Syaiton (2)

1197 Words
"Pak, mampir di alfamart depan ya," ucap Hesya pada supirnya. Saat sampai di parkiran, Vio dan Hesya cepat turun dan masuk ke dalam. Dengan cekatan mereka memilih berbagai macam snack. Setelah dirasa keranjang mereka penuh, mereka bergerak menuju rak lainnya. "Masker lo masih ada Vi?" tanya Hesya. "Paling sekali pake lagi, gue lupa. Lagian gue jarang maskeran, males." "Trus yang waktu itu kita beli barengan? Udah abis?" tanyanya lagi. "Belom hehe," jawabnya tanpa bersalah. "Hadeuh! Lo tuh cewek Vi, rajin dikit napa ngurus muka, kalo gak ada cowok yang mau sama lo gimana?" "Gak mau gara-gara muka gue b***k maksudnya?" tanya Vio. "Bukan gue yang bilang ya," Hesya mengangkat kedua bahunya. "Nih ya Sya, kalo cowok itu emang tulus sama gue harusnya dia gak bakal peduli sama penampilan gue dong. Mau gue b***k kek, item kek, jerawatan kek, pasti dia bakal nerima gue apa adanya. Kalo dia suka sama gue karena fisik, berarti dia gak tulus. Akan ada banyak orang yang fisiknya jauh lebih baik dari gue, jadi gak ada jaminan dia bakal tetep sama gue kalo dia nemuin yang lebih dari gue." Hesya terdiam sejenak, memang benar apa yang dikatan Vio. Orang yang tulus mencintai kita akan selalu menerima kita apa adanya. Bagaimana pun penampilan kita perasaannya akan tetap sama. Lagipula, Vio dan Hesya pun sudah di anugerahi paras yang cantik dan mulus. "Hmm... gue tau kok," Hesya menghembuskan napasnya. "Nah itu lo tau," ucap Vio penuh kemenangan. "Tapi tetep aja, kebanyakan cowok tuh liat cewek dari fisiknya dulu!" ucap Hesya frustasi. "Tapi gak semua, gue yakin kok masih ada cowok yang mau nerima kita apa adanya," jawab Vio santai. "Lagian lo juga udah cantik kok menurut gue, cantikan lo malah. Cuma keliatan banget muka lo kurang perawatan, makanya gue nyuruh lo buat ngurus muka," ucap Hesya lagi sembari melirik Vio. "Emang iya?" tanya Vio kaget. Hesya mengangguk dan mengeluarkan cermin kecil dari tasnya. Vio kemudian menatap wajahnya dari pantulan cermin. Dan benar! Wajahnya terlihat kusam. "Kok gak ngasih tau daritadi sih?" "Ya lo nya sih, gue niatnya becanda ngomong kek tadi, lo jawabnya serius banget, keliatan banget lo jomblo bulukan, haha!" jawab Hesya disertai tawa yang puas. "Enak aja! Sesama jomblo gak usah saling ngehujat!" semburnya. Kemudian mereka memilih-milih masker wajah untuk mereka gunakan nanti malam. Setelah melewati perdebatan yang tak ada habisnya, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli beberapa macam masker. ••• "Mamaaaaa, anakmu yang paling cantik udah pulaaaaaang!!" Seperti biasa teriakan Vio menggelegar di dalam rumah. "Lo kaya di hutan aja ih! Untung telinga gue dah kebal." Hesya mendengus kesal. "Biarin lah! Ini rumah gue!" sambar Vio. Tidak lama Rima yang masih menggunakan celemek muncul dari arah dapur. Terlihat peluh yang bercucuran di dahinya. "Kebiasaan deh kamu, teriak-teriak mulu." ucap Rima sembari menghampiri putrinya. "Ya kan biar mama denger hehe. Kak Vano belum pulang ya ma?" matanya mencari-cari keberadaan kakaknya. "Belum, katanya agak malem sih. Hesya mau nginep disini ya?" Rima menatap Hesya yang daritadi hanya diam saja dengan tangan yang dipenuhi kantong belanjaan. "Eh iya tante, boleh kan? Soalnya mama sama papa lagi keluar kota, aku gak ada temen di rumah hehe." "Boleh dong, biar Vio juga ada temennya. Yaudah kalian istirahat dulu sana, nanti kita makan malem sama-sama, mama tanggung lagi masak. Sama itu, bawaan Hesya kamu bantuin ya sayang," titahnya pada Vio. Setelah mengiyakan perkataan Rima, mereka naik ke atas menuju kamar Vio. Kemudian mereka menyimpan semua belanjaan di dekat nakas. Seperti biasa, Vio langsung melompat ke atas kasur queen size nya. Begitu juga dengan Hesya yang mengikutinya. Tangan Hesya mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ya, dia mencari ponselnya. Dia langsung menyalakan data dan melihat pesan yang sudah menumpuk dari grup kelasnya. Dengan santai ia terus membaca pesan-pesan itu. Tak sengaja