8. Axel

1903 Words
Pandangan mataku tidak pernah beralih dari pintu kayu yang tertutup itu. Senyum di wajahku belum juga bosan dan menghilang. Ada rasa yang membuncah dari dalam diriku. Membuatku selalu berdebar hanya karena mengingat bayangan sang penghuni kamar. Betapa aku sangat bahagia malam ini. Bagaimana tidak? Kejadian yang aku nantikan selama hampir setahun ini menjadi kenyataan. Aku tidak akan melupakan bagaimana senyum senantiasa menghiasi bibir Nasha dan Mama. Dua wanita yang kucintai akhirnya bertemu. Melihat kedekatan di antara Nasha dan Mama, menjadikan diriku semakin egois. Aku ingin segera meresmikan hubungan dengan Nasha. Tidak akan pernah aku biarkan dia memikirkan pria lain. Sudah seharusnya kami bersatu. Saat ini, kami bahkan sudah memiliki Ares, yang meski terlahir di luar pernikahan, adalah harta kami yang paling berharga. Hubungan ini pasti lebih menyenangkan jika kami melangsungkan pernikahan. Aku tidak pernah sekalipun menginginkan kebahagiaan untuk diriku. Setiap melakukan sesuatu, aku hanya memikirkan keluargaku. Bagaimana agar aku bisa membahagiakan mereka. Apa yang harus aku lakukan agar mereka bahagia. Apakah aku bisa membuat Mama dan adik-adikku hidup nyaman. Bertemu dengan Nasha benar-benar mengubah banyak hal. Aku sadar jika sikapku tidak sekaku dulu. Kehadiran Nasha membuat sisi lainku keluar. Kepribadian yang telah lama aku lupakan. Seorang Axel yang senang mengutarakan segala hal dalam hati. Tidak pernah memendam hal sekecil apa pun. Sosok itu kembali muncul. Diriku yang sebenarnya. Diriku yang telah lama aku kubur. Diriku yang menginginkan kebebasan. Diriku yang hilang setelah kesalahan besar yang kulakukan. Kejadian yang membuatku kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Aku .... "Axel!" Aku menoleh dan menangkap sosok Mama dalam keremangan malam. Untuk beberapa saat aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Rasanya seperti seorang maling yang ketahuan oleh tuan rumah. Tanganku mengusap tengkuk dengan wajah menunduk. "Mama belum tidur?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian. Walaupun itu sia-sia saja. Karena Mama sudah menemukanku di sini. Pada jam yang tidak tepat. "Kamu tidak bermaksud menerobos masuk kamar Nasha, kan?" "Mana mungkin," sangkalku cepat. Aku mungkin sangat menginginkan Nasha malam ini melebihi apa pun, tapi tidak dengan memasuki kamarnya dengan mengendap-endap seperti penyusup. Itu bukan gayaku sama sekali. Jika aku menginginkan sesuatu dalam hidup, maka akan kudapatkan dengan usaha yang benar. Aku akui jika ambisius adalah nama tambahan untukku, tapi tidak pernah sekalipun aku berbuat curang. Setiap memiliki impian, aku selalu merancang jalannya. Kamu butuh perencanaan matang untuk berhasil, bukan? Begitu juga denganku. "Lalu, mengapa pada jam seperti ini kamu berada di sini?" "Axel hanya ... hanya ...." Aku bingung harus menjawab apa. "Hanya rindu?" Pertanyaan Mama membuat wajahku memanas. "Axel hanya ...." Aku mencoba menyangkal kata-kata Mama, tapi keinginanku itu kandas begitu melihat Mama tergelak. Hanya sebentar, karena Mama langsung menutup mulut dan melirik kamar Nasha. Mungkin Mama takut akan membuat Nasha terjaga. "Kamu itu seperti anak remaja yang jatuh cinta, lho," ucap Mama dengan wajah geli. "Makanya jangan terlalu menutup diri pada perempuan. Begitu kamu jatuh cinta di usia matang, malah jadi lucu." "Ma!" protesku, mulai tidak nyaman dengan pembahasan ini. "Oke. Sebaiknya kita bicara sekarang." Wajah Mama tiba-tiba berubah serius. Aku punya firasat kuat kalau Mama ingin membicarakan hubunganku dengan Nasha. "Harus sekarang? Ini masih terlalu pagi, Ma." "Sudah jam tiga. Kamu tidak berniat tidur lagi, kan? Kita bicara di ruang kerjamu saja." Akhirnya aku menyerah dan mengikuti langkah Mama. Setelah mendengar Mama mengatakan sudah menyiapkan pernikahanku dan Nasha, aku yakin Mama tidak main-main. Pasti Mama akan melakukan apa pun tanpa repot mendengarkan masukan dariku. ??? "Bagaimana kalau sebulan?" tanya Mama setelah kami duduk di sofa ruang kerjaku. "Maksud Mama?" "Jangan pura-pura tidak mengerti, Xel. Kamu tahu apa maksud Mama. Jadi, bagaimana?" Well. Aku memang mengerti maksud Mama. Namun, waktu satu bulan itu terlalu cepat untuk mempersiapkan pernikahan. Maksudku ... oke! Aku senang akan segera menikah dengan Nasha. Sampai aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan. Tapi, apa Nasha mau? Dia pasti merasa ini terlalu terburu-buru. Aku tidak mau membuatnya tertekan dan malah menjauh. Lebih buruknya, dia membatalkan rencana masa depan kami. "Axel takut ini terlalu cepat untuk Nasha, Ma. Dia baru saja kehilangan ibunya. Melahirkan sendirian dan juga ... ," Aku menarik napas panjang. "baru bisa membuka hatinya pada Axel. Bagaimana kalau dia merasa tertekan dan malah meninggalkan Axel?" "Wah! Ke mana rasa percaya dirimu, Xel? Biasanya kamu selalu yakin pada pilihanmu. Mengapa Nasha berbeda?" "Itu masalahnya, Ma. Nasha itu berbeda. Axel tidak pernah percaya diri jika berkaitan dengan Nasha. Masa depan kami belum terlihat jelas." Mama menghela napas. Aku tahu Mama sudah lama menunggu pernikahanku. Mama selalu mendorongku untuk menikah sejak usia tiga puluh tahun. Kata Mama aku sudah cukup berkorban untuk keluarga kami. Tapi aku tidak pernah berhasil memulai hubungan. Mungkin karena terbiasa sendiri, jadi aku tidak menginginkan sosok pendamping. Kemudian, malam itu segalanya berubah. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat mata hitam Nasha. Awalnya, aku sudah menyiapkan beberapa rencana agar bisa mendekati Nasha. But, you know ... aku malah mengalami malam buruk karena dijebak musuh dalam selimut. Kupikir hubungan dengan Nasha tidak bisa diperbaiki. Apalagi ketika dia menolakku. Ditambah dengan pria bernama Alfa yang sangat dicintainya. Aku hampir percaya jika Nasha dan Alfa saling mencintai, kalau saja Alfa tidak menikah. Sebenarnya, aku sudah hampir menyerah. Lalu, kejadian di rumah sakit mengubah pandanganku. Alfa ternyata hanya menganggap Nasha sebagai sahabat, tidak lebih. Dia memang dijodohkan dengan Almira, tapi cintanya tulus. Saat itulah aku putuskan untuk kembali meraih hati Nasha. Aku bersumpah akan membuat Nasha melupakan Alfa dan memilihku. Nyatanya, melupakan Alfa adalah hal yang sangat sulit bagi Nasha. Dia tahu jika pria itu mencintai wanita lain, tetapi bersikeras tetap bertahan. Jadi, aku membujuknya. Aku membuka matanya, bahwa Alfa tidak akan pernah berpaling. Sulit, tentu saja. Kalian tahu kalau aku selalu merencanakan segala sesuatu, bukan? Jadi, aku menggunakan beberapa trik untuk meyakinkannya. Salah satunya adalah keberadaan Ares. Bukan bermaksud memanfaatkan bayi malangku. Aku