Aku mulai menikmati masa-masa ini, meskipun tak ada Yasa di sini. Sudah menjadi resiko. Hamil tanpa suami. Memang harus menjalaninya serba sendiri. Tapi, aku tak benar-benar sendirian. Ada Gina, Bu Sinah dan Pak Paryo yang menemani. Gina jelas sudah tahu semuanya, tapi tidak dengan Bu Sinah dan Pak Paryo. Awalnya, aku merasa sangat tidak enak dengan keduanya. Aku taku mereka menganggapku sebagai penyebar aib di rumah ini. Tapi, aku beruntung karena Bu Sinah dan Pak Paryo tidak menghakimiku atas apa yang terjadi. Aku sudah menyelesaikan dua minggu masa istirahatku di atas tempat tidur. Bidan desa pun sudah memastikan tidak ada darah yang mengalir di jalur lahir. Semuanya aman. Setidaknya begitulah yang kuharapkan. Aku sudah kehilangan hak atas kepemilikan Yasa. Tapi, jangan anak ini. Hanya

