1
Dinda putri menatap layar laptopnya selamahampir sepuluh menit tanpa mengetik satu kata pun. kursor berkedip di tengah halaman kosong. Di atas meja belajarnya berserakan jurnal penelitian, buku kedokteran , beberapa lembar catatan konsultasi, dan secangkir kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu..
Dinda menghela napas panjang.
" judul penelitian saja kenapa susah banget siih ?"
Ia menyandarkan punggung ke kursi, lalu memijat pelipisya.
Di grup angkatan notifikasi kembali bermunculan.
Seminar proposal:
Raka hari senin proposal
Nisa rabu seminar proposal
Fani hari jumat proposal.
Dinda menutup grup itu.
ia tidak ingin melihatnya lagi.
Bukan karena tidak senang melihat teman-temannya berhasil. Ia justru bangga kepada mereka. Hanya saja, setiap kali melihat satu persatu nama mulai memasuki tahap skripsi, ada sesuatu terasa menekan dadanya.
Ia merasa tertinggal.
Sangat tertinggal.
Padahal ia sudah sudah berusaha.
Setiap pagi pergi kerumah sakit untuk magang. siang hari hingga sore mengikuti kegiatan kampus. malamlnya membaca jurnal dan mencari ide penelitian. setalah menemukan satu topik yang menurutnya menarik, ia akan membawanya kepada dosen pembimbing.
Lalu satu kalimat yang sama ia selalu ia dengar.
"Coba cari topik lain."
Dan semuanya kembali ketitik nol.
Dinda memejamkan mata.
"Aku capek."
ponselnya bergetar.
kali ini pesan dari Rani.
Rina : " Din, Malam ini jadi, kan ?
Dinda mengetik.
Dinda:
jadi apa ?
balasan datang kurang dari lima detik.
Rani :
Jangan pura-pura lupa. Kita mau ke Klub.
Dinda langsung mengernyit.
Dinda:
Aku nggak pernah bilang bilang mau.
Rani :
Justru itu. Makanya malam ini kamu harus ikut.
Pesan berikutnya berasal dari Sasa.
Sasa :
Kamu butuh hiburan Din, Sekali-kali jangan jadi mahasiswa kedokteran.
Dinda tertawa kecil.
mungkin mereka benar.
Mungkin satu malam tanpa jurnal, tanpa konsultasi, tanpa memikirkan skripsi bukanlah sesuatu yang buruk.
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Dinda membalas.
Dinda :
Oke. Tapi cuma sebentar.
Beberapa jam kemudian, Dinda berdiri di depan sebuah klub malam dengan ekspresi ragu. Lampu-lampu menyinari jalanan. Musik terdengar bahkan dari luar gedung. Orang-orang keluar masuk dengan pakaian yang menurut Dinda terlalu berani untuk di kenakan di tempat umum.
Dinda menarik ujung gaunnya.
"Aku masih bisa pulang, kan ?"
Rani tertawa.
" Dinda, kamu sudah sampai disini."
Sasa mengandeng tangannya.
"Anggap saja ini terapi."
"Terapi apanya?"
"Terapi supaya kamu nggak gila gara-gara skripsi."
Dinda akhirnya tertawa.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mencoba tidak memikirkan apa pun.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada Jurnal.
Tidak ada dosen pembimbing.
Tidak ada teman-teman yang sudah seminar proposal.
Hanya musik, tawa dan dua sahabatnya.
Namun Dinda tidak terbiasa dengan Alkohol.
Ia bahkan tidak tahu batas dirinya sendiri.
Gelas pertama membuatnya lebih santai.
Gelas kedua membuat pipinya memerah.
Gelas ketiga membuat kepalanya mulai berputar.
" Din, kamu yakin kamu nggak apa-apa?
Dinda mengangguk sambil tersenyum.
"Aku baik-baik saja"
Padahal dunia disekelilingnya mulai bergerak terlalu cepat. Lampu-lampu klub yang berkedip-kedip membuat kepalanya semakin pusing. Musik yang berdentungan terasa menusuk telinganya.
Ia memejamkan mata.
"Aku pulang dulu, ya".
Rani menatapnya khawatir.
"kamu mau di temani ?"
"nggak usah hotelnya dekat".
"yakin" ?
Dinda mengangguk.
"Aku cuma mau tidur."
Setelah berpamitan, Dinda berjalan keluar dari klub.
Namun langkanya tidak lagi sekuat tadi.
Ia merogoh tas dan mencari kartu kamar hotel.
Tangannya gemetar ketika memasukkan kartu ke dalam mesin akses.
Pintu terbuka.
Dinda masuk.
Tanpa menyadari bahwa ia berada di lantai yang salah.
Di tempat lain, Muhammad Resky Anugraha duduk sendirian ditepi ranjang.
Kemeja putihnya sudah tidak Serapi beberapa jam sebelumnya. Dua kancing bagian atas terbuka. jas hitamnya tergeletak di kursi.
Di atas meja terdapat sebuah gelas dan botol minuman yang hampir kosong.
Resky menatap langit-langit kamar.
Hari ini terlalu panjang.
Sidang.
Rapat yayasan.
Persoalan Fakultas.
Telpon dari kantor keluarga semua datang bersamaan.
Dan Seperti biasa, Resky memilih cara paling buruk untuk membuat kepalanya berhenti bekerja.
Minum. ia tahu itu bukan solusi.
Tetapi untuk malam ini, ia tidak peduli.
Resky menutup mata.
kesadarannya mulai kabur.
ketika terdengar suara pintu dibuka, ia tidak langsung bereaksi.
Seseorang masuk.
langkah kakinya terdengar mendekat.
Resky membuka mata dengan pandangan yang tidak lagi fokus.
sosok seorang perempuan berdiri beberapa meter di depannya.
" Sayang?"
suara Resky terdengar berat.
Dinda yang sudah setengah sadar hanya menatapnya.
Ia tidak mengenali wajah itu.
Tidak benar-benar melihatnya.
Yang ia pikirkan hanya satu.
Tempat tidur
Ia berjalan sempoyongan menuju ranjang.
Resky berdiri.
Dalam kondisi mabuk, pikirannya mengambil kesimpulan yang salah.
Ia mengira perempuan di hadapannya adalah seseorang yang sangat dikenalnya.
Seseorang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
"kenapa baru pulang?"
Dinda tidak menjawab.
ia bahkan tidak mengerti apa yang di katakan pria itu.
Resky mendekat.
Dan sebelum keduanya benar-benar menyadari kesalahan yang terjadi, jarak di antara mereka menghilang.
Malam itu berlalu dalam keadaan yang sama-sama tidak seperti mereka sadari.
Sebuah kesalahan.
satu pintu kamar Yang salah.
Satu malam yang salah seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan sebuah pertemuan yang kelak akan mengubah hidup mereka berdua.
pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari menembus celah tirai.
Dinda mengerang pelan.
Kepalanya terasa berat.
Sangat berat.
Ia membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar yang asing membuatnya mengernyit.
"ini....bukan kamar aku."
Dinda berusaha duduk.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Ada seseorang di sebelahnya.
Seorang pria.
Dinda membeku.
Napasnya tercekat.
Matanya perlahan beralih kepala pria yang masih tertidur di sampingnya.
Dan dalam hitungan detik, seluruh sisa kantuknya lenyap.
Dinda menarik selimut lebih erat.
"ya Tuhan..."
Pria itu bergerak.
Dinda panik.
Ia segera turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
Tanya gemetar.
pikirannya kosong.
Ia tidak mengingat semuanya.
Hanya potongan-potongan kecil yang terjadi.
Dinda menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Ia segera berlari menuju kamar mandi.
Di depan cermin, wajahnya terlihat pucat.
"Dinda... kamu ngapain?
tidak ada jawaban.
ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Kemudian satu pertanyaan muncul di kepalanya.
Siapa pria itu ?
beberapa menit kemudian, Dinda keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.
Ia tidak berani menoleh lagi.
Ia hanya ingin pergi.
Ia menganggap semua ini sebagai mimpi buruk.
Namun takdir rupanya belum selesai mempermainkannya.
Seandainya malam itu ia tidak pernah salah masuk kamar.
Namun penyesalan selalu datang terlambat.
Karena beberapa kesalahan tidak bisa di hapus.
hanya bisa dijalani.
Dan malam itu....
adakah awal dari segalanya.
.......
Dinda tidak berhenti berlari sampai dirinya tiba di depan lift.
Tangannya gemetar ketika menekan tombol.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
"cepat..."bisiknya panik.