hanya ingin menggerakkan hati Nasha. Ares membutuhkan kami berdua sebagai orang tuanya. "Tapi yang Mama lihat tidak begitu," kata Mama dengan senyum tersungging di bibir. Aku tahu jenis senyuman Mama. Itu terlihat seperti senyum godaan bagiku. Apa maksud Mama? "Jadi, apa yang Mama lihat?" tanyaku penasaran. "Bahwa Nasha menyukaimu. Tidak ada keraguan sedikit pun di matanya. Apa kamu benar-benar tidak menyadari bagaimana Nasha melihatmu?" Keningku berkerut. Mama baru melihat Nasha sekali dan menyimpulkan perasaannya padaku dengan cepat. Itu sulit sekali dipercaya. "Tidak perlu melihat lebih lama, Xel. Mama cukup pintar menilai perasaan orang. Percayalah, Nasha mencintaimu." "I also hope so. Tapi terkadang Axel masih ragu." "Kamu meragukan perasaanmu atau perasaan Nasha?" "Tentu saja Nasha." "Really?" Aku mengangguk dengan cepat. "You are just afraid of yourself, Son. Ini pertama kalinya kamu jatuh cinta. Kamu hanya takut akan ditinggalkan. Apalagi saat tahu Nasha pernah mencintai pria lain begitu lama." Aku menelan ludah. Benarkah aku seperti itu? Apa aku memang takut kehilangan Nasha, sehingga masih meragukan hubungan kami? Jadi, ini bukan karena Alfa? "Cinta itu adalah perasan terdalam hati kita. Percayalah pada hatimu dan kamu akan bahagia," ujar Mama seraya menepuk-nepuk pundakku. "Thank's, Ma," kataku tulus. "Anytime, Dear. Kamu berhak bahagia setelah semua hal yang kamu lalui selama ini." Pagi itu, aku memeluk Mama lama sekali. Menyalurkan semua rasa terima kasihku padanya. Juga kasih sayangku yang sangat besar. ??? "Kakak sedang menikmati sesuatu?" Jenny tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Hampir saja cangkir yang berada di tanganku jatuh. Aku melotot padanya dan gadis nakal itu malah tersenyum lebar. "Kakak sedang melihat Kak Nasha?" Vanny ikut melongok ke arah yang kuperhatikan. Seharusnya aku tahu kalau kedua adik cantikku itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sejak aku membicarakan Nasha dan Ares, merekalah yang aktif bertanya kapan Nasha akan ke rumah kami. Semalam, mereka juga bersama Nasha hingga larut. Kalau Mama tidak menegur, mereka pasti merengek ingin tidur dengan Nasha. Mereka tidak berhenti berceloteh. Bahkan Vanny yang pendiam jadi bersemangat. "Kenapa kalian masih di rumah?" tanyaku santai. Aku duduk di sebuah kursi dekat jendela. Jenny dan Vanny merusak mood-ku. Padahal tadi aku sudah sangat bersemangat ketika melihat Nasha yang sibuk di taman bersama Mama. Sementara Ares berada di kereta dorong dan diawasi oleh salah satu pelayan perempuan kami. Sejak kapan kedua wanita itu ada di taman? "Seharusnya kami yang bertanya, kenapa Kakak masih ada di rumah. Bukannya Kakak ada meeting penting ya pagi ini?" Aku pura-pura melirik jam di pergelangan tangan, padahal itu tidak perlu. Pekerjaan membuatku disiplin dan gara-gara menuruti hati, aku mungkin sedikit mengubah kebiasaan. Ya ... Bagaimana mau pergi kalau ada Nasha di depan mataku begini? Jika memungkinkan, aku hanya ingin di sini, melihatnya. "Ini juga mau berangkat," ucapku sambil meletakkan cangkir dan beranjak dari duduk. Bukannya pergi ke kantor, aku malah menghampiri Nasha. "Selamat pagi, Jagoan," sapaku pada Ares. Kucium pipi kanan anakku dengan gemas. "Sudah mau berangkat? Kata Sean, kalian ada rapat penting pagi ini," kata Nasha. Aku mendengkus mendengar perkataan Nasha. Kapan dia bertemu dengan Sean? Apa dia lupa kalau aku memintanya jauh-jauh dari makhluk itu? "Kamu bertemu Sean?" tanyaku tajam. "Eh, sebenarnya tidak sengaja," jawabnya ragu. Dia melirik Mama sekilas. Mama menutup mulut rapat, seperti sedang menahan tawa. "Tadi pagi waktu Sean jogging, kami tidak sengaja bertemu." "Benarkah?" Aku masih tidak yakin. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nasha, entah apa. "Pagi, Kak Nasha." Nah, perusak mood-ku selanjutnya sudah datang. Kenapa pagi ini ketiga adikku seperti kompak mengerjaiku. Mereka sedang bermain apa? "Pagi, Sean," jawab Nasha dengan wajah memerah. Apa-apaan lagi itu. Kenapa Nasha merona hanya karena kehadiran Sean. "Bagaimana hasil penyelidikan tadi pagi?" tanya Sean dengan seringai khasnya pada Nasha. Wajah Nasha semakin memerah. Mereka itu kenapa? Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku? "Penyelidikan apa?" Aku tidak sabar lagi menahan diri karena sangat penasaran. "Tadi pagi, Kak Nasha sedang menyelidiki ...." "Aku harap kamu tidak lupa kata-katamu tadi pagi, Sean," potong Nasha cepat. "Ya, ampun! Maaf, aku lupa." Sean menutup mulut dengan kedua tangan dan melirikku, lalu mengedipkan sebelah matanya. "Bisa bicara sebentar, Sha?" Aku berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban Nasha. Bisa kudengar langkah Nasha yang mengikutiku. Setelah cukup jauh, aku berhenti. "Ada apa, Xel?" "Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa antara kamu dan Sean?" Nasha tampak terkejut dengan ucapanku. "Maksud kamu apa? Aku kan sudah bilang kalau kami tidak sengaja bertemu tadi pagi." "Lalu, apa maksud Sean dengan penyelidikan?" "Itu ...." Nasha menghela napas. "Bisakah kita membicarakan hal ini lain waktu?" "Kenapa tidak sekarang?" desakku. Nasha terdiam lama. "Axel, aku tidak melakukan hal yang salah, jadi bisakah kali ini saja kamu mengerti?" "Aku tidak menuduhmu melakukan kesalahan, atau jangan-jangan kamu memang melakukannya?" Mata Nasha mengerjap. Dia menggerak-gerakkan kakinya membentuk pola bulat. Hal itu justru membuatku semakin penasaran. Apakah dia mencoba mengulur waktu? "Kak Axel, jangan memojokkan Kak Nasha begitu!" teriak Sean dari jauh. Aku menatapnya jengkel. "Kita harus pergi sekarang atau kita akan terlambat." Kedua tanganku mengepal. Masalah ini membuatku frustrasi. Aku penasaran. Sangat penasaran. Mataku beralih pada kaki Nasha yang masih setia membuat pola bulat dengan kakinya. "Kamu harus menjelaskannya nanti," tuntutku pada Nasha. Wanita itu hanya menganggukkan kepala tanpa memandangku. Aku bersiap melangkah saat teringat sesuatu. "Aku hampir lupa." Nasha mendongak. "Apa?" "Kalau Mama terlalu memaksamu, katakan saja padaku. Mama hanya sangat bersemangat." "Maksudmu tentang sebulan lagi kita menikah?" tanya Nasha setelah menundukkan kepala lagi. Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Jadi, Mama sudah mengatakan pada Nasha? "Kita akan bicara nanti. Jangan pulang duluan. Aku yang akan mengantarmu." "Aku mengerti," kata Nasha tanpa membantah. "Pergilah. Aku akan menunggumu pulang." Aku memandangi Nasha sebentar, mengucapkan salam, lalu pergi tanpa menoleh. Meski hatiku dipenuhi kegelisahan tentang Nasha, aku berharap tidak akan ada masalah dalam hubungan kami. Ya. Semoga saja begitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD