Hatred

1790 Words
Wei Long menghela napas dalam-dalam, menatap Tan Wei lekat-lekat selama beberapa saat dan kemudian berkata “Tan Wei, kembalilah ke rumah, lupakan yang kau dengar, anggap kau tak pernah mendengar apapun,” Setiap perkataan yang di ucapkan oleh Wei Long terdengar lembut namun tegas. ”A Shen antarkan Tan Wei ke rumah.” Perintah kepala suku itu sambil memberikan isyarat kepada Shen Rui. “Tapi….Shu shu...” “Pastikan dia tak pergi kemana-mana.” Wei Long berkata dengan tegas dan jelas. “Baik ketua.” Jawab Shen Rui dengan patuh ia lantas berjalan mendekat ke arah Tan Wei, sambil buru-buru menarik tangan gadis yang saat ini hanya berdiri membatu “Tan Wei ayo kita kembali.” Kata Shen Rui,Tan Wei mau tak mau pada akhirnya berjalan keluar goa mengikuti Shen Rui kendati masih ada seribu tanda tanya di benaknya. Jika Wei Long adalah kepala Suku Guan maka Shen Rui adalah wakilnya, usianya dua puluh lima tahun beda delapan tahun dari usia Tan Wei, masih muda namun ia sudah menjadi orang kepercayaan Wei Long, “Shen Dage, ada apa ini? Mesiu-mesiu itu….apa yang sebenarnya akan kalian lakukan?” Tan Wei bertanya namun pemuda yang di sampingnya hanya diam sambil terus berjalan. … …. …. “Dage! hentikanlah selagi belum terlambat… Wei shu shu mungkin mau mendengarkanmu.” Tan Wei mendongak, Pemuda berambut sebahu dan kulit agak kecoklatan itu memiliki postur tubuh yang tegap lagi tinggi, saat berjalan bersisian dengan Tan Wei gadis itu hanya sebahunya, setiap kali berbicara dengannya Tan Wei berkali-kali harus mendongak ke atas untuk memperhatikan ekspresi wajah pria itu. “Tan Wei...kau tak mengerti….” jawab Shen Rui lirih. Tak mengerti? Mendengarnya Tan Wei hanya bisa tersenyum getir. Tak mengerti? Sebagai seseorang yang tumbuh besar di tanah ini ini bagaimana mungkin aku tak mengerti? Meskipun Tan Wei hanya nampak seperti seorang gadis yang cuma tahu bermain-main dan berkeliaran namun ia tahu betul apa yang menjadi luka bagi sukunya, bagaimana mungkin ia tak mengerti ketika ia dan warga suku Guan yang lain terus menerus tergusur dari tanah mereka sendiri karena tanah-tanah itu akan di bangun sebagai sarana penunjang pertambangan. Sebuah kegiatan penambangan yang sama sekali tak memberikan manfaat bagi warga di lembah Anrui. Bagaimana mungkin ia tak mengerti? ketika warga di sukunya berjuang bertahan hidup dengan menanam tanaman obat dan dan berburu di tanah yang semakin lama semakin rusak karena pertambangan itu. Bagaimana mungkin ia tak mengerti? ketika Ayah Ibunya meninggal karena konflik yang disebabkan oleh tambang ini, sepuluh tahun lalu saat ia masih seorang bocah perempuan polos berusia tujuh tahun, terjadi bentrok antara warga suku Guan dengan prajurit yang berjaga di sekitar tambang, meskipun penduduk SUku Guan terkenal sebagai petarung-petarung hebat mereka tak kuasa saat harus melawan para penjaga yang bersenjata lengkap, akhirnya konflik ini menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak, termasuk ibu Tan Wei yang meninggal karena anak panah yang menancap di dadanya. Sejak kejadian itu dibuatlah sebuah perjanjian damai, kegiatan penambangan di goa tambang dapat terus berlanjut namun dengan syarat agar tanah adat tempat tinggal suku Guan tetap terjaga dan tak dirusak oleh kegiatan pertambangan. Setelah perjanjian itu suasana di Lembah Anrui nampak lebih tenang, namun Xu Hongli, ayah Tan Wei yang tak bisa menerima kematian istri tercintanya berniat membalas dendam dengan membawa sebilah pedang ke arah tambang, tak lama kemudian terdengar kabar bahwa Xu Hongli telah terbunuh oleh prajurit-prajurit yang berusaha ‘membela diri’. Dalam sekejap Xu Tan Wei kecil kehilangan keluarga tercintanya, menjadi sebatang kara. Jika harus berbicara tentang dendam dan benci, Tan Wei lah seharusnya orang yang paling memikul kebencian itu, namun ia beruntung dibesarkan oleh Bibi Jing, wanita itulah yang tak hentinya mengajarkannya untuk hidup tanpa dendam, untuk memaafkan dan menghapus semua kebencian dan menjalani hidup dengan kebahagiaan, dan itu pula yang ia pikir Suku Guan lakukan selama ini, menjalani hidup apa adanya dengan bahagia tanpa dendam dan kebencian, meskipun penambang itu berkali-kali melanggar batas wilayah, untungnya konflik berdarah di masa lalu tak pernah terjadi lagi, namun hari ini nyatanya ia membuktikan bahwa terkadang apa yang kita lihat tak sesuai dengan kenyataan, mereka —Suku Guan— tak pernah barang sekalipun menghilangkan kebencian itu, tak pernah sekalipun melupakan segalanya. Sepanjang perjalanan kembali yang ada hanya sunyi, awalnya Tan Wei memberondong Shen Rui dengan berbagai pertanyaan, namun pria itu tak menjawab satupun pertanyaanya, jadilah sepanjang perjalanan pulang yang ada hanya sunyi, Tan Wei terhanyut dalam pikirannya, mencoba menyusun kepingan-kepingan yang ada di dalam pikirannya, merangkai kata-kata yang baru saja ia dengar di goa baru saja. **** Sudah sehari semalam semanjak kejadian di goa itu, Tan Wei terjebak di dalam rumahnya sendiri, Wei Long memerintahkan pintu-pintu itu dikunci dari luar, mirip seperti seorang tahanan rumah. Seharian ia hanya mondar-mandir tidak jelas kesana kemari, sesekali ia tertidur namun setiap kali ia selalu terbangun karena mimpi buruk, mimpi yang membuatnya terbangut dan bergidik namun beberapa saat kemudian ia sudah lupa apa detil mimpinya itu yang tersisa hanya rasa takut dan keringat dingin spontan membasahi tubuhnya setiap ia teringat akan rencana yang ia dengar kemarin. Ia melongok ke atap rumahnya, atap rumahnya cukup tinggi. Ah, sayangnya kemampuan qinggongnya sangat buruk, kalau tidak pasti sudah sedari tadi ia kabur dengan menjebol atap rumah. Pintu kayu yang menutup ruangan perlahan terbuka, Seorang wanita dengan tatapan meneduhkan perlahan muncul dari balik pintu kayu itu “Ayi?” “Pssst….” “Ayi, kau tahu apa yang Wei Shu shu dan yang lain mau lakukan? .” Wanita itu terdiam beberapa saat ia memejamkan matanya dan kemudian menatap Tan Wei dengan tatapan penuh arti. Hanya dengan melihat ekspresi itu pun Tan Wei sudah paham, “Jadi kau juga sudah tahu….Ayi, kenapa harus seperti ini??” Setelah beberapa saat hening dalam kebisuan akhirnya wanita itu berkata “Wei’er tinggalkan lembah ini untuk sementara, sebelum Ketua Wei menyadarinya,” Wanita itu lalu mengeluarkan beberapa helai rumput berwarna keunguan dari dalam lengan bajunya, “Ini rumput Fengcao yang kau cari, Yihua membutuhkannya bukan kau harus buru-buru pasti dia menunggumu?” Bibi Jing meraih tangan gadis itu, menatapnya lekat-lekat dan meletakkan sebuah bungkusan berisi Fengcao ke dalam genggaman Tan Wei. “Ayi…..” Sejak kejadian di goa, Tan Wei benar-benar lupa akan tujuannya pulang ke Lembah Anrui, Melihat tanaman itu Xu Tan Wei segera teringat kembali bahwa madam Liu segera membutuhkan obat itu, dan ia sudah pergi terlalu lama…. Sebelum melangkahkan kakinya keluar Tan Wei menoleh sesaat, “Ayi, kumohon untuk berbicara kepada Wei Shu Shu sekali lagi, apa yang akan mereka lakukan itu sangat berbahaya.” Bibi Jing tak menjawab apapun, ia hanya menatap kepergian Tan Wei, seberkas air bening menggenang di kedua sudut matanya. **** Tan Wei setengah berlari menuju ke arah kudanya, buru-buru menungganginya. Malam itu sangat sunyi, malam ini adalah malam festival lampion. seperti biasa saat malam festival lampion warga Suku Guan akan berkumpul di puncak gunung untuk menerbangkan lampion-lampion kertas dan menghabiskan waktu sembari mengobrol bercanda ria semalaman. Sepanjang jalanan lembah Anrui terasa sunyi jalanan lengang, nyaris tak ada orang sama sekali malam itu, tak butuh waktu lama Tan Wei dengan segera tiba di pintu masuk lembah Anrui. Tepat saat ia hampir melewati pintu gerbang ia melihat bayangan seseorang yang berdiri dari kejauhan sembari menatap ke arahnya. Wei Long. Tan Wei mungkin bisa saja membuat kudanya berlari dan melesat pergi namun pada akhirnya ia lebih memilih menarik tali kekangnya membuat kuda yang ia tunggangi berjalan melambat dan akhirnya tepat berhenti di depan Wei Long. “Shu shu...” katanya lirih. “Kau kesini untuk melarangku pergi?” Wei Long tersenyum hangat “Gadis bodoh, kalau aku mau mencegahmu pergi untuk apa aku membiarkanmu sampai sejauh ini? Pergilah, aku tak ingin kau berada disini dan menyaksikan semua kekacauan ini, ini bukan duniamu... kau masih muda, dunia luas membentang di depanmu, jangan bebani pikiranmu dengan yang terjadi di sini.” “Shu shu, lalu bagaimana dengan Jing Yuan, Jing Chen dan penduduk lain di tempat ini, bukankah dunia mereka juga masih panjang, mengapa kau harus mengambil jalan ini?” “Wei’er….kau masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana dunia ini berjalan.” “Shu shu aku mengerti segalanya, rasa benciku tak kurang dari apa yang kau rasakan.” mata Tan Wei mulai memerah, “mungkin aku masih terlalu kecil untuk memahami semuanya, tapi aku tahu apa konsekuensi dari pemberontakan, sudah banyak darah yang tumpah di masa lalu apakah itu semua belum cukup?.” Wei Long tak menjawab dan hanya menatapnya diam seribu bahasa. “Penambang-penambang itu….mereka tak bersalah Shu shu, mereka juga punya keluarga yang menanti dirumah.” “Wei’er, mereka terlalu lama menginjak-injak kita, terkadang kematian sekalipun jauh lebih baik daripada harus terus-menerus hidup seperti ini.” “Kematian? Apa yang baik dari sebuah kematian? dengan kematian tak ada lagi yang tersisa selain kepedihan. Shu shu kudengar kaisar kita adalah orang yang sangat bijaksana, jika masalah ini bisa sampai kepadanya aku yakin, yang mulia kaisar pasti akan memberikan solusi yang terbaik.” “Selama kerajaan mau berjanji untuk menghentikan perusakan tanah leluhur kita, tak ada alasan bagi kita untuk melukai satu sama lain...tapi jika tidak....”Wei Long tak melanjutkan perkataannya. “Shu shu….” “Wei’er Pergilah, tinggalkan tempat ini. Kau harus ingat tak peduli apapun yang terjadi nanti jangan pernah berbalik. bukankah kau mencintai kebebasan? Jangan libatkan dirimu dengan konflik ini.” Paman Wei memandangnya lekat-lekat sebelum akhirnya ia berbalik pergi. Punggung itu perlahan menjauh, meninggalkan Tan Wei yang masih terpaku di tempat yang sama. “Shu Shu……” Tan Wei menyeka kedua pipinya, entah sejak kapan air mata itu jatuh menetes, Tan Wei menatap punggung pria paruh baya itu tanpa berkedip, Wei Long, kepala Suku Guan, pria itu adalah sosok yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri, lelaki yang mengajarinya berkuda untuk pertama kali, mengajarkan kungfu padanya. "Shu shu! semuanya belum terlambat! masih ada kesempatan untuk jalan yang lebih baik!" setengah berteriak Tan Wei berseru kepada pria itu, untuk yang terakhir kalinya, Tak peduli seberapa kali ia memikirkannya ia berpikir kalau ini bukanlah cara yang benar, tapi warga Suku Guan sepertinya sudah membulatkan tekadnya, dan ia tak punya jalan apapun untuk mencegahnya. Ia benar-benar sendiri, apa yang bisa diperbuat gadis polos sepertinya? Huanran Nama itu tiba-tiba muncul kembali di dalam pikirannya. Mungkin saja dia bisa membantuku untuk menghentikan semuanya. Mungkin….Tan Wei mendongak ke atas malam itu di langit terlihat lampion berterbangan di langit, malam ini adalah malam Festival Lampion dan ia sudah melewatkannya, melewatkan janji itu, Tan Wei memandang ke arah langit itu sambil tersenyum pahit, pasti pemuda itu sedang menunggunya di danau itu...seberkas perasaan bersalah menggelayut di hatinya, namun tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Takdir. Sebuah kata yang seringkali menjadi harapan terakhir di tengah ketidakpastian. Terkadang tak ada pilihan lain selain percaya akan takdir. Baik Tan Wei maupun Li Xian tak pernah tahu kalau ini bukanlah akhir dari pertemuan mereka melainkan awal dari segalanya….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD