MAFIA - 03

1791 Words
Abigail merasa seperti berada di Neraka sementara Thomas yang duduk di sampingnya terlihat seperti sedang berada di Syurga.  Mereka duduk di salah satu meja yang berada di tengah di antara delapan meja yang tersedia di dalam bangunan club malam exclusive di London setelah dari pesta Aldrick. Para lelaki memakai setelan jas hitam terbaik mereka sementara yang wanita mengenakan gaun sibuk menonton sambil sesekali mengisi gelas-gelas mereka dengan wine terbaik atau menggelayut manja menunggu kemenangan. Saat ini sedang berlangsung permainan blackjack dan Thomas sedang unggul dan merasa diatas angin. Abigail mencoba untuk duduk nyaman tapi sulit karena ada beberapa pasang mata pria paruh baya menatapnya penuh minat.  "Yesss." Thomas menjatuhkan kartu remi di tangannya dengan bersemangat membuat dua pemain yang menjadi lawannya langsung mengumpat dengan wajah kesal. "I win," ucapnya seraya mengambil tumpukan uang taruhan yang ada di tengah lingkaran. "Again." "Kau hanya beruntung, anak muda," ucap lelaki paruh baya yang akhirnya berdiri dari duduknya setelah kalah. "Keluarkan semua yang kau punya dan aku akan buktikan kalau ini bukan hanya keberuntungan semata," ucap Thomas sombong. "Aku tahu kapan harus berhenti," ucapnya sebelum berbalik pergi. "Lelaki tua yang banyak omong. Dia pergi seperti pecundang!" cibirnya lalu menunjuk lelaki berumur empat tahunan  yang  masih bertahan di tempatnya. "Keluarkan semua milikmu, Pak Tua!" "Apa kau masih mau bermain lagi?" tanyanya dengan tangan terlipat di d**a. "Tentu saja. Aku datang ke sini untuk membuat kalian semua bangkrut," ucapnya penuh keyakinan. "Thom, berhentilah sebelum mereka merampas uangmu tanpa sisa," bujuk Abigail. "Diamlah!" ucapnya kesal. "Apa kau tidak lihat dengan uang yang aku hasilkan saat ini?" "Aku jelas melihatnya karena itu aku menegurmu. Berhentilah sebelum uang-uang itu menghilang." Dalam judi banyak kemungkinan bisa terjadi. Pada satu waktu, seseorang bisa menjadi kaya raya tapi beberapa jam kemudian semuanya bisa menghilang tanpa bekas. Walaupun Abigail tahu tabiat seorang lelaki, disaat dia menggenggam kemenangan dengan telak, dia akan semakin sombong dan arogan dan melanjutkan permainan sampai lawan-lawannya mundur satu persatu dan berakhir dengan penyesalan setelah menemukan lawan yang sebanding. Meskipun ada juga yang tahu kapan harus terus maju dan kapan harus berhenti seperti lelaki paruh baya tadi. Thomas jelas ahli dalam permainan ini tapi bukan dia satu-satunya yang seperti itu. Masih banyak yang lebih jago darinya. Judi itu hanya sedikit taktik tapi lebih banyak keberuntungan. "Tutup mulutmu! Tunggu saja kemenangan telakku malam ini." Abigail mendesah, mengambil gelas wine miliknya dan meminumnya dengan kesal. Apa yang dikatakannya tidak akan pernah berpengaruh pada Thomas membuatnya semakin merasa kalau dia tidak ada artinya bagi hidup lelaki itu, mungkin sejak dulu. "Kekasihmu benar." Lelaki itu berbicara lagi, menatap penampilan  Abigail secara keseluruhan seraya menghisap cerutunya. "Berhentilah mencoba peruntunganmu malam ini sebelum kau bangkrut dan berakhir menyerahkan kekasihmu yang cantik ini." Abigail mengalihkan tatapannya dari pria matang itu yang jelas-jelas mengagumi tubuhnya, merasa jengah. "Jangan banyak omong.Keluarkan taruhanmu!" desis Thomas. "Aku menaruhkan semua yang aku punya." Abigail melotot kaget, "Kau gila!!" "Aku akan menang. Kau tidak perlu khawatir," ucap Thomas dengan yakinnya membuat Abigail berdecak dan  berdiri dari duduknya. "Mau kemana kau?" "Toilet." "Bodyguardku akan mengawalmu." Abigail yang kesal langsung berbalik pergi meninggalkan Thomas kembali melanjutkan permainannya di kawal bodyguard Thomas yang mengikutinya keluar dari ruangan besar melintasi lorong panjang berdinding kaca. Bangunan besar berbentuk lingkaran yang merupakan club malam termahal di London. Terdiri dari beberapa area yang terjaga privasinya sementara di area tengah ada club malam yang terlihat begitu ramai. Abigail menghentikan langkah kakinya sesaat di sana, berdiri begitu dekat dengan dinding kaca memperhatikan ke bawah  yang kebisingannya bisa membuat orang tuli. Banyak yang bergoyang di lantai dansa diiringi suara musik dari DJ terkenal yang sedang  perfom. Semua yang ada di bawah sana adalah orang-orang kayanya London. Abigail bahkan pernah mendengar kalau para pengedar, mafia bahkan orang pemerintahan melakukan banyak transaksi ilegal di sini dan terjamin kerahasiaannya. Ada juga jaringan prostitusi yang menawarkan kenikmatan surgawi yang berharga mahal. Ponsel di dalam tas tangannya berbunyi, membuatnya langsung tersenyum.  "Iya Tha?" "Kau baik-baik saja kan? Kemana Thomas membawamu, aku akan menyusul ke sana." "Aku baik-baik saja. Thomas sedang bermain judi saat ini." "Oh dasar b******n lelaki itu!" Thita terdengar sangat kesal. "Aku akan menjemputmu. Surat-suratmu ada padaku. Semuanya lengkap bahkan tiket pesawat untuk penerbangan dua hari lagi. Kau bisa kembali ke Shine." Abigail menghela napas, dia tentu saja senang bisa kembali ke Indonesia tapi seperti ada sesuatu yang meresahkannya. "Abi, kau masih mendengarku kan?" "Aku tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan Thomas saat ini." "Sinting!!" Umpat Thita. "Biarkan saja dia tenggelam di sana. Mau mati pun, itu sudah bukan urusanmu. Jangan hiraukan dia." "Aku akan tetap pulang dengannya. Anggap saja ini perpisahan terakhirku dengannya." Thita terdiam di sana kemudian menghela napas, "Oke baiklah. Kabari aku kalau ada apa-apa. Kami menunggu di apartemen." "Oke." Lalu sambungan terputus. Abigail melanjutkan langkahnya ke toilet, berada di sana selama lebih dari sepuluh menit hanya demi mendapatkan ketenangan dan keluar kembali menuju ke ruangan. Abigail berharap Thomas sudah selesai bermain dan mengajaknya pulang tidak peduli dia kalah atau menang. Langkahnya terhenti saat tanpa sengaja melihat lift berdinding transparan yang perlahan naik dengan mata terbuka lebar. Sosok yang di dalam sana juga sedang memperhatikannya membuat Abigail buru-buru mengalihkan tatapan, menutupi wajahnya dengan rambut dan bergegas pergi. Bagaimana bisa lelaki menakutkan itu juga ada di tempat seperti ini? Sampai di dalam ruangan, Abigail mengeryit melihat Thomas dan lelaki yang sebelumnya tadi sedang adu mulut. "Kau pasti sengaja membodohiku sejak awal kan?" ucap Thomas marah. "Memang dasarnya, kau saja yang bodoh!" "Thomas--" Abigail bergerak menghampiri tapi lengannya langsung dicekal lelaki paruh baya itu membuatnya mengeryit.  "Lepas!!" Abi berusaha menarik cekalan tangannya. "Tidak bisa cantik--" Tatapannya begitu m***m, membuat Abigail bergidik. "Kau harus ikut denganku sekarang." "Apa maksudmu?" Ucap Abigail bingung, lalu menoleh ke Thomas yang hanya berdiri di tempatnya, nampak kacau. "Thom, apa-apaan ini? Ayo kita pulang!" "Maaf Abi, aku mempertaruhkan semua milikku dan kalah. Kau harus ikut dengannya," ucapnya seraya terduduk di kursinya dengan kedua tangan di kepala. "Apa kau sudah gila?!" Teriak Abigail. "Kau menjualku padanya?" Thomas kelihatan menyesal, "Dia mengincarmu dan membodohiku." Abigail sudah tidak lagi bisa berkata-kata. Matanya sudah berkaca-kaca memandangi Thomas yang malah terlihat pasrah, tidak menolongnya sama sekali. Abigail tersentak kaget saat lekaki paruh baya itu menyentuh area pahanya. "Don't touch me!!!" Desis Abigail, sekarang ada empat orang berbadan besar yang berada di sekitarnya. "Baiklah, tapi sebentar lagi kita akan b******u mesra. Aku sudah membelimu. Ayo kita pergi!" Abigail kembali menatap Thomas meminta pertolongan tapi lekaki itu hanya menundukkan kepalanya. Berusaha keras untuk melepaskan diri tapi cekalan lelaki paruh baya itu yang memaksanya untuk berjalan mengikutinya. "Thom--" "Thomas!" Abigail berusaha memanggil Thomas. Rasa kecewa itu begitu nyata dia rasakan. "Dasar b******n!!!" Umpat Abigail akhirnya. Thomas menatapnya penuh penyesalan, Abigail seakan tidak percaya kalau dia dijual seperti barang tidak berharga ke lelaki tua yang terlihat sekali begitu m***m. Abigail menantap Thomas dengan  mata berkaca-kaca sampai sosoknya tidak terlihat lagi dan terpaksa mengikuti lelaki itu entah kemana. Mencoba memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.  "Dia sangat bodoh. Aku beruntung sekali malam ini menemukan mangsa sepertinya yang ambisus tapi bodoh!!" Decak lelaki itu. "Lepaskan aku!!!" Desis Abigail.  "Kekasihmu sudah menjualmu jadi kau harus ikut denganku!!" Ucapnya dengan senyuman miring membuat Abi diliputi kekhawatiran. Mereka sampai di parkiran basemant, Abigail di paksa masuk ke dalam mobil mewah dan mendapatkan pelecehan seksual di sana. Lelaki itu mencoba untuk menggerayangi tubuhnya. Abigail mati-matian untuk menghindar. "b******k!!!" Abigail mendorong lelaki itu menjauh. "Jauh-jauh dariku!!!" Lelaki itu malah tersenyum genit, menarik gaunnya hingga robek dan belahannya mencapai atas memperlihatkan pahanya yang terekspos jelas. Abigail yang ketakutan langsung menginjak kaki lelaki itu dengan keras. "Arghh, sial!!" "Tidak!"  Saat akan membuka mobil, lelaki itu malah menarik pinggangnya dari belakang dan menempelkan badannya pada Abigail yang memberontak bersamaan dengan mobil yang perlahan melaju pergi. "Kau tidak bisa kemana-mana lagi, cantik," ucapnya seraya menciumi punggung Abigail yang menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak menangis karena rasa takut dengan mata terpejam. "Aku sudah tidak sabar membawamu ke hotelku," bisiknya. "Jangah menyentuhku," Abigail terdengar seperti memohon. "Aku bukan wanita murahan." "Aku tahu, makanya aku membelimu," kekehnya. Abigail bergidik saat lelaki itu kembali menciumi punggung belakangnya. Entah sudah berapa lama mereka berkendara dan kemana tujuannya. CIIIIIITTTTTTTT Suara rem yang diinjak mendadak itu membuat Abigail dan lelaki itu menoleh ke depan dan terbelalak kaget saat melihat seorang lelaki memakai coat panjang dan juga topi bundar berdiri di tengah jalan dengan pistol yang terarah tepat ke tempatnya dan menembakkan pelurunya. PRRRAAAAANKKKK! "Arrrrrghhh!!" Abigail memekik melindungi kepalanya saat kacanya pecah berhamburan dan pelurunya tepat mengenai si supir. CIIIIIIIIIITTTTTT "Aaarrghhh!!" Pekik Abigail saat mobil hilang kendali dan berbelok belok hingga akhirnya keluar jalur dan menabrak pembatas jalan membuat kepalanya terhantup jendela dan merasakan pening di kepala.  "Eeerghhh--" erang Abigail seraya memegangi kepala, melihat lelaki paruh baya di sebelahnya berdarah kepalanya. Muncul mobil yang lain dan terdengar suara tembakan yang berbunyi silih berganti. Abigail yang ketakutan merunduk memegangi kepalanya takut kalau pelurunya ada yang nyasar. "Sial! Siapa yang berani mengganggu Brigton," ucap lelaki paruh baya itu. Tiba-tiba pintu di samping Abigail terbuka, terkesiap kaget saat tangannya di cekal dan ditarik keluar oleh seseorang yang menyembunyikannya di belakang punggungnya. "Erick Brigton," decak lelaki itu membuat Abigail menoleh melihat penolongnya dan tercengang. Rasanya seperti keluar dari kandang  ular dan masuk ke kandang macan. Lelaki bernama Erick itu nampak terkejut melihat siapa musuhnya. "Lucca. Apa yang kau lakukan di sini?!" Abigail berusaha keras menarik cekalan tangan Lucca yang semakin menguat memberikan rasa nyeri dan yang pasti akan membekas nantinya. "Aku yang memutuskan bagaimana wanita ini harus bernapas." Abigail menahan napasnya padahal lelaki itu sama sekali tidak meliriknya. "Bukan kau!!" "Dia milikku--" DOORR!! "Arrrghhh!" Pekik Abigail seraya memalingkan wajah saat satu tembakan Lucca menembus jantung Erick membuatnya kehilangan nyawa dalam sekejap. Dirasakannya tubuhnya gemetaran karena hal mengerikan yang dilihatnya. "Lelaki tua yang cerewet," decaknya, mundur dan berbalik pergi seraya menarik Abigail bersamanya. "Lepaskan aku!!!" Desis Abigail, ketakutan, tetapi lelaki itu sama sekali tidak mendengarnya bahkan menoleh. "Lepaskan!!!" DOOORRRR! Abigail mengatupkan bibir, berlindung di balik bahu saat Lucca menembak seseorang di kejauhan yang tepat sasaran dan beberapa tembakan lagi ke arah lain. Sepertinya pengawal Erick masih beberapa yang bertahan. "Aaahhh--" Abigail tersentak kaget saat Lucca mendorongnya hingga menabrak mobil merah, mencekal lehernya disana hingga punggungnya terdesak dengan Lucca yang berjarak begitu dekat dengannya. Sepertinya sudah dini hari karena malam semakin dingin dan disekitar mereka sepi juga gelap, entah dimana. "Kau tidak seharusnya berhasil kabur malam itu" desisnya. "Kau menemukan barang milikku dan aku menyelamatkanmu dari lelaki tua itu." "Tolong lepaskan aku," pinta Abigail. "Apa kau pikir semudah itu?" Lucca menarik sudut bibirnya ke belakang menyeringai, memajukan kepalanya hingga  begitu dekat dengannya. "Kau seharusnya ketakutan sekarang." "Please--" Abigail gemetaran. "Berurusan dengan Lucca tidak pernah semudah itu," desisnya. "Apa maumu?" Tanya Abi yang berusaha untuk menatap mata Lucca. "Kau mengajukan pertanyaan yang salah," decaknya. "Karena kau pasti akan menyesal telah mengatakannya. Mauku adalah--" Lucca nampak begitu beringas, membelai pipi Abigail dengan ujung tembakan di tangannya, membuat wanita itu memejamkan mata dengan napas tertahan. "Ucapkan selamat tinggal pada kehidupan yang kau jalani saat ini karena akulah yang akan menentukan hidupmu setelah ini." Abigail membuka mata, Lucca nampak begitu menakutkan. "Mulai sekarang kau adalah budakku dan besok, ucapkan selamat tinggal pada London untuk selamanya." Abigail seperti mendapatkan vonis mati dan dia yakin tidak akan ada yang bisa menolongnya saat ini. "Itu akibatnya kalau bermain-main dengan Lucca Alonzo!!!" Abigail terperangkap dengan lelaki yang berbahaya. Shine, aku mungkin hanya bisa merindukanmu dalam hati, ucap Abigail dalam hati. Maafkan aku belum bisa pulang. *** Jangan lupa love-nya ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD