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Axel mengangguk. "Apa ibumu menyukai bunga mawar?"
"Sangat. Itu bunga penuh sejarah bagi Mama. Kapan-kapan aku akan menceritakannya."
Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan Axel. Pria itu melangkah terlebih dahulu dan berbicara pada kedua penjaga pintunya. Aku menghela napas dan menyentuh pipi lembut Ares yang masih terlelap.
"Mama gugup sekali, Sayang. Kamu jangan rewel, ya." Aku mengecup tangan kanan Ares, kemudian menghampiri Axel yang sudah selesai bicara.
"Siap untuk masuk?" Aku mengembuskan napas kasar, tapi tetap mengangguk. "Kamu tidak perlu gugup. Keluargaku sangat welcome, tapi sebaiknya kamu mengabaikan Sean. Dia itu ... apa, ya?" Axel terdiam sebentar. "Pokoknya tidak usah pedulikan dia. Anggap saja semua tingkah dan omongannya itu sebagai angin lalu."
"Mengapa begitu?"
"Sudahlah. Untuk saat ini, kamu cukup tahu itu. Ayo, masuk."
"Oh ya, aku meninggalkan kuenya di mobil." Bagaimana bisa aku melupakan buah tangan kecil itu.
"Akan ada yang mengambil. Kamu akan kerepotan membawanya. Sementara aku tidak mungkin menenteng kue seperti itu."
Aku memutar bola mata. Seharusnya aku tidak lupa kalau Axel memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi. Heran, kenapa wajahnya terlihat biasa. Padahal perkataannya sangat menyebalkan.
"Ayo, masuk,” ajak Axel.
Salah satu penjaga membukakan pintu untuk Axel. Aku mengikutinya dalam diam. Mataku mengerjap melihat ruang tamu Axel yang luas. Didominasi dengan warna putih dan gold yang sangat indah.
Dua orang wanita menggunakan setelan biru-hitam menghampiri Axel. Mereka tersenyum pada pria itu dan tidak mendapat balasan. Dasar! Sok cool. Apa dia selalu bersikap tak acuh? Setidaknya balas senyum mereka, kalau dia terlalu malas untuk menyapa atau berbasa-basi.
"Selamat datang, Tuan Axel, Nona Nasha. Nyonya sudah menunggu di dalam," ucap salah seorang pelayan.
"Terima kasih," jawabku ramah. Mereka pasti sudah berlatih untuk menyambutku, sampai sudah tahu namaku. Aku bisa merasakan Axel melirik. Dia mendengkus dan berjalan lebih cepat.
"Selamat datang, Nasha."
Terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, aku menegang saat seorang wanita memelukku erat. Itu pasti ibu Axel. Aku balas memeluknya, sekadar untuk menghormati sikap ramahnya. Tapi aku malah terhanyut dengan perasaanku. Kapan terakhir kali aku merasakan pelukan sehangat ini?
"Cantik," ujar ibu Axel setelah melepas pelukannya. Dia memandang Ares yang berada dalam gendonganku. "Ini Ares?"
"Iya, Tante," jawabku lancar. Aku bersyukur suaraku tidak bergetar. Bisa ketahuan kalau aku gugup.
"Kamu bisa panggil Mama. Kita, kan, sudah menjadi keluarga," kata ibu Axel tanpa beban. Sebaliknya, aku membeku mendengar hal itu.
"Mama terlalu bersemangat," ujar seorang pria yang kuyakini adalah Sean. Sangat tampan dan memesona. Sama seperti Axel. Jika Axel berwajah datar tanpa ekspresi. Sean kebalikannya. Wajah Sean terlihat lebih hidup dan ... jahil?
"Halo, Kak Nasha. Sebenarnya umurku lebih tua darimu, tapi karena malam ini kamu datang sebagai pasangan Kak Axel, aku harus menambahi embel-embel Kakak." Sean sengaja menekan kata 'kakak' sambil menyeringai pada Axel.
"Salam kenal, Sean."
"Lebih baik kamu tidak banyak bicara, Sean. Itu bisa berakibat buruk," tegur Axel.
"Oke. Aku hanya ingin menyapa," kata Sean seraya mengangkat kedua tangan ke atas, seperti orang yang menyerah.
"Nasha, boleh ...." Ucapan ibu Axel menyadarkanku jika wanita itu masih di hadapanku. Dia melihat Ares penuh harap. Aku tersenyum.
"Tentu saja, Tante." Aku melepaskan gendongan dan membiarkan ibu Axel mengambil alih Ares.
"Gantengnya cucu Nenek," ucap ibu Axel semringah. Dia mencium pipi Ares. Hatiku berdesir mendengarnya. "Duduk dulu ya, Nasha."
Wanita yang melahirkan Axel itu membimbingku ke ruang tengah dan mengajak duduk. Tempat ini lebih luas dibandingkan dengan ruang tamu. Ada sebuah televisi yang sangat besar. Lalu, sebuah lemari yang berisikan beberapa piala dan penghargaan. Mungkin aku akan melihat-lihatnya nanti.
Aku melirik dua gadis cantik yang sejak tadi duduk di sofa ruangan itu. Vanny terlihat cantik dengan dress kuning panjang berlengan pendek. Sementara Jenny memakai dress merah selutut. Aku melirik penampilanku. Dress panjang berwarna merah dan jilbab segi empat krem. Untungnya aku tadi memilih baju ini. Ada hiasan renda brokat krem di pinggang dan pergelangan tangannya. Ini tidak terlalu memalukan, kan?
Axel duduk di samping Sean. Keduanya mengenakan kemeja yang digulung sampai siku. Mengapa tidak sekalian memakai baju dengan warna yang sama saja?
"Itu Vanny dan Jenny." Ibu Axel menunjuk kedua putrinya. Aku mengangguk paham. Mereka melambaikan tangan dengan senyum menghiasi bibir. Aku membalas lambaian itu kikuk.
"Anggap saja rumah sendiri, Nasha. Kamu tidak keberatan menganggap kami keluargamu, bukan?"
Sejujurnya, aku ingin menjawab 'tidak keberatan'. Tapi mengingat hubunganku dan Axel yang masih buram, aku jadi ragu. Bolehkah aku menganggap mereka sebagai keluarga?
"Nasha."
Sebuah tangan mengusap pipiku. Aku mendongak pada ibu Axel yang tersenyum tulus. Senyum itu membuatku merindukan Ibu. Betapa aku ingin memeluk Ibu saat ini.
"Axel sudah melamarmu, kan?"
Pertanyaan itu membuat hatiku bergetar. Aku melirik Axel yang ternyata juga tengah memperhatikanku. Saat aku akan membuka mulut, beberapa wanita mengantar teh dan camilan.
"Ya, Tante." Aku berdeham, merasa suaraku sedikit serak.
"Mama. Panggil Mama saja," pinta ibu Axel sambil mengusap jilbabku. "Kamu benar-benar cantik. Pantas saja Axel mengejarmu."
Wajahku memanas mendengar kenyataan Axel memang menginginkanku, atau anakku? Mataku kembali melirik Axel dan pria itu juga masih tidak mengalihkan pandangannya dariku. Dia itu kenapa, sih? Kenapa terang-terangan memandangiku di depan semua keluarganya? Ini membuatku bertambah nervous.
"Mama terlalu buru-buru, ya?" tanya ibu Axel, kali ini dia menepuk pundakku.
"Bukan. Hanya saja ...." Aku menelan ludah. "Semua ini terasa tidak nyata. Padahal Mama sangat jelas berada di dekat Nasha. Bahkan bisa merasakan sentuhan Mama."
Tanganku bergerak untuk menggenggam tangan Mama yang mulai tidak kencang. Namun, masih sangat halus dan terawat. Eh, tidak masalah kan kalau aku memanggilnya Mama? Aku bisa melihat mata Mama yang berkaca-kaca mendengar panggilanku untuknya. Dia mengangguk beberapa kali. Meyakinkanku jika dia sangat bahagia.
"Jangan nangis, Ma," celetuk sebuah suara mengganggu kedekatanku dengan Mama. Aku menoleh dan mendapati Sean yang tersenyum lebar.
"Kamu merusak suasana, Sean," kata Mama dengan wajah jengkel. Sean mendengkus, lalu mengambil stoples keripik dan memakan dengan cepat. "Ayo, Sayang. Diminum dan dimakan." Mama tersenyum padaku dan menggerakkan dagu ke arah meja.
"Iya, Ma." Aku menurut dan menyeruput teh.
"Jadi, kapan kamu akan menikahi Nasha, Xel?" Aku tersedak teh. Mataku terasa sedikit basah. Menyadari hal itu, aku mengambil tisu dalam tas dan membersihkan mulut dan mataku.
"Kok kaget begitu, Sha?" tanya Mama seolah tak menyadari kesalahannya.
"Axel dan Nasha pasti akan menikah, Ma. Tenang saja. Kami juga tidak mau menunggu terlalu lama," kata Axel tanpa ragu. Aku mendelik padanya, tapi dia mengabaikan.
"Benarkah? Mama tidak sabar menantinya. Kamu maunya kapan, Sha?"
Sudut mataku bisa melihat Axel yang menyilangkan tangan di d**a. Dia seolah sedang menunggu jawabanku juga. Apa-apaan sikapnya itu?
"Nasha ikut Axel saja, Ma," ucapku tak terduga.
Ya, Allah. Kenapa aku berkata seperti itu?
"Bagus sekali. Mama sudah menyiapkan segalanya.
"Apa maksud Mama dengan 'sudah menyiapkan segalanya'?" tanya Axel dengan wajah syok.
"Tentu saja pernikahan kalian," jawab Mama, lagi-lagi mengatakannya tanpa beban.
"Ini pernikahan Axel dan Nasha. Mama jangan terlalu memaksakan diri."
"Siapa bilang Mama memaksakan diri? Mama sudah menunggu lama untuk menyiapkan pernikahanmu. Ini sangat menyenangkan. Kamu siap menikah secepatnya kan, Nasha?"
Aku membeku. Ternyata Mama tidak seanggun kelihatannya. Dia tampak sangat antusias saat membicarakan pernikahanku dan Axel. Seperti di antara kami tidak pernah ada kesalahan. Apa dia melupakan Ares yang merupakan buah dari masa lalu kami? Seakan aku memang kekasih Axel yang diterima oleh semua keluarga. Tanpa cacat.
"Nasha ikut Mama. Apa pun itu, Nasha tidak keberatan."
Mama terlihat terkejut dengan jawabanku. Sejujurnya, aku sendiri juga terkejut. Tapi, entah bagaimana, aku sama sekali tidak menyesalinya. Seolah menikah dengan Axel memang sesuatu yang telah aku tunggu sejak lama.
"Kalau begitu, menikah saja malam ini."
Sekali lagi Sean menyela. Aku hampir saja menganggukkan kepala untuk menyetujui, jika saja Axel tidak melayangkan tangan dan memukul pundak Sean keras. Adik laki-laki Axel itu mengaduh sambil mengusap-usap pundaknya.
"Kak Sean memang seperti itu, Kak. Tidak usah diambil hati," celetuk Jenny yang sedari tadi diam. Dia melangkah mendekati Mama dan ikut melihat wajah Ares. "Wah! Dia terlihat persis seperti foto Kak Axel waktu bayi."
Seruan Jenny membuat Vanny penasaran dan ikut mendekat. Gadis pendiam itu memperhatikan Ares yang masih betah memejamkan mata. Tumben sekali Ares tidur lama. Biasanya kalau jam begini tidurnya tidak lama.
"Iya. Mirip banget," kata Vanny kalem. Dia membelai pipi Ares hati-hati. Bayiku menggeliat dan mulai membuka mata. Mata cokelatnya seperti memperhatikan orang-orang asing yang mengelilingi.
"Matanya seperti mata Axel," seru Mama. "Dia minum ASI?" Aku mengangguk.
"Halo, Ares. Kenalan, ya, sama Tante Jenny," ujar Jenny seraya menggenggam tangan mungil Ares. "Ini Tante Vanny." Vanny meraih tangan lain Ares dan tersenyum.
"Halo, Ares. Mau ikut Tante?" Vanny menggoyang-goyangkan tangannya yang menggenggam Ares. Ares mengoceh tak jelas, membuat aku dan ketiga wanita yang mengelilinginya tertawa.
"Memangnya kamu bisa menggendong bayi?" tanya Mama pada Vanny. Gadis itu meringis.
Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Bahagia. Sangat bahagia. Tidak pernah merasakan kehangatan keluarga besar, sepertinya membuatku terbawa suasana. Alangkah indahnya jika bisa berkumpul dengan mereka setiap hari. Seandainya Ibu masih ada, atau Axel tidak menemukanku, akankah aku masih bisa merasakan kebahagiaan seperti ini?
"Kamu kenapa menangis, Nasha?" Mama menyeka air mata yang tidak aku ketahui sejak kapan membasahi pipiku. Cepat-cepat aku menggeleng.
"Hanya merindukan Ibu," kataku jujur.
"Axel sudah cerita semuanya. Kamu yang sabar, ya. Sekarang sudah ada Mama. Maaf, seharusnya Axel menemukanmu lebih awal, jadi ...."
"Tidak, Ma. Sejak awal itu adalah kesalahan Nasha," potongku.
Mama memandangku penuh rasa terima kasih. "Kamu wanita yang baik, Nasha."
Wanita yang baik? Sepertinya Axel tidak menceritakan hal konyol tentang pernikahanku dengan Alfa. Aku jadi penasaran, apa saja yang sudah diketahui oleh Mama. Apa Axel tidak menceritakan semuanya?
"Kamu menginap di sini kan malam ini? Mama masih ingin membicarakan banyak hal."
Aku terdiam cukup lama. Memikirkan segala kemungkinan jika aku bermalam di sini. Tapi wajah memohon Mama membuatku pasrah dan mengangguk. Aku sempat melihat ke arah Axel yang tersenyum dan mengangguk.
Mataku beralih pada Ares yang mengoceh tanpa henti. Vanny dan Jenny berebut mengatakan sesuatu dan membuat bayi itu memperhatikan mereka. Mama sesekali tertawa melihat kehebohan kedua gadisnya dan ocehan Ares yang bersahutan.
Kamu senang berada di tengah-tengah mereka, Sayang? Mama juga. Kamu setuju, kan, jika suatu saat kita tinggal bersama mereka? Bersama ayah yang kamu cintai dan mungkin juga mulai Mama sayangi.
Ibu, aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah banyak membuat Ibu susah dan sedih. Sekarang, aku ingin Ibu tenang. Aku memiliki Axel dan Ares. Juga, keluarga yang sangat mencintai kami.
Aku menyayangi Ibu. Sungguh.