Hesya melihat isi pesan yang membuat ia membulatkan matanya dengan sempurna. Ia bergegas bangun dari tidurnya. "Vi! Vi! Liat grup kelas deh!" Ucapnya terburu-buru sembari menepuk tangan Vio. "Apaan sih ngagetin aja!?" Vio yang sedang berbaring dan memejamkan matanya tersentak kaget sembari mengerutkan keningnya, kemudian memeriksa ponselnya. "Laaah? Murid baru? Katanya kalo udah kelas sebelas apalagi semester dua gak bisa pindah sekolah ya? Kok ini ada murid baru?" tanya Vio heran. "Ya mana gue tau lah, itu juga kan masih katanya. Tapi gapapa dong biar makin rame!" "Cewe apa cowo sih?" tanya Vio penasaran. "Gatau juga, mereka cuma bilang ada murid baru doang." jawab Hesya. "Yaudah lah ntar kita liat aja." tambah Hesya. Vio bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan menuju lemarinya. Dia terlihat sedang memilih baju tidur. Kemudian ia mengambil piyama berwarna biru dan ungu. "Nih nanti lu pake yang ini. Gue mandi duluan ya." Vio menyodorkan piyama berwarna ungu kepada Hesya. Suara gemericik air terdengar begitu jelas. Kebosanan pun menyelimuti Hesya. Dia menghampiri balkon dan melihat keadaan sekitar. Dia memasang earphone nya dan mendengarkan musik kesukaannya disana. Matanya terpejam menikmati belaian angin sore. Empat puluh menit berlalu. Barulah Vio keluar dan tubuhnya sudah terbalut piyama biru. Terlihat menawan. Kemudian dia menyuruh Hesya untuk segera membersihkan tubuhnya. Tidak memakan waktu lama Hesya pun sudah selesai. "Cepet amat lu mandi?" tanya Vio heran. "Kan gue mandi Vi, bukan tapa." Setelah selesai dengan aktivitasnya masing-masing, mereka turun ke bawah. Bau masakan Rima tercium dari jauh. Dengan langkah cepat Vio menghampiri Rima yang sedang membereskan meja makan. Dengan cekatan Hesya membantunya. Tetapi Vio hanya duduk diam memperhatikan kegiatan ibu dan sahabatnya itu. "Bukannya bantuin malah diem aja," ucap Rima. "Kan udah di bantuin Hesya mah," dia menjawab dengan santai sembari menunjukkan barisan giginya yang putih. "Hadeuh, punya anak perawan malesnyaaaa..." sindir Rima dengan suara yang dikeraskan. "Mamaaaaa, bukan males aku tuh," "Trus apa dong?" Rima melirik anaknya. "Menyimpan energi sebaik mungkin." "Halah alesan kamu aja itu," Rima gemas dengan anaknya yang satu itu. Padahal dia tidak merasa terlalu memanjakan Vio, namun sikap Vio sangatlah manja, entah itu pada suaminya, padanya, atau pada Vano. Suara mobil terdengar dari depan, dengan cepat Vio berlari meninggalkan mama dan sahabatnya yang masih membereskan meja makan. Dengan sigap ia membukakan pintu untuk kakaknya. Matanya langsung melirik ke arah tangan Vano. Kemudian ia mengerucutkan bibirnya. "Ih ice cream aku mana?" tanyanya pada Vano. "Eh iya!" Vano menepuk dahinya dan kembali berlari ke arah mobil. Dia kembali dengan membawa beberapa tas plastik. "Kirain lupa," ucap Vio cemberut. "Mana mungkin kakak lupa pesenan kamu sweety," ucap Vano sembari mengacak rambut adiknya. "Siapa tau ya kan. Yaudah ayo masuk, mama lagi siapain makan malem." Rima tersenyum melihat kedua anaknya masuk beriringan. Sesuatu yang sangat ia syukuri adalah Vano yang sangat menyayangi adiknya. Meskipun seringkali berkumpul tanpa kehadiran seorang suami, namun ia sangat bahagia memiliki anak-anak seperti Vano dan Vio. "Eh ada Hesya, mau nginep ya?" tanya Vano saat melihat sahabat adiknya itu. "Eh iya kak," ucap Hesya tersenyum. "Idih sok imut senyumnya," sindir Vio. "Sirik aja!" jawab Hesya. "Eeh udah-udah! Ayo langsung makan aja, mumpung masih pada anget. Itu belanjaannya simpen dulu Van, trus cuci tangan dulu sana, Vio juga." titah Rima pada anak-anaknya. "Kok Hesya gak disuruh juga ma?" tanya Vio kesal. "Hesya udah dong tadi bareng mama," jawabnya santai. Vio mendengus kesal dan segera mencuci tangannya. Kemudian mereka makan malam diselingi canda tawa. Hesya merasa senang jika sudah berada di antara keluarga Vio. Rasanya hangat, seperti berada di keluarga sendiri. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD