Anrui Valley

1767 Words
Setelah kembali ke kota Xu Tan Wei dan Yihua dengan segera dihadapkan pada kondisi darurat, penyakit Madam Liu semakin parah dari waktu ke waktu, Tabib yang mengobatinya mengatakan jika Madam Liu membutuhkan sebuah tanaman obat bernama Fengcao, Sebuah tanaman obat yang bisa dibilang cukup langka. Tan Wei dan Yihua sudah berkeliling ke beberapa penjual obat di sekitar kota namun tak menemukan satupun toko yang menjualnya, Akhirnya Tan Wei memutuskan untuk kembali ke Lembah Anrui, ia paham betul disana terdapat berbagai macam tanaman obat, termasuk tanaman obat langka yang bahkan jarang ditemui di pasaran. Festival Lampion saat itu tinggal dua hari lagi, petualangannya bersama dengan Huanran terakhir kali benar-benar meninggalkan kesan tersendiri bagi Xu Tan Wei. sama seperti Huanran, Xu Tan Wei juga telah menantikan momen pertemuan itu. Jarak Kota Yizhou dengan Lembah Anrui membutuhkan waktu kurang lebih satu hari perjalanan jika di tempuh dengan kuda, Tan Wei segera memacu kuda yang ia tunggangi kencang-kencang berharap ia tak akan melewatkan momen festival lampion. **** Lembah Anrui adalah sebuah lembah yang terletak di ujung timur Kerajaan Daxiang, sebuah lembah indah dengan pemandangan yang memikat mata, saat siang cuaca terasa hangat dengan hembusan udara dingin yang bertiup dari puncak bukit, di bawah lembah terdapat air sungai yang mengalir deras, di dinding-dinding tebing terdapat goa-goa berukuran besar, di balik keindahannya ini Lembah Anrui juga menyimpan cadangan emas yang melimpah yang membuat setiap tahun pemerintah berbondong-bondong mendatangkan pekerja dari luar untuk mengeruk cadangan emas yang ada, sementara itu para penduduk Suku Guan yang dahulunya tinggal di sepanjang Lembah Anrui kini telah bergeser ke sisi utara lembah hidup dengan damai membentuk kehidupannya sendiri dengan menanam tanaman obat. “A Yuan, A Chen !!!” seru Tan Wei sembari menuntun kudanya yang nampak kelelahan, memanggil dua orang bocah yang sedang asyik berguling-guling di rerumputan hijau bersama teman-temannya. “Jiejie!!!!” Melihat sosok yang barusan memanggil mereka dua bocah itu spontan berdiri dan berlari ke arah Tan Wei, semakin dekat nampak kalau dua bocah laki-laki perempuan berusia enam tahun itu sangat mirip, ya Jing Yuan dan Jing Chen adalah kembar identik, jika bukan karena pakaian mereka yang membedakan —laki-laki dan perempuan— wajah mereka benar-benar sama, dahulu saat dua bocah itu masih bayi dan sama-sama plontos, Tan Wei sering kali kesusahan membedakan mana Jing Chen dan mana Jing Yuan, keduanya tak memiliki hubungan darah dengan Tan Wei namun meskipun begitu ia sudah menganggap dua bocah itu seperti adik mereka sendiri, setidaknya begitulah gambaran kehidupan di Lembah Anrui, tak peduli ada ikatan darah atau tidak, ratusan orang suku Guan seakan sudah menjadi sebuah keluarga besar, sebuah alasan meskipun ia tak memiliki lagi orang tua tapi ia cukup merasakan kehangatan sebuah keluarga di lembah itu. “Tan Wei jie, aku merindukanmu.” “Jiejie apa kau membawa mainan untukku?” Tanya Jing Yuan dengan tatapan polos itu sambil menarik-narik rok Tan Wei. “Upss jiejie lupa sudah berjanji padamu untuk membawakan mainan” Jawab Tan Wei dengan ekspresi bersalah. Bocah laki-laki itu nampak agak kecewa, namun ekspresinya langsung berubah cerah saat Tanwei mengeluarkan sebuah mainan dari kantong bajunya, dua buah piringan dari bambu berbentuk lingkaran yang dihubungkan dengan poros panjang di tengahnya dan ujungnya diikat dengan menggunakan tali. “Waaaaaaah yo-yo!!!!” bocah kecil itu melompat-lompat kegirangan. “Apa kau suka?” “Ya! suka sekali!” bocah itu tersenyum ke arah Tan Wei. “Oya, dimana Jing yi?” “A Niang? di sana!” seru Jing Yuan sambil menunjuk ke arah di sebelah kirinya, Tan Wei mengangguk tanda mengerti. “Oke, Kalian lanjutkan bermain ya, aku mau menemui Jing yi.” “Mmh.” kedua bocah itu mengangguk serempak, mereka kemudian berlari kembali ke arah teman-temannya sambil memutar-mutar yo-yo yang ada di tangannya dengan kegirangan. **** Tan Wei menuju ke sebuah pondok bambu yang berada di tengah desa, aroma herbal langsung menyeruak dari dalam pondok itu. Pondok itu adalah tempat para wanita Suku Guan mengolah obat-obat yang nantinya akan di jual ke Kota Yizhou, di luar terdapat dedaunan obat yang sedang dikeringkan di bawah sinar matahari terdapat beberapa orang wanita paruh baya sedang sibuk dengan tugasnya masing masing, ada yang sedang memotong-motong dedaunan obat untuk kemudian dikeringkan, meracik obat dan memasukkannya kedalam kantong-kantong kain, kegiatan itu adalah pemandangan sehari-hari yang biasa ditemui di pondok bambu ini. “Jing yi!!!!” teriaknya, membuat wanita-wanita yang juga ada di dalam pondok menoleh serentak. “Gadis ini…kau masih ingat untuk pulang rupanya.” Kata bibi Jing setelah melihat gadis muda itu berdiri di depan pintu, senyum lembut dan hangat tersungging dari bibir wanita paruh baya itu. “Hi hi hi tentu saja Jing yi, aku kan sangat merindukanmu.” Kata Tan Wei sambil merangkul manja wanita paruh baya itu. “Huh aku tak percaya, tumben sekali kau datang kesini pasti ada sesuatu.” Tanya Bibi Jing dengan ekspresi penuh selidik. “Hi hi hi kau tahu saja Ayi. Ayi apakah kau pernah mendengar Rumput Fengcao? apakah kita memilikinya di lembah ini?” “Fengcao? tentu saja kita memilikinya, tumben sekali kau menyebut-nyebut tanaman obat, biasanya kau sama sekali tak berminat. “Kau ingat temanku bernama Yihua yang pernah ku ceritakan? Ibunya sakit keras dan tabib yang merawatnya mengatakan kalau ia membutuhkan Rumput Fengcao untuk pengobatannya, aku sudah mencarinya berkeliling kota namun tak mendapatkannya.” “Tanaman ini memang jarang di di jual di pasaran, kalau tidak salah aku pernah melihatnya bukit selatan dekat dengan goa bekas tambang utara, bentuknya mirip dengan rumput gajah dan warnanya agak keunguan.” “Aku akan coba mencarinya disana, Jing yi kau memang yang terbaik.” Jawab Tan Wei sembari mengecup kening wanita itu melesat keluar ruangan. Bibi Jing dan yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkah gadis itu. Semuanya seakan sudah kenal betul dengan Tan Wei, sosok gadis lincah dan tak bisa diam dari Suku Guan, gadis yang suka kabur saat diminta untuk berlatih kungfu oleh Ketua Wei dan lebih memilih berkeliaran di luar. **** Tan Wei berlari-lari kecil menuju tempat yang ditunjukkan oleh Bibi Jing, tempat yang di maksud terletak di ujung pemukiman Suku Guan, Letaknya berada di atas bukit, sehingga dirinya harus menanjak untuk sampai ke tempat itu. Tan Wei sedang berjongkok diantara tanaman obat yang tumbuh di sepanjang lahan luas itu, sudah hampir sejam ia mencari-cari rumput yang di maksud, ia kebingungan karena ada beberapa rumput yang bentuk dan warnanya mirip dengan yang dideskripsikan oleh Bibi Jing, tiba-tiba dari kejauhan terlihat beberapa orang berjalan ke arah goa suara terdengar suara seseorang, suara itu menggema karena berbenturan dengan dinding goa, suara pria yang sudah sangat familiar untuknya. kepala Suku Guan, Wei Long. Wei Shu shu? Tan Wei melihat Paman Wei Long sedang berjalan ke arah goa sementara dibelakangnya ada beberapa orang yang mengikutinya, mereka adalah anggota Suku Guan juga, meskipun sering meninggalkan Lembah Anrui namun Tan Wei sudah sangat mengenal baik tempat ini dan orang –orang yang ada di dalamnya. Ah, mereka pasti tahu yang mana rumput Fengcao, lebih baik aku bertanya saja. Tan Wei lalu buru-buru mengambil tiga jenis rumput yang hampir serupa itu, namun saat ia menoleh ke belakang mereka sudah berjalan masuk kedalam goa. Karena cadangan emas yang ada di sana telah habis, goa itu sudah lama tak di gunakan dan dibiarkan terlantar, menanti alam untuk mengambil alih tempat itu sepenuhnya, sejauh yang Tan Wei tahu nyaris tak ada lagi yang menggunakan goa itu, para penambang sudah berpindah ke tambang yang ada di sisi utara lembah. Bagian depan goa itu mirip seperti dinding bukit berbatu dengan lingkaran besar di tengahnya. Tan Wei berlari mengejar rombongan itu, namun saat ia telah sampai di mulut goa, mereka sudah tak terlihat dan nampaknya sudah masuk jauh ke dalam goa itu. Apa yang mereka lakukan di sana? Tan Wei mengikuti kedalam, beberapa kali ia memanggil-manggil namun tak ada jawaban. selain gema suaranya sendiri, selebihnya sunyi dan senyap. tak ada apapun di dalam selain lorong-lorong panjang yang gelap dan pengap, semakin kedalam lorong panjang itu bercabang-cabamg dan terdapat ruang-ruang yang terbentuk dari kegiatan penambangan selama bertahun tahun, ia berjalan tak tentu arah mengikuti kemana kakinya melangkah sambil matanya awas mencari di mana Paman Wei dan yang lain berada, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba…. Bruk! Kakinya membentur benda yang ditumpuk tinggi dan berjajar di sepanjang lorong goa. Mesiu? dari aromanya Tan Wei sudah bisa menebak apa yang ada di dalam peti-peti itu. Pikirannya kembali melayang kepada sisa sisa mesiu yang ada di penginapan tempo hari. Masih dengan rasa penasaran tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke tempatnya berada, suasana di dalam lorong gua itu sangat gelap sehingga tak sulit bagi Tan Wei untuk menepi di balik tumpukan peti itu, tak ada yang menyadari keberadaanya. Xu Tan Wei dapat dengan leluasa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Suku Guan, suku petarung yang tinggal di sepanjang puncak Lembah Anru, sebuah wilayah yang kini terkenal kaya akan tambang emasnya. dahulu wilayah ini merupakan wilayah yang tersembunyi, Suku Guan telah menempati wilayah ini selama beratus-ratus tahun, kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dari tanah hutan, menumpulkan tanaman obat di hutan menangkap ikan, berburu, dan meramu hasil hutan.Wilayah ini dahulunya adalah adalah wilayah yang terpisah dengan Daxiang, namun sejak Kaisar kedua, Kaisar Yihui, wilayah ini menjadi bergabung dan menjadi bagian dari teritorial kerajaan Xian, Kehidupan tentang Suku Guan berubah seketika ketika beberapa tahun lalu ditemukan goa-goa di sepanjang Lembah Anrui yang ternyata mengandung cadangan emas yang jumlahnya melimpah. pemerintah mulai melakukan penambangan emas di Lembah yang menjadi tempat tinggal mereka, sedari awal pertambangan ini telah melahirkan protes karena penambangan ini telah meluluhlantakkan tanah dan hutan mereka, warga suku gua harus tergusur terus-menerus dari tanah nenek moyang mereka sementara hutan dan air sungai yang menjadi kehidupan mereka pun lama-lama terkikis dan rusak, seringkali terjadi konflik antara suku gen dengan para prajurit yang menjaga wilayah tambang-tambang itu. Mereka melawan dengan pedang dan panah sebagai simbol penolakan, bahkan seringkali kekerasan terjadi hingga menimbulkan korban di pihak Suku Guan. namun karena kurangnya kekuatan jika dibandingkan kerajaan yang mereka kalah dan terpaksa harus mundur. Selama beberapa tahun kehidupan nampak tenang, namun apa yang terlihat sering kali bukanlah kenyataan, bara api itu sesungguhnya tak pernah sekalipun padam. Selama beberapa saat Tan Wei tertegun, “Shu shu....” Ia tak sadar telah menggumam perlahan, membuat yang ada spontan menoleh, terkejut dengan keberadaan gadis itu. Wei Long yang awalnya juga terkejut dengan segera bisa mengontrol dirinya untuk kembali tenang, “Tan Wei, apa yang kau lakukan disana?” Suasana menjadi sunyi, sebuah cahaya dihadapkan ke arahnya sehingga sosoknya yang saat ini sedang berdiri terpaku bisa terlihat dengan jelas, Tanaman-tanaman yang sedari tadi ia genggam jatuh ke tanah “Apa yang kalian bicarakan? Pemberontakan? Peledakan? Mesiu-mesiu itu….” Suaranya tercekat ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD