"Dimas menikah dengan Mawar."
Sebaris kalimat pertama yang muncul dari bibir Dimas membuat kedua orang tua di depannya nampak mengerutkan kening, masih tak mengerti, percaya tak percaya dengan apa yang anaknya katakan. Seolah barusan, Dimas baru saja mengucapkannya dalam bahasa planet yang asing.
"Dimas, Mama enggak mengerti, ada apa?"
"Mawar sudah sah menjadi istri Dimas, Mama. Kami menikah secara agama tadi pagi, maaf belum sempat memberi tahu Mama dan Papa." Kalau harus jujur, Dimas memiliki sedikit waktu luang di rumah sakit untuk memberitahu apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya. Tapi lagi, selama waktu itu ada, Dimas sibuk berpikir bagaimana, apa, begini serta begitu. Ia tak siap.
"Astaga, Dimas, kamu tahu apa yang kamu lakukan ini?" tanya Intan sembari menatap sang anak yang kini berdiri bersisian dengan Mawar. Adik dari mantan istrinya terdahulu. Sungguh, sebagai seorang ibu, ia tak mengerti bagaimana jalan pikiran Dimas.
"Ada baiknya, kita semua duduk terlebih dahulu." Ilham mencoba tenang di situasi yang cukup memanas. Di dalam hatinya, tentu ia tak setuju dengan Dimas yang dengan enteng menikahi wanita lain tanpa persetujuan dan omongan dengan keluarga. Terutama pada mereka berdua sebagai orang tua.
Mawar saat itu juga merasa tertekan, kakinya gemetaran. Keluarganya dan keluarga Dimas memang masih mencoba berhubungan baik, tak ingin sama sekali memutuskan tali silaturahmi yang sudah terjalin setelah perceraian berlalu tapi, menikahi Mawar sudah pasti urusan yang lain.
"Duduk," ujar Dimas dengan suaranya yang tenang, atau terkesan dingin? Entahlah, sejak tadi, Mawar dan Dimas bahkan tidak saling berbicara.
Menempatkan diri di samping Dimas, Mawar pun memainkan tangannya grogi, tak nyaman.
"Kenapa kamu bisa menikahi Mawar?" Ilham menatap sang anak yang kini menarik napas dalam.
"Calon suami Mawar pergi entah kemana." Mungkin Mawar akan tersinggung dengan perkataanya tapi, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menjelaskan kepada Intan dan Ilham selain kenyataan yang memang terjadi. "Jadi Dimas bersedia menjadi pengantin pengganti."
"Mama enggak setuju!"
"Ma!"
"Mama enggak setuju kalau kamu harus menikah dengan adik dari mantan istrimu, Dimas! Kenapa kamu mau-mau-an seolah laki-laki di dunia ini hanya kamu saja?"
Hati Mawar teriris sakit. Mendengar penolakan tersebut, kupingnya pun memanas. Ia tak bisa membela diri, karena memang wajar kalau Intan bersikap begini. Tapi ... tetap saja, rasanya seperti ditusuk belati berkali-kali.
"Ma!" Dimas memanggil. "Semuanya udah terjadi dan Dimas enggak bisa mengulangi waktu."
"Ceraikan Mawar sekarang juga, kalian berdua hanya menikah agama kan? Tidak perlu susah payah membutuhkan dokumen ini dan itu untuk sekedar pisah."
Tapi memang lebih baik begitu, Mawar juga beranggapan hal yang sama. Lebih baik mereka berdua cerai dari pada menambah beban dan pikiran baru. Baik bagi Mawar sendiri maupun Dimas juga keluarganya.
"Mas, Mama Intan benar, lebih baik kita berdua cerai saja." Sejak tadi diam seolah bisu, Mawar pun akhirnya mengungkapkan apa yang ada di pikiran.
"Pernikahan bukan permainan yang segampangnya mengucap kabul dan mengucap talak. Jadi hubungan ini tetap akan dijalani meski caranya kita bersama mungkin tidak etis, Mawar."
Kehabisan kata, Mawar tak lagi bisa membalas ucapan Dimas.
"Mama tetep aja enggak setuju, kamu pilih Mama atau Mawar!? Kalau kamu tetep milih wanita itu, jangan harap Mama akan menganggap kamu sebagai anak lagi." Dan Intan meninggalkan ruang tamu dengan tangis kekesalan yang menyesakan d**a.
"Papa enggak tahu apa maksud dan tujuan kamu dengan melakukan hal ini, Dimas. Tapi Papa enggak bisa semudah Mama untuk menyarankan kalian untuk bercerai, benar kamu bilang, pernikahan bukan permainan. Yang seolah mudah untuk disatukan dan diputuskan." Ilham berdiri, berniat mengejar sang istri. "Tapi pikiran oleh kalian berdua baik-baik, apakah kalian sanggup menjalani pernikahan ini atau tidak. Padahal di dalam d**a kalian, perasaan cinta dan keinginan untuk bersama itu, tiada."
^^^^^^^^^^
"Istirahat di sini."
Mawar menatap sebuah ruang kamar yang sudah di siapkan.
"Ini ... kamar Mawar, Mas?"
"Kamar kita." Dimas melepas jaket yang sebelumnya melekat di tubuh.
"Maksud Mas Dimas, kita tidur sekamar?"
Dimas menaikan alis mata. "Memang kamu inginnya bagaimana? Kita suami-istri jadi, mana mungkin pisah ranjang."
Sungguh, Mawar jadi merinding sendiri dengan keadaan yang dirinya hadapi. Bagaimana ia bisa tidur dengan laki-laki asing yang tidak ia cintai?
Terlebih itu mantan kakak iparnya sendiri. Selama hidup berpuluh-puluh tahun terakhir, Mawar tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padanya. Ia tak bisa dan tak mungkin tidur dengan Dimas.
"Mawar, ada yang salah? Kenapa kamu cuma diem di depan pintu?"
"Mas."
"Ya, bagaimana Mawar?"
"Kamu enggak ada niat minta jatah malam pertama ke aku kan?"
"Kamu mau memangnya melayani Mas kalau Mas minta?"
Mawar mau mati saja.