Balon Rasya

2231 Words
*membaca Al-Qur'an lebih utama* Aji langsung menuju ruangan sang istri, begitu mendengar kalimat Agil tadi, Aji sadar, tingkahnya sungguh kekanakan, saat ini istrinya lagi butuh dukungan, Aji malah membuat beban pikiran sang istri bertambah berat. Rasa bersalah membuat sang istri menangis membuat Aji tanpa sadar juga meneteskan air mata. Ia membuka ruangan istrinya, dan mendapati Dita meringkuk di sofa panjang dengan badan yang bergetar karena menangis. Langsung saja Aji memberikan pelukan hangat kepada Dita, sekilas badan istrinya menegang terkejut, hingga rileks kemudian. "Jangan nangis lagi, hati aku sakit liat kamu begini, Yang," ucap Aji sendu. Dita membalik kan badannya dan membenamkan diri di d**a bidang suaminya. "Ma-maf, Mas. Hiks... Dita gak bermaksud tadi," ucap Dita dengan masih diiringi Isak tangis. Aji dengan sabar menenangkan Dita dengan kalimat-kalimat penyemangat. "Setiap usaha pasti punya porsi masalahnya masing-masing, saat ini usaha kamu lagi diuji, Sayang. Jangan down, karena kalau kamu down, perusahaan akan ikut down juga. Kita sama-sama selesaikan ini semua." Dita mengurai pelukannya, lalu menatap wajah Aji, wajah yang sudah 8 tahun menemani hidupnya, berbagi beban dan juga bahagia, siapa yang akan menyangka, ia ditakdirkan menjadi istri dari seorang Aji yang terkenal dengan sifat petakilannya. Kalau dipikir-pikir, mereka hanya bertemu di saat demo saja, tapi tuhan maha baik, tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk memberikan hamba-nya yang terbaik. Dan bagi Dita, Aji adalah pilihan terbaik yang tuhan beri untuknya. "Dita minta maaf, tadi udah buat mas sedih, Dita gak bermaksud, Mas. Sakti dan Dita juga hanya berteman, tidak lebih." Jelas Dita dengan suara parau sehabis menangis. "Yang, pernah denger bahwasanya setiap wanita muslimah wajib menjaga pergaulannya?" Dita mengangguk, ia pernah mendengar itu, bahkan berulang kali ia dengar dari suaminya dan juga sang ibu mertua di rumah. "Kamu tau, kamu itu tanggung jawab aku? Salah satu yang menentukan tempatku di surga dan neraka, salah satu yang menjadi tanggung jawab utama aku di akhirat nanti?" Aji menatap wajah istrinya yang sayu, ia memang bukan seorang suami dan kepala keluarga yang memiliki latar belakang agamis, tapi sebisa mungkin, setiap langkah dan tindakannya akan selalu sesuai dengan syariat agama dan Sunnah Rasulullah. "Pergaulan kamu? Itu menjadi tanggung jawab aku dan kamu, suatu saat nanti, di akhirat kelak. Tuhan akan bertanya, mengapa istriku bisa begitu dekat dengan laki-laki yang bukan mahramnya? Mengapa istriku bisa berpelukan dengan laki-laki yang haram untuknya dipeluk? Bantu aku menghindari neraka itu yah ,sayang? Aku tidak memaksa kamu memakai hijab dan pakaian yang sesuai dengan peraturan agama kita, hanya saja dari mulai sekarang, coba untuk memakai pakaian yang lebih tertutup, dengan cara, mulai tinggalkan rok pendek yang menampakkan betis indah kamu." Penjelasan Aji panjang lebar, membuat hati Dita tersayat rasanya, bagaimana mungkin ia dengan tega selama ini menjerumuskan ayahnya dan juga suaminya ke dalam kubangan dosa? Pantaskah ia berteriak bahwa dirinya mencintai dua laki-laki itu dengan begitu besar? Sedangkan secara tidak langsung, dirinya membuat sengsara keduanya di akhirat kelak. "Anggap masalah ini menjadi teguran bagi kita, mungkin kita lalai dalam menjalankan perintah agama. Sedekah kita masih kurang, kita juga sering berbelanja sesuatu yang tidak kita butuhkan, kita juga sering mubazir dengan berbelanja berlebihan." "Ma-maf, Mas. Hiks... Maaf, " ucap Dita penuh sesal. Aji menggeleng pelan. "Ini gak hanya salah kamu, sayang. Ini salah aku juga, sebagai pemimpin, ilmu agama aku masih cetek, sekarang kita pulang yah? Tenangin diri kamu, sebentar lagi juga Abang pulang, jadi kita sekalian jemput dia." Dita menerima uluran tangan suaminya, berjalan saling bersisian, membuat beberapa karyawan yang melihat atasan mereka begitu mengernyit heran, baru hari ini drama Korea versi kearifan lokal tidak begitu wah terjadi di kantor. Malah Dita dan Aji terlihat semakin mesra dengan Dita yang memeluk lengan Aji. Beberapa kali mereka membalas sapaan karyawan yang menyapa, tak jarang pula ada rekan kerja Aji yang bertanya dengan pertanyaan aneh. "Ji, kiamat udah dekat?" Tanya salah satu karyawan yang merupakan rekan satu devisi Aji, sontak Aji yang mendapatkan pertanyaan itu terkekeh geli, ia mengerti mengapa rekan kerjanya bertanya seperti itu, karena sangat jarang dirinya dan Dita terlihat romantis, malah sering terlihat bertengkar dan adu mulut. "Pada kenapa sih, Mas? Kok pada nanya yang aneh semua?" Tanya Dita polos, ia sama sekali tidak tau mengapa anak buahnya selalu mengucapkan kalimat yang hampir sama tujuannya. Aji menggeleng, pura-pura tidak tahu, dari pada ia memberitahu kepada Dita, yang ada akan terjadi perang dunia lagi antara dirinya dan juga sang istri. "Gak ada, yaudah ayo. Mending kita pulang, jemput Abang dulu." Selama di perjalanan, baik Aji maupun Dita memilih bungkam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dita dengan pikiran nya dan Aji dengan rencananya. Sesuatu hal yang sangat jarang terjadi jika mereka bersama, dan menjadi ajang diam-diaman seperti ini. 30 menit kemudian keduanya turun dari mobil yang sudah terparkir sempurna di depan gedung sebuah sekolah dasar, Aji berjalan menuju gerbang, sedangkan Dita tetap berdiri di samping mobil. Tak lama terlihat bocah laki-laki berusia 7 tahun yang menggunakan tas bergambar salah satu tokoh kartun pelawan, iron man. "Ayah..!" Teriakan nyaring itu bahkan bisa terdengar sampai di tempat Dita berdiri. "Hai anak ayah, udah pulang kan, Sayang?" Tanya Aji, yang dijawab anggukan penuh semangat oleh sang anak. "Udah, ayah. Ayah gak kerja? Bukan ibu yang jemput Abang?" Ibu yang di maksud oleh Rasya adalah pengasuh sekaligus ART yang memang sengaja di pekerjakan oleh istrinya untuk mengawasi sang anak ketika mereka berdua sedang bekerja. "Gak, ayah sama bunda yang jemput Abang, Abang seneng gak?" Bocah tujuh tahun itu tampak mengedarkan pandangan nya ke seluruh area parkir sekolah, hingga matanya bertemu dengan tatapan hangat sang bunda, langsung saja ia berlari menghampiri Dita. "Bunda..., Bunda jemput Abang? Bunda lagi gak kerja? " Pertanyaan beruntun itu membuat Dita gemas seketika. "Salimnya mana dulu?" Rasya menepuk jidatnya pelan. "Maaf, Bunda. Abang lupa, Assalamualaikum, Bunda." Dita mengecup hangat kening sang putra, Rasya bukan tipe anak pembangkang ataupun anak bandel, anaknya sendiri merupakan tipe yang penurut dan mudah menangkap semua yang ia dan suami ajarkan. "Waalaikumsalam, Sayang. Sekarang kita pulang, yah?" Aji langsung masuk dan duduk di balik kemudi, ketiganya langsung memutuskan pulang ke rumah, sepanjang perjalanan diisi oleh celotehan Rasya yang menceritakan pengalamannya di sekolah. "Tadi Abang belajar perkalian, dan Abang sudah hapal loh, bunda." "Oh yah? Anak bunda hebat, pinter, ganteng lagi," balas Dita dengan suara penuh rasa bangga, membuat Rasya yang mendengarnya langsung menunduk malu dengan pipi yang bersemu merah. "Anak ayah pinter banget, tetap semangat belajar yah, jangan lupa ibadahnya juga." Aji ikut menimpali perkataan sang istri, ia sangat bangga dengan perkembangan sang anak, apalagi jika melihat umur Rasya yang masih bisa dikatakan sangat muda. Sekitar 20 menit kemudian mereka sampai di rumah, dengan tergesa Rasya langsung berlari memasuki rumah, sambil berteriak memanggil sang adik. "Adek, adek, liat abang bawa apa ni? Adek...." "Abang, salam dulu, Nak kalau masuk rumah." Rasya langsung berhenti, lalu keluar dari rumah, hal ini sontak membuat Aji dan Dita saling melirik penuh tanya. Tak lama terdengar langkah kaki dan juga suara mungil milik putranya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, maaf bunda. Tadi Abang lupa." Rasya menatap Dita dengan pandangan menyesal. "Gak papa, Sayang. Abang mau cari adek kan? Yaudah sana samperin, kata ibu adek ada di kamar." "Terima kasih, Bunda." Rasya memberikan kecupan hangat ke pipi kanan dan kiri Dita. "Ayah gak dikasih kecupan, Bang?" Ucap Aji tiba-tiba. Rasya dengan terkekeh kecil menghampiri Aji lalu memberikan kecupan ke seluruh wajah sang ayah. "Dah, kan? Abang mau ke tempat adek dulu," ucap Rasya semangat. "Emang Abang bawa apa sih, Nak?" "Ada deh, Bun." Mata Dita menatap awas sang putra yang menaiki tangga, Aji langsung merangkul istrinya dan memberikan kecupan hangat. "Kamu berhasil didik anak-anak." Dita tersenyum lembut menatap Aji. "Bukan aku, tapi kita. Kita berhasil didik Abang dan adek, tapi perjalanan kita masih jauh, mereka masih butuh banyak waktu untuk dibimbing." Aji mengangguk, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, tepat di sebelah kamar sang anak. Ketika sampai di depan pintu kamar kedua putranya, Aji bisa mendengar pekikan suara tawa kedua nya. Langsung saja Aji berdiri di depan pintu dan melihat aktivitas sang anak. Betapa terkejutnya Aji, ketika melihat sesuatu yang dimainkan oleh kedua anaknya. Aji langsung masuk dan merebut sesuatu yang sudah berbentuk balon itu dan membuangnya ke tong sampah. Matanya langsung melotot tajam menatap putra sulungnya. "Abang dapet itu dari mana," tanya Aji dengan tegas, membuat Rasya meringsut ketakutan. Aji yang mengerti ketakutan sang anak, akhirnya melunakkan pandangannya. "Abang, Abang coba liat ayah, Nak. Abang dapet itu dari mana?" Rasya yang merasa sang ayah sudah tidak terlalu marah pun akhirnya mendongak dan langsung menangis histeris karena kaget akan tindakan Aji yang tiba-tiba, Aji langsung memeluk anak sulungnya, sedangkan si bungsu menatap dalam diam ayah dan abangnya. "Abang, jawab pertanyaan ayah, yah Nak. Abang dapet dari mana mainan itu?" "Hiks... A-abang hiks dapat itu dari kawan Abang, Ayah. Dia yang kasih Abang." Aji menghela napas, bagaimana ia harus menjelaskan sang anak, dirinya juga bingung sekarang. Dengan tetap memeluk tubuh mungil Rasya, Aji membawa putranya dalam gendongan dan duduk di atas ranjang sang putra. Arsya yang melihat itu pun ikut menaiki ranjang dan duduk di sebelah ayah dan abangnya. "Tadi itu masih di dalam bungkus, Kan?" Rasya mengangguk, ia menunjuk bungkus yang tergelatak di sebelah rak buku. Aji tanpa sadar menghela nafas lega, setidaknya yang dipegang sang putra masih bersih. "Nak, itu bukan mainan, lain kali jangan dimainkan yah?" Rasya terlihat bingung. "Tapi itu balon, Yah." Aji menghela nafas, bagaimana caranya ia menjelaskan ke putranya bahwasanya itu benda keramat. Astaga, ia jadi teringat kisah pak BJ. Habibie yang juga membuat benda ini jadi balon. Membayangkan jika Dita tau dan mencuci mulut Rasya dengan air panas, langsung membuat bulu kuduk Aji naik. "Nak, itu bukan mainan, nanti kalau sudah besar, Abang pasti paham maksud ayah, jangan buat mainan lagi, Yah?" Rasya mengangguk, ia akan menuruti semua ucapan orang tuanya, meskipun ia sangat penasaran dengan benda itu, mungkin ia akan mencari tahu sendiri nanti. Tak lama setelahnya, Dita ikut masuk ke dalam kamar sang anak, dan melihat raut wajah Aji yang menegang, dan juga raut lemas Rasya. "Ada apa sih, Mas? Kok mukanya tegang gitu?" Aji menggeleng, ia memaksakan senyumnya dengan lebar, yang malah terlihat seperti orang yang menahan buang air. "Senyumnya aneh gitu." Dita semakin menatap suaminya penuh selidik, lalu menatap anak sulungnya yang terdiam. "Abang kenapa?" Tanya Dita, namun seperti ayahnya, Rasya ikut menggeleng, memilih untuk tutup mulut. Dita menghela nafas, sangat susah memaksa kedua orang ini untuk jujur, jadi lebih baik ia bertanya kepada Arsya yang sudah pasti jujur. "Adek, Abang sama ayah kenapa?" Aji dan Rasya langsung duduk tegak, bahkan mata mereka melotot kaget, astaga. Dengan serempak Rasya dan Aji menatap si bungsu dengan pandangan menusuk, membuat Arsya menciut dan menghampiri sang bunda. "Adek takut ." Sontak ucapan itu membuat Dita langsung memberikan tatapan tajam ke arah Aji dan putra sulungnya, dengan begini ia yakin ada yang tidak beres, apalagi melihat si sulung ikut membantu ayahnya menyembunyikan satu hal. "Nak, ayah sama Abang kenapa? " "Tadi Abang nunjukin balon lucu sama adek, tapi gak lama ayah buang balonnya." Aji menutup matanya, bersiap diri mendapatkan Omelan dari Baginda ratu. "Dibuang kemana? Kenapa dibuang?" Dita menatap Aji, lalu mencari tempat sampah yang kemungkinan sang suami membuangnya ke sana. Betapa terkejutnya Dita, ketika mendapati a**************i yang sudah berbentuk balon itu berada di dalam tong sampah, jangan bilang yang dimaksud anaknya balon adalah ini? Dita memutar badannya dan menatap dua orang yang jadi tersangka. "Abang, jadi ini yang mau ditunjukin ke adek?" Dengan raut takut Rasya mengangguk. Dita menghampiri sang anak, lalu duduk tepat di sebelahnya. "Abang tau itu apa, sayang?" Rasya menggelang, kenyataan bahwa dirinya tidak mengetahui itu apa, membuat rasa ingin tahunya semakin tinggi. Pasti ada alasan mengapa kedua orang tuanya melarang dengan keras ia bermain dengan balon lucu itu. "Tadi ayah bilang apa?" Tanya Dita, ia penasaran bagaima cara suaminya menjelaskan itu semua? "Ayah bilang, Abang gak boleh mainkan itu, nanti kalau sudah besar bakal tau sendiri." Dita mengangguk membenarkan. "Bener apa kata ayah sayang, jadi benda itu belum pantes buat Abang tau, tapi ingat, itu bukan mainan yah, Nak. Itu alat buat orang dewasa." Rasya mengangguk, baiklah ia akan mencari tahu itu nanti ketika ia besar dan cukup umur. Mungkin yang dikatakan bundanya itu benar. "Abang tadi dapet di mana?" Dita sangat penasaran, dari mana anaknya bisa dapat benda itu, karena tidak mungkin dari rumah, Aji dan dirinya tidak memakai benda itu sama sekali. "Dari Ardi, Bund. Dia dapet dari kamar ayah dan ibunya, Ardi juga tadi tiup-tiup balonnya." Dita tersentak kaget, astaga. Bagaimana bisa orang tua seteledor itu. "Abang tiup yang masih dalam bungkus, atau udah kebuka?" Tanya Dita ketar-ketir, jujur jika sampai anaknya meniup yang sudah tidak berbungkus, maka jangan harap itu bibir tidak merah, akan Dita gosok sampai mengkilat. "Masih dibungkus, itu bungkusnya." Rasya menunjuk bungkus yang berwarna merah itu, dan terpampang satu merek yang sering ada di mini market, tanpa sadar Dita mendesah lega, setidaknya bibir anaknya masih suci dari najis. "Oke, lain kali kalau gak pernah Abang liat, jangan dibuat mainan, oke? Tanya bunda atau ayah dulu. " Rasya mengangguk lalu memeluk sang Bunda. "Maaf yah, Bun, ayah. Abang salah." "Anak ayah gak salah kok, kan gak tahu, jadi lain kali bisa jadi pembelajaran, Yah?" Aji tersenyum hangat sambil memeluk ketiga orang yang dicintainya ini. Tapi ketika melihat tatapan mata istrinya, Aji langsung meneguk ludah kasar dan berdiri, alarm siaga langsung berbunyi di otaknya. "Ayah mau ke kamar dulu, mandi. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD