"Kamu mau kemana sayang? Tumben libur gini udah rapi," Rima heran melihat putrinya yang sudah mengenakan pakaian dengan rapi.
"Aku mau maen sama Hesya ma, bolehkan? Boleh ya boleh...?" Vio mengeluarkan jurus puppy eyes nya supaya diberi izin oleh Rima. Rima sendiri tidak tega jika sudah melihat Vio yang seperti itu. Akhirnya dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aaah mama baik deh, makasih mama!" ucap Vio dengan riang sambil memeluk mamanya itu.
Dari lantai atas muncul Vano yang juga sudah rapi dengan kemeja birunya. Pemuda itu terlihat tampan dengan rambut yang sedikit mengkilap.
"Ada apa ini? Berasa nonton teletubbies peluk-pelukan kaya gitu," Vano menghampiri mama dan juga adiknya itu.
"Ini, Vio mau maen katanya sama Hesya," yang disebut namanya hanya menunjukkan barisan gigi putihnya pada Vano.
"Tapi kakak gak bisa anter kamu ya sweety," Vano mengusap lembut kepala adiknya.
"Laaah kenapa kak? Kan hari ini kakak gak ngampus."
"Kakak mau ngerjain tugas di rumah temen, maaf yaa. Janji deh, nanti pulang dari sana kakak beliin ice cream."
"Tapi janji yaa pulangnya beliin ice cream? Oh iya lagian aku dijemput Hesya sih, hehee."
"Iya sweety iyaa, yaudah deh bagus!" Vano tersenyum lembut seraya mengacak rambut Vio, membuat Vio mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah, Vano berangkat sekarang ya ma!" Vano pamit dan mencium pipi Rima, tak lupa mencium kepala adiknya dengan sayang.
"Kamu hati-hati ya Van, jangan ngebut bawa mobilnya!" Vano menggangguk kemudian melenggang pergi.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu dengan sebuah tangan melayang di depan wajahnya. Gadis di depannya terlihat kaget dan gugup.
"Kak Vano? Maaf kak!" ucapnya bersalah.
"Eh Sya, iya gapapa kok. Masuk aja gih, mau maen sama Vio kan? Dia udah nunggu tuh. Kakak duluan ya." Vano melenggang pergi melewati Hesya dengan santai.
Hesya menghembuskan nafas panjang, belum dia menjawab Vano sudah pergi. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja.
"Aaaa Hesyaa!!" suara teriakan Vio menggema di dalam rumah saat melihat sahabatnya datang.
"Ampun deh Vi, kaya di hutan aja lo!" Hesya menunjukkan muka malasnya pada Vio. Untung saja telinganya sudah kebal dengan suara Vio.
Mata Hesya menatap Rima yang berdiri tak jauh dari posisinya saat ini, dia pun menghampirinya.
"Eh tante, hehe. Tante apa kabar?" Hesya menyalami Rima dan tersenyum.
"Tante baik kok, kamu?" Hesya mengangguk sebagai jawaban. Setelah beberapa saat berbincang-bincang akhirnya Vio dan Hesya pun pergi.
•••
"Kita mau kemana Vi?" Hesya menatap Vio, kini mereka telah berada di dalam mobil Hesya.
"Ke mall aja gimana? Abis itu kita ke taman?" dengan wajah sumringah Vio menyebutkan tempat tujuan yang ingin dia kunjungi.
"Oke. Pak ke mall ya!" supir Hesya pun mengangguk.
"Eh Vi, lo belom cerita yang semalem!" Hesya kembali menatap Vio penuh intimidasi. Yang ditatap hanya menunjukkan muka malas.
"Nanti ya Sya, males gue bahas dia, nanti gue badmood lagi, kan gak lucu!"
"Hadeuh Vi, lo mah alesan mulu, gue udah penasaran elaaah!"
"Hahaa sabar aja! Nanti gue cerita kok!"
Hesya hanya mendengus kesal. Dan Vio malah tertawa terbahak-bahak.
"Lo kesambet apa Vi? Kok gue jadi ngeri deket-deket sama lo." dia bergidik ngeri melihat kelakuan Vio.
"Lah abisnya lo sih!"
"Lah kenapa gue coba? Au ah! Jadi gue yang badmood kan."
Vio hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.
Tak lama, mobil yang mereka naiki sudah sampai di pelataran parkir mall yang mereka tuju. Dengan sigap Vio membuka pintu mobil dan keluar.
"Huaaaaaa rasanya gue udah lama gak kesini!" matanya berbinar-binar saat melihat gedung didepannya.
"Alay lo Vi, baru aja dua minggu yang lalu kita kesini," Hesya tertawa melihat kelakuan Vio yang terlihat kekanak-kanakan. Sifat manja nya pasti akan keluar, batin Hesya.
"Ih Hesyaaaa dua minggu itu lama! Lagian setelah kejadian kemaren gue ngerasa udah ngelewatin waktu yang cukup panjang." dia menunjukkan barisan gigi putihnya pada Hesya.
"Sifat lebay lo udah keluar, udah ah yuk kedalem! Pak, bapak pulang aja, nanti aku kabarin lagi kalo mau pulang ya, makasih pak!"
Setelah mobil Hesya meninggalkan tempat itu mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mall.
•••
"Hesyaaaa itu sepatunya bagus banget!" matanya berbinar-binar melihat sepatu berwarna biru muda yang dipajang disana.
"Lo mau beli Vi? Gue suka modelnya tuh, tapi warnanya gak mau itu," sorot mata Hesya pun menunjukkan bahwa dia menginginkan sepatu itu.
"Mau banget Sya, gue mau beli ah!" tanpa basa-basi dia dan Hesya masuk ke toko itu dan membeli sepatu yang mereka inginkan.
Setelah beberapa lama mereka akhirnya keluar dengan membawa sebuah tas berisi sepatu yang mereka idamkan.
Kemudian mereka berkeliling melihat-lihat tanpa berniat membeli. Hari sudah menunjukkan waktu makan siang, akhirnya mereka pergi ke sebuah tempat makan yang ada disana.
•••
"Lu mau makan apa Sya?" tanya Vio sambil melihat-lihat buku menu yang ada ditangannya.
"Gue mah apa aja lah, yang penting bisa bikin perut kenyang."
Akhirnya Vio memanggil pelayan dan memesan makanan. Sambil menunggu, dia teringat belum bercerita sama sekali soal cowok sialan yang kemarin membuat dahinya lebam. Wait! Dia teringat dahinya kembali.
"Eh Sya, dahi gue masih keliatan lebam?" dia menyingkirkan sedikit poninya dan memperlihatkannya pada Hesya.
"Masih keliatan dikit, udah lo obatin kan?"
"Udah kok tenang aja, tau gak? Cowo itu ternyata tetangga baru gue!" ucapnya kesal.
"Apa?! Kok bisa? Lo tau darimana Vi?" teriak Hesya yang kaget mendengar penuturan sahabatnya.
"Panjang ceritanya Sya, nanti deh abis makan gue cerita. Janji!" Vio menunjukkan barisan gigi putihnya dan mengangkat kedua jari nya.
Hesya menghembuskan nafas panjang karena dia sudah cukup sabar menantikan cerita dari Vio.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang. Vio menatap lapar kearah makanan itu, tanpa basa-basi dia dan Hesya melahapnya hingga habis.
•••
"Sekarang kemana Vi?" tanya Hesya saat mereka sudah berada di luar mall.
"Ke taman yuk, nyegerin mata." Hesya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Jarak antara mall dengan taman kota tidak terlalu jauh, jadi mereka cukup dengan berjalan kaki sekitar 5 menit.
Suasana taman siang itu cukup ramai, sehingga lumayan sulit untuk mereka menemukan tempat duduk.
Mata Vio tertuju pada sebuah kursi kayu dibawah pohon. Kemudian dia menarik lengan Hesya dan berjalan kearah tempat tadi.
"Huaa akhirnya ada tempat kosong!" ucapnya begitu lega saat pantatnya mendarat di kursi.
"Cerita!" Hesya memberikan tatapan yang mengintimidasi kepada Vio, yang ditatap mendengus kesal.
"Bentar dulu napa Sya, gue itu abis jalan cape banget, mana panas. Gue mau makan ice cream dulu keburu lumer ga enak hehee."
"Sambil cerita kan bisa Vionaaa... Lo mah ngelak mulu yaa, lama-lama gue kesel!"
"Yaelah marah, oke deh tapi lo jangan komen sebelum gue beres cerita!"
"Iya-iya gue janji."
"Jadi kemaren itu gini... "
Mengalirlah cerita dari bibir Vio, raut wajahnya yang terlihat kesal juga mulutnya yang tidak berhenti memakan ice cream sontak membuat Hesya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Melihat itu Vio mengerucutkan bibirnya dengan lucu dan malah membuat Hesya semakin tertawa.
Akhirnya Hesya meminta maaf dan Vio kembali melanjutkan ceritanya, cukup memakan waktu hingga ia selesai bercerita dan menghabiskan ice creamnya.
"Jadi gitu, makanya semalem gue badmood parah. Dia itu ngeselin banget tau Sya!"
"Jangan terlalu benci, ntar ujung-ujungnya lo suka lagi." Hesya tertawa kecil.
"Idih amit-amit!" Vio bergidik ngeri mendengar penuturan sahabatnya.
"Yaudah pulang sekarang yuk! Keburu sore. Btw gue nginep boleh? Malem minggu nih, kita happy-happy bareng supaya gak terlalu ngenes." Hesya mengedipkan mata dan mendapat sebuah jitakan dari Vio.
"Lo aja yang ngenes, gue kagak!" Vio tertawa terbahak-bahak dan langsung berlari.
"Vioooo ngeselin sumpah!"
Mereka terlihat seperti anak kecil, tapi siapapun yang melihatnya pasti menginginkan persahabatan seperti mereka.
•••